Tampilkan postingan dengan label #30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan

16.1.13

The Black One

Sudah lama kita bersama, berapa tahun ya kira-kira? Kalau tak salah, sekitar empat tahun. Persis selepas SMA, kau mulai dekat. Sulit rasanya pisah barang sehari-duahari. Seperti ada yang kurang kalau “ada aku tanpa kamu.” Empat tahun, bukan waktu yang singkat. Setia ke mana-mana, saat kuliah, latihan marching band, jalan-jalan ke Bandung, ke manapun.

Sampai-sampai, beberapa orang bertanya, “kenapa sih kamu selalu nempel terus? Macam nggak ada yang lain aja, Dha!” Lalu aku jawab, “kalau aku nyaman, kenapa nggak?!” Kemudian, di waktu yang lain, ada pula yang sedikit mengeluhkan, “ganti kenapa, Dha? Bosen tau, itu-itu mulu!

Saat itu, aku mulai belajar menerima, mengikhlaskan apa-apa yang terlontar. Bodo amat lah! Ini hidup saya! Hingga akhirnya, ada satu kesempatan yang memaksa untuk melepasnya, menggantinya dengan yang lain, yang lebih berwarna—katanya. Aku pun melakukan hal demikian. Pujian? Tentu banyak berdatangan dari mulut orang-orang yang selama ini mengeluhkan. Namun, yang masih mengganjal adalah lelaki itu—yang sekarang entah ada di mana. Oknum yang satu ini dengan sangat berani mengatakan hal sebaliknya. Begini katanya, “aku nggak suka, kamu nggak garang lagi kalau begini.” Aku kalah!

Keesokan harinya, aku langsung kembali pada yang lama. Kembali mengenakan warna hitam sebagai penutup mahkota, alih-alih mengenakan warna merah muda yang mendatangkan banyak pujian dan disukai orang-orang. Ya, meskipun sudah ratusan kali nasihat “berganti warna” ini menghujamku, mau gimana lagi. Aku lebih percaya pada lelaki yang lebih suka melihatku terlihat garang. Nyatanya, aku lebih (ditakdirkan) memilihmu, The Black One. Terima kasih juga, hai lelaki! 

7.2.12

Jadi Cinta, Gara-gara Kalian


Gara-gara kalian, aku jadi punya mimpi—lagi.
Terima kasih ya, sini aku dekap satu-satu :D

Entah aku yang belum peka sekitar—selama tiga tahunan lalu—atau memang Tuhan sengaja menakdirkan kita biar lebih diburu rindu. Bukan karena aku sama sekali tidak mau mengenal kalian, melainkan karena aku sendiri masih belum begitu tau apa arti saling mengasihi. Tentu ini membuat neuron-neuron di kepalaku ramai kembali karena sebelumnya cukup sepi. Ya, hampir tidak ada dialog yang biasanya diperdebatkan oleh saraf-saraf otak di beberapa sisi. Dulu, hampir setiap hari selalu ada ‘demo’ yang tiba-tiba saja mampir. Lalu, pelan-pelan menyusut di satu dua sudut, lama-lama surut.

Hari ini, semua ujung jariku terasa gatal—dan masih hingga detik ini—seperti ada yang mengajak berkeliling menuju kotak-kotak hitam pencetak 26 abjad, juga simbol-simbol kecil. Setelah itu, aku merasa dihidupkan kembali dari mati suri. Mati suri menyesali rajutan mimpi-mimpi yang belum berhasil kudekap dalam-dalam. Betapa sibuknya hidup, hanya untuk sekadar ‘menyesali yang lalu’. Bahkan, aku sama sekali tidak kasihan pada si hidup yang terus dibakar waktu. Lagi-lagi hanya karena AKU. Maaf. Aku menyelingkuhi kamu terlalu lama, dan baru hari ini pulang ke rumah. Rumah yang dulu pernah kita bangun bersama dengan beribu janji dan sumpah.

Sekali lagi, maaf.

Kalian, makhluk-makhluk kecil ciptaan Tuhan—yang mungkin juga, jelmaan malaikat—tanpa sadar, tanpa sengaja, telah menggetarkan darah-darah yang sudah lama beku di dalam tubuh. Membisikkan monolog-monolog hidup yang sempat aku tutup, juga berhasil mencuci otak secara ketat agar aku kembali bersemangat. Diam-diam kalian mencuri jurus ampuh sang pengalaman agar aku tidak kembali di titik rentan.

Terima kasih lagi, untuk kali terakhir di detik ini. Mungkin nanti akan ada terima kasih-terima kasih yang lain, yang akan aku kirimkan kepada kalian, jika telah tiba saatnya nanti.

untuk: peserta Lomba Narasi Sintesa

6.2.12

Seribu Kecupan Buat GENGESDE


Dear Gengesde,

Sebelum gw memulai, gw mau peluk satu-satu kalian dulu—juga sebelum kita dipisahkan kembali oleh waktu.

Yan—teman perempuan seperjuangan seperbangkuan, juga satu-satunya yang muraaah kalo diajak jalaaan. Hahaha. Aaaaah, lo paling curang, cincin nempel di jari tangan, tapi nggak bilang-bilang. Awas kalo nanti bikin resepsi, tapi nggak bagi-bagi happy.

Jok, baru kali ini gw merasa dekat dan hangat dengan lo sebagai teman, juga tetangga se-desa. Mengapa demikian? Lo pasti masih nempel dalam benak kan, lima tahun lamanya di SD kita saingan? Namun, separuh di Sabtu lalu, lo bikin gw shock setengah mati, gara-gara obrolan kita yang ‘tiba-tiba seruu!’ Sumpah, ini bukan drama, apalagi telenovela. Aseli, gw merasa tenang aja, damai gitu hidup gw. Aaah! Makasih ya. Satu yang lo minta dari gw “doain ya, biar 2014 gw nikah, Dha”. Gw: “iyaaaa, pasti (tapi sambil ngiris-ngiris nadi pake linggis)”

Hen, awalnya gw too bad expectation bout you, but I think you’re changed, better than I ever met before.  Eh, tapi bukan berarti gw telah ‘memaafkan’ lo sepenuhnya. BIG NO NO! Kita akan tetep saingan, meskipun sebatas perasaan.

Wan, kita itu tetanggaan belakang rumah yang jarang ketemu. Ketemu aja harus bikin acara dulu. Kita terlalu sibuk ya memang? Beginilah dunia, menyita masa bersua. Untungnya sama-sama penyabar, jadi nggak mudah gusar.

Hmm, Jar.. beberapa hari yang lalu kan kita sempet dipertemukan Tuhan, acara Pesta Siaga di lapangan. Absolutely ya, gw pangling banget. Sumpah! Orang yang pas SD paling pol nakalnya, tukang ngintipin rok-rok teman wanita, seragam merah putih yang tiap hari nggak pernah rapih. Gw rasa, setiap bocah dapet giliran jadi korban perbuatan dosa lo deh, Jar, dulu. Huahahaha. Lalu sekaraaaaang, lo adalah lelaki penyayang yang dikelilingi anak-anak lucu setiap saat. Semoga murid-muridnya nurut sama Pak Guru, ya! :)

Zak, dulu kita akrab nggak sih? Bahkan gw agak-agak amnesia, lebih tepatnya after the first meet kita kemarin Sabtu. Aduh, tiba-tiba gw bingung harus pake kosakata apa, speechless. Gw berani bilang kalo kesuksesan lo sedang lo titi. Tinggal nunggu kabar aja, kalo lo udah di puncak. Lo harus ngabarin gw ya, bila perlu gw orang yang pertama tau. Oh iya, Zak, makasih udah bikin gw ‘osteoporosis’ gara-gara beberapa jam terbawa angin sama lo malam Minggu lalu.

Terakhir, terima kasih tak hingga buat Maulud malam Minggu, juga rekannya: sekoteng, tahu gejrot, kacang rebus, es teh manis, sama dua ibu guru yang selalu kami rindu. Terima kasih mapel-mapel hidupnya, sangat berguna. Kami pasti kangen.

3.2.12

We Can Called: Shithappen!


Halo, Nyet, kamu apa kabar?

Sori, nggak sopan. Sekali-kali kan nggak papa, ke kamu ini. Hahaha. Kamu masih inget aku nggak ya? Udah berapa puluh tahun kita nggak tatap muka? Cinta kamu udah melanglang buana ke mana aja? Jangan asal ditebar sembarang ya, hati-hati nyasar! Kemarin, aku belum sempat nulis buat kamu, jadi sekarang pun nggak papa kan?!

Tepat sepuluh tahun lalu, kita masih sebangku. Ini juga karena ibu guru, reshuffle teman bangku sesuka si Ibu. Eh, aku malah disisipin di sebelah kamu. Shithappen ini, namanya. Apalagi momen-momen serba kebetulan yang terlalu spontan. Terlalu banyak ya sepertinya. Lomba bareng, petugas upacara bareng, ngibarin bendera bareng, les bareng, ronda bareng aja yang belum. Oh iya, satu lagi yang menurutku ini romantisisme paling geli sedunia: kalo aku pake dress coklat muda bunga-bunga plus celana hitam, pasti kamu lagi pake kemeja pendek warna coklat dipadu celana kebanggaanmu itu. Kejadian ini masih nempel banget di otak. Ah, shit men! Kenapa sih selalu begitu? Aku masih nggak ngerti sampai sekarang.

Oke, sepertinya dari tadi seolah-olah aku terlalu benci sama kamu. Hmm, terima kasih ya, kotak musik bentuk gitar warna merah jambu yang kamu kasih saat ulang tahunku. Masih aku simpan kok, tapi namanya juga disela-sela cinta—mungkin terselip benci—jadi, itu benda sempet jatuh—aku lupa karena apa—dan rusak. Musiknya udah nggak sebagus dan sejernih dulu. Bisa aja ini pertanda kalo cinta kita memang nggak sebersih dulu. Huahahaha. Maksudnya, cinta kita ternoda. Cuih banget ya kata-kata sebelum ini. Buatku, terlalu kotor untuk dikenang, tapi terlalu ‘sok-suci’ untuk dilupakan. Ya, sekarang terserah kita mau apa. Toh, waktu juga nggak pernah menunjukkan kapan kita 'dikukuhkan', maupun 'dipisahkan'. Semuanya berjalan begitu saja. Kita sama-sama nggak ingin terlihat butuh, makanya kita berpisah tanpa salam jumpa, tapi juga tak seperti musuh. Aneh, tapi nyata.

Welcome to the jungle: real life. Sumpah, aku bersyukur banget nggak kuliah di kampus yang sama dengan kamu. Kamu ingin tau, kenapa? Malam itu, saat kamu main ke rumah, sok-sok silaturahim, ngobrol-ngobrol bentar yang nggak berguna, dan yang bikin aku masih benci kamu sampai detik ini: kata-kata terakhir kamu yang.. ah, emang ‘Monyet’ banget nih kamu. Sorry to say, but that’s really not important at all. Itu sih kalo kamu masih ingat ya, kalo nggak pun, nggak masalah.

Well, sebenci apa pun aku sama kamu, yakinlah kamu tetep temen sebangku yang cukup baik lah. Huehehehe. Nanti kalo kita ketemu, please banget mulai dari awal ya, aku nggak ingin masa lalu itu mengganggu silaturahim kita. Kamu, aku, sama-sama manusia biasa yang setiap saat melakukan dosa. Jadi, aku pun nggak punya hak menghakimi kamu selamanya. Lebih baik kita menulisi kertas-kertas baru dengan tinta warna-warni agar hidup lebih berarti. Sampai bertemu di waktu yang telah Tuhan atur untuk kita berdua. Semoga nanti baik-baik saja, ya. Aamiin.

2.2.12

Kepada: Tersangka Bulan Mei


Hai..
Selamat menikmati sejuk di awal Februari.
Sore ini, rumahku masih dinaungi mendung. Tak terlalu gelap memang, tapi cahayanya sama sekali tidak mampu meluluhkan awan. Tiba-tiba aku ingat bulan Mei tahun lalu. Tengah Mei tepatnya. Ya, kamu bukan Mawar, yang biasanya jadi tersangka, atau korban pelecehan seksual, melainkan tersangka bulanan yang masih terus kukejar. Entahlah, aku belum jengah, apalagi angkat tangan tanda menyerah hanya karena belum menangkapmu.

Hey, tersangka..
Masih ingatkah kamu saat misi pertama berhasil kamu jalankan? Hebat! Aku salut. Bahkan aku belum pernah bertatap muka denganmu. Teknologi yang membuat kita tidak seperti musuh. Dingin, sangat dingin bahkan. Makanya aku berani mengambil sedikit panasmu untuk menyembuhkan dinginku.

Misi kedua juga berhasil kamu taklukkan. Sungguh tak kusangka, kamu secepat itu mengisi peluru demi aroma rindu. Lalu, misi ketiga, keempat, kelima, sampai misi yang entah kali keberapanya kamu siapkan untuk memburu sesuatu. Aku berharap, bukan aku yang kamu buru. Jika sekarang adalah Februari, maka telah delapan bulan sudah kamu membuat lingkaran setan di setiap sudut mata kanan-kiriku. Pantas saja, tidur malam pun berat rasanya.

Lama-lama, panasmu menumpuk dalam darahku. Makanya saat orang-orang bertanya tentang kamu, wajahku mendadak merah. Mungkin kamu berseliweran di sela-sela nadiku. Mungkin. Menurutku, kamu bukan lagi tersangka, tapi terdakwa lebih tepatnya. Kamu tak perlu duduk di kursi pengadilan dan menjalankan proses pembuktian ‘praduga tak bersalah’, karena aku yakin, kamu pelaku utamanya. Pelaku utama tersangka tunggal. Buatku ini cukup.

Kamu, selaku pelaku utama, jangan pura-pura tak punya dosa, lalu tiba-tiba enyah entah menepi ke pulau apa. Lari dari kenyataan ya? Pengecut! Akhir-akhir ini, aku hanya bisa menemuimu lewat mimpi, bukan adu senjata lewat kata-kata yang biasa kita lakukan setiap saat. Sebegitu ternodakah aku? Sampai-sampai satu huruf darimu sangat mahal dijual. Ah, biasanya juga kamu obral. Nggak usah terlalu sok nggak kenal!

Baiklah. Semoga senjata kita kembali berguna nantinya, amin.


Untuk: pelaku utama, terserah kamu, mau apa.

30.1.12

Selamat Datang, Pacar Baruku


Dear my new boyfriend,
:')

Semoga kita bisa selalu berdampingan. Gw nggak berharap untuk selalu sejalan, karena buat gw, kita juga punya pilihan dan pola pikir sendiri-sendiri. Jadi, berdampingan nggak harus selalu sejalan. Sederhana banget. Gw akan tetap mendampingi lo, ketika lo memilih utara, meskipun gw memilih selatan sebagai pedoman perjalanan gw. Kita harus sama-sama yakin dengan ‘kompas’ di tangan masing-masing. Apabila nanti, di tengah—naudzubilah min dzalik—pengembaraan, bukan solusi yang kita temui, maka kita harus saling janji untuk sedikit bersabar, lalu menengadahkan kepala, setelah itu bersimpuh pada Tuhan. Janji ya! *kaitin jari telunjuk*

Oh iya, satu hal lagi. Ini sangat penting. Pengertian, dan saling menyemangati. Di antara kita, suatu saat, pasti ada rasa jengah. Gw hanya minta agar kita nggak lupa tujuan awal yang pernah kita rajut bersama. Mengapa? Karena menurut gw, ini merupakan salah satu lintasan yang cukup rentan. Hanya kepercayaan kita berdualah yang bisa mengokohkan pendirian. Maka dari itu, ingatlah saat-saat kita nekat membangun sebuah tekad yang cukup berat. Semoga kita selalu berdampingan bersama sesuai masa yang telah ditentukan Sang Pencipta. Aamiin.

                                           
Untukmu—yang saat ini harus ku tumbuhkan benih cinta: skripsi

Kepada Bayu, Perangkai Waktu


Hai,
Gimana Bay? Cukup puas? Atau masih kurang? Nggak nyangka aja lo bisa setega itu. Dua hari bahkan. Mungkin lo ingin menambahkan angkanya, menjadi 30, atau 100? Masih butuh uji kadar buat gw? Ah, cukup Bay!

Gw tercekat hanya karena ilusi lo yang ajaib itu. Tiba-tiba, tanpa ada kode apa pun. Jangan-jangan lo memang belum pernah diajari tatakrama ya? Masuk, lalu seenaknya menyayat separuh otak siang-siang. Ini nggak lucu, Bay! Mungkin ini terapi kaget terdahsyat yang pernah gw dapet. Ya Tuhan..

Oke. Mungkin gw dan lo sama-sama punya senjata ampuh untuk meluluhlantakkan otak, juga hati—terutama. Anehnya, entah kenapa bagi lo terlalu mudah bermain dengan waktu. Bahkan mempermainkan waktu. Hebat! Lo sungguh luar biasa, Bay! Bisa menancapkan seluruh paku di separuh otak gw. Bisa membuat mata gw tak berhenti menatap bayangan-bayangan lo di seluruh sudut. Semua ingatan-ingatan tentang kita dahulu, Bay, hampir semuanya lengkap. Lo menciptakan sosok lain pada dinding tubuh tak bernama itu, padahal semu. Gw sempat tertipu, Bay.

Terima kasih uji kadarnya, Bay. Lo pasti merasa menang di sudut sana. Terima kasih sekali lagi. Kali lain, izinkan gw mempermainkan waktu, biar lo juga tau betapa sembilunya rasa, yang membuat lo semakin semu. 

29.1.12

Kepada Pemilik Rasa


Bagaimana? Sedang merasakan apa saat ini? Senang karena segalanya terbayar, ataukah hambar karena ada sedikit penyesalan? Sudahlah, nikmati saja, toh hanya aku yang tau. Kadang, nggak semuanya baik untuk dipendam, atau dibuang. Anggap saja dua hal ini hanya lalu-lalang bumbu kehidupan.

Lalu, sekarang kau mau apa? Gelantungan di bawah jembatan, pasang tali tambang untuk menutupi pencitraan, atau bahkan mengenyahkan diri dari peradaban? Semua ini hanya pertanyaan-pertanyaan kosong yang mungkin benar-benar tak punya arti.

Sejujurnya, aku sama sekali tak mengharapkan episode-episode lama ini terulang lagi oleh kecerobohan yang sama. Aku manusia biasa yang hanya sanggup menuangkan rasa. Biarlah sisi lain ini muncul di waktu-waktu tertentu saja, meskipun aku harus selalu menengadahkan kepala, demi sejumput rasa. Lebih baik aku meninggalkan jejak yang terlanjur kubuat, walaupun cuma sejenak. Aku pikir, setidaknya si pemilik rasa bisa sedikit bernapas lega.

Urusan sampai kapan akan kutinggalkan? Lihat nanti saja ya..

28.1.12

Kepingan Kisah yang Hampir Senja


Hey, my partner in crime, wilujeng sonten, hahaha.

Sist, sumpah kangen banget! :(
Nanti kalo para ilmuwan udah ada yang bikin teknologi ‘pintu ke mana saja’, mungkin gw akan beli.  Buat gw, ketemu langsung itu nggak bisa dibayar dengan apa pun: telpon, sms, email, YM, chat, bbm (yaelah, kayak punya aja kita, haha). Shit semuanya! Apalagi di saat-saat kayak gini. You know what I mean.

Di sini, di kesempatan emas ini, gw mau nyampein beberapa momen termewek gw kalo misalnya nggak ada lo, Ke. Lo masih ingat kan, kenapa dulu kita bertiga pada akhirnya daftar MBUI? Waktu itu kita cuma pengin ke luar negeri. Titik. Tanpa embel-embel apa pun. Meskipun kita nggak punya basic MB dari awal, dan cuma bisa ngiler liat selebaran yang dibagiin sama kakak-kakak unyu itu, yang isinya “mau ke luar negeri?gabung yuk sama MBUI” ah.. in memoriam banget, Ke. Sampai pada akhirnya hanya gw dan rainy yang tersisa waktu itu.

Well, thanks a lot untuk awalan yang sangat manis waktu itu. Gw lagi benar-benar merindukan saat kita hidup di jaman jahiliyah pas masih di asrama. Oh my, oh my, bisa gila kali gw setelah lulus nanti. Huaaaaa, Yuke! Gw sadar, gw nggak akan nemu sosok yang kayak lo lagi di mana pun, tapi mungkin lebih baik dari lo, hahahaha.. *ngerusak momen yang harusnya terharu* maap ya sist. Makasih banyak ya Ke, untuk bareng-barengnya hampir 4 tahun ini, hah? 4 tahun? Ah, sebentar lagi mungkin kita harus mengakhiri, untuk mengawali kehidupan baru lagi. Entah, harus seneng atau sedih. Lo kan yang selalu gw perdaya, dan gw mintain tolong kalo ada apa-apa di kuliah. Ngerjain tugas bareng, ngumpulin tugas telat bareng, ngeloyor bareng kalo bete masuk kelas, bolos berjamaah, mandi bareng doang nih yang belum terlaksana :P

Ke, makasih ya atas pertolongan lo selama ini yang tak terhingga. Hmm, yang lebih sering sih bantuin translate Indonesia ke Inggris. Entah di kuliah, maupun luar kuliah (a.k.a ngirim sms bahasa Inggris untuk gebetan). Hihihi, ketauan dodolipetnya ya gw. Makasih lagi buat kesabaran lo yang tak terhingga. Ah, oke! Gw kehabisan kata-kata, mengulang kata ‘terhingga’ lebih dari sekali. Andai aja, ada kata selain ‘terima kasih’ yang artinya lebih mulia dari terima kasih, pasti gw tujukan ke lo, Ke.

Btw, maaf ya, belum bisa jadi temen baik lo selama ini. Gw nggak selalu ada di saat lo butuh. Gw nggak sesabar lo menghadapi sesuatu yang mungkin bermasalah. Jujur, kadang gw suka agak kesel karena gw nggak bisa setegar dan sesabar lo, tapi gw bersyukur, setidaknya gw bisa belajar dari lo, Ke, untuk beberapa hal ini.

Oh iya, salam buat mama ya, Ke. Maaf, belum pernah main ke rumah. Semoga selalu sehat ya, nyokap lo. Eh, lo juga tuh, jangan sampe sakit-sakitan lagi. Lo udah cinta air putih kan sekarang? Coba, tehnya lo selingkuhin dulu, jadiin istri kedua. Kasian mas ginjal, Ke, butuh belaian air bening, hehehe. *analoginya seru ya, ini :D*
Semoga kita bisa foto pake toga bareng ya tahun ini, aamiin. Satu lagi yang nggak boleh kelupaan, pendamping wisuda, bok! Huakakakakak *langsung galau maksimal deh lo* eh, gw juga ding! Oke, mari kita berdoa, semoga pendamping telah tersedia dengan sendirinya saat wisuda tiba. Aamiin. Ah, kenapa sih Tuhan mempertemukan dan menyatukan kita di saat terakhir gini? Kata Tuhan “why not?

Semoga, yang semoga-semoga nggak hanya sekadar semoga ya, Ke. Aamiin. Sebenernya ini surat cinta apa kumpulan doa sehari-hari ya?! Doa mulu dari tadi isinya. Udah ah, ntr keburu tisunya abis kalo kepanjangan, hehehe. See you on our last year of being an Indonesian literature undergraduate student. Bener kagak nih Inggrisnya? :P   

Sampai jumpa di tahun terakhir kita, mari kita buat lebih manis dari gula :)

                                                                                                                                        your partner-in-crime

26.1.12

Rekan Stalker, Apa Kabar? (3)


Hai..

Are you OK? Linimasa gw akhir-akhir ini hambar. Bukan karena sepi orang berlalu-lalang, tapi karena ada sesuatu yang hilang. Cuma lo yang biasanya berkicau-kicau aneh bin ajaib ala player yang haus belaian. Hahaha. Maaf ya, agak bongkar kartu nih jadinya. Mau nggak mau, memang harus kita akui lah ya, kalo kita sama-sama player. CMIIW.

Apa kabar kuliah lo? Semoga segera diberi petunjuk, biar kebingungan lo berujung damai. Jangan tanya kuliah gw apa kabar ya. Ikut doain aja biar tengah tahun ini bisa wisuda, aamiin. Hmm, satu lagi, mari kita sama-sama minta sama Tuhan, biar dikasih momen yang tepat untuk ketemu selanjutnya.

Anyway, thanks ya, udah menepati janji untuk dateng Minggu lalu. Meskipun hanya beberapa menit, bahkan nggak lebih dari 10 menit, gw udah bersyukur bisa liat lo lagi. Terima kasih juga atas kiriman seuntai semangatnya di siang bolong waktu itu. Terima kasih lagi untuk segala percakapan tengah malam berjam-jam demi menghibur gw setahunan ini. Oh iya, lupa, terima kasih juga karena nggak pernah bosen mencet-mencet keypad ponsel hanya untuk ngasih kabar dari jauh kemari. *PD banget gw ya, hahaha*

Jaga diri baik-baik ya, di sana, karena gw jauh dari lo.
*oke, anggap aja ini angin lalu, abaikan!*
Maaf ya, kalo gw bawel kayak emak-emak pasar yang jualan bawangnya nggak laku-laku :P
Agak khawatir aja kalo lo terlantar di sana, trus tiba-tiba lo ngamen dari warung ke warung sampe terminal gara-gara kehabisan uang jajan, wuahahahha.
Semoga persahabatan stalker kita ini nggak habis dimakan masa ya, aiiih. Kabar-kabarin kalo udah punya pacar, aw aw! Udah ah, gw nggak mau disidang lo abis-abisan setelah awal per-bully-an ini. Sampai jumpa di wisuda. 

24.1.12

Terlanjur Cinta

Hai Bandung,

Pasti banyak deh yang ngirim surat cinta buat lo, dan gw adalah satu di antara ratusan kepingan cinta yang ditujukan khusus buat lo. Anyway, gw kangen. Rindu berat. Padahal gw sempet tahun baruan sama lo di awal 2012 lalu. Kalo diitung-itung, gw udah bolak-balik bercengkerama dengan lo tepat tiga kali di tahun 2011. Awal 2011, gw memutuskan untuk menghabiskan liburan gw bersama lo. Waktu itu dalam rangka melepas rindu, karena memang udah sejak lama gw ngidam pengin ke Bandung. Kali pertama dan terakhir gw ke Bandung tuh saat gw berusia delapan tahun, dalam rangka piknik keluarga besar lembaga pendidikan. Betapa masih melekatnya ingatan gw ketemu temen baru selama tiga hari itu. Sekarang dia apa kabar ya? Sempet dapet info kalo dia udah menikah dan punya anak. Wah, selamat ya! Kangen banget deh pengin ketemu, setelah terpisah sekitar 14 tahun lalu.

Gara-gara itu, gw punya impian untuk bisa ke Bandung lagi—kota yang gw cintai. Beruntungnya gw, Tuhan ngasih kesempatan sehingga gw bisa ke sana lagi. Kali ini gw bertemu lo di saat usia gw 21 tahun. What a beautiful memories? Bahkan, ini adalah kali pertama gw pergi ke luar kota sendirian, nekat, karena tujuan gw hanya bertemu Bandung. Seneng tak terhingga karena gw sampai dengan selamat. Sempet hampir nyasar sih, tapi tetep seru lah.

Well, tengah tahun 2011, ada aja alasan yang membuat gw ke sana. Sesuatu yang sangat gw kagumi. Kopdar. Aneh memang, tapi inilah kehidupan. Mari kita buat lebih seru! Yeah! Hanya satu alasan mengapa gw ke sana: ketemu seseorang. Namun, niat hati ngasih kejutan, orang yang ingin gw temui justru pulang. Ah, belum jodoh kali ini. Meski begitu, gw tetep punya cadangan, hahaha. Malam Minggu di kampus itu, terima kasih ya ‘kamu’, Bandung juga. Entah apa yang bikin gw tambah cinta. Sungguh. Banyak hal tak terduga terjadi di sana. Asmara. Ya, apalagi kalau bukan itu. Sampai sekarang pun masih. Baiklah, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.

Liburan akhir tahun 2011 datang, gw nggak mau melewatkan begitu saja. Hanya karena gw cinta dengan salah satu acara komedi yang sedang hangat di media, gw rela mengejar off-air sampai ke Bandung. Akhirnya, gw memutuskan untuk menghabiskan momen tahun baru di sana. Ah, manisnya. Gw nggak tau kenapa bisa secinta itu. Gw nggak bisa nyebutin apa alasannya. Bahkan, setelah gw lulus nanti, gw pengin banget menetap di sana. Bukan di tempat gw menuntut ilmu sekarang, atau belahan negara lainnya yang lebih terjamin. Gw hanya butuh lo. Semoga kita bisa bertemu lagi kapan-kapan ya, merenda kehidupan bersama di sana.   

Aku masih menunggu dengan cinta, see you ya :)

23.1.12

Bingkisan Buat Si Keriting

Helow Gayih Keriting..

Alhamdulillah ya, udah bisa napas kan sekarang? Huahaha, kan dari kemarin ngos-ngosan ditambah deg-degan mulu. Gimana? *pertanyaan yang selalu ditanyakan ke pengurus oleh alumni pengurus :p*
Rasanya adegan cerita di kantin asrama kemarin-kemarin masih ingin gw perpanjaaaang! Belum puas. Makasih banyak ya udah mau cerita, kapan lagi nih? *nagih* abisnya agak bosen juga sama curhatan-curhatan tentang percintaan.

Kalo mau looking at back sejenak, “manajer teknis gw ini dulunya karbitan tuba 2009 loh!” *pamer ke orang-orang* jangan salah sangka, meskipun agak-agak cungkring caur rada jangkis, kalo diliat agak lamaan dikit, tetep manis kok. “trus trus, pas 2010 jadi komandan alat tuba” hebat ya.. Eh, hebatan gw ding, jadi komandan pasukan, huahahaha *jumawa!* gini nih, kalo anak MB mah udah nggak ada tersinggung-tersinggungan, karena kita semua keluarga (peluk teletubbies), iya, keluarga yang tidak berencana, biar nggak repot-repot minum pil KB. Cus!

Tengkyu berat ya Gal, udah berhasil melewati proses di 2010 yang dahsyat. Komlat Tuba yang kadang lebih cerdas dari Kompasnya (ini kadang lho ya, bukan sering :p jangan GR!). Komlat yang serba tau sebelum dikasih tau, gw juga nggak ngerti ya kenapa bisa begitu, padahal waktu itu belum musim stalking loh.. Anak tuba yang bulu matanya jauh lebih lentik dari gw (Oh, GOD! Ini siapa yang perempewi sih?). Mahasiswa tuba yang penyabar, penyayang, pengertian, tau sekitar, dan udah punya pacar (eh, itu mah dulu, sekarang udah nggak) huahahaha. Ya pokoknya dia itu tipe setia lah. Nih ya, buat jomblo-girl yang baca tulisan ini, kenalan deh sama doi, nggak rugi. Tuh Gal, udah gw promosiin segala di media sosial. Jangan lupa transfer biaya iklan ke rekening ya abis ini! :D

Well, terima kasih banget udah sangat menolong gw di 2010 lalu, dalam hal apa pun. Gw nggak kesulitan ‘membentuk dan mengatur’ lo untuk ini itu, karena inisiatif lo cukup tinggi, tau kalo suatu hal baiknya diapain, digimanain biar adil. Komlat yang tanpa nanya apa pun, tapi tau gimana caranya harus gantiin kompas buat mimpin apel at the first time di depan pasukan. Gw juga banyak belajar dari lo. Apalagi saat kita di kepengurusan, hal-hal yang nggak dipikirkan oleh pengurus, justru muncul dari lo. Mungkin karena lo udah dididik mental karbitan, jadi kalo ada apa-apa, cepet tanggap. Oh iya, terima kasih juga kejutan ulang tahunnya waktu 2010. Maaf ya, waktu itu emang lagi sensitif-sensitifnya, eeee.. malah dikerjain. Gw tau kok, kalian sayang sama gw, and its just surprise, nggak ada maksud negatif apa pun. Gw masih inget, bahkan cuma lo yang waktu itu nggak setuju sama ide ‘ngerjain’ ini awalnya.

Hmm, maaf, karena gw belum bisa ngasih apa-apa ke lo. Gw lebih suka mendengarkan soalnya. Saat apa yang gw denger, menurut gw cukup bener, buat gw ya cukup. Tanpa harus bilang iya, setuju, atau menunjukkan gestur apa pun. Maaf, karena gw nggak selalu bisa ngasih solusi yang solutif buat setiap problema yang muncul. Intinya, semua ini emang anugerah dari Tuhan, keberhasilan apa pun.

Maaf ya Gal, mungkin gw sering ngeselin di sembilan bulan 2011, nambah-nambahin kerjaan lo yang harusnya kerjaan gw. Makasih, masih mau menghargai gw sebagai PO, meskipun gw ‘bolong di mana-mana’. Makasih banget juga udah sering ngingetin kalo gw udah dirasa ‘kebablasan’. Maaf lagi, karena gw nggak sesempurna itu, nggak sesempurna yang lo inginkan sebagai seorang pimpinan. Makasih udah mau berjuang hingga tetes darah terakhir buat the first project kita. And.. well done! Terlepas dari apa pun itu yang namanya kekurangan. Gw bangga dan beruntung punya mentek kayak lo. Proud of you lah pokoknya.

Lanjutkan setahun terakhir ke depan, pasti bisa lebih sukses dari ini. Setahun kemarin banyak yang bisa dijadikan pelajaran buat lo dan para manajer lainnya, apalagi gw. Kadang ya, sepahit apa pun harus tetep ditelan, gimana pun caranya, mau sukarela atau dipaksa. Gw emang nggak tau gimana rasanya di posisi lo, apalagi saat-saat genting waktu itu. Namun, yakinlah doa gw nggak pernah putus buat kalian. Memang, nggak cukup membantu, terlalu abstrak, tapi setidaknya gw sempet-sempetin ngobrol sama Tuhan, biar dimudahkan segala urusan.

Udah dulu ya, Gal, gw nggak mau ngabisin tisu. Global warming katanya, hahaha.
Kalo tempat sampah alias trash bag persediaan manajer perlap abis, gw siap sedia jadi ‘tempat sampah’ selanjutnya.
Mungkin gw hanya bisa jadi PO lo sembilan bulan, tapi untuk jadi temen, gw rasa Tuhan akan ngasih bonusan yang lebih dari sekadar sembilan bulan :')


Salam hangat,
dari gw,
buat @gsundana

22.1.12

Kado Kecil Buat Tepi

Halo Tep, kali ini gw nggak akan nanya kabar, karena gw tau pasti, kalo lo baik-baik aja :D

Anyway, mumpung masih dalam suasana ke-euphoria-an post project syndrome, tetep mau nyalamin, ngucapin, cipika-cipiki, meluk lo erat-erat—tapi nggak sambil mewek, kali ini ya—juga mau ngasih big proud atas one of the biggest innovation yang lo impikan setahun lalu.
CONGRATULATION, CONGRATULATION, AND CONGRATULATION!
Kalo gw udah nemu kosakata yang lebih dari ‘congratulation’, nanti gw sampein lagi kali lain :p, meskipun gw sastra Indonesia, gw nggak pandai berkata-kata, karena gw hanya bisa menyampaikan sesuatu apa adanya, sesuai dengan apa yang gw rasa.

Well, kalo kita mau looking at back, gw nggak heran lah kalo proyek ini cukup berhasil—terlepas dari faktor abcd xyz and others shithappened apa pun itu—karena lo emang tangguh. Ini bukan gombal, bukan pula rayuan, hanya sekadar ungkapan. Gw nggak tau, lo minum vitamin apa setiap hari sampe-sampe lo tahan dibanting-digebuk sana-sini. UDAH GILA LO EMANG! *peluk lagi*

Makasih ya Tep, lo turut menciptakan jenis warna baru dalam hidup gw dari 2009, bukan mejikuhibiniu, tapi warna baru di luar itu, nggak tau apa nama warna baru itu, gw belum nemu. Dompet oranye dan surat romantis kertas ungu dari lo, masih gw simpen. Sengaja gw arsipin biar bisa dikenang, dan biar gw selalu inget kalo proyek Dancing in Jazz 2009 masih berkesan sampe sekarang.

Terima kasih lagi atas perjuangan jatuh bangunnya lo bertahan di 2010 dan baritone satu, hingga akhirnya kita divonis kalo MBUI juara satu. Proud of you! Semua ini pembuktian atas lo, yang kemudian dipercaya banyak orang untuk megang unit ini. Lets see, lo cukup nekat untuk bikin imajinasi nggak cukup cuma di mimpi, melainkan harus ditindaklanjuti. If you dream it, you can do it! à kalo ini mah motto gw :D tapi kenapa jadi lo yang mewujudkan ya? Hahaha. Hidup itu kadang kebolak-balik. Soalnya kalo lurus-lurus aja, bukan hidup namanya.

Terima kasih ya Tep, udah ngelarin satu. Tinggal satu lagi nih rupanya, nggak kerasa ya..

Gw bersyukur ketemu orang seperti lo, beruntung karena bisa belajar dari lo, orang yang lebih muda dari gw, tapi kadang-kadang justru bisa lebih bijaksana. Kalo kata orang-orang, penyesalan selalu datang terakhir. Namun, dalam kamus gw nggak ada yang namanya penyesalan, yang ada cuma pelajaran. Sesimpel itu, karena hakikatnya hidup itu cuma buat belajar, tapi bukan untuk belajar merasakan yang namanya sesal.

Meskipun raga gw nggak di tengah-tengah kalian, insya Allah doa gw nggak akan putus buat unit tersayang. Semoga ini, semoga itu, selalu gw sampaikan ke Tuhan. Alhamdulillah, apa yang gw panjatkan ya, selalu dikabulkan. Anugerah emang nggak ada habisnya. Tuhan nggak pernah ninggalin orang-orang yang banyak dosa hanya karena ‘kesalahan’. Mudah-mudahan setahun ke depan anugerah Tuhan selalu nyampe ke kalian. Entah apa sebutannya, ‘masih panjang perjalanan’, atau ‘tinggal setengah perjalanan lagi’, apa pun namanya, yang terpenting adalah nikmatnya kebersamaan selama setahun ke depan. Ini yang nggak bisa diulang setelah selesai nanti. Keep dreaming everyday, and we will get the way.

Maaf, gw se-nggak sempurna-itu, Tep. Kerjaan tetep kerjaan, teman tetep teman, bodo amat mau kerjaan udah kelar, tapi temenan nggak akan bubar.

Huwaaaah! Tetap tangguh ya, Tep. Semoga telepati-telepati positif gw selalu nyampe tiap hari. I miss you, all. But, I love you more..
:)

Salam hangat,
dari gw,
spesial untuk @tepikirpikir

18.1.12

Rekan Stalker, Apa Kabar? (2)

Halo rekan stalker,

Lo lagi di mana sih sekarang? Hmm, bukan, maksud gw seminggu terakhir ini di mana? Dua minggu lalu, sebenernya ada hal yang mau gw ceritakan ke lo, tapi karena kesalahan gw yang nggak sengaja gw lakukan, alhasil belum sempet deh sampai sekarang. Maaf ya..

Semoga di akhir nanti, lo nggak akan kecewa. Kecewa karena lo baru akan tau saat itu juga. So sorry, tapi ya gimana lagi? Pas gw hubungin waktu lalu, ada aja alasan yang membuat momen itu terlewat—lagi. Jadi, gw harap di antara kita nggak usah ada yang saling menyalahkan, ya..

Hmm, dua bulan lalu sebenernya hal ini mau gw sampaikan ke lo, tapi gw tau kalo lo sedang sangat-super-duper-sibuk-banget waktu itu. Jadi, gw memutuskan untuk menunda sampai entah kapan, yang pasti di saat waktunya tepat. Mungkin selama ini belum tepat kali ya, makanya Tuhan menggagalkan momen-momen itu, biar terlewatkan begitu saja.

Eh, sebentar. Baik sangka gw adalah: lo membiarkan gw fokus pada satu hal yang menurut kita sama-sama lebih penting dari apa pun. Di sisi lain, namanya manusia, pasti punya buruk sangka: lupa ya, kalo lo harus memberi beberapa kalori untuk mengisi energi gw setiap hari menjelang.. hmm, yaa menjelang itu. Atau, jangan-jangan lo—diam-diam—ternyata udah tau lebih dulu tentang hal yang mau gw sampaikan ini?

Oh, God! Please give me some drugs.. Gw pengin hilang ingatan tiba-tiba. Supaya pas ketemu lo, dan kalo nanti terjadi hal-hal yang sama sekali nggak gw inginkan, gw bisa tenang, aman, tanpa tuntutan. Tidak! Itu namanya lari dari kenyataan. Baiklah, apa pun yang terjadi nanti, semoga everythings gonna be ok!

Sampai jumpa,

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...