Tampilkan postingan dengan label Berbagai Bumbu tentang Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagai Bumbu tentang Hidup. Tampilkan semua postingan

2.12.11

Nyetir

Bismillah,
Hallo dua Desember! Apa kabarnya kau? I hope, you still great.

Gw hanya ingin membagi sesuatu—yang berdasarkan kesoktauan gw—memiliki korelasi dengan kehidupan seseorang. Lebih tepatnya sifat dominan yang kemungkinan besar dipunyai setiap orang.

Bisa mengendarai motor? Atau mobil? Pernah mengendarainya ditemani satu orang, atau banyak orang? Setiap pembaca, pasti punya jawaban masing-masing lah ya. Gw pribadi, belum bisa menyetir kendaraan roda empat yang biasanya disebut mobil. Kalo motor, bisa sih, tapi.. tapi ya.. gitu deh. Cuma berani keliling desa-kecamatan-kabupaten sementara ini. Hihi. Maklumlah, sibuk **CUIH banget lo DHA!

Gw seringnya diboncengin naik motor, atau pun nebs di mobil ceman. Hmm, kita mulai yey cyiin. Yang gw rasa saat gw dibonceng motor oleh seseorang adalah bersyukur karena orang itu mau ngeboncengin gw yang belum berani naik motor kalo melakukan perjalanan jauh, haha. Maaf ya, kalo alasannya antiklimaks. Sengaja kok, biar tambah penasaran *apa sih? Abaikan*, setiap orang punya gayanya masing-masing sob, begitu pula dengan nyetir mobil. Maksudnya gaya di sini itu bukan gimana-gimana ya, bukan 69 atau doggy style, atau gaya apa pun yang ada di kitab-kitab kamasutra itu. Lanjuuut bang! Ganti alinea aja yee ;p

Nah, gini kan enak, alinea baru, masih bersih, masih suci. Karena di alinea yang sebelumnya gw merasa sedikit berdosa *auch!* hmm, gw pake pemisalan aja ya, biar situ bisa nangkep. Nangkep apa aja lah, nangkep sinyal di hati eneng juga gapape bang, eaaaa.. *nggak fokusan banget deh orangnya, ckck. Kebanyakan tanda * nih, maaf ya, gengges.

Misal, gw dibonceng Agus, *atiati CLBK :p* Kenapa yang muncul Agus sih? Tadinya gw mau pake nama Paijo, atau Budi, tapi itu nama temen-temen gw, men! Cukup Mba! Oke, si Agus ini kalo bawa motor nggak selow, bro. Kalo pas ada polisi tidur, cara ngeremnya mendadak, kurang alus, dan tarikannya kurang mulus. Trus ya, kalo belok sering nggak seimbang, agak oleng ke sana kemari. Cara dia naikin atau nurunin gigi juga kurang mesra. Ketauan nih, kalo sama pacar suka agak kasar mainnya, haha, nggak kok, becanda, brur. Intinya, saat lo ngebonceng di motor doi, lo merasa was-was, kurang nyaman, khawatir nyawa lo belum tentu selamat sekian persen kalo dibonceng motor doi, padahal cuma jarak 50 meter, pokoknya bikin hidup lo hadir dalam ketidakpastian deh. Galau lagi, kan, eaaa, digantungin. Hahaha.

Nah, orang-orang tipe macem dia itu, di kehidupan nyata ya, kalo gw perhatiin tuh emang yang suka ‘grusa-grusu’, nggak tenang-an, ngomongnya belepetan—artikulasi, pemenggalan kata per kalimat, intonasi, nada—belum bisa mengatur dengan baik tentang sesuatu yang dihadapinya saat itu, halah, haha. Tapi ya, si Agus ini katakanlah udah ngeboncengin gw lebih dari 10 kali, jadi gw berani mengambil kesimpulan atas dasar sotoy-sama-sotoy-nya gw ini. Gus, maap ya! Nggak ada maksud menyungging, eh, menyinggung. Hihi.

Oh iya, gw lupa. Berhubung ini hanya sekadar berbagi ya guys, jadi gw hanya mengambil dua contoh dari sisi yang berbeda. Kalo contohnya banyak, bisa jadi skripsinya anak Psikologi soalnya. Ntr gw double-graduate lagi, kan nggak enak kalo maruk begitu, ngambil-ngambil lahan orang lain. Gw orangnya nggak mau berlebihan soalnya, karena setiap orang sudah ditakdirkan di ‘tempatnya’ masing-masing *senyum termanis ala ibu peri*

Lanjut ke permisalan yang kedua. Sebut saja Tarni, 23 tahun, janda beranak sebelas, dan seksi *kurawa milenium nih Gan? Apa mau bikin klub buat nandingin LA GALAXY?* au ah Dha. Si Tarni, biarpun janda-janda gini, pakenya mobil, sist. Beuh, mereknya dong, coba tebak, apa? Yang tebakannya bener, bisa menikahi Tarni. Haha. Mereknya TTT (T3). Gaya banget kan? Nggak ada yang punya, hanya Tarni satu-satunya. Tarni Ting Ting. Kenapa coba? Dulu, alm. Suaminya (gosipnya sih bunuh diri karena stres) sengaja ngasih Tarni mobil merek begitu karena doi sama sekali belum menyentuh, bahkan mengobrak-abrik itunya Tarni. Mengapa demikian? Timbul pertanyaan. Ternyata, Tarni hanyalah sekadar nama saat malam hari, di siang hari, sebenarnya doi adalah Tarno, kuli panggul di Pasar Ciroyom.
***silakan ketawa ya sodara-sodara! Kalo nggak lucu, mohon maaf lahir batin duluan ya saya, sebelum lebaran 2012, hiks hiks***

Hmm, sebut saja Mawar, yang insya Allah mudah-mudahan nggak bences, atau pun transgender. Kalo gw naik mobilnya Mawar, gw nggak mabok, men. Selain, karena cara nyetir doi, juga karena wewangian yang ia pake untuk mobil kesayangannya. Dia tau banget kalo mau ngerem itu gimana, cara belok yang bener itu kaya apa, kalo ada polisi tidur, dia mesti ngapain. Hasilnya adalah gw nggak mabok naik mobilnya dia. Ini suatu prestasi yang sangat membanggakan. Karena apa? Gw pemabuk, eh, maksudnya gw mabokan kalo naik mobil jenis apa pun. Sungguh fernando! Aku berkata jujur. Tapi ya, memang, si Mawar ini bawaannya tenang, nggak terlalu panikan, ngomongnya nggak belibet, cukup enak didengar lah, dan lagi keliatan banget kalo doi tipe-tipe penyayang ke setiap orang yang diajak ngobrol.

Pernah suatu hari, gw naik mobil yang sama, dengan sopir yang berbeda. Hasilnya juga beda, Gan. Pas berangkat yang nyetir si Melati, gw nggak apa-apa, masih dalam tahap hampir mau pusing sih, tapi so far masih sangat aman. Namun, saat perjalanan pulang, yang nyetir si Bunga. Taukah anda apa yang terjadi? Ya, betul sekali. Gw muntah di tempat, beberapa menit setelah gw merasakan cara nyetirnya si Bunga. Dan itu, fatal banget. Gw langsung pusing, mual-mual, dan klimaksnya muntah, brur. Maaf Bunga, bukan maksudku melukaimu.

Lain halnya saat gw naik bus AC, trus gw nggak duduk di belakang atau tengah, gw lebih memilih berdiri. Yoa, berdiri sepanjang perjalanan. Karena gw nggak mau muntah di tempat umum begitu. Meskipun ya, tiap hari gw selalu menyediakan stok permen asem di tas beberapa biji, kalo emang faktor-faktor yang udah gw jelasin di atas tidak menunjang, ya apa boleh dikata. Makanya, bagi ceman-ceman yang bernasib abnormal, alias luar biasa seperti gw, selalu sedia permen asem ya.. yah, antiklimaks lagi. Intinya, dilihat dulu sebelum ditelan. Haha. Wassalam. 

22.11.11

Komedi Cerdas



Bismillah,

Beberapa hari yang lalu, akika sempet jenjong mawar posting tentang acrina yang adinda di salah satu stasiun televisi swasta yey.. hahaha. Cukup Fernando! Cukup! Maklum, mahasiswa tingkat akhir, jadi agak-agak sibuk dikit gitu lah. Sibuk apaan coba? Sibuk mencari kesibukan yang sekiranya bisa disibuki, biar tetep sibuk. Oke, keep focus.

Begini ceritanya, sebenernya gw juga bingung bin galau, mau mulai cerita dari mana ya? Hmm, hmm, lalala~yeyeye, hahaha. Pembaca yang budiman, perkenankanlah saya, sebagai penulis blog—yang kadang males ngepost—untuk meluncurkan salah satu tulisan saya kali ini, yang berjudul bla..bla..bla. yaaa, gitu deh pokoknya. Maaf ya, gengges nih -- __--

Kali pertama gw nonton yang namanya Stand Up Comedy di KOMPA* TV, langsung jatuh hati. Segampang itu? Ya, segampang itu. Love at first sight. Nggak percaya? Terserah lo, jek! Urusan lo, mau percaya atau nggak, gw nggak masalah kok, gw nyantai men, dan gw juga nggak akan cari masalah sama lo yang nggak percaya. FINE! **maaf, terlalu lebay.

Sebuah tayangan komedi, cukup unik, ringan, tapi tetap berisi, alias candaannya nggak murahan, atau murdiono. Nah, acara ini ternyata adalah ajang/kompetisi untuk mencari komedian-komedian cerdas yang akan mewarnai dunia hiburan Indonesia di masa kini, juga masa gitu, hahaha, masa depan diiing ;p

Terhitung dari entah kapan, gw juga nggak ngitung, yang pasti udah sekitar lima atau kali keenam, bahkan ketujuh—kalo nggak salah ya pemirsa, gw ikutin nih acara, sampai nggak mau sedetikpun gw ketinggalan atau sekip karena apa pun. Namanya juga cinta, pasti akan melakukan apa aja demi mendapat kepuasannnya, iye nggak? **kayak pernah jatuh cinta aja lo? Eh, curcol deh akika..


Nah, namanya juga perempuan muda, belia, jomblo pula, kadang suka muncul virus merah agak kepink-pink-an. Kebetulan, ada beberapa komedian yang bikin gw makin jatuh hati, seperti si Ryan, juga Ernest. Hmm, selain ganteng dan auranya beda, pastinya punya suatu karakter tersendiri kalo pas lagi show-time. Selera masing-masing sih sebenernya, tapi bagi gw pribadi, Ryan dan Ernest itu selalu menyuguhkan materi komedi yang fresh, kekinian, dan nggak biasa. Mereka cerdas dalam hal mengolah dan mengemas suatu objek kecil, yang mungkin kadang ‘sampah’, nggak disentuh orang banyak, dan sangat tidak terduga. Bo! Gw udah kaya komentator acara deh ini, kalo dibayar sih mending, ini kagaaak. Hahaha, materialis ya?!

Menurut hemat gw ya, kurang lengkap deh hidup lo kalo belum pernah nonton acara ini *perlu digarisbawahi, gw sama sekali nggak dikontrak tipi itu untuk promosiin acara ini, OKE* gw hanya merekomendasikan. So, seperti yang gw bilang di awal, nggak murahan isi komedinya, nggak bawa-bawa SARA, apalagi SARA AZHARI, berat men! #eh haha, soalnya doi kan gede. Apanya yang gede? *dijawab dalam hati aja :)

Tunggu apa lagi? bagi yang malam Minggu-nya galau bukan kepalang, resah-gelisah (geli-geli pasrah), gusar-gulana, atau nggak mau ke mana-mana karena: satu-males ke mana-mana, dua-duit cekak, tiga-nggak punya acara, empat-nggak punya temen, lima-nggak punya gandengan (truk kali, gandengan!) enam-stres skripsweat, tujuh-stres dijodohin #eh, curcol lagi ;p

Mampir di situ lah pokoknya, insya Allah nggak rugi. See you guys!

Jalan Cinta dan Pergalauan Dunia: Elegi Mahasiswa Tingkat Akhir (#2)

Bismillah,

Di detik akhir menuju semester—yang hampir berakhir—ini, sebenarnya tidak terlalu berat, jika lemak-lemak tak berdaya sudah tidak bersarang di perut, paha, dan tentunya lengan. Namun, realita berkata lain, jek! Dulu, saat sebelum semester tujuh ini merasuk dan mendarah daging seperti sekarang, yang namanya kuliah di hari pertama adalah suatu hal yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu sebagian besar mahasiswa. Kenapa eh kenapa? Karena eh karena, satu: ketemu temen-temen lama yang udah lama tidak saling bertatap muka, dua: kadang, hari libur yang terlalu lama dapat menyebabkan rasa jenuh yang terlampau utuh, beuuh! Tiga: intinya ya, kangen kampus—namanya juga mahasiswa, untuk sementara ini ya ‘ngampus’ adalah profesi utama. Empat: kangen pacar, jek! (eyyaaa, kalo ini khusus binti especially bagi yang telah ‘taken’ ya.. yang masih menunggu untuk ‘taken’, kangen satpam juga boleeeh—toh ada juga kok satpam yang ganteng J). Lima: ladang investasi & peluang bisnis untuk mencari relasi sebanyak-banyaknya (hmm, bagi para wirausahawan muda, cukup senang lah ketemu relasi dan calon relasi, haha).

Siang itu, Mawar melangkah penuh was-was menuju kampus. Kali ini sangat matgay, alias mati gaya. Dulu, perpustakaan adalah tempat pelariannya jika tak tau harus berbuat apa dan harus ke mana. Sayangnya, tidak untuk saat ini, men. Setelah berputar-putar mengelilingi gedung demi gedung untuk membunuh waktu, Mawar pun terhenti di lobi salah satu gedung ber-AC.

(tahap 1)
Mawar: ”(mencet-mencet tombol ponsel) Eh, Mel, lo di mana? Ngampus jam berapa?”
Melati: ”di rumah cuuy! Kagak ngampus hari ini, gw libur dong, nggak ada kuliah, hahaha”
Mawar: ”yaah, cumiii. Yaudin deh, daaaah!”
Melati: “sip sip, (klik—Melati mengakhiri pembicaraan)”
(tahap 2)
Mawar: (mengirim SMS ke Lili) Liliiii, lo ngampus kagak today? Ketemu dong, yuk, yuk! Di kantin :D
Lili: (membalas SMS) hahaha, lo apa kabar? Gw nggak ada kuliah hari ini, lg pergi sama nyokap nih, maaf yaa.. lusa deh, lusa.
Mawar: jaaah, gw di kampus nih skrg, alone. Huhu.. yaudah deh, see you lusa!
Lili: oke deh cyiin, semangat! :p
(tahap 3)
Mawar: (mengirim sms ke juniornya) sist, lo di mana?
Sista: aku lg kelas kak, knp?
Mawar: oh, gitu. Sampe jam brp? Mau ngajakin mkn.
Sista: sampe jam 2, abis itu lanjut lg sampe jam 5 kak.. maaf ya,
Mawar: okelah kalo begitu, hihi.

Yasalaaam, ini orang-orang pada ke mana deh? Kagak ada yang kuliah, kagak ada yang ngampus. Ini siapaaaa lagi nih orang-orang? Kagak ada yang gw kenal. Gila, gila! Nggak ngerti lagi ama kehidupan kampus, muka baru semua cuuuuy. Ah, kampraaay bambang nih.. tumben banget, merasa asing di rumah sendiri, ck. Biasanya kalo gw lewat, ada aja yang nyapa, manggil gw kek, bayar utang kek, apa kek, gitu.. ini bener-bener huft banget, jek! Aaaaa, pengin nangis. Emang begini ya rasanya kalo udah semester akhir? Argh, bisa mati stres kesepian kalo kehidupan gw kayak gini. Apa pulang aja ke kosan? Cumi banget, ngapain coba siang-siang gini udah balik ke kosan. Jalan-jalan? Ke mana? No no no, kaya orang ilang plus gila, kalo jalannya sendirian penuh resah. Ini juga nih, biasanya ada acara apa kek gitu di kampus, tapi kali ini nothing!

Sekian, pemirsa!

8.11.11

Jalan Cinta dan Pergalauan Dunia: Elegi Mahasiswa Tingkat Akhir (#1)



Bismillah,

Dua mahasiswa tingkat akhir baru saja mengakhiri kelasnya, mata kuliah Filsafat Cinta, haha. Bukan, pemirsa! Tapi Filsafat Wayang. Pusing-pusing dikit, agak vertigo, perut udah mulai karnaval, mata ngantuk kriyep-kriyep, nguap-nguap dikit, muka kurang bahagia, demikian itu merupakan sedikit gambaran kondisi buruk mereka saat menuju kantin dengan langkah gontai. Mawar dan Melati tak sedikit pun berbincang, apalagi bergosip. Namun, secara spontan mereka menghentikan langkahnya, entah karena ihwal apa.

“TELAH HILANG IPOD TOUCH 8GB BERWARNA UNGU METALIK”
Mawar: ”gila, gila, segala gadget sering banget ilang, kemarin lepita, dua hari yang lalu henpina, beuh... ini mah dicuri sama orang paling”
Melati: ”cuuy, ya masa beruang madu yang ngambil, orang lah... eh, tapi iya juga yah sist, udah amat sangat sering sekali banget. Asal lo tau Maw, orang-orang yang barang berharganya ilang, mereka ada rasa sedih, kesel, atau mungkin marah, entah sama diri sendiri karena nggak bisa jaga tuh barang, atau sama orang yang ngambil tanpa izin, tapi gw justru sedih kalo barang berharga gw nggak diambil orang”
Mawar: ”jaaah! Aneh-aneh aja lo Ti, nyebut Ti, nyebuuuut..”
Melati: ”abisnya, hati gw doang yang belum dicuri nih, Maw” #eh
Mawar: ”ah! Kampraaay lo Ti”

Layaknya SMP (Setelah Makan Pulang), dua sejoli-sehati ini pada akhirnya memutuskan suatu keputusan yang biasanya tidak diputuskan: pulang. Kali ini, bukan petang yang mengantarkan mereka kembali ke peraduan, melainkan sang takdirlah yang memaksa mereka melangkah. Melati dan Mawar masih saja diam-tak saling berujar selama perjalanan menuju halte pemberhentian. Setelah kejadian tadi, entahlah, mereka diam-merenung tanpa arah, ataukah diam karena terlalu kenyang makan??

Hanya Mawar, Melati, Tuhan, dan alamlah yang tau jawabannya. 

7.11.11

Revolusidha

Bismillah,

Apa kabar pagimu? Masihkah bertahan pada sejuknya subuh? Atau kau lebih mencintai terik yang selalu menantang angin laut? Bagaimana pun rupamu, yakinlah bahwa aku masih benarbenar mencuri napasmu dalam diam.

Bo!! Ini kenapa jadi bikin prosa liris sih? *ngomelin diri sendiri sambil berkacak pinggang* selalu aja kaya gini kan, nggak konsisten sama tujuan awal. Maap ye sist ;p yaudin, kite mule aje ceritenye ye. Yuk, cap cus!

Dari beberapa minggu yang lalu hingga kemarin malem, aku masih di ambang kesadaran, pemirsa! Bahkan saat menulis ini pun, entah raga siapa yang rela mengantarkan jari-jari ini sampai akhirnya bolak-balik, muter-muter di atas papan ketik. *tuh kan, mulai lagi…* oke! Janji, kali ini beneran nggak akan belok, eh! Maksudnya mau masup ke topik, uu yeah.

Intinya ya guys, blog ini telah mengalami beberapa tahap. Layaknya manusia, dari lahir, merasakan pahit-getir kehidupan, kemudian mati. Minilife ini sedang berada di masa ‘merasakan pahit-getir kehidupan’, wuasiik ah, gaya bener, sok-sok dramatis dikit tak apa lah ya, iseng. Uhm, abaikan --__--

Berubah ke arah yang lebih baik, mengapa tidak? Mumpung lubang hidung kita masih bisa menghirup napas, mumpung detak jantungnya belum diutak-atik sama Allah, juga mumpung-mumpung yang lain turut mengucapkan Selamat Idul Adha 1432 H *ngaco lagi, ngaco lagi, jitak nih!* setiap manusia pasti punya keinginan untuk bisa lebih menghargai hidup, bagaimana pun caranya, kapan pun, berapa pun harganya hidup, setau saya sih nggak bisa ditawar. Aku—satusembilu—hanya berdoa: semoga ini, semoga itu (kalo kata Dedep gitu tuh, piss Dep :D) aamiin Ya Robb.

**pesan terakhir: buat bapak-bapak, ibu-ibu, baik yang ada di RT, RW, Kelurahan, Arisan, Pengajian, Jalanan atau Kuburan (astaghfirullah!) boleh banget lho ikut cerita di sini, atau bisa menghubungi hotline 0806-466-304, saya jamin langsung puas! Karena kami tidak pernah main-main dengan pelanggan, yaa paling-paling main congklak, gobak sodor, tak umpet, atau paling banter main uno. Sekian.

22.10.11

Asteroid 2009: Finally, Kupinang Tari dengan Bismillah



The sweetest memory :)

Dulu, saat masih ada Kremas (Kreasi Mahasiswa) di 2009, dan Asteroid—yang bikin kami berdarah-darah sampai sekarang—cukup merasa diberi pelajaran, kurang tau sih ya berapa sks kalo dihitung :p (Kak Ijo, Japra, Firman, Heru, Redian, Nanda, Icha, Silvi, Eka, Vera) the member of Kremas—selalu merindukan saat-saat harus cari orang buat futsal, voli, basket, gobak sodor, tak umpet, hahahaha. Saat itu, Japra, sang PO Asteroid summon gw untuk megang lomba tari tradisional. Akhirnya, langsung deh tuh gw cari staf yang kira-kira bisa bantuin gw. Anehnya, gw menghubungi orang-orang yang disarankan itu—yang nggak gw tau dan gw kenal sama sekali—dengan pedenya dan dengan ridho Allah tentunya, mereka mau. Alhamdulillah banget, dikasih jalan yang mudah sama Allah. Ada Vera (FKM-08, Kremas), Agi (FKM-08, kenalan via sms), Lyla (Pajak-08, kenal di MB), Suci (Cina-08, ini karena nggak sengaja kenal di FIB), Alhamdulillah banget mereka nurut-nurut, nggak banyak protes, nggak ‘annoying’, menghargai gw sebagai PJ-nya, dan selalu siap sedia kalo dimintai bantuan. Gw bukan apa-apa tanpa kalian, guys :)

Allah Mahaadil, makanya hambatan pun di mana-mana. Dari mulai masalah-masalah di tiap kontingen fakultas—yang cukup kompleks, kami yang hanya berlima, duit nggak cair-cair, juri belum dapet-dapet, tempat lomba belum dapet—bahkan tempat baru dapet H-3 apa 4 gitu—sesuatu banget nih, asli! Yang bikin gw pribadi geregetan adalah karena PJ tari tahun 2008, sama sekali nggak bisa dihubungin, via sms, telepon, jejaring sosial, sampai ngontak temen si mantan PJ untuk nyampein tentang ini aja, masih belum berhasil. Finally, berbekal doa, usaha, dan pengetahuan seadanya, gw bersama staf mencoba apa pun semaksimal yang kami bisa. Eh, ada lagi masalahnya, tapi ini hanya untuk kalangan PJ tari dan stafnya (hanya kami yang tau segalanya tentang gejolak antarlomba seni di Asteroid 2009), eits.. implisit :p

Kami nggak pernah rabid, komando dan koordinasi hanya via sms. Kami berlima benar-benar bertemu hanya di hari H, hahahhaa, gila kan ya! Ckck. Jadi, misalnya si Suci nggak tau si Agi itu yang kaya apa mukanya, ya pas di hari H lomba itu baru ketemu. Minta tolong anak perlap untuk bantuin di lomba tari aja, baru pas H-1, lagi-lagi nggak tau dan kenal orangnya yang mana. Tapi, alhamdulillahnya kami semua bisa kerja sama di hari H. Nggak ada miss-kom, miss-kord, dan acara lancar car car. Menurut gw, ini kepanitiaan yang paling nggak well-prepared, but its being successfully. Yang begini ini nih, yang justru masih melekat di hati.

Menurut gw, semendadak apa pun acaranya, senggak-well-prepared apa pun kondisinya, yang terpenting adalah bagaimana kita bertindak dan bersikap terhadap apa yang sedang dihadapi. Nggak sulit kok, ini hanya butuh sabar, teliti, dan fokus. That’s the point J

3.9.11

Anugrah Bulan Ramadhan (edisi buka puasa)

             Setelah berkelana agak menggila di Kota Kembang selama 3 hari, Allah masih ngizinin gw hidup di detik selanjutnya. Masih hari pertama, 1 Agustus 2011. Gw sampe Depok agak sore, sekitar 4p.m. sampe kosan, beresberes, dan tiba-tiba Uswah sms ngajakin buka puasa bareng. Yowes, akhirnya langsung capcus ke tempat jajanan sekitar Margonda. Kami berdua kalo buka puasa emang settingannya udah begini: nggak makan nasi, cuma pake snack aja, a.k.a kudapan yang manis alias tidak berlebihan kenyangnya. Jadilah, gw menyarankan agar buka puasa di depan toko buku ternama deket Margo City itu, sebut saja akang Gramed. Sip, kami berhenti di situ. Ada bubur sumsum, mie ayam, ayam crispy, lopis, aneka ragam satwa, eh.. maksudnya aneka ragam gorengan, dan masih banyak lagi. Begitu pun dengan minuman yang sangat variatip tip tip. Cus! Trus, Uswah memergoki plat nomor motor si tukang bubur sumsum ini berhuruf G. Langsung deh, si Uswah bilang ke masnya kalo gw juga dari Tegal. Apa yang terjadi sodara-sodara? Gw dan mas bubur sumsum ngobrol asyik, mulai dari tinggal di mana di Depok, di Tegal tinggal di mananya, tanya keluarga, pekerjaan, sampe masnya nunjukin kalo di deretan penjaja makanan depan Gramed, kebanyakan emang orang Tegal dan sekitarnya. Masya Allah :) 

             Setelah ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, tibalah saatnya harus bayar itu bubur sumsum. Nah, bagian ini yang ditunggu-tunggu. GRETONG! Hahaaha. Nggak ding! Gw nggak sengemis itu kok --__-- Pas gw tanya ke masnya, berapa yang harus gw bayar, masnya bilang harga asli, dan tak lupa nyebutin harga setelah diskon, huakakakakakz. Gw tentu dikasih harga diskon dongs, asyik khan? *wink* Pas gw bayar, eeeeh, si masnya nggak punya kembalian. Ckck, mau nggak mau yaa jadinya begini: masnya bilang “Yawislah, gawa bae Mba, ora papa..” (Yaudahlah, bawa aja, nggak papa) /red.
**dalam hati: hmm, yeah! Tapi, nggak enak juga lah, toh dia juga sedang mengais rezeki di sini. Gimana ini, gimana, gimana? Dienakin aja lah, toh masnya juga berniat baik :)
Makasih ya Mas..

               Itu kan baru makanan ya, ada juga nih cerita dari si minuman. Gw emang lagi nyari es kelapa banget waktu itu, dan akhirnya nemu tukang es kelapa di salah satu gang. Belilah gw sebungkus es kelapa muda belia yang belum tua, wahaha. Mas-masnya cukup rempong karena ternyata para klien (tsaaaah, klien, biar kerenan dikit!) banyak yang mesen dibungkus untuk dibawa pulang. Berhubung gw cukup sabar, gw pun menunggu sampe si masnya kelar mbundel-mbundelin ngebungkus es. Beberapa detik kemudian, terdengarlah suara sang muadzin mengumandangkan panggilan sholat, yang kebetulan juga digunakan sebagai tanda bahwa umat muslim diwajibkan membatalkan puasanya setelah seharian penuh menjalankan perintah agama.

(ini rempong ya kalimatnya, sengaja ngerjain kamu yang baca ;p)
“ini Mba, dibatalin dulu puasanya!” saran masnya. ’’oh, iya, makasih ya mas (sembari senyum simpul teramah yang gw punya)’’
’’berapa Bang ?’’ gw udah mengeluarkan 5 ribuan. “nggak ada kembaliannya, Mba“ ucap si mas yang senyum..
“yakin Mas, nggak ada?“ (jangan-jangan digretongin lagi gw? --__--)
“iya, nggak ada, yaudah Mba, bawa aja nggak papa kok“ (masnya senyum 5 senti)
“e..yah, jangan atuh Mas!“
“iya Mba, beneran, nggak papa, sok aja bawa“
“ooh, gitu.. makasih banyak ya Mas“

See?
Alhamdulillah yah.. ahahahhahhaa,

Anugrah Bulan Ramadhan (edisi tarawih & sahur)

             Tanggal 1 Agustus lalu, gw masih di Bandung. Hmm, sebenernya ini karena tanggal 30 Juli-nya gw ke Bandung, ada beberapa urusan di sana. So, 3 hari 2 malam itu gw habiskan di Kota Kembang nan dingin indang. Rencana awal, gw pulang tanggal 31 Juli sore, tapi karena ada sesuatu yang harus gw tunggu, gw pun menunda kepulangan gw menjadi 1 Agustus. It means, sahur pertama, tarawih pertama, dan puasa pertama gw yaa mau nggak mau di Bandung.

          Setelah seharian muter-muterin ITB, Dago, dan teman-teman seperjuangannya (sampe gw hampir nyasar), gw dan temen gw memutuskan untuk tarawih di masjid/mushola deket rumah temen gw aja. Alhamdulillah, pukul 19.00 lewat beberapa detik, kami sampe di rumah. Langsung menyegerakan wudhu, dan cap cus ke mushola terdekat. Biasanya kalo tarawih di masjid belakang rumah gw, 23 rokaat. Namun, di sana menjalankan yang 11 rokaat, gitu. Setelah Sholat Isya, tak lupa Sang Ustadz memberi kultum. Pertama-tama sih gw ngerti apa yang disampaikan oleh beliau, lama-lama gw hanya bisa ngangguk-ngangguk, belajar memahami apa yang disampaikan. Hal ini terjadi karena Sang Ustadz ngasih kultum dalam bahasa Sunda, SODARA-SODARA! Huahahahhaa, eke mana fahim? 

*setelah nyadar kalo beliau pake bahasa Sunda, gw dan temen gw tengok-tengokan,
temen gw: “Kak Idha ngerti nggak?“
gw: “hmm, dikit-dikit.. haha“ antara mau ketawa, kepo, tapi biasa aja: absurd (red.)

             Sebagai tamu, sudah sepantasnya nggak ngerepotin. Kebetulan, pas pukul 3 dini hari tuh gw kebangun sendiri tanpa disuruh alarm, akhirnya langsung cap cus lah gw ke dapur, bantuin nyiapin sahur sembari ngobrol-ngobrol sama nyokap temen gw itu. Seru, seru banget! Jadi berasa punya ’mama-kedua’, soalnya baik banget, dan sangat sabar orangnya, juga pengertian.

         Paginya, 09.15, gw telpon PT KAI nanyain tentang kereta tujuan Gambir adanya yang jam berapa.. ternyata keberangkatan pukul 11.30 masih ada sisa kursi, yoweslah gw mutusin saat itu juga ke Stasiun Bandung. Berhubung ada beberapa masalah—yang nggak mungkin gw ceritain juga di sini—akhirnya gw naik angkutan umum. Kata temen gw, biasanya kalo dari tempat dia ke Stasiun Bandung, bisa 2 jam. Kalo macet, bisa lebih bahkan. Waduh! Ini aja udah 10.00, gw cuma punya waktu 1½ jam dari sekarang buat sampe sana. Hmm, bismillah, semoga bisa kekejar tuh kereta. Kalo pun nggak kekejar, yaudahlah, gw nunggu di sana aja sampe pukul 3 sore K (kalo jodoh sama keretanya, nggak akan ke mana *jurus nenangin diri sendiri*). Angkot pertama, alhamdulillah langsung dapet. Namun, sayangnya cukup kosong, jadi abangnya mungkin hanya menggunakan kecepatan sekitar 20—25 km/jam. Itu angkot berhenti seratus kali ada kayaknya deh *mulai deh ini lebaaay*. Hampir tiap 5 menit sekali, gw liat jam tangan, jam ponsel no*ia, jam ponsel sam*ung, tetep aja gw dag-dig-dug banget ini jantung. Ya Allah, tenang.. tenang.. sabaaar.. sabaaar (dalam hati). Jam tangan gw sudah menunjukkan pukul 11.11 waktu indosial bagian ketar-ketir, fuhh! Tepat banget, gw telah sampe di tujuan angkot berikutnya. It means, gw hanya punya sisa waktu kurang dari 20 menit untuk sampe di Stasiun Bandung. Istighfar Dha, istighfar!

             Tengak-tengok angkot ungu, belum ada juga. Mau teriak dan nangis rasanya, sambil garuk-garuk aspal, juga mojok di tiang-tiang penyangga gedung-gedung tua itu, trus nyanyi lagu-lagu ratapan. #abaikan. I got you ungu! Langsung naiklah gw ke singgasana belakang sopir. Alhamdulillah Ya Allah. Eeee, lagi-lagi, angkotnya masih kosong. Artinya apa sodara-sodara? Si abang mau nggak mau harus ngetem sampe agak penuh. Saat itu, muka gw udah nggak bisa yang namanya pura-pura senyum atau pun muka orang baik-baik. Udah gw tekuk-tekuk itu muka, sampe bisa disakuin di baju seragam SD. Ah, meeen!

“Stasiun, stasiun!“ itu kata-kata keluar dari mulut abang sopir. “yang turun, yang turun!“
“udah sampe stasiun ya Bang???“ tanya gw dengan muka penuh ketidakpercayaan.
’’udah, Neng..’’
Gw langsung ngasih ongkos angkot, dan tak lupa bilang #makasih ya Bang
Pas gw liat jam tangan : 11.23
Huaaaaa, langsung lari dah gw waktu itu, buru-buru beli tiket.
(breath..)

alhamdulillah :)
Allah selalu ngasih ‘kejutan’ di saat yang ‘sesuatu’ banget.

29.8.11

Momen Mengalahkan Rotasi Bumi

Rumahnya cukup jauh. Sebenarnya aku menyimpan mimpi untuk berada di sana. Benar-benar ketakmungkinan yang tak mungkin, apalagi saat-saat setelah hari raya seperti ini-sekarang. Dia masih ada. Bersua denganku lewat jalan yang ia mau. Allah-ku dan Allah-mu saling tau, kalau kita telah memuja rindu setahun-dua tahun lalu. Papan yang telah lama ditulisi namamu pasti masih ada kan di sana? Aku ingin sekali menyentuhnya, mencium kening yang belum usang dimakan ilalang, ah! Pasti aku senangnya bukan kepalang.

Idulfitri sebentar lagi akan lari, makanya orang-orang sekitar sini saling menyalami. Mungkin saja salamnya tertera pada surat-surat yang agak renta, lusuh, atau mereka sampaikan di antara reruntuhan teknologi duniawi—yang sekarang merajai. Then, mulailah aku mencari nomor-nomor tersembunyi di ponsel kini, dan cukup menahan napas saat tiba di fonem-mu. Kali ini aku berjanji tak lagi mempersembahkan air mata haru-biru yang dulu pernah menjadi saksi bisu, karna menurutku kau lebih pantas kuberi senyum musiman di akhir Ramadhan.

Tahun ini genap 20 tahun sudah kau berjalan di atas bumi Allah yang mahaindah. Maya dan nyata tak masalah buatku. Di mana pun alamnya, memang bukan urusanku, karna tak berpengaruh pada waktu. Aku cukup membaca bayangan wajah yang setiap hari seenaknya berubah: dulu. Terima kasih yah.. Setidaknya, membaca sifatmu lewat surat-surat mungil ini bisa mengobati rinduduka seorang gadis dewasa, katamu dulu sih itu.

Teh, pisang cokelat, dan gerutu manjamu masih berbisik di samping jantungku, mengisyaratkan betapa berharganya sebuah perpisahan. Allah-ku dan Allah-mu juga mau kita bertemu, mungkin di tiap subuh yang tak lagi sembilu.

Dedicated to my…
:)

2.8.11

Gowes Bareng Jalal (UI-TMII, TMII-UI) Bagian 1

Bismillah,

Mengayuh sepeda memang bukan hal baru buat gw. Waktu gw masih SMP, SMA, gw sering banget gowes ke sekolahan. Kalo dikira-kira, bisa sampe 4-5 km sekali jalan. Jadi, kalo bolak-balik 8-10 km lah ya.. Karena semakin terbiasanya gw saat itu, pas temen gw ngajakin #GowesBarengJalal, gw ayo-ayo aja. Toh, udah lama juga nggak pernah mengayuh sepeda berkilo-kilo meter. Paling-paling keliling UI doang.

Berawal dari kisah Jalal, mahasiswa 2011 yang diterima di Program Studi Sejarah 2011 UI. Doi sempet nadzar, kalo diterima di UI, dia akan ngonthel dari Pati sampai Depok. WOW!
Alhasil, diterimalah doi di Sejarah 2011. Twitter mulai rame, temen-temennya pun nggak jarang yang update tentang keberadaannya. Mulai dari tanggal 19 Juli-25 Juli ngonthel Pati-Depok dilakoninya. Di surat-surat kabar udah mulai diekspos itu anak. Kami (pengikut hashtag #infojalal dan #GowesBarengJalal), terus memantau si Jalal udah sampai di mana, apa kabarnya, dll.

Gw pribadi, awalnya memang nggak tertarik dengan berita ini. Gw menganggap biasa hal-hal yang kaya gini. Just read the tweet, and then retweet :P
Lama-lama, si JJ Rizal (Komunitas Bambu) berencana buat nyegat doi di TMII, hari Minggu 25 Juli, 7 a.m. Langsung deh, mulai publikasi, siapa yang mau ikutan? gitu.
Berhubung di Komunitas Bambu ada temen gw, alhasil gw pun berniat buat ikutan, dan berusaha cari sepeda pinjeman. Setelah perpinjeman sepeda itu kelar, kami mulai atur jadwal ketemuan. Cus! Hari Minggu 4.30 a.m. kumpul di Stasiun UI (boo, pagi beneeer!)
hmm, yaudin lah ya, demi Jalal. Hap hap!

Malem menjelang hari H, gw nggak bisa tidur. Merem-melek-merem-melek mulu, sampai akhirnya alarm gw bunyi. Oke, its time to take a bath at 3.45 a.m. haha
Berhubung gw pinjem sepeda temen anak Kobam yang rumahnya di Tanjung Barat, jadi gw naik kereta dulu ke sana, setelah itu baru gowes ke TMII, maap ya agak curang start-nya.
Sampai di Tanjung Barat, kami hanya bertiga (Gw, Uswah-yang minjemin sepeda, dan JJ Rizal) langsung memulai pergowesan pagi itu menuju TMII. Huaaaaa, readers harus tau, gw norak banget. Teriak-teriak di pinggir jalan, saking senengnya ngayuh sepeda di jalanan besar itu. Dunia terasa luas, hidup terasa bebas, napas pun semakin tampak lugas. Alhamdulillah Ya Rabb..

Meskipun agak canggung karena naik sepeda orang lain, the first time gw gowes di jalanan gede, dan jaraknya juga lumayan bikin betis mirip tukang becak. Uhh, mantap gan!
Ngos-ngosan, seneng, pegel mulai terasa, keringat bercucuran, panas pagi menerpa, udara jalanan yang tak kunjung aman, adalah teman setia gw pagi itu. Semoga hari ini indah Ya Allah *dalam hati*
Kurang lebih 30 menit aja tiba-tiba udah sampai TMII. Kebayang banget puasnya pas udah sampe depan gerbang TMII. Merasa menang. ahhaha. Ops, tapi masih gowes lagi lho pulangnya. Oke, siapkan mental.

Sampai sana, minum, makan bekal, leyeh-leyeh *berasa piknik, kurang tiker aja itu*
pas ketemu Jalal-nya, waaaaa, aku speechless iki dek weruh kowe!

***bersambung ya,

30.7.11

Bubur Sumsum dan Es Kelapa Muda

Duh, Gusti.. kula nyuwun ngapunten dhumateng panjenengan.

Bukan apa-apa yang membuat gw tiba-tiba terpikir “bubur sumsum & es kelapa muda“, melainkan karena salah satu saraf di bagian otak yang memberikan sinyal itu lewat indera. Entah, bukan juga karena udah deket bulan penuh berkah. Di selasela sibuknya seorang PO—mondar-mandir kesana-kemari lari sana-lari sini—masih sempet mencari informasi di mana gw bisa membeli kedua jajanan itu. Sekilas nggak penting, mirip orang sinting (red.) malem-malem dalam kemelut gerimis masih belum menyerah memburu di pinggiran-pinggiran jalan—yang kadang semu.


Untungnya, di tahun 2011 ini, media maya dan jejaring sosial lumayan membantu. Iseng-iseng—tapi tetap berharap dapat balesan twit dari orang-orang—ngetwit “mohon info: bubur sumsum di sekitar Margonda, di mana ya? thanks“, berujung manis. Salah seorang temen jurusan gw, yang biasa dipanggil ’aa’ itu membalas twit gw, yang isinya “depan Gramed“. Wow! Alhamdulillah, gw langsung ke sana.

Harap-harap cemas tetep ada, lha wong malem-malem gini kok nyari bubur sumsum sama es kelapa tho? Optimis, pasti masih ada. Daaan, jeng jeng jeng eng ing eeng... masih ada sodara-sodara! *tepuk tangan-tepuk kaki* keduanya gw dapatkan semudah membalikan telapak kaki ibu, huahahahha :D *astaghfirullaahal ’adziim*

Alhamdulillah, senyum simpul kali ini bener-bener sumringaaaah. Dan, setelah diinget-inget ya, gw belum makan dari tadi bangun tidur sampe sekitar 20.00, padahal lagi nggak puasa. Yassalaam, makan aja lupa, apalagi mikirin cari pasangan. *ooops! abaikan*

Yuk yak yuuuk! Cus! Udah dapet dua-duanya, marilah kita pulang dengan hati riang. Meskipun tadi cukup menantang, gw tetep merasa menang. Selalu, always. Yeay!

As I knew, nikmat batin itu adalah bagaimana cara melayani diri sendiri dengan baik dan benar. Bukan cuma EYD yang harus baik dan benar, ahhaha. Namun, ini juga harus masuk pertimbangan.

Sepintas Boleh Dibilang "ilham"

Ceritanya, pas gw lagi sibuk-sibuknya nonton televisi (nonton tv kok sibuk?!), jadi inget pas ospek “matanya jangan blanja, Dek!” huakakakakak, ngakak guling-guling di aspal kalo inget tuh. Err, bukan ini yang mau gw ceritain, guys.. ampun, terdistrak. Okey, lets start!

Tiba-tiba tebersit “ngapain ya, gw setelah kuliah nanti? gw berguna nggak ya?” jadi deg-degan, khawatir, dan parno deh pokoknya. Apalagi pas buka internet, ada si Eda yang bertanya-tanya juga—yang intinya “2 tahun ini gw kuliah udah ngapain aja ya?” maklum, doi baru pulang dari PIMNAS Makassar. Bahkan, beberapa kakak kelas gw sempet nulis “luruh ilmu duwur-duwur, sekolah adoh-adoh maring luar negeri, ari ora ngabdi nggo tempat asal yaa pada bae goroh” kurang lebih begitu. Hmm, Eda jangan minta translate ya!

Kebetulan, kakak kelas gw punya komunitas pas SMA, namanya MHC (Mission House Community). Mereka sedang menggagas konsep toko kopi (coffee shop), haha, aneh ya jadi toko kopi. Kedai kopi lebih pantes sepertinya. Lanjuut! Menimbang dari situ juga, gw jadi mikir, gw nggak mau kerja di Jakarta deh rasanya. Gw cuma pengin mengabdi buat tempat asal gw, tapi gw ngapain ya?

Hamm, hemm, nyesss! Gerai bacaan aja apa ya? Konsepnya mirip perpustakaan, ada buku yang bisa dipinjem, disewakan, dan juga bisa dijual dengan berbagai interval harga. Trus, gw pengin ada beberapa ruang belajar yang nyaman, cozy gitu deh buat anak-anak SMA kalo pengin belajar kelompok. Apalagi ya? Boleh juga dikasih menu makanan ringan untuk menemani belajar kalo lagi laper. Oke! Konsep kasar udah ada, teknis pelaksanaan dan detail konsep sambil jalan bisalah nanti. Dana, gw bisa kok nyari sponsor untuk mendukung pembiayaan gerai itu. Mulai dari biaya pembangunan sampai dengan biaya perawatan sehari-hari, insya Allah bisa—Gusti Allah mboten sare (Goenawan Muhamad, dalam novel Pengakuan Pariyem).
Aaaah! Rasanya pengin segera merealisasikan proyek besar ini. Lagi-lagi, proyek ini nonprofit. Balik lagi ke tujuan awal gw, pengin membantu tempat asal gw biar lebih maju. Sasaran gw tentulah siswa SD sampai dengan SMA. Pengin banget membuka wawasan mereka dengan membaca. Gusti Allah aja menurunkan Al-Alaq kepada Kanjeng Nabi, iqra’! iqra’! yoweslah, berarti dhewek iki dikongkon maca, amarga maca kuwi paling utama.

Konten buku yang akan gw sediakan adalah seputar sastra dan pengetahuan umum. Mengapa sastra? Sastra ibarat ruh, nyawa. Bekal hidup sepanjang masa. Ilmu dunia dan akhirat, ada di sastra kok, tenang aja. Buka mata, hati, telinga. Hidup tak lagi harus bangga hanya karena eksakta, tapi bangga karena peka terhadap rasa. Itu yang pengin gw tanamkan. Bukan berarti melarang atau menurunkan derajat ilmu nonsastra, melainkan hanya ingin mengajak, merangkul orang-orang untuk menemui pangkal dan ujung kehidupan dalam setiap lembaran. Beuh!

Insya Allah bisa. Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? Apa sih yang nggak bermasalah di dunia ini ? tinggal bagaimana kita menerima dan menanggapi setiap kejadian di antara ruji kehidupan. Iye nggak ?
Gw juga udah ada bayangan kok, kira-kira siapa aja orang-orang dibalik layar yang ingin gw ajak. Hohoho.. btw, kalo salah satu dari pembaca, gw hubungin, berarti siap-siap ya ! siap-siap untuk membangun bangsa. Oke !
:)

20.4.11

Trauma dengan "Kejadian itu"

2 September bukan tanggal penting gw rasa. Akan tetapi, entah kenapa gw belum lupa begitu saja.


"Hanya sebuah goresan pada dinding nisan tak bertuan. Hari itu membuatku kelu. Sekujur tubuh terasa membara saat percikpercik api mulai menampakkan keganasannya. Malaikat Izrail mungkin menjadi teman setianya detik itu juga. Aku gusar gemetar meregang nyawa. Aaaaaaaaaaa!"

Jam tangan digital gw udah di angka 08.05, mata kuliah Gender Dalam Sastra harusnya. Gw bolos aja apa ya? hmm, gw mikir itu setelah dapet sms dari temen gw tentang Dia. Gw telpon nomor Dia, nggak diangkat men! tambah panik deh gw. Nunggu bikun aja kali ya.. selang berapa detik, "Dia memanggil" tertera di layar hape gw. Gw angkat, dan anehnya yang kedengeran suara bapak-bapak. Jangan salah, bapak-bapak itu malah balik tanya dan ngasih info mengenai keberadaan dan keadaan Dia saat itu. Gw langsung mutusin bolos, ke stasiun UI, nunggu angkot 19 di Kober, dan capcus ke tempat suruhan bapak-bapak tadi. Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, Ayat Kursi, semua gw baca. Gw nggak ngobrol apa-apa, padahal ada temen yang nemenin gw di angkot sedari tadi.

Begitu sampe di salah satu rumah sakit di sebuah daerah, gw bingung.
"Semua orang di sana hanya diam tak memutar kata. Ada apa di sana? Tolol semuanya! tak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaanku dengan gamblang. Gila kalian! aku marah. Jauh-jauh aku memupuk rasa gemetar di rusuk kananku selama perjalanan itu, kalian tak tau kan? betapa sulit kupenjarakan neuron-neoron negatif keluar dari tiangtiang besinya. Semua kosong. Tuhan, orang-orang di sini gagu.."


Repetisi


Apa itu Repetisi?
Repetisi yang bikin seseorang mati suri,
Repetisi yang bikin orang sakit hati,
Repetisi yang tak pernah berhenti..

Alam mendukung sebuah repetisi,
seperti macanmacan yang tiap detik mengaum meminta diadili.
Repetisi formasi yang agak basi, meskipun bumbubumbu ekspresi terus digali.

Kesemuanya tadi hanya guratan siklus pada diri yang masih tersembunyi,
Ya!
tak salah lagi,

5.3.11

Organizational Training MBUI (SmartFun)



Hari ini adalah salah satu hari yang gw tunggu-tunggu. Kenapa? karena nggak setiap tahun ada acara ini, bahkan para manajer di MBUI tahun-tahun sebelumnya memang belum pernah ada acara khusus buat ngumpul satu divisi--meskipun nggak lengkap--di awal tahun kepengurusan.

Program kerja ini merupakan salah satu 'gawe' nya si manajer kaderisasi : Ahmad Naqib Alaydrus, FE-09, setelah kemarin ada OPREC MBUI tiga hari berturut-turut. Tujuan adanya OT di awal tahun adalah agar para manajer dan staf-stafnya mengetahui secara konkret deskripsi kerja mereka setahun ke depan, upss.. dua tahun ke depan, hahaha *ketawa bangga! :D

Selain itu, para staf juga belajar memecahkan studi kasus yang dibuat oleh si manajer (biasanya kasusnya adalah yang udah pernah terjadi di kepengurusan sebelumnya, atau masalah yang sengaja dikira-kira jika nantinya terjadi), sehingga para staf juga secara tidak langsung belajar cara menjadi 'pengganti' manajer mereka jikalau pada suatu hari nanti si bosnya berhalangan. Bahasa Depoknya PIC (person in charge) :P Belajar itu emang kadang 'malesin' kalo dipikir secara logika, gimana nggak? kita harus mikir macem-macem, ribet, dan nyelesein masalah yang nggak dipikirin oleh orang lain. Kuliah aja udah numpuk-numpuk noh tugasnya, iye nggak? Namun, ketika kita udah ngejalanin, insya Allah cincai lah.. terasa ringan, "ooo, kalo yang gini mah udah biasa," ahhaaaha, terbiasa mecahin masalah lebih tepatnya, jadi kita bisa agak 'jumawa', gapapa toh?! toooh..

Menurut gw, ilmu nggak selalu harus dibayar maharani sist, asal kitanya punya niat dikit, dikiit aja, lama-lama insya Allah bakal ngrasa butuh sendiri, dan akhirnya kita secara nggak sadar akan terus menggali apa yang kita butuhkan tanpa disuruh oleh siapa pun. Alam bawah sadar kita yang bekerja, namanya otomatis sist.. Untuk jangka pendek, ilmu-ilmu ini (serem deh bo, berasa lagi ngomongin ilmu jurus-jurus silat gitu) belum terlalu terasa manfaatnya, karena masalah yang dihadapi mungkin belum berat. Tapi, yakinlah pada saatnya nanti, kalo kita udah gede (apanya yang gede hayoo?! haha..) berguna banget. Kenapa? karena kalo kita udah lulus dari kamfus tercintrong ini, kita sendirian yang akan menghadapi semua shit happen (kalo kata Ni Luh Dea Pradnyani), kita udah nggak bareng-bareng lagi mungkin, atau cuma berdua, bertiga, dari yang biasanya ropokan. Di sinilah perlunya ilmu-ilmu yang nggak keliatan itu.

Tentunya tadi ada materi yang udah kita dapetin, pertama dari Arila (manajemen tim). Penjelasan singkat nan berbobot itu juga dibarengi dengan tanya jawab, diskusi tentang masalah-masalah yang sering terjadi, dan cara menghadapinya, karena rata-rata semua staf adalah fresh graduate, hehe. Kedua, studi kasus ama manajer masing-masing, dan terakhir ada games-games seru nan unik, ahhahaa. Semua gelak tawa tumpah di sini. Seneng deh ngliatnya!

Meskipun cuma games, tapi buat gw, ini justru bisa jadi salah satu 'kunci' untuk tau personality individu masing-masing. Contohnya, saat dia jadi leader di salah satu games. Atau kita bisa tau saat seseorang mendelegasikan tugasnya ke yang lain dengan caranya sendiri. Saat ada perdebatan kecil, agak sepele, atau reaksi yang ditimbulkan dari tiap orang, berbeda-beda pastinya. Nah, keliatan tuh. Mulai dari yang keras kepala, bijak dalam berbicara, cara bersikap saat dia menang atau kalah di suatu games, bahkan komentar-komentar menggelitik yang kadang muncul, alias "nyelemong". Banyak yang bisa kita petik dari hal-hal yang kadang kita anggap nggak penting. Banyak belajar dari 'apa-apa' yang dilakukan orang lain juga, dan bisa banget jadi bahan introspeksi pribadi.
hoho..

Selamat malam, semoga mimpi malam ini sesuai dengan apa yang kita inginkan.
:*

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...