21.2.14

Selintas Percakapan


DH1        : "RC meninggal hari ini.."
DH2        : "Iya tau kok.."
DH1        : "Ya gw juga tau sih kalo lo tau"
DH2        : "Gw juga tau klo lo tau gw tau"
……………………………………………………………

14.2.14

Excited

Berawal dari ketemu pas pelepasan GPMB XXVIII di Gor POPKI, gw dan salah satu orang—sebut saja N—sempat cerita banyak soal kehidupan luar kampus. Termasuk di salah satu unit membanggakan itu. Entah apa yang membuat N mengawali curhatannya ke gw. Begitu menggebu dia bercerita. Katanya, dia sangat mencintai kegiatannya. Namun, yang namanya cinta, tetep aja menyakitkan. Penolakan demi penolakan sering N alami selama dia di sana. N terus bercerita tak ada habisnya. Bahkan, nggak ada waktu yang tersedia untuk gw bicara. Jadilah gw hanya angguk-angguk kepala, setia memerhatikan ucapannya.

Sampai pada akhirnya N menyetop sendiri obrolannya, dia mempersilakan gw angkat bicara. Hah? Padahal udah lama tutup buku kalo soal itu. Karena si N agak-agak mengintimidasi gw secara nggak langsung, luluhlah gw memulai cerita seperti dia pertama tadi membuka luka *oops*

Intinya kurang lebih sama. Hahaha. Abisnya males juga klarifikasi macem-macem di sini. Toh udah pada tahu semua lah. Apa pun persepsinya, terserah masing-masing, nggak ada yang bener atau yang salah. Yang ada hanya bagaimana cara memahami dan menghargai, juga mencaci apa-apa yang udah terjadi. Semoga ini nggak cukup eksplisit sih. Dan sebenernya kalo yang satu lagi dateng, beuh bakal rame pisan. Nggak kelar-kelar curhatnya. 

Banyak hal yang kami perjuangkan, tapi gagal dipercaya. Alasannya beragam: nggak sesuai lah, aneh lah, susah lah, mahal lah, gila lah. If it doesn’t challenge you, it doesn’t change you! Kalo kata mantan ketua unit sebelah tuh gitu. Catet tuh!

Tahun akhirnya berganti. 2014 mengawali segalanya. Calon-calon pemimpin bermunculan beserta branding-nya. Seru. Makin seru ketika orang terakhir muncul. Kalo di film-film India, “lakon kuwe tekane terakhir,” kemudian, pernyataan ini terbukti di pemilihan. Alhamdulillah. Gw seneng banget! Gw emang nggak kenal baik, tapi anak tipe audiovisual macem gw kadang instingnya kuat. Dari gestur dan cara ngomong udah keliatan, mana yang revolusioner. Kejadian ‘seneng’ gw di tahun 2010 lalu terulang lagi tahun ini. Tentunya dengan sensasi yang berbeda lah. 

Kelar acara, langsung salaman sama N. Rasanya tuh, semua hal yang kami obrolin pas pelepasan luruh. Lega banget. Pengen teriak kenceng deh pokoknya. Berasa gw yang menang, dan cuma pengen bilang “INILAH SAATNYA!” ye nggak N? *sembari mencebik*

Setelah beberapa hari, udah mulai keliatan ke-extraordinary-annya. Gw pun makin bersyukur, akhirnya yang kami cintai bertemu sosok yang tepat (menurut kami). Kita lihat saja, akan seperti apakah bentuknya? Semoga yang dia lakukan selalu diberkati Tuhan. Aamiin.

Welcome to your (real) dreams, N!

10.2.14

Monday Anniversary

 “kita nggak akan pernah siap seratus persen untuk mulai melakukan sesuatu..

Pernah nggak, ragu-ragu mengambil suatu pekerjaan, padahal justru itu yang diinginkan selama ini? Saya mengalaminya beberapa kali, tak usahlah dihitung tepatnya, tidak penting. Dilema atas satu opsi yang ditawarkan, baik secara cuma-cuma ataupun dengan usaha sekuat-kuatnya. Siapa sih yang bikin kita dilema? Kita sendiri.

Dua minggu lalu, saya maju mundur gantiin posisi copywriter full time. Ragu karena memang belum siap full time, juga ragu karena tiap pulang kerja masih ada latihan teater sampai malam (sekitar pukul 10 atau 11). Satu lagi, kira-kira saya bakal kuat nggak nih ngerjain editan novel sepulang latihan teater, dan tetep bisa bangun pukul 3.30 pagi? Bukan soal capek, melainkan mental. Capek itu pasti. Kalau nggak mau capek, nggak usah hidup. Sederhana kok.

Well, nggak terasa sepekan sudah saya bolak-balik kantor-kosan. Alhamdulillah banget banyak kemudahan. Cuma butuh setengah jam sekali jalan pas office hour. Hitungannya sih saya nggak office hour (mainstream) juga. Biasanya sampai kantor pukul 10 atau setengah 11, bahkan hari ini pukul 11 baru duduk manis di kursi panas. Begitu pula jam pulang. Jarum jam baru menunjuk angka empat pun sudah bisa keluar kandang. Kalau mau bercinta hingga larut malam pun dipersilakan. Asalkan semua tenggat yang dijadwalkan selesai dikerjakan.

Bersyukur punya rekan kerja yang ‘seiman’. Hmm, maksudnya bisa diandalkan meskipun di meja kerja demen cekikikan. Nggak ada bos-bosan, atasan, bawahan, emang pakaian? Haha. Dan, rata-rata rekan kerja saya lelaki. Seneng deh karena nggak ribet, rempong ini-itu, fleksibel, dan selalu bisa diajak diskusi apa pun tanpa harus merasa tersinggung-an. Bicara soal rekan ‘seiman’, lumayan lengkap lah. Ada yang demen film India, jalan-jalan manasuka, bahkan pencinta musik jazz juga ada.

Semua itu nggak (selalu) membutuhkan seratus persen kesiapan. Iya, saya buktinya. Ah, makasih banyak udah dikasih beragam kemudahan. Semoga selalu tersedia kemudahan-kemudahan di pekan-pekan depan.

Akhirul kata, selamat sepekan!

5.2.14

Migrain

Bagi penderita sakit kepala, nyeri mendadak saat kita sedang berkegiatan adalah hal yang paling mengganggu. Apa yang dilakukan jadi kurang maksimal. Bukan menyalahkan datangnya si nyeri, dan menjadikan alasan utama untuk menghindar dari pekerjaan, melainkan ‘harus banget ya, nyerinya pas gw lagi butuh energy full yang mikirnya mesti pake otak?’ pekerjaan apa pun dipikir pake otak sih, tapi porsinya aja yang beda-beda.

Sakit kepala mendadak sudah lama saya alami. Mungkin migrain. Nah, migrain ini selalu datang setelah tubuh dan otak saya diberdayakan sepenuhnya dari pagi hingga larut malam. Padahal, saya bukan omnivora alias pemakan segala makanan, apa pun jenisnya. Asupan makanan saya nggak neko-neko. MSG dari snack-snack angin rasa surga dunia pun bisa dihitung jari, setahun hanya berapa kali. Selalu minum air putih cukup dan jarang sekali minum air berwarna, seperti kopi, teh, bahkan soda pun nggak sama sekali, juga minuman kemasan berpengawet. Paling banter, saya cuma mengonsumsi sari kacang hijau, yoghurt, mogu-mogu kelapa atau tipco.

Saat nyeri menyerang, saya sangat menghindari yang namanya minum obat pereda. Kecuali dengan sangat terpaksa karena harus tetep ON pada deadline kerjaan. Banyak yang menyarankan bahwa sebaiknya diperiksa ke dokter. Duh, please! Memang, dengan begitu kemungkinan tahu penyakitnya akan lebih mudah, tapi di sisi lain ada rasa takut, parno. Ujung-ujungnya dikasih kapsul paling. Lagi-lagi obat. Mending minum jamu deh, sepahit apa pun. Tapi jamunya dicampur madu, hahaha.

Dugaan sementara dari saya pribadi sih sederhana. Karena mata saya lelah berakomodasi penuh dan uratnya terlalu tegang. Ini bisa ngaruh ke saraf otak belakang, makanya bikin sakit kepala atau migrain. Obatnya ya, tidur. Kalo kebetulan punya waktu untuk tidur. Kalo nggak? Nah, kan. Repot juga. Selama ini solusinya: makan coklat, diolesi minyak angin, dan melakukan posisi rukuk atau sujud (bisa jadi karena aliran darah ke otak berkurang). Kadang ampuh juga.

Akhirnya, saya beli dumbbell. Hahaha. Nggak ada korelasinya ya? Ada kok. Dumbbell-nya berguna banget biar tiap saat bisa olahraga, meskipun di dalam kamar. Sesuai kebutuhan, juga keniatan. Setidaknya, memaksa tubuh untuk rutin bergerak dan berkeringat. Semoga ini hanya sakit kepala biasa. Semoga sakit kepala selama ini memang karena mata minus saya terlalu lelah. Dan, semoga nggak datang di saat-saat otak butuh diperes. Aamiin.

1.2.14

Welcome February!

Lega rasanya, tubuh sudah mulai menyesuaikan dengan kebiasaan yang nantinya akan saya jalani (lagi). Yap, full-time worker. Pagi tadi berhasil bangun pukul 03.40 sebelum alarm berbunyi, padahal hari ini hari Sabtu. Bahkan, semalam pun saya tidur sekitar pukul 12 malam. Saraf motoriknya deg-degan kali! Haha.

Setelah wisuda tahun 2012 lalu, saya baru sempat jadi full-time worker sekitar empat bulan di salah satu lembaga nasional di bawah Kementerian Pariwisata. Tepat setahun, sejak Februari 2013 saya menahbiskan diri sebagai freelancer, Februari tahun ini saya kembali mendeklarasikan diri sebagai full-time worker. Semoga betah.

Sebagai freelancer, tidak dimungkiri menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Bisa ngatur waktu kerja dan bisa memilih mau kerja di mana pun, tanpa harus riweuh dengan segala tuntutan office hour. Ya, kerja di mana pun di sini adalah bahwa saya mempunyai lebih dari satu macam pekerjaan. Ngedit, ngurus acara, sesekali liputan, dan ngajar bahasa Indonesia untuk orang asing. Keempat jenis ini memang tidak setiap bulan (pasti) ada, tapi rezeki datang dari tempat tak terduga tuh beneran ada. Tiba-tiba dihubungi orang Dewan Kesenian Jakarta lah buat ngurus acara besoknya, si ini minta gantiin ngajar muridnya karena berhalangan, atau dihubungi media untuk ngeliput konser jazz. Hihihi, seru ya!

Selain itu, nikmatnya menjadi freelancer adalah bisa ‘jajan’ di mana-mana. Jadi official di Thailand International Marching Band Championship, bantu-bantu di GPMB 2013, ke luar kota pas weekdays dalam rangka iseng karena ada promo tiket murah, atau ikut latihan teater untuk pementasan. Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan :’)

Kenapa sih, saya memilih menjadi freelancer? Full-time worker kan duitnya bisa lebih banyak padahal. Memang ada benernya. Tapi, dulu saya tidak ingin menua di jalan. Sekali jalan menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam, belum siap-siapnya, shit happened nya, berdesakan di dalam kendaraan umum, mood yang naik turun akibat hambatan-hambatan tadi, dan faktor ketidakberuntungan lainnya di jalan. Gangguan kereta, jalan menuju kantor banjir, bahkan ada yang kantornya banjir sehingga terpaksa diliburkan, dan sebagainya. Saya hanya bisa melihat bulan di kamar tidur, tapi tidak untuk matahari. Karena saya harus sampai di kantor pukul 8 pagi. I Love Jakarta!

Nah, bulan Januari lalu saya pulang ke rumah sekitar dua pekan. Banyak sekali tetek bengek yang terlintas dalam otak. Tentang karir, dan masa depan. Berat tjuy! Yaaa, jodoh sih tak perlu ditanya. Setiap waktu saya selalu berdoa agar dipertemukan dengan lelaki terbaik menurutNya di saat yang tepat. Jadi, alhamdulillah bukan masalah. Iya, justru karirlah yang menguras energi paling besar. Orangtua saya terus mendoktrin agar saya merintis karir di rumah saja, dan meninggalkan Jakarta secepatnya. Hmm, sulit!

Motivasi terbesar saya untuk menjalani full-time worker lagi, tak lain dan tak bukan adalah travelling. Hahaha. Saya ingin lebih banyak melihat, mendengar dan merasakan apa-apa yang tidak ada di sekitar saya. Maka dari itu, tekad saya sudah bulat pemirsa! Anyway, ini pun status saya masih tetap freelance editor dan latihan teater untuk pementasan. Cuma nambah sebagai copywriter full time, berkantor di Jalan Raya Bogor. Karena faktor ‘kantor lebih dekat’ inilah yang sebenarnya mematahkan ambisi untuk tidak terus-terusan hanya menjadi freelancer. Doakan, semoga hari pertama dan seterusnya lancar, aamiin. Senin 3 Februari nanti, saya akan berkencan dengan pacar baru. Excited.

Welcome My February!

Manusia Bersinggung Bumi

Kami tak pernah meminta untuk dilahirkan. Tiba-tiba saja sudah seperlima abad lebih di muka bumi. Jangankan khusyuk mengabdi, kami sadar bahwa eksistensi untuk tetap hidup dan tumbuh pun baru-baru ini, tidak dari dulu. Jadi, tak usah menuntut macam-macam. Cuma langit yang tahu segalanya tentang kita. Dia yang menaungi rahim perempuan bersama makhluk kecil tak bernama. Dia pula yang mendengar gelegar tangis tak berdaya saat kita kali pertama ada. Jadi, tak pantas kau merasa besar. 
Sayang, kematian selalu menunda kedatangannya. Mungkin, masih ada urusan yang belum diselesaikan. O, atau jangan-jangan kesal. Karenanya, ia selalu memberi kejutan pada orang-orang yang tiba waktunya untuk pulang.

31.1.14

Dunia

pagi akan terus berulang
matahari cuma singgah sesekali
dingin tak pernah lupa pada siang
alih-alih malam bertapa, musimlah yang abadi, kita fana. 

25.1.14

Ada Yang Belum Kutunaikan

mengertilah, malam telah sampai ke atap
rinduku sudah lama mampir ke hulu
sesekali tengoklah, jangan biarkan ia menguap

percayalah, ia masih kusimpan rapi di dalam lemari
sengaja kututup rapat dan kuikat
suatu Minggu nanti, ia akan kutitipkan pada pekat
karena dengan begitu, aku selamat.

Lelara (1)

Gusti Pangeran lagi nylentik
Maring wong sing sokan syirik
Neng donya wis kakehan wong ala
Mugane neng endi-endi isine bencana

Fase

kita pernah berjalan bersama
meniti tangga di lajur berbeda
kemudian aku memilih berlari
menangkap segala yang mustahil di bumi
sedang kau lebih asyik beringsut
menapak jejak yang telanjur kusut

kelak, masihkah kita bersama, meski di sudut maut?

22.1.14

Kaleidoskop 2013

Selamat datang 2014!
Gw harap, semua lini di kehidupan gw meningkat, aamiin.

Well, nggak afdhol rasanya kalau pergantian tahun kali ini tidak dilengkapi dengan pencapaian dan evaluasi (*njir, berasa lagi LPJ ini sih). Alhamdulillah, akhir tahun ini membahagiakan. Meski di awal tahun 2013 hidup gw penuh liku, sejujurnya gw justru sangat menikmati prosesnya.

Pada bulan Januari akhir, gw memutuskan untuk mengakhiri hubungan gw dengan salah satu lembaga nasional tempat gw bekerja. Kenapa diakhiri? Ya, karena ada beberapa hal yang menurut gw ‘lama-lama ada yang nggak beres’ dan alasan idealis alumni UI pada umumnya. Hiahahahaha. Kemudian, mulailah gw melamar ke beberapa tempat yang gw inginkan. Sembari menunggu panggilan, gw sengaja menghabiskan waktu gw di rumah (Tegal), itung-itung ngecas batre family-life gw. Baru hari pertama di rumah, tiba-tiba gw ditelepon oleh salah satu radio di Bandung untuk interview. Karena jadwal interview nggak bisa di-reschedule, akhirnya gw lepas. Fuh. Tega nggak tega sih sebenernya. Tapi apa boleh buat, memang belum jodoh.

Beberapa hari kemudian, bulan Februari awal, gw juga dihubungi oleh salah satu media cetak berskala nasional untuk menjalani tes bidang (seleksi tahap dua). Waktu itu gw minatnya di Penyelaras Bahasa Iklan. Gw pun terpaksa kembali ke Jakarta. Alhamdulillahnya gw lolos, dan lanjut ke tahap tiga, yakni wawancara. Dalam situasi ini, gw udah nggak punya kosan. Jadi selama gw di Jakarta, gw nginep di beberapa tempat: di rumah temen gw di Ciracas, Kober, dan Kukel. Setelah selesai tahap wawancara, gw langsung balik lagi ke Tegal. Boleh dibilang, gw sempet PP Jakarta-Tegal sampe 3 atau 4 kali. Mabok banget lah pokoknya!

Nah, gw dan temen-temen sejurusan, juga seangkatan, nggak ada yang lolos ke tahap berikutnya. Yang lolos justru junior gw yang masih ngerjain skripsi. Hmm, ini nggak tau sih, pertimbangannya apa. Yasudahlah ya. Akhir bulan Februari, gw memutuskan ke Depok karena ada murid BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing) yang butuh privat bahasa Indonesia. Jadi ya, gw dengan senang hati menerima freelance ini. Alhamdulillah, kerjaan ini bertahan cukup lama, sampe sekitar bulan Maret/April. Murid gw yang tadinya cuma satu, semakin bertambah. Selain itu, bulan Februari juga bulan kelahiran komunitas Estafet Buku *prok prok prok* jadi kegiatan gw nambah deh.

April. Bulan yang gw tunggu-tunggu akhirnya tiba. Tadinya ada rencana ke luar kota, tapi karena orang yang mau gw kunjungi sedang tidak berada di tempat, maka rencana pun gagal. Sedih. Meski begitu, gw tetep punya back up plan: ngirim sesuatu yang mau gw kasih via JNE.

Bulan Mei. To do list gw menghadiri festival lampion di hari Waisak tercapai. Yaaa walaupun pas nyampe Borobudur banyak peristiwa konyol dan epic sepanjang masa, tetep aja bahagia (eaaaaak!). Mulai dari ikut trip sebuah grup, batal ke Goa Pindul dan Sungai Oyo, sampe batal ketemuan (entah ini kali ke berapanya dibatalin). Fuh. Udah bagus kami berada di tempat yang sama, tapi ada aja lah halangannya. Belum jodoh edisi ke sekian. Hahaha. Gw di Jogja sampe awal Juni. Jadi, pas gw ulang tahun, gw masih di Jogja. Hehehe. Selamat ilang tahun, Idha! Waktu di Jogja gw habiskan untuk keliling kampus UGM, plus ke tempat-tempat asyik di Jogja dengan sepupu gw, temen-temen kampus yang kebetulan lagi di Jogja, dan temen SMA yang kuliah di Jogja. Seru!

Juni. Bahwa “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni (Sapardi)” memang benar. Sahabat pas SMP SMA yang berulang tahun beberapa hari setelah 31 Mei, sekarang udah nggak sama gw lagi. Memang, jarak kami sangat jauh. Pun, tersedia alat komunikasi, kami tak seintim dulu. Hiks. Yang gw rindukan adalah saat tukeran kado. Selalu ada surat di dalamnya. Isinya sih standar-standar aja, ngasih kabar sekarang gimana, trus saling cerita kalau kangen pengin ketemu, dll. But, it’s over now! Alhamdulillahnya, gw dapet kado dari temen-temen Estafet Buku. Dan, mereka sangat menghibur gw di bulan Juni.

Memasuki bulan Juli, gw dihadapkan pada ujian S2 di UGM. Gw tes tanggal 6 Juli. Alhamdulillahnya masih sempet—dan bela-belain—dateng ke MBIC 2 di GKJ tanggal 5 Juli. Jadi, begitu konser kelar sekitar jam lima sore, lanjut foto-foto dan ketemu sama orang-orang yang pengin ditemuin, setengah enam langsung cabut ke Gambir karena kereta ke Jogja berangkat jam enam. Fuh, selalu seru dikejar waktu. Sampai di Jogja, gw akhirnya nginep di kosan sepupu gw yang cowok. Ini terpaksa karena kondisi saat itu adalah jam tiga pagi, sementara gw harus sampe kampus UGM jam 7. Cuma tempat dia yang paling deket.  Padahal, rencana awal adalah gw bakal nginep di rumah temen gw, di daerah Ngaglik-Sleman. Dipikir-pikir, bakal repot dan PR banget kalo harus bolak-balik sejauh itu. Setelah kelar ujian, gw langsung ke rumah temen gw untuk nginep di sana. Satu lagi, di tahun ini pula gw menjalani hari pertama puasa Ramadhan di luar kota alias Jogja.

Agustus. Setelah balik dari Jogja, gw ke Depok dulu, barulah ke Tegal—menghabiskan sisa puasa di rumah sampai Lebaran tiba. Bulan ini spesial karena pada hari kemerdekaan gw memutuskan untuk ngetrip ke Gunung Krakatau. Yap, this is the first time gw naik gunung sampai puncak. Hahaha. Selama 3D2N gw nenda di tepi pantai, dan ini nikmat banget! Udah sempet gw ulas itinerary dan jalan-jalannya sedikit di sini dan di sini.

September. Ini antara nothing special atau gw lupa. Hahaha. Maaaaap!

Oktober. Saatnya BMBC-an, kiw kiw kiw! Alhamdulillah tahun ini bisa kembali ke Bandung menyaksikan BMBC untuk kali kedua. Meski awalnya ribet dengan pertiket-keretaan, akhirnya beres juga. Yaaaa sebenernya sih bukan BMBC-annya yang paling utama, tapi gitu deh, tau kan? Hahaha (maap ngeselin). Lumayan lah buat ngecas batre heart life. Najis banget sih ini kata-katanya. Baiklah, disudahi saja Oktobernya ya, nanti malah melebar.

November. Satu wishlist gw tercapai: Ngayogjazz. Alhamdulillah bisa ke Jogja juga akhirnya untuk kali ketiga dalam tahun 2013. Gila banget perjalanan ke Jogja kali ini. Masalah klasik, semenit lagi ketinggalan kereta di Stasiun Jakarta Kota pas berangkat dan ngejar kereta yang udah jalan di Stasiun Lempuyangan pas pulang. Fuh! Deg-deg-ser nya superseru. Batre jazz life pun penuh, apalagi puas mentelengi Shadu persis di depan monitor panggung. Hahaha. Di bulan ini, gw juga freelance di Dewan Kesenian Jakarta selama 2 minggu, Alhamdulillah banget bisa kenal orang-orang baik yang sehobi dan sedunia :’)

Desember. Masya Allah, cepet bener yak ujug-ujug udah akhir tahun 2013 aja. Biasanya umat marching band udah pada resah dan udah nggak konsen kerja/kuliah/nugas karena pengen cepet-cepet hari H GPMB. Nggak tau sih yang lain kayak gitu juga nggak, kalo gw sih iya. Ngedit aja udah nggak konsen—padahal ngeditnya nggak di kantor. Sempet bingung mau ngekru atau nonton Jumat dan Minggu. Dan, setelah dipikir matang-matang, baiknya gw ngekru. Apalagi harga sasak si ibu GPMB semakin mahal, hahaha (ampuuuun!). Sempet mau kecewa karena dulu pas BMBC bilang nggak akan dateng, tapi nyatanya dateng full dua hari. Hihihi. Batrenya kecas lagi deh. Perasaan ngecas mulu yak dari tadi, emang cepet abis batrenya, maklum manusia modern.

Baiklah, sekian dulu dari gw. Meskipun ini udah hampir akhir Januari 2014, nggak ada salahnya kan mengulas 2013 lalu? Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk ngecas batre di sana-sini kapan pun di manapun gw mau. Terima kasih 2013. Semoga 2014 lebih penuh batrenya :’)

22.12.13

Dear, Lovely Sister

Happy 14th
Hi, my name is Tazkiyatun Nisa
All the best for you. Allah always bless you, dear. Thanks for being my partner since 1999 until now. Even we scrappy at home everyday, believe or not, it is just little flavor of our love.

I wish, you have the power to make your own destiny and that starts with the decisions you make and the actions you take to become worthy of success.
I wish, you focus on the good things that you can give, create, inspire and choose to experience, right here, right now.
I wish, you trust your instincts because if it doesn’t feel right inside it won't feel right for you as time goes by.
:)
I wish, you can more be fun and safe at the new place next year. Aamiin.

**NB: kalau nggak tau artinya, cari di kamus! Hahahahahahahahahaha**

18.12.13

Another Geminian

Beberapa minggu yang lalu, saya dikasih tes psikologi oleh Della. Bermula dari obrolan tentang zodiak dan kaitannya dengan karakter, akhirnya saya penasaran. Yaaa meskipun harus dua kali ngerjain tesnya—karena kesalahan yang tidak disadari—setidaknya pas baca soal aja udah tahu, kita bakal milih yang mana.

Gara-gara itu, saya jadi inget status seorang teman—yang juga Gemini—mengatakan kalau dia udah lama nggak dikasih surprise saat ulang tahun. Dan betapa beruntung orang-orang yang di hari ulang tahunnya dihadiahi kejutan oleh keluarganya dan/atau teman-temannya. Mulai dari kejutan yang manis, romantis, hingga kejutan ala anak SD: diceplok telor dan tepung. Bahkan kadang lebih heboh dari itu, misalnya diikat di tiang/pohon, ditutup matanya, sampai dilucuti pakaiannya. Well, kesemuanya itu adalah pilihan, tergantung bagaimana niatnya. Setiap orang punya unforgettable surprise dalam hidupnya.

Nah, ini yang kemudian membuat saya mikir cetek. Tuh, kan, Gemini itu memang suka diberi perhatian—ya walaupun sebagian besar orang juga akan suka kalau diperhatikan sih. Tapi yang membedakan di sini adalah momen ‘betapa pentingnya surprise itu buat gw’. Dan mungkin jadi berpikiran kalau nggak ada yang ngasih surprise pas ulang tahun, merasa ‘apa temen-temen gw nggak ada yang sayang sama gw?’ atau ‘keberadaan gw nggak terlalu penting dan berpengaruh ya?’. Lagi-lagi tentang pengakuan keberadaan sih ya, tidak bisa dimungkiri.

Gini deh, temen-temen kita yang meluangkan waktunya—di tengah kesibukan mereka—hanya untuk menyiapkan surprise tuh menurut saya priceless.

Saya pribadi pernah beberapa kali diberi ‘treatment’ pas ulang tahun. Kejutan termanis sewaktu kelas 6 SD: dilempari tepung di tengah lapangan sekolah setelah bel pulang (bahkan anak-anak kelas 3, 4, 5 juga ikutan). Lah terus, di bagian mana manisnya? Eits, sabar, belum kelar. Selama dilempari tepung, saya nunduk dan tetep berdiri tanpa perlawanan. Ya ini sih karena saya nggak bisa liat apa-apa, kan tepungnya masuk juga ke mata. Lambat laun, tepung mereka habis. Berakhir sudah babak pertama. Tiba-tiba, ada anak cowo yang ngasih selamat ulang tahun dari belakang tempat saya berdiri. Nggak hanya itu, dia juga ngasih saya bingkisan, plus notes kecil yang ditengahnya terselip pulpen. Karena saya masih ribet membersihkan tepung di seragam, jadi saya cuma bilang terima kasih. Kadonya saya masukkan tas, lalu pulang ke rumah.

Sampai di kamar, saya buka. Bingkisan tadi berisi kotak musik warna merah muda berbentuk gitar. Dan yang paling mengagetkan adalah notesnya. Di bagian tengah notes sengaja diselipkan pulpen, mungkin biar saya bisa langsung baca apa yang tertulis di situ. Ternyata.. dia suka sama saya! “aku cinta kamu” dalam berbagai bahasa. Rupanya kalimat itulah yang tertulis di notes. Hahaha. Gusti Nu Agung. Aya-aya wae barudak jaman baheula.

Kalau dipikir-pikir, geli juga ya. Baiklah, lupakan sejenak kejadian di atas. Kejutan selanjutnya yang masih membekas adalah di bulan Mei tahun 2010, waktu saya masih jadi kompas (komandan pasukan) MBUI. Setelah apel pulang, PO GPMB memanggil dan mengajak saya berdiskusi. Biasalah, tanya-tanya tentang latihan, kondisi pasukan, dan lain-lain. Yaudah dong ya, saya cerita dengan serius. Di tengah keseriusan saya yang lagi cerita nih, tiba-tiba ada segerombol cowo menciduk dan memboyong saya ke pohon. Alamak! Ini skenario siapa sih? Habislah saya dilucuti. Hmm, maksudnya sepatu, topi, jaket, kacamata, ponsel, dan barang berharga yang nempel di badan saya dilucuti untuk diamankan. Dengan sekuat tenaga berontak, nendang-nendang, teriak keras-keras,  minta tolong, tapi percuma aja sih. Toh, manusia se-MB malam itu kongkalikong -__-‘

Karena mereka tidak berhasil mengikat saya di pohon, jadilah paduan telor tepung dan air—yang entah tidak diketahui jenisnya—segera diguyur ke seluruh badan. Tetep kena juga akhirnya. Nasib. Saya sempet marah, bahkan ngamuk sampai tidak ada seorang pun berani mendekat. Wuahaha. Setelah beberapa saat, sekitar setengah jam saya dirayu, diracuni kata-kata manis, emosi pun mereda. Cuma mereda ya, bukan menghilang. Eee, saya malah dikasih kue mahal. Kuenya sempet saya lempar, tapi untung dusnya kuat. Jadi kuenya masih bisa dimakan, meskipun bentuknya berantakan.

Saya memang masih ‘ngambek’ sampai hari latihan berikutnya. Nggak tau marah kenapa. Kesel aja. Tapi dibalik kemarahan saya, sejujurnya saya tahu kalau kalian sayang sama saya. Hahaha. Pede! Thanks for those crazy surprise anyway, especially lowbrass. Oh.. dan para lelaki yang sukarela menciduk saya dari belakang. Gila emang!

Di awal tulisan ini, teman saya memang lebih dulu merindukan kejutan. Tapi sekarang, justru saya yang ketularan. Tos dulu lah sesama Geminian!

17.12.13

Refleksi Menulis

Sedih. Liat jumlah tulisan di blog tahun 2012 dengan 2013. Yang ada justru penurunan intensitas menulis. Kebetulan, saya adalah orang yang percaya dengan pernyataan “kuantitas memengaruhi kualitas”. Ya mungkin bisa saja membela diri dengan berbagai alasan. Harusnya bukan tak ada waktu luang, melainkan meluangkan waktu. Tamparan untuk diri sendiri sih ini.

By the way, Sabtu lalu @akberdepok mengadakan kelas writing novels. Bersyukur karena akhirnya bisa hadir juga. Ini kali kedua saya menyempatkan untuk bergabung di kelas @akberdepok—sebelumnya di kelas international journalism. Mengapa saya datang? Alasan utamanya karena mau ketemu Oka Aurora, penulis novel 12 Menit. Selama ini cuma akrab berbalas mention di twitter, masa nggak pernah ketemu orangnya. Feel excited pas salaman sama orangnya, kemudian berlanjut diskusi tentang marching band (MB). Hahaha. Tetep ya, alasan utamanya nggak lepas dari MB.
 
Pemateri dan Peserta @AkberDepok, 14 Desember 2013
Selain Oka Aurora, narasumber lainnya: Rachmania Arunita (penulis novel Eiffel I’m in Love), juga Anggung Prameswari (penulis After Rain). Semuanya perempewi bok, perempuan maksudnya. Ngapain aja di kelas? Biasanya kelas di @akberdepok berbentuk sharing cerita, biar nggak terlampau formal. Tiap pemateri sharing perjalanannya tentang dunia kepenulisan. Kenapa kecemplung di ranah menulis, bagaimana menjalaninya, dan apa pula tantangannya. Hmm, dalam tulisan kali ini saya nggak akan membahas semuanya, bisa jadi skripsi baru nanti kalau ulasannya lengkap ;p

Nia—panggilan akrab Rachmania Arunita—menulis Eiffel I’m in Love di usia 15 tahun. It’s wow! Dulu di usia segitu, kita ngapain ya? Hahaha. Lupakan. Singkat cerita, Nia memang suka menulis. Awalnya hanya menulis cerita yang pendek—terinspirasi karena Nia suka dengan kakak kelasnya (Adit), tapi nggak tau harus bagaimana menyampaikan perasaannya pada Adit—lalu dia memberanikan diri membiarkan teman-temannya membaca tulisannya. Ternyata, banyak teman yang memberi usul ini itu. Dikembangkanlah cerita yang pendek tadi menjadi cerita yang panjang. Mulai dari memfotokopi novel untuk dijual ke teman-temannya, bahkan fotokopiannya dijual oleh pihak lain tanpa sepengetahuan Nia, sampai akhirnya novel itu dibaca oleh seorang profesor psikologi UI, dan bertemu banyak orang hingga diminta menulis skenario Eiffel I’m in Love, dari situlah awal kehidupan sebagai penulis. Perjalanan panjang yang menarik!

Lain halnya dengan Oka Aurora. Perempuan alumni teknik elektro yang—akhirnya—resign dari perusahaan telekomunikasi setelah 12 tahun mengabdi, memilih membuka kedai kopi bersama suaminya sekarang. Berawal dari pertemuannya dengan salah satu penulis skenario kawakan, ia ‘dipaksa’ menulis. Kemudian, Oka mengikuti workshop kepenulisan selama beberapa waktu. Sampai akhirnya ditantang menulis novel dari skenario film 12 Menit. Hal ini sangat berkebalikan dengan yang dilakukan Nia—novel diadaptasi menjadi skenario. Tantangannya tentu berbeda. Di tengah kesibukan ibu rumah tangga, mengurus anak-anaknya yang masih kecil, ia harus bisa mencuri-curi waktu menyelesaikan tulisannya. Menyuapi anak dan memasak sembari menulis. Seorang ibu memang dituntut multitasking. Tapi, Oka melakukannya lebih dari multitasking saya rasa.

Pemateri kelas writing novels cukup bervariatif. Nia, di usia yang masih sangat muda; Oka, dengan latar belakang ajaibnya; terakhir, Anggun, seorang guru bahasa Inggris yang gemar menulis cerita pendek (cerpen). Anggun memang senang menulis, meskipun keluarganya tidak mendukung hobinya. Ia pun mencari ‘keluarga baru’ untuk memacu semangat menulisnya. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, juga Media Indonesia. Novelnya—After Rain—bersumber dari cerpen-cerpennya yang ia kembangkan idenya menjadi lebih luas.

Berbekal dari situ, saya berefleksi sekaligus merasa kalah oleh ego pribadi karena dua bulan terakhir sangat jarang menulis. Padahal kalau menyangkut ide, setiap hari pasti ada yang bisa dikembangkan untuk dijadikan sebuah tulisan. Tinggal penulisnya saja, mau atau tidak meluangkan waktu untuk menulis. Hahaha. Note to my self banget lah ini. Semoga di tahun 2013 ini—yang sebentar lagi berakhir—saya bisa rutin menulis setiap hari, meski hanya satu kalimat, hmm premis sih lebih tepatnya. How about you?

16.12.13

Setop Junk Food!

Cerita ini berawal dari obrolan teman-teman di DKJ (Dewan Kesenian Jakarta)—Ikhsan, juga Mba Lidya—yang sedang menunggu jam workshop dramaturgi dimulai. Kebetulan saya menjadi salah satu panitia penyelenggara, dari situlah akhirnya mengenal Ikhsan (aktor), dan Mba Lidya (rekan DKJ). Kami mulai akrab justru di hari-hari terakhir acara—seperti biasa. Waktu itu, Ikhsan heboh mengabarkan bahwa setiap hari Rabu, salah satu kedai ayam selalu memberikan diskon 50% dari harga normal. Dia pun sempat mengajak kami ke kedai ayam terdekat di sekitar Stasiun Cikini.

Tadinya saya hampir mengiyakan ajakannya, tapi obrolan kami kemudian beralih. Ikhsan pelan-pelan membeberkan beberapa alasan tentang ayam diskonan tersebut. Pertanyaan dimulai dari “mengapa ayam di kedai mereka besar, berdaging putih, empuk, dan enak?” siapa sih yang tidak tergoda? Tak usah didiskon pun, kita akan tetap mampir kok. Apalagi ini punya embel-embel 50%, beuh! Makin lengkap untungnya. Kembali ke pertanyaan di atas. Dalam prosesnya, si ayam disuntik, diberi berbagai campuran bahan kimia, dan proses-proses lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan di sini. Pastinya, kedai ayam itu tidak mungkin melakukan proses dalam waktu singkat: ayam hidup, dipotong, dibersihkan, lalu diberi tepung, dan digoreng, kemudian dihidangkan. No!

Pernah kepikiran nggak, ayam yang tidak laku terjual di hari Senin—misalnya—akan diapakan? Mungkin bisa sih, disimpan dan digoreng lagi untuk hari Selasa. Tapi, proses menggoreng ulang ini tentunya akan menambah ‘dosa’ kesehatan. Atau, bisa juga didaur ulang. Well, saya tidak bisa menjelaskan seperti apa teknisnya. Serem. Hahaha.

Begitu juga dengan menu lain seperti kentang, roti tangkup isi daging dan sayur—yang hanya seiprit—dan minuman bersoda dalam ukuran kecil, sedang, juga besar, kadang menjadi pilihan bagi yang bosan dengan ayam. Sehat nggak sih? Sebenernya nggak jauh beda dengan ayam. Ikhsan juga cerita, pernah ada kasus pembuktian bahwa makanan tersebut sangat tidak sehat. “Pas periksa, harus dioperasi ternyata. Dibalik usus, ternyata sampah semua, dan busuk.” Kira-kira begitulah kalimatnya. Dengan kondisi begitu, segala macam penyakit lebih cepat menyerang. Diabetes, kolesterol, darah tinggi, penyakit jantung dan paru-paru, sakit ginjal dan lambung, juga penyakit kelamin.

Itu baru sebagian kecil pertanyaan yang muncul, belum menyangkut dosa dan kejahatan lain. Wallaahua’lam. Gara-gara ini juga, saya dikasih tontonan dari kanal youtube berjudul “Super Size Me”. Sila dicari sendiri ya. Dokumenter tentang kedai ayam dan sebagian dosanya. Dan yang paling penting, saya berhasil tidak tergoda junk food (juga mi instan) selama empat bulan. Fuh! Berat memang, tapi harus dimulai dan dibiasakan dari sekarang. Bisa? Ya bisa lah. Saya nggak mau merusak tubuh sendiri. Nggak ada toko yang jual onderdil organ dalam yang orisinil soalnya. Aneh aja, ketika kita sakit, mohon-mohon supaya lekas sehat. Pas dikasih sehat, dibiarkan sakit. So, what do you want sih?

Ini sekadar opini memang. Karena hakikatnya cuma ada dua pilihan: mempertahankan hidup atau mempercepat kematian. 

14.12.13

JGTC 2013: Feel The Night

Perhelatan Jazz Goes To Campus tak berhenti sampai sore semata. Hujan deras yang mulai mengguyur area konser tak menghalangi riuh penonton. Semakin malam justru semakin banyak yang berdatangan menuju panggung. Mereka menunggu Depapepe, Kyoto Jazz Massive, Tulus, atau mungkin Raisa. JGTC 36 memang lebih berwarna dari JGTC sebelumnya, terutama dari segi pengisi acara.
Idang Rasjidi - Oele Pattiselanno - Iwan Wiradz - Yance Manusama
Mendengar kata jazz, rasanya tak lengkap jika tidak menyebut musisi yang telah lama menyelami genre jazz. Idang Rasjidi. Ya, Idang mulai dikenal pada tahun 1989 karena piawai memainkan piano, juga sering membawakan lagu dalam alunan mind blowing. Pada JGTC lalu, Idang sepanggung bersama Oele Pattiselanno—seorang gitaris jazz. Juga Iwan Wiradz—percussionist—dan Yance Manusama, bassist jazz. Perpaduan yang apik dan sempurna ini semakin bernyawa karena Sastrani Titaranti, vokalis dengan range oktaf cukup tinggi menambah kesyahduan panggung Jazz It Your Way.

Pada acara Ngayogjazz November lalu di Jogja, Idang sempat mengajak Yendri Blacan untuk menyanyikan lagu dengan aransemen jazz melayu. Malam itu, seorang bassist muda berusia 15 tahun juga ikut menyemarakkan aksi panggung Idang Rasjidi dalam Syndicate. Namanya Samuel Song. Keduanya meraih penghargaan: Idang Rasjidi mendapat Lifetime Achievement 2013, sedangkan Samuel Song—sang bassist muda—memeroleh predikat Young Talent 2013 pada JGTC kali ini.

Beda panggung, beda pula suasananya. Penonton khusyuk duduk lesehan di halaman depan FE, panggung Mandiri. Mereka sudah siap menyambut penampilan Monita Tahalea and The Nightingales. Selain Chaka Priambudi (bass), Yoseph Sitompul (piano), Jessi Mates (drum), Gerald Situmorang (acoustic guitar), dan Ricad Hutapea (saxophone), Monita memboyong dua pemain lagi, yakni Kenny Gabriel (trumpet) dan Fajar (trombone) sebagai pelengkap grupnya malam itu.
Monita and The Nightingales
Lagu Somewhere Over The Rainbow dibawakan oleh mereka dalam aransemen yang menarik, menimbulkan kesan manis dan melankolis. Monita—dengan suara tipis khasnya—mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama di lagu tersebut. Tidak hanya itu, ia juga menyempatkan berkomunikasi (chit-chat) dengan penonton sebelum membawakan lagu Senja—lagu yang menyempurnakan kegalauan para penggemarnya.

Mari bersepakat bahwa musik jazz tidak melulu bertempo lambat atau ballad. Beragam aransemen telah ada dalam genre musik jazz itu sendiri. Sebut saja Barry Likumahuwa Project (BLP). Kali ini, BLP menyuguhkan “Tribute to Miles Davis” bersama Benny Likumahuwa (trombone), Jordy Waelauruw (trumpet), dan Bubugiri. Lagu Milestones, Kind of Blue, dan medley All Blues-So What-Blue In Green menjadi lagu andalan untuk mengenalkan Miles Davis kepada penonton. Penampilannya di Telkomsel Stage mampu menggabungkan feel jazz dengan fusion, juga kombinasi funk soul rhythm dalam lagu Unity, Generasi Synergy, dan lagu barunya: Inner Light. Ketiga lagu ini berhasil membuat penonton ‘jejingkrakan’ di depan panggung dengan penuh energi.
BLP feat. Bubugiri
Meski malam semakin larut, dan gerimis belum juga surut, penonton JGTC masih setia menanti penampilan Dwiki Dharmawan Quartet di BCA Stage. Dari beberapa lagu yang dibawakan, tampaknya lagu Janger menjadi senjata pamungkas yang menyita tepuk tangan penonton. Dwiki mengajak Dika Chasmala (violin), Sandy Winarta (drum), dan Kevin Yosua (bass) membawakan lagu tersebut bersama Rega Dauna. Salah satu putra Glen Dauna yang piawai memainkan harmonica. Tone yang dibunyikan Rega tak usah ditanya kualitasnya, meski ia terbilang sangat muda. Juga Syaharani, penyanyi bersuara jazzy ini membuat penampilan Dwiki Dharmawan Quartet semakin melegenda di telinga penggemarnya.
Dwiki Dharmawan Quartet
Dwiki Dharmawan feat. Syaharani
Andien - Tompi
Menutup pergelaran Jazz Goes To Campus, tentunya belum afdol jika tanpa penampilan kolaborasi antarmusisi. Setelah penonton puas dimanjakan dengan debut Tompi yang membawakan lagu Lulu dan Siti, Selalu Denganmu, Tak Pernah Setengah Hati, kolaborasi pun disajikan. Mulai dari Andien, Barry Likumahuwa, hingga Dwiki Dharmawan. Lagu Treasure milik Bruno Mars pun disulap menjadi “lagu mereka”. Unjuk kualitas Tompi, Andien, Barry, dan Dwiki memang menjadi penutup yang pas. So, jangan sampai absen di JGTC 2014, guys!
**photo by: @fajarnuansa dan @idhaumamah

JGTC 2013: Groovy Your Evening

Siapa bilang kampus hanya untuk urusan akademis? Jika benar demikian, maka ada yang tidak seimbang dalam tatanan tersebut. Jazz Goes To Campus (JGTC), festival jazz yang telah 36 kali diadakan di kampus perjuangan, mampu memberi warna baru, juga penyeimbang jiwa. Terbukti bahwa seni memang tidak bisa dipisahkan dari apa pun. Pergelaran musik yang satu ini tak pernah luput mencuri perhatian masyarakat sekitar Jakarta—khususnya kampus Universitas Indonesia. Konser yang bertajuk “Jazz It Your Way”, 1 Desember 2013 lalu berhasil memeriahkan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI). Ribuan penonton memadati area konser yang terbagi dalam empat panggung: Telkomsel Stage, Mandiri Stage, BCA Stage, dan Jazz It Your Way Stage.

JGTC tahun ini dimeriahkan oleh sekitar 40 artis lokal maupun internasional. Sebut saja Pretty Lotion, band yang digawangi oleh Eron Lebang (vocal), Agi Anggadarma (synthesizer), Ben Atta (keyboard), dan Satrio Pratomo (bass), mengusung jazz semi-reggae, neo soul, hip-hop, juga electronic seperti pada lagu DYNAMITE ft. Mysterious Misses. Jebolan SAE Institue Jakarta ini memang menyuguhkan warna segar dan atraktif dalam aransemen mereka.

Lain halnya dengan Soundscapes, lagu Prasangka dan Workout yang kental dengan funk jazz dan fusion mampu membawa penonton ke ranah yang berbeda. David A. Doloksaribu (keyboard), Made Widhia (bass), Kevin Dwi (drum), Yenezkiel D. Sumarauw (drum), Jonathan (saxophone), Happy Andrian (vocal), Stefanus (guitar), dan Hendry Wijaya (keyboard), memukau penonton di Jazz It Your Way Stage. Meskipun usia mereka tak lebih dari 20 tahun, kualitas permainan musiknya patut diacungi jempol.

Mandiri Stage juga tak kalah ramai. Penampilan dari Revival Generation Project (RGP) cukup unik. Mengusung tema etnik—selain berbatik—lagu-lagu yang mereka bawakan juga terasa “Indonesia” dalam lagu andalannya: Trip to Riau dan Rayuan Pulau Kelapa. Satu lagu yang berhasil mencuri perhatian penonton adalah Judgement Day. Suara Ria Septiani (vocal) memberi efek mistis dalam lagu tersebut. Ria dan personelnya: Fernando Sutarli (guitar), Nadya Belansky (piano), Marvin Triyanto (bass), dan Titus Bayu (drums) bermain di ranah blues, swing dan rock’n roll. Meskipun tanpa sketching, jazz-nya tetap terasa. Hal ini membuktikan bahwa musik jazz dapat dibumbui dengan berbagai macam aransemen tanpa menghilangkan unsur murni jazz.
RGP
Seperti biasa—pada JGTC sebelumnya—mendung terus menyelimuti seluruh panggung. Tentunya hal ini tidak menggoyahkan sedikit pun niat para penonton untuk batal menyaksikan musisi idolanya unjuk gigi. Beruntung, cuaca siang hari tak sepanas biasanya. Hanya rintik gerimis yang menjadi pemanis JGTC hingga sore tiba. Penonton masih tetap asyik menikmati alunan musik dari empat panggung tersebut. Apalagi penonton setia Bubugiri. Mereka rela berteduh di bawah guyuran hujan, tepat di depan Telkomsel Stage. Suasana sore hari semakin groovy saat Bubugiri naik pentas. Petikan gitar dari Giri cukup melenakan para penggemarnya.
Bubugiri feat. Indra Dauna
Kali itu, Bubugiri membuka penampilannya dengan musik scoring dari film Sokola Rimba. Mereka berdua memang dipercaya mengisi scoring dalam pembuatan film Mira Lesmana dan Riri Riza. Kemudian, tak ketinggalan lagu Message In The Bottle (The Police) dan Englishman In New York (Sting) yang dikemas oleh suara khas Bubu. Kedua lagu ini terasa spesial dengan bubuhan terompet dari Indra Dauna. Tak lupa, medley sting Esperanza Spalding (I Know You Know) juga dibawakan sebagai lagu pamungkas mereka. Lengkap sudah, Bubugiri menjadi sajian yang pas di penghujung sore saat itu.

**photo by: @fajarnuansa

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...