Tampilkan postingan dengan label #UIMenulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #UIMenulis. Tampilkan semua postingan

8.10.12

Pertemuan Pada Babak Ke Sekian

Selamat! Semoga Tuhan selalu dekat, aamiin. (your M)

Kali terakhir kubaca suratmu di Kansas (Kantin Sastra). Cuma ucapan itu yang cukup lekat di otak. Di saat kepulan asap sampai pada kerucut atap, saat orang-orang lalu-lalang saling bercinta dengan kudapan di kiri kanan tangannya, dua tahun lalu, kau menantangku bermain kartu. Andai saja sekarang masih bisa, sayangnya kaululus lebih dulu. Satu Mei. Suka tak suka, usia telah berkurang satu. Aku heran, mengapa orang-orang selalu mengucapkan “selamat, dan semoga panjang umur” di hari ulang tahun? Bukankah mati dalam usia dini katanya lebih suci?

Aku setengah mati setengah hidup selama enam tahun. Menunggu, menanti kabar dari seseorang yang kusebut ‘teman dekat’. Kemudian, aku mengingat-Mu semalaman ketika rindu telah sampai di ujung hulu. Terima kasih untuk tidak menjauh, meski tak juga dekat. Kau berjalan ke utara, aku ke selatan, begitu seterusnya. Sama sekali tak pernah berpapasan di kilometer ke sekian.

Memberanikan diri mencari topik diskusi pagi-pagi bukanlah perkara gampang. Butuh ribuan kali untuk menimbang, maju, mundur, membatalkan, ah! Padahal setelah sadar: ternyata dari tadi aku sendiri yang menciptakan dramatisasi hubungan. Untungnya, di samping kita selalu ada teman untuk mengingatkan.
“sudah kaukabari dia semalam?”
“belum.”
“mau sampai kapan?”
“belum tau.”
“sms saja, biar tidak terlalu canggung.”

***

“hey you, hari ini masih sibuk?”
“kamu lucu, lima tahun bersamamu, stok kalimatmu cuma itu.”
“terima kasih, ganteng :)”
“ada prahara apa?”
“dua minggu lagi aku harus bertanggung jawab atas apa-apa yang telah kudapatkan di sini ke hadapan tiga penguji.”
“oh, baguslah! Lalu?”
“aku mau kamu di sini, itung-itung meredam grogi.”
“tapi nggak janji. Aku datang kalau senggang.”
“baik, kutunggu!”

***

Sejak pukul delapan pagi, entah sudah mondar-mandir berapa kali di sekitar gedung lima, dekat LBI. Padahal, aku selalu menyebut nama-Mu dalam hati. Kemeja hitam lengan pendek, rok putih abu-abu selutut, kacamata biru tua minus tiga, juga kuku yang dicat merah hati. Hari ini berbeda dari biasanya. Sebentar lagi akan ‘melepas lajang’, kemudian kawin sepuasnya dengan ribuan kata dalam tema yang akan diuji coba. Juga dia—yang katanya akan datang kalau senggang. Namun, sampai detik ini belum muncul di depan mata. Sebentar lagi pukul sembilan—lima belas menit lagi tepatnya—aku segera diadili.
“Manggala belum datang? Coba ditelepon, tanya di mana.”
“ng.. tadi sudah aku sms kok,”
“saat-saat genting kayak gini masih aja gengsi!”
“iya iya, ini aku telepon!”
… … … … … … … (nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi)
“nggak aktif ponselnya, gimana dong?”
“dua menit lagi kamu harus sudah di ruangan, mungkin ada baiknya kamu fokus. Biar aku saja
yang menghubungi dia nanti. Oke?”
“ng.. yaudah deh, thanks Lin. Aku masuk ya!”

(Satu jam kemudian)

Terima kasih, Tuhan. Hari ini lega. Sangat lega. Seperti keluar dari penjara. Hampir dua tahun dipeluk dosa yang tak berujung. Aaah! Rasanya semua terbayar mahal seketika. Sebentar! Ada yang kurang. Di mana Manggala? Begitu keluar dari gedung lima, Kalindi tadi buru-buru mengajakku ke parkir gedung sembilan. Apa mungkin ini bagian dari kejutan? Ya Tuhan, kebahagiaan apalagi yang kausiapkan?

Bukan, ini tidak seperti sebuah kebahagiaan. Aku disuguhi pemandangan yang tak jelas, nyata atau sekadar drama. Seorang lelaki terkapar di sebuah ruangan. Di sekelilingnya ada orang-orang berseragam putih tampak membersihkan darah yang tak henti-hentinya menderas. Agaknya kepala si pasien seperti telah membentur sesuatu yang cukup keras. Sesekali wajahnya yang rusak diusap dengan lap basah. Kemudian, aku menangkap sesuatu: kemeja, celana, sepatu, juga tas pasien itu memang sangat ramah dengan mataku. Mereka sedang apa sebenarnya? Mahasiswa Kedokteran yang sedang ujian praktik membedah mayat? Tampaknya tidak demikian. Lalu itu siapa?

Aku masih bersikeras menolak kebenaran. Yang terbaring tadi pasti orang lain, bukan siapa-siapa. Namun, jantungku terasa makin cepat detaknya; aliran darah pun seperti melambat; ada genangan air yang terpaksa ditahan oleh kelopak mata. Mulutku masih komat-kamit menyebut nama, entah nama Tuhan atau bukan, aku tak ingat. Yang pasti, kepalaku makin berat, seperti ditimpa bebatuan. Tuhan, ini mungkin ujian untukku yang ke sekian? 

4.10.12

Saling Simpang Biar Tak Gamang

Selasar gedung satu akhirnya jadi tempat singgah, sekadar ingin duduk bersila sembari menunggu rintik reda. Di dalam tasku tak ada headset rupanya. Ah! Ada-ada saja. Kemudian, segera kucari teman setia pembangkit jiwa. “Nah, ini dia!”
Terima kasih, Pablo Neruda, aku siap menyelami sajak yang kaucipta.

Kukatakan sekali lagi bahwa aku mencintaimu
Maka pukullah aku jika kau tak suka
Hari-hari yang kulampaui hanya berbatas dinding dan malam
Sepi memintal leher dan mencekik penantian bulan
Aku mencintaimu
Langit dan bumi inilah saksinya
Dan lemparlah jika kau tak suka
Karena aku pun tak sengaja mencintaimu
(Sasina)

Tuhan selalu punya rencana: mempertemukan kita di waktu-waktu yang tak terjaga. Ya, seperti sekarang. Bukannya kita baru saja saling sapa tadi siang? Lalu, saat ini kautepat lurus di depan mata. Berjarak memang, tapi cuma sejengkal. Kau masih seperti dulu: berdua dengan gitar seksimu. Pun aku: dengan kaos hitamku. Mau tak mau, kali ini aku yang harus memulai bicara.
“masih nunggu?”
“menurutmu?”
“masih,”
“percuma kalau kautanya cuma untuk basa-basi,”
“mau berapa lama?”
“sampai Tuhan mengirim yang lain untukku.”
“oh..”
“cuma oh?”
“memangnya aku harus bagaimana?”
“ya, terserah.”
“yasudah, tak perlu repot-repot protes kalau begitu.”
“kamu masih sama!”
“kamu juga keras kepala!”
“lalu, mengapa kau kemari?”
“ingin memastikan saja.”
“memastikan apa?”
“tak perlu tahu!”
“cuma Pablo Neruda yang setia,”
“aku sekadar bernyanyi untukmu, tetap tak boleh?”
“… ...”

Sore kala itu cukup sejuk. Setidaknya sedikit menolong, biar di antara kita tak ada lagi cekcok mulut. Sayangnya selasar gedung satu pun ikut kelu. Kau dan aku sama-sama menyebut: bahwa berteman juga butuh berkorban. Korban perasaan—tak apa sekali dua kali, asal tak keterusan.

Hari ini kau tak berjarak denganku. Entah besok atau lusa, mungkin sudah tak terhitung jengkalnya. Sesungguhnya aku benci rokokmu, tapi apakah kau juga tahu bahwa setiap hari ada korek di dalam tasku? Ya, siapa tahu kaubutuh sewaktu-waktu. Kupikir, dengan begitu, paling tidak, kita punya topik yang asik untuk diperdebatkan. Tak usah khawatir bertanya tentang kapan, semua skenario kita sudah Tuhan buatkan, bukan?

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...