19.7.13

Membaca Diri Lewat Personality Test

Beberapa hari lalu, nggak sengaja liat hasil personality test di status Andhika. Karena ada di homepage facebook, mau nggak mau kepancing buat baca. Awalnya kepikiran “ah, paling personality test yang kayak biasanya itu.” Tapi, lama-lama kok ya diklik juga. Hahaha.

Sebelum liat halaman tesnya, sempet nebak sih bakal seperti apa bentuk tes dan segala pertanyaannya. Uniknya, pertanyaan dan hasil tes sama sekali nggak ada sangkut pautnya. Pertanyaannya apa, hasil analisis tesnya apa. Nah, setelah dibaca hasilnya, agak mendekati benar dengan kepribadian dan kebiasaan saya. Makanya, pas baca hasil dari personality test, senyam-senyum terus. Merasa ‘membaca’ diri sendiri. Lucu aja.

Your view on yourself:
You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.
The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You are not looking merely for a girl/boyfriend - you are looking for your life partner. Perhaps you should be more open-minded about who you spend time with. The person you are looking for might hide their charm under their exterior.
Your readiness to commit to a relationship:
You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.
The seriousness of your love:
You like to flirt and behave seductively. The opposite sex finds this very attractive, and that's why you'll always have admirers hanging off your arms. But how serious are you about choosing someone to be in a relationship with?
Your views on education
Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.
The right job for you:
You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.
How do you view success:
You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.
What are you most afraid of:
You are afraid of having no one to rely on in times of trouble. You don't ever want to be unable to take care of yourself. Independence is important to you.
Who is your true self:
You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.

Bahkan, saya berencana menyimpan hasil tes ini dalam waktu yang lama. Bila perlu, dicetak, trus ditempel di tembok kamar dalam waktu yang lama. Bila perlu, dicetak, trus ditempel di tembok kamar. Biar selalu inget dengan karakter diri. Kalau ada yang mau mencoba, monggo. Personality Test.

Second Day Sweetvalentrain Bandung

Rasa-rasanya memang basi banget sih, tulisan ini baru dibuat sekarang. Biar nggak basi, angetin dulu aja! Begini, tulisan ini dilanjutkan semata-mata karena dulu saya pernah dapet tiket kereta promo Jakarta-Bandung. Jadi, seperti merasa punya kewajiban untuk berbagi. Untuk First Day Sweetvalentrain Bandung, bisa dibaca di sini.

Hari kedua.
Saya dan Donat (nama bocah umur 16 tahun)—rekan liburan—sudah merencanakan destinasi yang akan kami kunjungi seharian. Pagi itu kami berangkat lebih awal karena motor sewaan sudah ditangan. Pukul 8 pagi, saya dan Donat siap melanglang buana. Tujuan pertama, ke Punclut. Berbekal peta—yang didapat dari google, dan ternyata petanya kepotong—kami berpatokan dengan nama-nama jalan yang ada. Intinya, tiba-tiba aja kami sampai di Jalan Setiabudhi. Untung masih pagi, jadi jalanan belum terlalu macet layaknya akhir pekan. Gawatnya, meskipun dulu saya pernah ke Punclut bareng Rezha-Ige-Rendy, plus temen-temen MBWG, dini hari, sekitar pukul setengah 1, saya lupa jalan menuju Punclut itu ke mana. Okelah, memang sih ya, kalau nggak nyetir dan pergi sendirian mah kadang nggak perhatian ke rute. Tinggal duduk manis, tunggu aja, nanti juga sampai di tempat tujuan. “perasaan waktu aku ke Punclut, deket kok. Nggak ada setengah jam, Nat.” nah, tapi kenapa ini jauh banget. Nanjaknya nggak kelar-kelar. Eeeeeh, tibalah kami di Lembang. Hahaha. Random abis. Sempet beberapa kali nanya ke orang di jalan, mereka cuma bilang “masih lurus terus, naik.” Ya kami percaya aja.

Hingga akhirnya kami sampai di Punclut tepat pukul 9.30 pagi. Huwaaaa! Mampir sejenak di warung kecil, pesen pisang bakar coklat keju plus kopi panas. Dan, yang paling wow adalah pemandangan belakang warung yang aduhai. Tak mau menyia-nyiakan keadaan, kami langsung jeprat-jepret. Punclut supersejuk. Lengkap sudah nikmat hari kedua pagi itu.
pemandangan belakang warung
itu dia warung kecil, tempat kami singgah
Donat, pisang bakar coklat keju dan kopi panas
Setelahnya, kami turun ke arah Ciumbeuleuit. Gila ya, baru sadar. Kami muterin Bandung ternyata. Sadis! Salut buat Donat—bocah tanpa SIM KTP yang nyetir motor sewaan dan ngeboncengin seniornya. Hahaha. Lanjut ke destinasi berikutnya: Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Lokasinya di Jalan Bukit Pakar Timur – Dago Atas. Kami meluncur ke TKP. Kadang kebablasan, kadang puter balik. Begitulah seninya mencari alamat. Untungnya bukan alamat palsu ye! Agak susah menemukan tempat ini, karena lokasinya di daerah yang cukup tenang, sepi, lepas dari keramaian kota.

Begitu ketemu, aaaaaaaaah! Lega. Seneng banget. Bangga. Akhirnya kesampean juga ke SSAS. Cukup sepi, mungkin karena masih siang. Biasanya tempat-tempat seni ramai dikunjungi sore/malam hari, atau saat ada acara diskusi/pameran. Memang sih ada pameran lukisan di ruang utama, tapi kebetulan waktu itu cuma kami berdua pengunjungnya. Hahaha. Sayangnya lagi, nggak boleh foto-foto di dalam ruang utama/mengambil gambar lukisan/karya-karyanya. Baiklah.
dinding selamat datang SSAS
Tata ruang utama di sana cukup seru. Desain modern minimalis, juga kaca-kaca yang dibuat seperti tembok, menarik. Saya paling suka suasananya: tenang. Pun setelah saya keluar dari ruang utama, menjelajah ruang-ruang lain. Nah, tak perlu khawatir untuk masalah foto. Kita bisa mengambil gambar sepuasnya di luar ruang utama. Justru menurut saya lebih unik. Ada Bale Handap (pendopo untuk diskusi), Bale Tonggoh, Amphiteater (biasanya untuk pertunjukan), juga kedai Kopi Ireng dan ruang cinderamata. Angkat topi lah untuk rancangan arsitekturnya.

halaman depan Bale Handap
sisi kanan Bale Handap
sisi kanan Bale Handap
tangga selasar Bale Handap
ruang sebelum ke Bale Handap
Bale Handap
Amphiteater
panggung Amphiteater
Amphiteater dilihat dari tangga paling atas
halaman depan ruang cinderamata
ruang cinderamata
halaman depan SSAS
halaman depan SSAS/Kopi Ireng
halaman belakang SSAS
dibalik dinding ini ada mushola
Bale Tonggoh

Jam menunjukkan pukul 12.45, perut serasa dikoyak-koyak snare drum. Hahaha. Karena kami memang sudah punya list, tempat makan mana saja yang wajib dicoba, maka kami memutuskan makan siang di Doci Ramen (Jalan Dipatiukur), seberang Cititrans. Siang-siang, panas, suguhannya mi ramen pedas. Komplet! Btw, Sabtu malamnya, kami sempat kemari, tapi waiting list alias nunggu karena tempatnya super-ramai. Daripada kami mati penasaran pas malam gagal, siang pun jadi.

Anyway, saya juga janjian dengan temen SMA: Gilang dan Hudi. Ketemu di Doci Ramen juga. Demi nunggu mereka dateng, kami rela berlama-lama disiksa pedas. Bahkan, sampai nambah minum beberapa gelas. Fuh! Nah, setelah mereka berdua datang, diputuskanlah ke Gelap Nyawang demi tempat kongkow yang lebih cozy. Agak deg-deg ser gimana gitu. Tak usah dibahas :p

Di Gelap Nyawang, Gilang dan Hudi makan siang, kami cuma bisa nonton karena masih superkenyang. Padahal pengin banget nyoba Kare Kambing (bener nggak ya, lupa!). Nah, sebenernya Sabtu malam—setelah tahu Doci Ramen penuh—saya dan Donat berencana makan di Gelap Nyawang, tapi nggak nemu karena gelap. Err. Klise. Ngobrol ke sana kemari, sampai pada akhirnya memutuskan untuk pergi ke BIP. Ah, padahal kan dari awal saya dan Donat mengikrarkan janji bahwa kami dilarang keras pergi ke mall. Tapi yasudahlah, karena destinasi utama sudah terlaksana semua, luluh juga diiming-imingi mall :p

Sampai BIP, mainnya timezone. Hah! Kami main apa sodara-sodara? DDR. As usual. Setelah keringetan jingkrak-jingkrak, mampirlah kami ke KFC. Mainstream oh mainstream. Nggak masalah sih selama di mall ada yang nanggung biaya administrasinya, hahaha. Thanks Gil, Hud. Terakhir, mampir ke toko mainan dan Kartika Sari. Tuntas sudah perjalanan hari kedua saya dan Donat :')) sebenernya ada beberapa peristiwa deg-deg ser yang terjadi sih, tapi rahasia. Hahaha.

17.7.13

Demi Waisak (2)

Hari pertama. Destinasi pagi ini adalah Pantai Ngobaran dan Ngreyahan. Kami bertiga udah ready sejak pukul 7.30. maklum, didikan marching band. Namun, apa daya. Orang-orang masih ada yang belum mandi, belum makan, belum lalalili. Errr.. malam sebelumnya, saya dan Vieza membaptis Della sebagai Komlat selama Trip Waisak. Jadi, tugas Della adalah berkomunikasi dengan si Mbak Trip Waisak, tanya jadwal, dan lain-lain. Hahaha. Thanks Kodel ;)

Karena ada sekitar 18an orang, jadilah kami berangkat pukul 9.00, menuju Gudeg Yu Djum. Apa? Makan? Ya, makan lagi. Padahal udah pada sarapan di homestay tadi. Memang sih, sarapannya roti, teh, kopi. Oh, mungkin mereka menganggap itu semua adalah kudapan. Oke. Meskipun saya orang Jawa, sebenarnya saya pribadi tidak terlalu suka Gudeg—apalagi lama nggak makan nasi. Akhirnya saya cuma pesen es jeruk. Gudeg Yu Djum ini termasuk mahal, sekitar Rp15.000—Rp25.000/porsi. Untuk ukuran Jogja, harusnya bisa sangat murah. Sekali-kali nggak apa sih ke Resto Gudeg, biar bisa membandingkan rasanya.
Gudeg Yu Djum (tapi nggak ada wujud Gudegnya, hahaha)
Setelah urusan bayar-membayar kelar, kami langsung cabut ke destinasi awal. Kira-kira pukul 10.20 baru jalan—karena ada suatu hal (shit happened). Dalam hati, “mantai kok ya siang-siang begini”. Ajaibnya, sampai di Pantai Ngobaran-Ngreyahan, kami kepanasan (ya iyalah). Jarum jam aja udah mampir ke angka 12, gimana nggak panas?! Kesan pertama sampai sana: onde mande, ramainyoooo! Ya karena memang sedang musim liburan sih. Anyway, ‘musim liburan’ ini saudara sepersusuan dengan ‘musim kawin’. Jayus! Baiklah, lanjut. Hmm, pasir di sana bukan putih, bukan pula hitam, melainkan coklat muda agak putihan. Selain itu, pantai ini juga seru tempatnya karena ada candi-candi dan patung kecil, plus relief bebatuan yang sangar. Bahkan, saya sendiri sempet ngrasa seperti bukan di Jogja, tapi di Uluwatu. Mirip, suasananya; tempatnya.
(lupa, ini namanya patung apa, hahaha)
Yap, apalagi selain menghirup udara pantai dan mendengarkan desir ombak. Aih. Siang-siang, tapi tetep semilir. Kami pun tak lupa jeprat-jepret meninggalkan jejak dan bukti bahwa kami pernah di sini (I was here), asal nulis kalimatnya bukan di tembok/tempat yang mengganggu alam dan semesta sih nggak apa. Walaupun kita bukan anggota pecinta alam, kita wajib mencintai alam. Kok gitu? Ya, karena alam juga telah memberi kita kehidupan sampai detik ini. Mencintai adalah saling memberi. Hazeek! Setop!
Saya dan Vieza di salah satu sisi Pantai Ngobaran
Vieza dan bebatuan sangar
Bebatuan dan jernihnya air Pantai Ngobaran
Vieza, Idha, Della (nggak afdol kalau nggak foto bertiga)
Setelah agak capek, kami pun menyerbu kedai es kelapa muda. Duduk manis di atas gazebo kecil ditemani seruputan sejuknya air kelapa—iya, air kelapa karena buah kelapanya sedikit. Jajan-jajan bentar, lalu cabut lagi. Destinasi berikutnya: Candi Borobudur. Perkiraan waktu yang ditempuh, sekitar 3—4 jam perjalanan. Ditambah mampir makan siang dulu berarti 5 jam-an. Makjang! Bisa-bisa sampai sana malam. Jalan menuju Borobudur macet gila, plus hujan deras cukup lama. Yah, udah putus asa. Pasrah. Mau nantinya kebagian masuk atau nggak, terserahlah.

Tsakeup! Kami tiba di kompleks Borobudur pukul 18.30, belum muter-muter cari parkir dan membebaskan diri dari macet sepanjang pintu masuk. Pintu masuk Borobudur, bukan pintu masuk Candi Borobudur. Perjalanan masih panjang, bro! fuh. Btw, kami setengah jam berdiri di depan pintu keluar utama karena agen trip bingung dan lagi ribet. Hingga pada akhirnya diputuskan untuk ngojek ke pintu 7 alias pintu masuk utama. Haiyaaaah! Udah makmum, masbuk pula. Pasrah (lagi). Ada satu motor yang bertiga, ada juga yang berdua. Saya dan Della satu motor, Vieza satu motor. Nah, karena ada sekitar 5 atau 6 motor, dan abang ojeknya kurang kompak, jadi ada beberapa motor yang pisah. Lewat jalur masing-masing sesuai keyakinan abang ojek, hahaha. Ada yang lewat jalan raya, ada yang lewat gang kecil nan gelap, ada juga yang lewat rumah-rumah penduduk alias nyempil.

Setelah melewati rintangan jalan sepanjang Borobudur yang supermacet, saya dan Della pun tiba di depan pintu masuk utama. Persis di depannya. Cuma ya itu, kami kehilangan rekan-rekan. Sinyal hp juga ilang-ilangan. Susah menghubungi orang-orang. Saat itu, saya bertugas menguhubungi Monik (temen Trip Waisak), Della menghubungi Vieza. Keduanya nihil. Berharap ada keajaiban di antara antrean panjang super-riweuh demi berhasil masuk ke kawasan Candi Borobudur. Daaaaaan, ternyata di antara kerumunan itu ada rombongan trip. Alhamdulillah.

Nah, tapi ada satu yang justru masih (sangat) mengkhawatirkan: Vieza. Ke manakah anak satu ini? jangan-jangan nyasar ke Malaysia nih. Selama sinyal masih buruk, teknologi secanggih apa pun tidak bisa diharapkan memang. Cuma doa. Ya, doa. Hmm, selang berapa menit kemudian, hp saya getar-getar. Ada sms dari Vieza. Isinya: “Dha, gw nyasar T_T huhuhu..” kan, bener kan, nyasar ke Malaysia. Hahaha. Ada-ada aja nih The Lost Pija.

Yak, mulai bingung. Harus bagaimana ini? jawabannya, ada di tulisan selanjutnya. Hahaha.

Demi Waisak

Ini bukan garapan baru saingan “Demi Ucok” agar menang di FFI. Sama sekali bukan. Mei lalu, akhirnya saya, Della, dan Vieza berangkat ke Jogja. Kami bertiga saja. Sebelumnya, sekitar Maret/April secara tidak disengaja melihat tweet Atha dan Diego—IKSI 09—tentang Perayaan Waisak di Jogja. Daripada mati penasaran, dikliklah link tsb, dan jadi keterusan deh pengin tahu lebih lanjut 5W1H Waisak itu. Hahaha. Berhubung saya punya stok temen yang murahan kalau diajak jalan, saya langsung menghubungi doi plus ngasih tahu linknya, siapa tahu berminat. Selang berapa lama, tanpa basa-basi, dia pun mengiyakan. Mureeee!

Setelah gugling sana-sini, ketemulah saya dengan jodoh. Hahaha, bukan. Maksudnya, saya nemu salah satu perkumpulan pejalan yang kebetulan mau ngurus ini itu untuk Trip Waisak di fesbuk. Ada rundown sederhana plus total cost. Wuih! Saya langsung invite Uswah, biar gampang. Pertama, karena saya nggak tahu apa-apa tentang Pelepasan Lampion dan Perayaan Waisak—meskipun udah berusaha tanya; gugling. Kedua, saya first-timer ke acara dan perayaannya, khawatir ribet dan sebagainya, jadi ya nggak ada salahnya gabung ke grup para pejalan itu. Ketiga, pengin tahu aja gimana rasanya ikut grup traveler. Toh barangkali bisa nambah temen dan jaringan.

Nah, ternyata temen saya yang murahan ini—sebut saja Uswah—ngajak beberapa orang lagi untuk gabung. Salah dua yang nyantol ya si Della dan Vieza ini. Segala reribetan pun disiapkan masing-masing, mulai dari sms si Mbaknya, transfer ini itu, sampai akhirnya Uswah memutuskan berangkat ke Banyuwangi. Yap. Ayahnya sakit, jadi Uswah pulang ke rumah. Pun bukan tepat bentrok di hari H, setidaknya Uswah akan merasa lebih tenang tetap di rumah atau di Jakarta sembari berdoa untuk kepulihan Ayahnya, alih-alih bertamasya menuruti ego semula.

Baiklah, bertiga juga tak masalah. Anyway, duo maut temen saya memang mau nggak mau harus bolos latihan marching band sih, huahahaha. Nggak apa, dosa sehari. Buat saya pribadi, jadi berangkat ke Jogja adalah salah satu kebahagiaan. Karena, Jogja-lah satu-satunya saksi bisu bahwa saya pernah memuja gebetan yang sekarang beristri; beranak; dan telah mengabdikan dirinya di salah satu rumah sakit. Dududu. Kali terakhir berkunjung ke sana kalau tak salah sekitar 2009/2010. Itu pun main-main nggak penting. Pengin tahu wujud Jogja yang sekarang, entah. Rindu ternyata cuma sesederhana itu rupanya.

Trip Waisak ini rencananya hanya 2D2N, tapi saya berniat lebih lama di Jogja karena ada keperluan: ke UGM dan jalan-jalan, plus nengok MB-MB latihan. Seperti apa perjalanan 2D2N kami? Insya Allah saya lanjutkan di tulisan berikutnya ya.

23.6.13

............

Setiap jengkal, mengurai jeda
Mengucapkan selamat pagi pada asmara
Meluruhkan dosa semesta

Berlari menuju langit malam
Menyergap gumpalan kabut yang tak pernah surut
Seketika itu, kita tak lagi berjabat rindu

Lalu, kaupanggil jua potongan subuh pada tubuh yang lusuh
Membangunkan alam dari buai larut
Memintaku segera berdebat dengan kenyataan.

20.6.13

Kehilangan Mei

Kurasa, aku lebih tabah dari hujan di bulan Juni.
Segala lara ditimpa atas rasa.
Bersembunyi dibalik langit-langit Tuhan.

Tak mengenal musim.
Tak menjejak bulan.
Tak melawan matahari.

: aku kini.

                                                                                      seperti Sapardi--aku kehilangan Mei.

Jelma - Menjelma

Perempuan itu—cuma kadang-kadang—susah dimengerti.
Selebihnya baik-baik saja.
Saya juga perempuan, tapi juga kadang menjelma lelaki.
Bahkan, lebih terlihat kuat dibanding lelaki asli.
Tak percaya?
Aku juga.
Jadi, jangan percaya!
Itu kuncinya.
Gampang.

Sederhana.

Kau Pada Kertasku

Surat-suratmu yang dulu, kini menguap bersama angin.
Katanya, tak sehat kalau terlalu meretas masa lalu.

“ah, masa?”
“mengapa kau tak percaya saja?”

Sudahlah, ini bukan urusanmu lagi.
Tentunya, ingatan tentang goresan huruf-hurufmu pada kertas bergaris masih melekat.
Kau boleh saja tertawa hidup-hidup!

Tentang kekasih.
Tahbisan kata yang belum sempat kausampaikan.
Atau mungkin memang sepertinya sengaja dipendam.
Karena kita punya banyak alasan.
Untuk tak saling serang.

Untuknya.
Untuknya.
Jalan kecil pun punya jeda antardindingnya.
Ya, mungkin kau tak lebih tau dariku—lagi lagi tentang mungkin.
Karena aku tak terlalu percaya pada pasti.

Mei saja berani kau khianati,

Kasih.

16.6.13

Kau Harus Dengar!

Sudah saya katakan sebelumnya, dunia semakin bising; semua orang ingin didengar; setiap orang (kadang) ingin dirinya dianggap penting pada koloni-koloni masing-masing. Entah, lebih baik kita sama berdoa supaya tanah, air, juga udara tak ikut-ikutan pening. Manusia mana yang tak murka?

Saban yang bernyawa punya rasa. Haus puji, dan puja. Terlena; lupa; lupa yang sangat lama, sedikit-sedikit hati jadi beku—bahkan tak terasa.

Terasing, benar-benar hanya perlu muncul atas nama diri sendiri—tanpa orang lain. Belum sudi, katanya.

Pelan-pelan sadar, bahwa Tuhan sengaja memberi dua telinga: agar manusia lebih banyak mendengar; berpikir dengan mendengar; bertindak dengan mendengar; melihat dengan mendengar; meraba dengan mendengar; memahami sesuatu dengan mendengar; peka sekitar dengan mendengar. Padahal, kau tak perlu susah-susah untuk mendengar. Sederhana. Tak butuh biaya tambahan untuk lebih mendengar.

Listen more, learn more.
Padahal, firman Tuhan sangat jelas tertulis di kitab-kitab. Dia hanya memberi satu mulut pada manusia. Satu saja racaunya tak berguna, apalagi dua; tiga?!

Manusia-manusia yang penuh keluhan penyesalan, kapan kau berhenti menyesal? Ketika sudah tak bernyawa lagi? Ketika nurani telah mati? Atau, setelah kau bangun dari khayalan-khayalan tak bertuan yang kau imani?

Pupus.
Dunia (benar-benar) akan mati perlahan.
Tanpa manusia yang mau menurunkan derajat keegoannya yang telanjur tumbuh subur.
Karena, hidup bukan sekadar kelakar panjang-lebar, melainkan tentang sadar—arti mendengar.

Kau boleh saja ada di pihak lawan—yang lebih suka mengeluarkan stok tumpukan kata.
Namun, kau juga harus tahu bahwa—pada hakikatnya—Tuhan tak pernah banyak bicara; Dia mendengar. Tak ada Maha Berbicara; Maha Berkata, yang ada hanya Maha Mendengar.

Memahami skenario dari Sutradara sebelum memilih peran, dan menjadi lakon sandiwara kehidupan: kewajiban—adalah ihwal—yang kau pun tak perlu tahu apa sebab sehingga diwajibkan—yang sepatutnya dijalankan.

13.6.13

Begini


Dunia sudah terlampau bising,
sedang aku lebih padu dengan telingaku.
Gema suara di tengah udara malam tadi menggagalkan sebuah sakralisasi.

Bingung.
Lalu, murung.
Pelik.
Lalu, ingin mati.


Ya, cukup begini.

12.6.13

Tentang Malam Yang Kalut


Sebelum terpejam, aku terbiasa diterkam. Pikiran-pikiran busuk lari tanpa tujuan.
Juga gagasan-gagasan manis menjanjikan tak hentinya selesai.
Otak cuma menghadirkan rentetan data yang telanjur disimpan.
Apalagi tentang kenangan, tak sedikitpun berantakan. Masih rapi.
Meski saat ini tak lagi menyatu seperti dulu.

Obituari dan tragedi sekadar saksi, saksi bahwa selama perjalanan menuju rimba raya sempat tersendat.
Mampir sejenak di pemberhentian.

Kemudian, tak berapa lama melanjutkan untuk pulang diam-diam—mungkin saja.

Teka Teki Pagi


Pagi tadi, ada bongkahan gelisah menggelayut pada dinding tubuh
Entah apa
Bangun, buru-buru merapal namanya
Khawatir atas ketakutan yang terlampau panjang
Seperti ada seseorang yang mengejar
Menginginkan sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu

Segera kulayangkan pesan pendek pada mereka
Meminta meyakinkan bahwa aku akan baikbaik saja seperti biasa

Namun, belum kutemukan jawabannya.

13.5.13

Matahari boleh saja tenggelam, tapi rindu kita jangan
—Idha Umamah


Bulan lalu,
tak ada pertemuan.
Kata-kata sederhana pun tak muncul di percakapan.
Kurang tau apa sebab.
Tak lain dan tak bukan,
sekadar karena terkesiap jarak.

Sengaja tanpa perayaan.
Kau bilang, “di lain waktu saja menyingkap jedanya”
Seketika itu pula aku mendadak mati.
Bukan mati suri,
aku benar-benar mati.
__________________________________________

Kemudian,
tiba-tiba sadar; bangun.

Menciptakan lajur baru yang beberapa hari lalu kuabaikan.
Tak berapa lama, datang pula kejutan-kejutan.
Itu pasti dari rindu!
Ya,
Rindu.

11.5.13

motivasi kadang datang tanpa diundang

Contohnya:
Setelah—secara nggak sengaja—ketemu temen baru, yang adalah temennya temen gw. Hidup supersehat. Nggak nanggung-nanggung sehatnya—iya, nggak kayak gw, yang nanggung.

Seru, seneng rasanya punya temen yang bisa diajak berbagi mengenai kesehatan. Dalam kamus hidup gw, nggak tebersit untuk mengamini “mumpung masih muda, nikmati aja makanan yang ada—apapun”. No! gw pernah bilang kan, kalau apa yang ada di diri kita sekarang adalah investasi masa depan. Abstrak memang. Nggak semua orang bisa mengamini pernyataan itu, apalagi mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang gw salut dari dia adalah kekonsistenan dan stabilitas atas rutinitas yang dia lakukan. Lagi-lagi konsisten. Jadi inget MB—yasudahlah, haha.

Gw—yang beberapa hari ini telah melakukan ‘dosa’ karena menjadi seorang ‘omnivora’—akhirnya sadar bahwa gw harus cepat-cepat kembali ke rutinitas awal gw agar tetap sehat. Terdengar nggak penting dan klasik. Penuh klise. Atau ‘yaelah Dha, gitu doang, jangan lebay deh’.

Kami sempet cerita-cerita tentang makanan apa aja yang dimakan sehari-hari selama ini. Hingga pada akhirnya menghasilkan satu kesimpulan bahwa makanan sehat itu ‘kadang’ mahal/lebih mahal dari makanan ‘kotor’ (red.).

Contoh kasat matanya adalah, makanan macem roti gandum, selai kacang, yoghurt, susu rendah lemak, dan makanan pendukung lainnya—yang bisa jadi variasi biar nggak bosen—memang lebih mahal dari yang lain. Yaaa, kecuali sayur-sayuran, telur, tempe, dan tahu. Buah-buahan pun kadang mahal. Pasalnya, dalam satu hari, makan normal itu harusnya bisa sampai 5 atau 6 kali, atas asas ‘makanlah setelah lapar-berhenti makan sebelum kenyang’. Sebaliknya, kebiasaan sebagian besar orang adalah makan sebelum lapar dan nggak akan berhenti sebelum kenyang. CMIIW.

Jadi, di artikel ini, sebenernya gw mau ngomongin apa sih? Hahaha. Nyebrang sana nyebrang sini. Gapapalah, nyampahnya semoga bermanfaat. Syukur-syukur bisa membuka mata.

Atas pertemuan itulah, motivasi gw hidup kembali. Hahaha. Maka dari itu, bagi temen-temen yang masih nanggung kayak gw, mari tuntaskan! Totalitas. Dan, bagi temen-temen yang masih ragu, ‘buat apa sih hidup sehat nyiksa gitu?’, ya terserah aja. Gw lebih memilih menyelamatkan masa tua gw nantinya, daripada harus telentang di rumah sakit dan menjalankan berbagai macam terapi/minum obat karena kebanyakan penyakit. Bebas milih kok :’)

7.5.13

Tentang Kartu Pos Yang Belum Kau Terima



November 2012 lalu, sebelum berangkat ke Thailand untuk ikut kompetisi marching band di Ubon Ratchathani, gw iseng-iseng kirim kartu pos. Ceritanya, waktu itu, KOMPAS punya acara Kompasianival di Gandaria City. Cukup beragam, ada stand up comedy show—yang adalah GePamungkas. Lalu, ada juga bazaar. Nah, di salah satu booth bazaar di sana, ada booth CardToPost. Wah, apakah ini? Sila tengok lebih jauh tentang CardToPost di sini.

Gw dan beberapa teman, tertarik untuk tanya-tanya lebih lanjut, hingga akhirnya ditawari bikin kartu pos sendiri. Ya, komunitas CardToPost yang menyediakan kartu posnya, kemudian kami yang menghiasnya dengan gambar dan kata. Nanti, mereka yang ngirim ke alamat tujuan secara kolektif. Intinya, yang datang hanya perlu ngehias-hias kartu pos, nulis ucapan, bayar biaya perangko, selesai.

Akhirnya, gw memutuskan untuk ngirim satu kartu pos itu ke sahabat gw yang ada di luar Jakarta. Kebetulan, beberapa malam sebelumnya, dia sempat cerita tentang tingkat stresnya yang mulai meningkat. Gw pengin banget bisa—setidaknya—memberi sedikit kejutan; at least biar dia senyum begitu nerima kartu pos dari gw. Sekalian pamitan karena gw akan berangkat ke Thailand. Tadinya gw punya tujuan demikian.

Pas gw tanya ke salah satu rekan CardToPost, akan sampai tujuan dalam waktu berapa hari, dia bilang, kartu posnya akan sampai dalam seminggu-an. Baiklah, nggak terlalu lama dan masih keburu—menurut gw. Estimasinya, seminggu sebelum gw berangkat ke Thailand, itu kartu pos harusnya udah sampai ke alamat tujuan. Ya, harusnya.

Namanya juga ‘dalam rangka kejutan’, ya gw nggak ngasih tahu bahwa gw ngirim kartu pos ke dia. Sengaja nggak gw tanyakan seminggu kemudian. Karena tim TIMBC lagi ribet training center dan persiapan, jadi gw sama sekali nggak memerhatikan dan memikirkan si kartu pos ini. Setelah kepulangan gw dari Thailand—it means dua minggu-an, gw coba tanya via sms, kartu pos dari gw udah diterima atau belum. Daaaaaaaaaaan, ternyata dia belum nerima juga. Bahkan, seminggu kemudian, gw masih aja tanya—siapa tahu udah diterima kartu posnya. Nyatanya, hingga saat tulisan ini naik cetak *halah* belum juga sampai, pemirsa. Sedih. Sedihnya masih ada sampai detik ini.

Iya, udah. Itu aja.

*gw berharapnya dia udah nerima kartu posnya, tapi dia bohong ke gw, itu lebih baik daripada kartu posnya nyasar entah ke mana*

5.5.13

TOEFL

Nggak terasa, udah Mei aja 
*telat Dhaaa, telaaat!*
Biar lambat asal selamat, itu sih kata peribahasa.

Gw mau cerita sedikit tentang peristiwa—yang tanggal 4 Mei lalu, gw alami. Di LBI FIB UI tepatnya. Sabtu lalu gw abis TOEFL. (*hah, udah? Gitu doang?)
Bukan TOEFL-nya yang membuat gw menulis ini, melainkan suasana saat TOEFL. Iya, gw akui, udah lama banget nggak ‘masuk kelas’. Beda banget rasanya. Di dalam kelas, gw nggak bawa buku-buku yang berbau bahasa Inggris, gw nggak mau belajar pas hari H. Justru, buku bacaan yang gw bawa adalah Pemberontakan Untung 1684.

Kembali ke suasana. Iya, suasana kelas. Kok tiba-tiba gw sangat amat rindu sekali banget ya, entah rindu kenapa. Nggak setiap rasa butuh alasan kan? Rindu ya, rindu aja, nggak pakai alasan apa-apa.

Manusiawi. Pas sekolah, pengin kuliah. Pas kuliah, pengin segera lulus. Pas lulus, pengin balik kuliah. Begitulah, siklus yang payah—yang mau nggak mau harus kita alami dan rasakan.

Gw jadi mikir, gimana nanti pas S2 ya? Semoga akan selalu siap menghadapi kelas kembali. Di manapun, kapanpun, dengan siapapun :’)

Khawatir pasti ada. Apalagi kalau tempatnya baru. Bener-bener sendiri, semuanya adalah teman baru. Nah, yang kayak gini, pantesnya diucapin “Selamat Menempuh Hidup Baru”. Hahaha.
Ya, semoga tengah tahun nanti ada yang ngucapin kayak gitu ke gw, aamiin.

28.4.13

Lalu Pergi

Kepergian bukan untuk ditangisi, seperti perpisahan. Kepergian untuk dirayakan, diselamatkan.
Karena, pertemuan tak pernah meminta kita untuk tetap hidup bersama.
Pertemuan sekadar saling menjaga, saling merasa.
Saling cerita perihal hidup, surut, bahagia, tangis, juga harap dalam doa.

Mungkin terlalu kasar bila kusebut kepergian. Perpisahan mungkin lebih enak didengar.
Perpisahan hanya menginginkan doa.
Doa dari segala penjuru semesta agar bisa setia seperti sebelumnya.
Berat. Memang.

Kuharap, doa-doa yang dipanjatkan untuk melepasku, suatu hari sampai ke langit.
Biar aku tenang.
Tak ada tanggungan rindu.
Dan tak perlu tangisan-tangisan sedu.

(Juli)

Sedikit Cerita

Sengaja tak kuisi apa pun. Di pengujung April ini, aku ingin sedikit bercerita.
Tentang doa-doa yang lalai kuterbangkan di udara, lama—sudah sangat lama.
Tentang dunia baru yang terlampau membuai—hingga jarang airmata berderai.
Tentang rasa-berbeda yang sampai saat ini menyetia, entah apa namanya—karena aku tak suka bila orang-orang menyebut istilahnya.

Buram. Tak jelas. Cemas. Ketiganya ada, dan selalu hadir di persimpangan. Namun, nyaman. Mematikan.
Hidup tak lagi harus jeli memilah—seperti di sini. Bebas.

Jangan ditanya, aku sedang bercerita tentang apa! Terserah, mau kau tafsirkan apa dan bagaimana.
Otakku, otakmu, dibesarkan dengan makanan yang berbeda; tumbuh di lingkungan yang sama sekali tak sama. Jangan harap, otakku dan otakmu sepaham! Tak semudah itu. Tuhan pun punya banyak alasan menciptakan perbedaan dua insan sekandungan. Jadi, tak usah heran.

Aku sudah tak peduli lagi dengan statistik media ini. Pun, ketika suatu saat aku mati—tak ada seorang pun yang akan mengenang tulisan tak bernama ini: manusia—dengan segala pemikiran tentang dirinya.

Tadi kukatakan di awal, aku ingin sedikit bercerita: beginilah.

Selamat Pagi

Selamat pagi, mimpi.
Menyadari bahwa hari telah berganti adalah prestasi.
Saling membangunkan dari khayal, juga imaji semalam,
:
jauh sebelum bertemu kau di lain alam.

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...