22.12.13

Dear, Lovely Sister

Happy 14th
Hi, my name is Tazkiyatun Nisa
All the best for you. Allah always bless you, dear. Thanks for being my partner since 1999 until now. Even we scrappy at home everyday, believe or not, it is just little flavor of our love.

I wish, you have the power to make your own destiny and that starts with the decisions you make and the actions you take to become worthy of success.
I wish, you focus on the good things that you can give, create, inspire and choose to experience, right here, right now.
I wish, you trust your instincts because if it doesn’t feel right inside it won't feel right for you as time goes by.
:)
I wish, you can more be fun and safe at the new place next year. Aamiin.

**NB: kalau nggak tau artinya, cari di kamus! Hahahahahahahahahaha**

18.12.13

Another Geminian

Beberapa minggu yang lalu, saya dikasih tes psikologi oleh Della. Bermula dari obrolan tentang zodiak dan kaitannya dengan karakter, akhirnya saya penasaran. Yaaa meskipun harus dua kali ngerjain tesnya—karena kesalahan yang tidak disadari—setidaknya pas baca soal aja udah tahu, kita bakal milih yang mana.

Gara-gara itu, saya jadi inget status seorang teman—yang juga Gemini—mengatakan kalau dia udah lama nggak dikasih surprise saat ulang tahun. Dan betapa beruntung orang-orang yang di hari ulang tahunnya dihadiahi kejutan oleh keluarganya dan/atau teman-temannya. Mulai dari kejutan yang manis, romantis, hingga kejutan ala anak SD: diceplok telor dan tepung. Bahkan kadang lebih heboh dari itu, misalnya diikat di tiang/pohon, ditutup matanya, sampai dilucuti pakaiannya. Well, kesemuanya itu adalah pilihan, tergantung bagaimana niatnya. Setiap orang punya unforgettable surprise dalam hidupnya.

Nah, ini yang kemudian membuat saya mikir cetek. Tuh, kan, Gemini itu memang suka diberi perhatian—ya walaupun sebagian besar orang juga akan suka kalau diperhatikan sih. Tapi yang membedakan di sini adalah momen ‘betapa pentingnya surprise itu buat gw’. Dan mungkin jadi berpikiran kalau nggak ada yang ngasih surprise pas ulang tahun, merasa ‘apa temen-temen gw nggak ada yang sayang sama gw?’ atau ‘keberadaan gw nggak terlalu penting dan berpengaruh ya?’. Lagi-lagi tentang pengakuan keberadaan sih ya, tidak bisa dimungkiri.

Gini deh, temen-temen kita yang meluangkan waktunya—di tengah kesibukan mereka—hanya untuk menyiapkan surprise tuh menurut saya priceless.

Saya pribadi pernah beberapa kali diberi ‘treatment’ pas ulang tahun. Kejutan termanis sewaktu kelas 6 SD: dilempari tepung di tengah lapangan sekolah setelah bel pulang (bahkan anak-anak kelas 3, 4, 5 juga ikutan). Lah terus, di bagian mana manisnya? Eits, sabar, belum kelar. Selama dilempari tepung, saya nunduk dan tetep berdiri tanpa perlawanan. Ya ini sih karena saya nggak bisa liat apa-apa, kan tepungnya masuk juga ke mata. Lambat laun, tepung mereka habis. Berakhir sudah babak pertama. Tiba-tiba, ada anak cowo yang ngasih selamat ulang tahun dari belakang tempat saya berdiri. Nggak hanya itu, dia juga ngasih saya bingkisan, plus notes kecil yang ditengahnya terselip pulpen. Karena saya masih ribet membersihkan tepung di seragam, jadi saya cuma bilang terima kasih. Kadonya saya masukkan tas, lalu pulang ke rumah.

Sampai di kamar, saya buka. Bingkisan tadi berisi kotak musik warna merah muda berbentuk gitar. Dan yang paling mengagetkan adalah notesnya. Di bagian tengah notes sengaja diselipkan pulpen, mungkin biar saya bisa langsung baca apa yang tertulis di situ. Ternyata.. dia suka sama saya! “aku cinta kamu” dalam berbagai bahasa. Rupanya kalimat itulah yang tertulis di notes. Hahaha. Gusti Nu Agung. Aya-aya wae barudak jaman baheula.

Kalau dipikir-pikir, geli juga ya. Baiklah, lupakan sejenak kejadian di atas. Kejutan selanjutnya yang masih membekas adalah di bulan Mei tahun 2010, waktu saya masih jadi kompas (komandan pasukan) MBUI. Setelah apel pulang, PO GPMB memanggil dan mengajak saya berdiskusi. Biasalah, tanya-tanya tentang latihan, kondisi pasukan, dan lain-lain. Yaudah dong ya, saya cerita dengan serius. Di tengah keseriusan saya yang lagi cerita nih, tiba-tiba ada segerombol cowo menciduk dan memboyong saya ke pohon. Alamak! Ini skenario siapa sih? Habislah saya dilucuti. Hmm, maksudnya sepatu, topi, jaket, kacamata, ponsel, dan barang berharga yang nempel di badan saya dilucuti untuk diamankan. Dengan sekuat tenaga berontak, nendang-nendang, teriak keras-keras,  minta tolong, tapi percuma aja sih. Toh, manusia se-MB malam itu kongkalikong -__-‘

Karena mereka tidak berhasil mengikat saya di pohon, jadilah paduan telor tepung dan air—yang entah tidak diketahui jenisnya—segera diguyur ke seluruh badan. Tetep kena juga akhirnya. Nasib. Saya sempet marah, bahkan ngamuk sampai tidak ada seorang pun berani mendekat. Wuahaha. Setelah beberapa saat, sekitar setengah jam saya dirayu, diracuni kata-kata manis, emosi pun mereda. Cuma mereda ya, bukan menghilang. Eee, saya malah dikasih kue mahal. Kuenya sempet saya lempar, tapi untung dusnya kuat. Jadi kuenya masih bisa dimakan, meskipun bentuknya berantakan.

Saya memang masih ‘ngambek’ sampai hari latihan berikutnya. Nggak tau marah kenapa. Kesel aja. Tapi dibalik kemarahan saya, sejujurnya saya tahu kalau kalian sayang sama saya. Hahaha. Pede! Thanks for those crazy surprise anyway, especially lowbrass. Oh.. dan para lelaki yang sukarela menciduk saya dari belakang. Gila emang!

Di awal tulisan ini, teman saya memang lebih dulu merindukan kejutan. Tapi sekarang, justru saya yang ketularan. Tos dulu lah sesama Geminian!

17.12.13

Refleksi Menulis

Sedih. Liat jumlah tulisan di blog tahun 2012 dengan 2013. Yang ada justru penurunan intensitas menulis. Kebetulan, saya adalah orang yang percaya dengan pernyataan “kuantitas memengaruhi kualitas”. Ya mungkin bisa saja membela diri dengan berbagai alasan. Harusnya bukan tak ada waktu luang, melainkan meluangkan waktu. Tamparan untuk diri sendiri sih ini.

By the way, Sabtu lalu @akberdepok mengadakan kelas writing novels. Bersyukur karena akhirnya bisa hadir juga. Ini kali kedua saya menyempatkan untuk bergabung di kelas @akberdepok—sebelumnya di kelas international journalism. Mengapa saya datang? Alasan utamanya karena mau ketemu Oka Aurora, penulis novel 12 Menit. Selama ini cuma akrab berbalas mention di twitter, masa nggak pernah ketemu orangnya. Feel excited pas salaman sama orangnya, kemudian berlanjut diskusi tentang marching band (MB). Hahaha. Tetep ya, alasan utamanya nggak lepas dari MB.
 
Pemateri dan Peserta @AkberDepok, 14 Desember 2013
Selain Oka Aurora, narasumber lainnya: Rachmania Arunita (penulis novel Eiffel I’m in Love), juga Anggung Prameswari (penulis After Rain). Semuanya perempewi bok, perempuan maksudnya. Ngapain aja di kelas? Biasanya kelas di @akberdepok berbentuk sharing cerita, biar nggak terlampau formal. Tiap pemateri sharing perjalanannya tentang dunia kepenulisan. Kenapa kecemplung di ranah menulis, bagaimana menjalaninya, dan apa pula tantangannya. Hmm, dalam tulisan kali ini saya nggak akan membahas semuanya, bisa jadi skripsi baru nanti kalau ulasannya lengkap ;p

Nia—panggilan akrab Rachmania Arunita—menulis Eiffel I’m in Love di usia 15 tahun. It’s wow! Dulu di usia segitu, kita ngapain ya? Hahaha. Lupakan. Singkat cerita, Nia memang suka menulis. Awalnya hanya menulis cerita yang pendek—terinspirasi karena Nia suka dengan kakak kelasnya (Adit), tapi nggak tau harus bagaimana menyampaikan perasaannya pada Adit—lalu dia memberanikan diri membiarkan teman-temannya membaca tulisannya. Ternyata, banyak teman yang memberi usul ini itu. Dikembangkanlah cerita yang pendek tadi menjadi cerita yang panjang. Mulai dari memfotokopi novel untuk dijual ke teman-temannya, bahkan fotokopiannya dijual oleh pihak lain tanpa sepengetahuan Nia, sampai akhirnya novel itu dibaca oleh seorang profesor psikologi UI, dan bertemu banyak orang hingga diminta menulis skenario Eiffel I’m in Love, dari situlah awal kehidupan sebagai penulis. Perjalanan panjang yang menarik!

Lain halnya dengan Oka Aurora. Perempuan alumni teknik elektro yang—akhirnya—resign dari perusahaan telekomunikasi setelah 12 tahun mengabdi, memilih membuka kedai kopi bersama suaminya sekarang. Berawal dari pertemuannya dengan salah satu penulis skenario kawakan, ia ‘dipaksa’ menulis. Kemudian, Oka mengikuti workshop kepenulisan selama beberapa waktu. Sampai akhirnya ditantang menulis novel dari skenario film 12 Menit. Hal ini sangat berkebalikan dengan yang dilakukan Nia—novel diadaptasi menjadi skenario. Tantangannya tentu berbeda. Di tengah kesibukan ibu rumah tangga, mengurus anak-anaknya yang masih kecil, ia harus bisa mencuri-curi waktu menyelesaikan tulisannya. Menyuapi anak dan memasak sembari menulis. Seorang ibu memang dituntut multitasking. Tapi, Oka melakukannya lebih dari multitasking saya rasa.

Pemateri kelas writing novels cukup bervariatif. Nia, di usia yang masih sangat muda; Oka, dengan latar belakang ajaibnya; terakhir, Anggun, seorang guru bahasa Inggris yang gemar menulis cerita pendek (cerpen). Anggun memang senang menulis, meskipun keluarganya tidak mendukung hobinya. Ia pun mencari ‘keluarga baru’ untuk memacu semangat menulisnya. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, juga Media Indonesia. Novelnya—After Rain—bersumber dari cerpen-cerpennya yang ia kembangkan idenya menjadi lebih luas.

Berbekal dari situ, saya berefleksi sekaligus merasa kalah oleh ego pribadi karena dua bulan terakhir sangat jarang menulis. Padahal kalau menyangkut ide, setiap hari pasti ada yang bisa dikembangkan untuk dijadikan sebuah tulisan. Tinggal penulisnya saja, mau atau tidak meluangkan waktu untuk menulis. Hahaha. Note to my self banget lah ini. Semoga di tahun 2013 ini—yang sebentar lagi berakhir—saya bisa rutin menulis setiap hari, meski hanya satu kalimat, hmm premis sih lebih tepatnya. How about you?

16.12.13

Setop Junk Food!

Cerita ini berawal dari obrolan teman-teman di DKJ (Dewan Kesenian Jakarta)—Ikhsan, juga Mba Lidya—yang sedang menunggu jam workshop dramaturgi dimulai. Kebetulan saya menjadi salah satu panitia penyelenggara, dari situlah akhirnya mengenal Ikhsan (aktor), dan Mba Lidya (rekan DKJ). Kami mulai akrab justru di hari-hari terakhir acara—seperti biasa. Waktu itu, Ikhsan heboh mengabarkan bahwa setiap hari Rabu, salah satu kedai ayam selalu memberikan diskon 50% dari harga normal. Dia pun sempat mengajak kami ke kedai ayam terdekat di sekitar Stasiun Cikini.

Tadinya saya hampir mengiyakan ajakannya, tapi obrolan kami kemudian beralih. Ikhsan pelan-pelan membeberkan beberapa alasan tentang ayam diskonan tersebut. Pertanyaan dimulai dari “mengapa ayam di kedai mereka besar, berdaging putih, empuk, dan enak?” siapa sih yang tidak tergoda? Tak usah didiskon pun, kita akan tetap mampir kok. Apalagi ini punya embel-embel 50%, beuh! Makin lengkap untungnya. Kembali ke pertanyaan di atas. Dalam prosesnya, si ayam disuntik, diberi berbagai campuran bahan kimia, dan proses-proses lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan di sini. Pastinya, kedai ayam itu tidak mungkin melakukan proses dalam waktu singkat: ayam hidup, dipotong, dibersihkan, lalu diberi tepung, dan digoreng, kemudian dihidangkan. No!

Pernah kepikiran nggak, ayam yang tidak laku terjual di hari Senin—misalnya—akan diapakan? Mungkin bisa sih, disimpan dan digoreng lagi untuk hari Selasa. Tapi, proses menggoreng ulang ini tentunya akan menambah ‘dosa’ kesehatan. Atau, bisa juga didaur ulang. Well, saya tidak bisa menjelaskan seperti apa teknisnya. Serem. Hahaha.

Begitu juga dengan menu lain seperti kentang, roti tangkup isi daging dan sayur—yang hanya seiprit—dan minuman bersoda dalam ukuran kecil, sedang, juga besar, kadang menjadi pilihan bagi yang bosan dengan ayam. Sehat nggak sih? Sebenernya nggak jauh beda dengan ayam. Ikhsan juga cerita, pernah ada kasus pembuktian bahwa makanan tersebut sangat tidak sehat. “Pas periksa, harus dioperasi ternyata. Dibalik usus, ternyata sampah semua, dan busuk.” Kira-kira begitulah kalimatnya. Dengan kondisi begitu, segala macam penyakit lebih cepat menyerang. Diabetes, kolesterol, darah tinggi, penyakit jantung dan paru-paru, sakit ginjal dan lambung, juga penyakit kelamin.

Itu baru sebagian kecil pertanyaan yang muncul, belum menyangkut dosa dan kejahatan lain. Wallaahua’lam. Gara-gara ini juga, saya dikasih tontonan dari kanal youtube berjudul “Super Size Me”. Sila dicari sendiri ya. Dokumenter tentang kedai ayam dan sebagian dosanya. Dan yang paling penting, saya berhasil tidak tergoda junk food (juga mi instan) selama empat bulan. Fuh! Berat memang, tapi harus dimulai dan dibiasakan dari sekarang. Bisa? Ya bisa lah. Saya nggak mau merusak tubuh sendiri. Nggak ada toko yang jual onderdil organ dalam yang orisinil soalnya. Aneh aja, ketika kita sakit, mohon-mohon supaya lekas sehat. Pas dikasih sehat, dibiarkan sakit. So, what do you want sih?

Ini sekadar opini memang. Karena hakikatnya cuma ada dua pilihan: mempertahankan hidup atau mempercepat kematian. 

14.12.13

JGTC 2013: Feel The Night

Perhelatan Jazz Goes To Campus tak berhenti sampai sore semata. Hujan deras yang mulai mengguyur area konser tak menghalangi riuh penonton. Semakin malam justru semakin banyak yang berdatangan menuju panggung. Mereka menunggu Depapepe, Kyoto Jazz Massive, Tulus, atau mungkin Raisa. JGTC 36 memang lebih berwarna dari JGTC sebelumnya, terutama dari segi pengisi acara.
Idang Rasjidi - Oele Pattiselanno - Iwan Wiradz - Yance Manusama
Mendengar kata jazz, rasanya tak lengkap jika tidak menyebut musisi yang telah lama menyelami genre jazz. Idang Rasjidi. Ya, Idang mulai dikenal pada tahun 1989 karena piawai memainkan piano, juga sering membawakan lagu dalam alunan mind blowing. Pada JGTC lalu, Idang sepanggung bersama Oele Pattiselanno—seorang gitaris jazz. Juga Iwan Wiradz—percussionist—dan Yance Manusama, bassist jazz. Perpaduan yang apik dan sempurna ini semakin bernyawa karena Sastrani Titaranti, vokalis dengan range oktaf cukup tinggi menambah kesyahduan panggung Jazz It Your Way.

Pada acara Ngayogjazz November lalu di Jogja, Idang sempat mengajak Yendri Blacan untuk menyanyikan lagu dengan aransemen jazz melayu. Malam itu, seorang bassist muda berusia 15 tahun juga ikut menyemarakkan aksi panggung Idang Rasjidi dalam Syndicate. Namanya Samuel Song. Keduanya meraih penghargaan: Idang Rasjidi mendapat Lifetime Achievement 2013, sedangkan Samuel Song—sang bassist muda—memeroleh predikat Young Talent 2013 pada JGTC kali ini.

Beda panggung, beda pula suasananya. Penonton khusyuk duduk lesehan di halaman depan FE, panggung Mandiri. Mereka sudah siap menyambut penampilan Monita Tahalea and The Nightingales. Selain Chaka Priambudi (bass), Yoseph Sitompul (piano), Jessi Mates (drum), Gerald Situmorang (acoustic guitar), dan Ricad Hutapea (saxophone), Monita memboyong dua pemain lagi, yakni Kenny Gabriel (trumpet) dan Fajar (trombone) sebagai pelengkap grupnya malam itu.
Monita and The Nightingales
Lagu Somewhere Over The Rainbow dibawakan oleh mereka dalam aransemen yang menarik, menimbulkan kesan manis dan melankolis. Monita—dengan suara tipis khasnya—mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama di lagu tersebut. Tidak hanya itu, ia juga menyempatkan berkomunikasi (chit-chat) dengan penonton sebelum membawakan lagu Senja—lagu yang menyempurnakan kegalauan para penggemarnya.

Mari bersepakat bahwa musik jazz tidak melulu bertempo lambat atau ballad. Beragam aransemen telah ada dalam genre musik jazz itu sendiri. Sebut saja Barry Likumahuwa Project (BLP). Kali ini, BLP menyuguhkan “Tribute to Miles Davis” bersama Benny Likumahuwa (trombone), Jordy Waelauruw (trumpet), dan Bubugiri. Lagu Milestones, Kind of Blue, dan medley All Blues-So What-Blue In Green menjadi lagu andalan untuk mengenalkan Miles Davis kepada penonton. Penampilannya di Telkomsel Stage mampu menggabungkan feel jazz dengan fusion, juga kombinasi funk soul rhythm dalam lagu Unity, Generasi Synergy, dan lagu barunya: Inner Light. Ketiga lagu ini berhasil membuat penonton ‘jejingkrakan’ di depan panggung dengan penuh energi.
BLP feat. Bubugiri
Meski malam semakin larut, dan gerimis belum juga surut, penonton JGTC masih setia menanti penampilan Dwiki Dharmawan Quartet di BCA Stage. Dari beberapa lagu yang dibawakan, tampaknya lagu Janger menjadi senjata pamungkas yang menyita tepuk tangan penonton. Dwiki mengajak Dika Chasmala (violin), Sandy Winarta (drum), dan Kevin Yosua (bass) membawakan lagu tersebut bersama Rega Dauna. Salah satu putra Glen Dauna yang piawai memainkan harmonica. Tone yang dibunyikan Rega tak usah ditanya kualitasnya, meski ia terbilang sangat muda. Juga Syaharani, penyanyi bersuara jazzy ini membuat penampilan Dwiki Dharmawan Quartet semakin melegenda di telinga penggemarnya.
Dwiki Dharmawan Quartet
Dwiki Dharmawan feat. Syaharani
Andien - Tompi
Menutup pergelaran Jazz Goes To Campus, tentunya belum afdol jika tanpa penampilan kolaborasi antarmusisi. Setelah penonton puas dimanjakan dengan debut Tompi yang membawakan lagu Lulu dan Siti, Selalu Denganmu, Tak Pernah Setengah Hati, kolaborasi pun disajikan. Mulai dari Andien, Barry Likumahuwa, hingga Dwiki Dharmawan. Lagu Treasure milik Bruno Mars pun disulap menjadi “lagu mereka”. Unjuk kualitas Tompi, Andien, Barry, dan Dwiki memang menjadi penutup yang pas. So, jangan sampai absen di JGTC 2014, guys!
**photo by: @fajarnuansa dan @idhaumamah

JGTC 2013: Groovy Your Evening

Siapa bilang kampus hanya untuk urusan akademis? Jika benar demikian, maka ada yang tidak seimbang dalam tatanan tersebut. Jazz Goes To Campus (JGTC), festival jazz yang telah 36 kali diadakan di kampus perjuangan, mampu memberi warna baru, juga penyeimbang jiwa. Terbukti bahwa seni memang tidak bisa dipisahkan dari apa pun. Pergelaran musik yang satu ini tak pernah luput mencuri perhatian masyarakat sekitar Jakarta—khususnya kampus Universitas Indonesia. Konser yang bertajuk “Jazz It Your Way”, 1 Desember 2013 lalu berhasil memeriahkan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI). Ribuan penonton memadati area konser yang terbagi dalam empat panggung: Telkomsel Stage, Mandiri Stage, BCA Stage, dan Jazz It Your Way Stage.

JGTC tahun ini dimeriahkan oleh sekitar 40 artis lokal maupun internasional. Sebut saja Pretty Lotion, band yang digawangi oleh Eron Lebang (vocal), Agi Anggadarma (synthesizer), Ben Atta (keyboard), dan Satrio Pratomo (bass), mengusung jazz semi-reggae, neo soul, hip-hop, juga electronic seperti pada lagu DYNAMITE ft. Mysterious Misses. Jebolan SAE Institue Jakarta ini memang menyuguhkan warna segar dan atraktif dalam aransemen mereka.

Lain halnya dengan Soundscapes, lagu Prasangka dan Workout yang kental dengan funk jazz dan fusion mampu membawa penonton ke ranah yang berbeda. David A. Doloksaribu (keyboard), Made Widhia (bass), Kevin Dwi (drum), Yenezkiel D. Sumarauw (drum), Jonathan (saxophone), Happy Andrian (vocal), Stefanus (guitar), dan Hendry Wijaya (keyboard), memukau penonton di Jazz It Your Way Stage. Meskipun usia mereka tak lebih dari 20 tahun, kualitas permainan musiknya patut diacungi jempol.

Mandiri Stage juga tak kalah ramai. Penampilan dari Revival Generation Project (RGP) cukup unik. Mengusung tema etnik—selain berbatik—lagu-lagu yang mereka bawakan juga terasa “Indonesia” dalam lagu andalannya: Trip to Riau dan Rayuan Pulau Kelapa. Satu lagu yang berhasil mencuri perhatian penonton adalah Judgement Day. Suara Ria Septiani (vocal) memberi efek mistis dalam lagu tersebut. Ria dan personelnya: Fernando Sutarli (guitar), Nadya Belansky (piano), Marvin Triyanto (bass), dan Titus Bayu (drums) bermain di ranah blues, swing dan rock’n roll. Meskipun tanpa sketching, jazz-nya tetap terasa. Hal ini membuktikan bahwa musik jazz dapat dibumbui dengan berbagai macam aransemen tanpa menghilangkan unsur murni jazz.
RGP
Seperti biasa—pada JGTC sebelumnya—mendung terus menyelimuti seluruh panggung. Tentunya hal ini tidak menggoyahkan sedikit pun niat para penonton untuk batal menyaksikan musisi idolanya unjuk gigi. Beruntung, cuaca siang hari tak sepanas biasanya. Hanya rintik gerimis yang menjadi pemanis JGTC hingga sore tiba. Penonton masih tetap asyik menikmati alunan musik dari empat panggung tersebut. Apalagi penonton setia Bubugiri. Mereka rela berteduh di bawah guyuran hujan, tepat di depan Telkomsel Stage. Suasana sore hari semakin groovy saat Bubugiri naik pentas. Petikan gitar dari Giri cukup melenakan para penggemarnya.
Bubugiri feat. Indra Dauna
Kali itu, Bubugiri membuka penampilannya dengan musik scoring dari film Sokola Rimba. Mereka berdua memang dipercaya mengisi scoring dalam pembuatan film Mira Lesmana dan Riri Riza. Kemudian, tak ketinggalan lagu Message In The Bottle (The Police) dan Englishman In New York (Sting) yang dikemas oleh suara khas Bubu. Kedua lagu ini terasa spesial dengan bubuhan terompet dari Indra Dauna. Tak lupa, medley sting Esperanza Spalding (I Know You Know) juga dibawakan sebagai lagu pamungkas mereka. Lengkap sudah, Bubugiri menjadi sajian yang pas di penghujung sore saat itu.

**photo by: @fajarnuansa

22.11.13

Itinerary Traveling Gunung (Anak) Krakatau

Nah, seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, berikut saya lampirkan itinerary perjalanan ke Gunung (Anak) Krakatau 16-18 Agustus 2013 lalu. Ya maaf sih, kalau terlampau lama. Selain itu, ada juga sedikit cerita tentang perjalanannya di sini. Semoga bermanfaat, terlebih untuk teman-teman yang berencana mampir ke Krakatau :)

**sumber: nandarumana

20.11.13

Mendadak Jogja

Sejak 2011 sampai sekarang, saya ketagihan Bandung. Empat atau lima kali dalam setahun mungkin ada. Padahal saya bukan penduduk asli Bandung, juga tidak mengenyam pendidikan apa pun di sana. Kota Kembang memang selalu dijadikan tujuan wisata jangka pendek alias weekend—terutama oleh Jakartans. Pilihan mereka kebanyakan: Puncak dan/atau Bandung. Alasannya simpel, dekat dan sejuk. Jakarta yang panas—udara maupun manusianya—membuat mereka butuh untuk sekadar cooling down di tempat yang benar-benar sejuk alamnya. Nah, sayangnya saya tidak akan membahas Puncak/Bandung di tulisan ini. Bosan juga, tulisan tentang liburan saya ke Bandung terlalu banyak. Sampai saya bingung memberi judul.

Setelah saya kenyang dengan Bandung, fasih dengan tempat-tempat di sana—tapi jangan tanya jalan atau lewat mana ke saya, karena tetep aja nggak hafal—kali ini saya punya tujuan baru: Yogyakarta. Apa pun penyebutannya: Ngayogjokarto Hadiningrat; Jogja; Yogya; Yogyes, whatever you name it lah! Saya memulainya tahun ini, tahun 2013. Sampai saat ini sudah tiga kali ke Jogja, ngapain aja?

Pertama, dalam rangka menghadiri Festival Lampion yang bertepatan dengan Hari Raya Waisak pada Mei lalu. Saya mengunjungi Borobudur, Pantai Ngobaran dan Pantai Ngreyahan, juga Gudeg Yu Djum (yang kata orang-orang, gudegnya enak). Kedua, dalam rangka ujian masuk S2 UGM. Kalau yang ini sih sebetulnya karena ada tujuan terselubung aja, makanya beralibi ujian masuk S2, biar dikasih uang saku ke Jogja (ampuni hamba-Mu ini, Ya Rabb!). Sekelar ujian seharian, dari pukul 8 pagi hingga 3 sore, saya pun melanjutkan perjalanan ke berbagai tempat. Taman Budaya Yogyakarta; Bentara Budaya Yogyakarta; Ullen Sentalu; ke acara Jazz Mben Senen; Pameran Seni Rupa NTT; nonton pertunjukan teater; dan menyempatkan diri mencicipi tempat nongkrong Jogja, termasuk mampir ke kedai Mi Persis. Itu lho, kedai yang menyediakan menu mi instan dengan penyajian sesuai gambar/bungkus mi nya. Mantap, ndes!

Perjalanan kali kedua ini memang agak lama, sekitar tujuh hari. Hahaha. Yaa ini sih lebih karena tidak kebagian tiket murah, makanya menunda kepulangan biar tetep dapat tiket Gaya Baru Malam Pertama, eh maksudnya Gaya Baru Malam Selatan, seharga Rp55.000,- saja. Setelah muter-muter di sekitar pusat kota, saya pun menginap selama tiga hari tiga malam di rumah Amita—rekan di Komunitas Stand Up UI. Rumahnya di daerah Ngaglik, Sleman. Desa yang masih sejuk, penuh hamparan sawah, juga bebas dari raungan kendaraan. Tiap pagi, cukup buka jendela, atau duduk di balkon lantai dua. Duh, rasanya nggak ingin balik ke Jakarta kalau begini.

Berikutnya, perjalanan Jogja ketiga dalam rangka memenuhi wishlist 2013: hadir di acara Ngayogjazz. Semacam konser musik jazz, dengan Desa Wisata Sidoakur sebagai panggungnya. Yap, satu desa ini ‘disewa’ khusus untuk acara Ngayogjazz. Kelima panggungnya ada di tengah-tengah halaman rumah-rumah warga. Seru! Pembuktian bahwa jazz bukan musik kelas atas, bukan musik mahal, juga bukan musik yang susah. Lha wong tagline-nya aja “Rukun Agawe Ngejazz”, kurang merakyat apa coba?

Masih banyak tempat di Jogja yang belum sempat saya kunjungi. Sengaja, biar ada alasan untuk ke sana lain waktu. Semoga tahun depan bisa lebih puas, wisata sejarah; wisata alam; wisata kuliner; juga wisata budaya. Nah, kalau ada yang mau ke Jogja, saling berkabar aja lah, siapa tahu saya bisa jadi teman jalan yang setia : ))

19.9.13

One Day Trip Bandung

Mudah-mudahan temen-temen nggak bosen ya, pas baca postingan, tripnya Bandung mulu. Hahaha. Berawal dari Copie (temen kosan) yang tanya-tanya soal Bandung ke saya. Saya pun balik tanya, dalam rangka apa dia ke Bandung, dan kapan, dengan siapa *lengkap ye!* ternyata, rencana Copie ke Bandung adalah dalam rangka menemani sepupu dari mantan bosnya. Sebut saja, bos Copie (M), sepupu bosnya (T). Keduanya orang Jepang, bedanya si M alumni Sastra Jepang UI—sehingga dia fasih bahasa Indonesia, sedangkan si T hanya bisa bahasa Jepang. Nah, si Copie ini bisa bahasa Jepang—padahal doi alumni Sastra Inggris, hahaha. Makanya Copie dimintai tolong oleh bosnya untuk nge-guide si T keliling Bandung—meskipun hanya sehari.

Setelah Copie menjelaskan panjang lebar tentang 5W1H ke Bandung, saya pun mulai melancarkan serangan dadakan. Sebagai orang yang sering banget bolak-balik Bandung *halah* saya cukup banyak bicara dan ngasih masukan ke Copie. Tempat wisata, tempat makan, dan tempat beli oleh-oleh. Oh iya, saya sama sekali nggak pernah menyarankan dan menyebut mall untuk dikunjungi selama di sana. Karena ya, namanya mall, kurang lebih sama aja isinya. Ujung-ujungnya, saya mulai merayu Copie untuk menanyakan ke bosnya, saya boleh ikut atau nggak?! Hahaha. Tetep ye, tujuannya ngikut. Setelah meyakinkan Copie kalau saya tau banyak tempat di Bandung, dia pun menghubungi bosnya. Sehari, dua hari, akhirnya email dari Copie pun dibalas oleh bosnya. Jawabannya adalah, boleh ikut. Yeaaaay! :D

Kami berangkat hari Kamis pagi, sekitar pukul 6.00. Malam sebelumnya—tentunya—udah riweuh asik nyari plus nyatet tempat mana aja yang harus dikunjungi. Saya dan Copie naik taksi dari Depok menuju Cibitung, kurang lebih 2 jam perjalanan. Daaaan, tumben, saya mabok berat. Pusing, mual, tapi tetep saya tahan biar nggak muntah. Dari awal udah diniati nggak akan minum obat mabok. Namun, karena baru sampai Cibubur aja udah mual banget, terpaksa minum deh satu kapsul—dalam keadaan belum sarapan, belum ada makanan apa pun yang masuk ke perut. Dalam hati, ini sayanya yang lebay—gini doang mabok—atau emang sopirnya yang masih ngantuk dan kasar nyetirnya?! Pas sampai Cibitung, turun dari taksi, Copie cerita kalau dia juga merasa, si sopir agak-agak nggak bener bawa mobilnya. Dia aja pusing—biasanya nggak. Seriusan, saya lemes banget pas turun dari taksi. Selama perjalanan sebenarnya saya udah coba minta kecilin AC-nya, dan terakhir minta dimatiin AC-nya karena udah nggak kuat. Ngomong aja nggak shanggup! Bagi orang-orang yang sering mabok, pasti tau deh rasanya seperti apa. Makan nggak enak, minum nggak enak, semua jadi nggak enak karena perut-otak-badan nggak enak.

Semenjak di dalam taksi, saya udah berimajinasi kalau mobil yang bakal kami naiki nanti tuh enak, aroma mobilnya nggak bikin mabok, sopirnya baik banget, dan nyaman. Ya, namanya juga orang maboks, suka punya bayangan yang paradoks.

Perjalanan menuju Bandung cukup lancar. Tepat pukul 10.00 kami sampai. Tujuan pertama kami saat itu adalah Museum KAA. Berhubung kami—tepatnya saya dan Copie—belum sarapan, maka saya pun mengusulkan agar makan di SugaRush, Braga. Namun, kami belum berjodoh, SugaRush masih tutup. Jadilah mampir ke Wendy’s. Yasudahlah, yang penting makan karena telanjur sangat lapar. Pas jalan pulang menuju Museum KAA, ternyata SugaRush buka. Aaaaaaaaaaaaak! Kapan-kapan lagi deh mampirnya.

Setelah makan, kami menuju Museum KAA, dan Museum Pos Indonesia. Seperti biasa, muter-muter jalan berkali-kali. Hahaha. Maaf ya, Copie, saya memang hafal Bandung, tapi nggak hafal jalan :p
Tetsuya, Copie, di Museum KAA
Idha
Begitu pukul 13.30, Copie melontarkan usulnya untuk mengunjungi saudaranya di Kebun Binatang Bandung. Daaaan, si orang Jepang-nya mau ternyata. Yasudah, akhirnya kami ke sana. Setelah beli tiket masuk untuk tiga orang, saya izin ke toilet dan sholat Dzuhur, rencananya abis itu nyusul mereka berdua di dalam. Kemudian, ponsel saya tak berapa lama bergetar, tanda sms masuk. Bukan dari Copie, tapi dari orang lain. Mau ketemuan, tapi debat dulu, debatnya panjang pula! Hahaha. Ya, setidaknya ngobatin rindu lah ya, meskipun sekadar 20 menitan :‘) di waktu yang sempit dan mendesak itu kadang malah berjodoh. Selama ini saya punya banyak waktu berlama-lama, tapi ya, ada aja yang bikin nggak jadi ketemu. Oh, life!

Pertemuan ini sama sekali nggak direncanakan sebelumnya, on the spot aja. Gambling, ketemu syukur, nggak juga nggak apa. Setelah Copie sms, saya langsung cabut lagi. Cari tempat makan, dan akhirnya kami ke Potluck Kitchen. Akhirnya juga, saya—yang udah beberapa kali ke Potluck—baru kali ini sempet lempar koin ke kolam harapan. Hahaha. Saya, Copie, dan Tetsuya—orang Jepang itu—berdoa dulu sebelum melempar  koin ke dalam kolam. Semoga Allah mendengar dan mengabulkan permintaan kami, aamiin. Btw, saya baru tahu kalau Sop Iga Potluck itu ueenaks bangets. Biasanya kan, biasanya, makanan Indonesia yang masuk ke kafe-kafe, kadang kurang lezat. Nah, yang ini beda. Mantap deh pokoknya. Nggak percaya? Coba aja nanti!

Berhubung kami kayaknya betah banget keliling Bandung, jadi rencana pulang sore ditunda, entah sampai kapan. Hahaha. Pastinya nggak akan nginep sih. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke money changer dan Babe—finally—setelah bimbang, mau ke Saung Udjo atau nggak. Karena, Saung Udjo tutup pukul 6 sore kalau weekdays. Di Babe udah banyak berubah, barang-barangnya makin banyak, makin variatif. Bisa banget jadi alternatif tempat beli souvenir.

Fuh, nggak terasa udah pukul 10 malam. Kami memutuskan untuk pulang, ke Cikarang—rumah bos Copie. Huaaaaa, sampai Depok jam berapa ini? hmm. Pas udah sampai Cikarang, kami masih diajak makan sama si M. Ya ya, makan tengah malam judulnya. Alhasil, sampai Depok pukul 2 pagi. Saya dan Copie naik taksi biru yang sopirnya ngantuk. Keliatan masih muda, masih 20 tahun-an. Saya kasih permen jahe, biar nggak ngantuk. Eee, tetep aja ngantuk. Bahkan, di tol sempet 100 km/jam dalam keadaan jalan agak gelap dan hujan deras. Beuh, gimana nggak ketar-ketir tuh. Menantang! Alhamdulillahnya, pas deket Tol Jagorawi, si sopir bisa diajak ngobrol dan bercanda. Ya, sampai kami turun di depan Es Pocong. Makasih, Mas sopir.

11.9.13

DIJUAL SEPATU COLLETTE

Hai, kali ini saya mau jual sepatu nih:
- Jenis: Sepatu Collette (*namanya tetap sepatu, karena bagian belakangnya tertutup—meskipun model bagian depannya slipper)
- Ukuran: 39
- Warna: abu-abu, merah muda
- Harga: Rp160.000,- (harga asli Rp189.900,-)
berikut penampakannya:




Sepatu baru, belum pernah dipakai. Cocok banget buat temen-temen yang suka hangout, tapi tetep gaya. Nyaman, bahannya semi-beledu (*kata nonbakunya ‘beludru’). Kenapa mau dijual? Karena butuh tambahan uang untuk beli sepatu trekking, hahaha. Eh, tapi serius. Bakal seneng banget kalau ada yang berminat dan bantu saya menyelesaikan perkara jual-beli sepatu ini. 

Info lebih lanjut, bisa hubungi saya via twitter/facebook: @idhaumamah atau Mursyidatul Umamah, terima kasih banyak :)

Another ‘Birthday Gift’

Beberapa minggu yang lalu, saya dikasih hadiah ini oleh seseorang. Katanya sih, dalam rangka ulang tahun saya—padahal ulang tahun saya cuma sekali, 31 Mei. Nah, kalau begini, serasa ulang tahun berhari-hari :’)


Gemini. Ya, saya bangga jadi Gemini Girl. Katanya sih, supel; senang berteman; dan jago flirting—entah ini harus senang/gimana. Hahaha. Sekalian minta maaf deh, kepada orang-orang yang pernah saya flirting-in :p

Tuh kan, pembahasannya ke mana-mana. Dalam tulisan saya kali ini, saya mau berterima kasih virtual kepada Dedep (partner in crime—Gemini). Sama-sama Gemini, yeah! Makasih ya, Dep. Cup-cup muach! Nggak sabar liat rok birunya dikenakan pas lu sidang, hahaha.

5.9.13

Another 'Kocak' at PLK UI

Dari judulnya, kira-kira saya mau cerita tentang apa nih? Tentang PLK UI lah pastinya. Hahaha. Tepatnya, koplak momen yang saya alami. Seperti apa? Yuk, mari!

Begini ceritanya, dua minggu yang lalu, saya diribetkan dengan urusan utang-piutang dengan beberapa orang. Sederhana kok, bukan prahara utang yang ada di sinetron. Kondisi saya saat itu adalah punya rekening BSM dan BNI, tapi saldonya cuma sekitar belasan ribu di BSM *ciyan*, dan ratusan ribu di BNI, sementara saya harus melakukan transaksi transfer antarbank yang jumlahnya lebih dari puluhan ribu. Jalan terakhir yang saya lakukan: sms ke orang-orang yang punya utang ke saya. Done, tapi ya tetep harus nunggu transferan. Memang harus superdupersabar. Satu lagi, saya itu paling nggak suka nagih utang. Cuma 10ribu, 20ribu, tapi namanya uang, ya tetep berguna dong. Apalagi di saat-saat ‘butuh banget’.

Di sisi lain, ATM BNI saya telah habis masa berlakunya—padahal ini yang bersaldo paling banyak. Otomatis nggak bisa diapa-apakan uangnya. Pergilah saya ke Bank BNI cabang UI Depok. Sampai sana, security-nya baik banget. Semua pertanyaan saya dijawab dengan jelas, juga solutif, sehingga saya nggak jadi ambil nomor antrean. Hahaha. Makasih banyak, Pak :D

Intinya, kalau mau perpanjang masa berlaku ATM, saya harus bawa buku tabungan dan KTP. Nah, masalahnya sekarang adalah buku tabungan saya entah di mana—bahkan ini udah dari tahun lalu, dan sampai sekarang belum ketemu. Anggap saja hilang. Jadi, security menyarankan saya agar ke PLK UI untuk melapor dan membuat surat kehilangan. Baiklah. Bersyukur nggak perlu repot ke kantor polisi. Meluncurlah saya ke PLK UI sore hari, sekitar pukul 17.00, kemudian percakapan pun dimulai.







Deuh, nggak tahan, seriusan. Keluar ruangan, masih nggak habis pikir, kenapa skill lawak beliau melebihi saya?! Biasanya saya bisa ‘skakmat-in’ orang. Sekalipun orang dewasa. Lah ini, malah saya diserang balik habis-habisan. Jadi nggak pede untuk daftar host ‘The Comment’. Ahhahahaaha.

2.9.13

Merdeka di Gunung (Anak) Krakatau

Dirgahayu RI ke-68!

Bagi saya, 17 Agustus tahun ini terasa berbeda. Akhir pekan 16—18 Agustus pun terasa panjang, biasanya kan nggak terasa, tiba-tiba udah Senin lagi. Rasanya tak berlebihan bila saya menyebut mereka keluarga baru. Entah ini keluarga baru saya yang ke berapa. Pastinya, saya nyaman bersama dan berada di dekat mereka. 25 orang pemberani yang punya nyali luar biasa; dengan karakter yang unik; juga tingkah laku yang cukup gila. Hahaha. Kami berhasil menaklukkan Gunung (Anak) Krakatau. Ya, bagi saya semuanya berhasil—meskipun ada beberapa yang lebih super lagi melanjutkan perjalanan sampai puncak. Kadar ‘berhasil’ setiap orang memang berbeda. Bagaimanapun itu, harus tetap mengucap Hamdalah.

Sekadar pengetahuan, Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Kemudian, tahun 1927 lahirlah Anak Krakatau. Medan Gunung Anak Krakatau ini tidak terlalu sulit. Beberapa meter pertama kita akan menemui pohon-pohon kecil di kanan kiri jalur. Sisanya pasir putih dan bebatuan. Medan semacam ini cocok untuk pemula—seperti saya. Awalnya cukup deg-degan karena saya takut ketinggian, tapi lama-lama sirna juga.

Sejujurnya, kekhawatiran saya disebabkan oleh beberapa hal: pertama, saya udah lama nggak berolahraga (lari, atau olahraga yang menunjang endurance); kedua, ya karena ini adalah kali pertama naik gunung. Beberapa teman dalam rombongan sih udah pernah ke Semeru, Slamet, Sindoro, dll. Wow aja gitu! Ahahaha. Saya mah masih cupu. Doyan jalan sih, tapi bukan naik gunung. Nah, kenapa saya ikut? Karena ada beberapa teman saya yang ikut—setidaknya ada temennya. Trus, Gunung Anak Krakatau ini tidak terlalu tinggi, jadi saya pikir, saya pasti bisa. Selain itu, saya sih tergoda karena letak gunungnya dekat hamparan pantai, plus karena tidurnya di tenda. Hahaha. Kangen berkemah!

Trip Krakatau kali ini digawangi oleh Mba Nanda (senior saya di SINTESA). Beberapa tahun ini, dia memang sudah jalan ke mana-mana. Berbekal tulisan di blognya, saya pun memutuskan untuk mencoba bergabung. Kebetulan tanggalnya pas hari kemerdekaan, dan budgetnya juga murah. Nanti di tulisan selanjutnya akan saya rinci detilnya, siapa tahu bloggers tertarik dan punya rencana ke sana. Sempat maju mundur ikut atau nggak, tapi saya sih nekat aja, toh beberapa yang ikut juga udah ada yang berpengalaman. Jadi, kalau ada shit happened insya Allah aman, pikir saya.

FYI, kami naik dua kali. Berburu sunset, dan esoknya berburu sunrise. Hmm, saya mau pengakuan dosa dulu nih. Hehehe. Pas jalan pertama—berburu sunset, kerasa banget ngos-ngosannya. Padahal baru sepertiga jalan. Rasanya tuh macem empat kali running paket GPMB. Salah sih, nggak pemanasan dulu di hari-hari sebelum naik. Maklum, udah nggak MB hampir tiga tahun, jadi ya napasnya pendek lagi. Dulu rasanya saya tuh kuat banget, tahan banting—fisik maupun mental. Itu dulu, sekarang mulai menurun daya tahan tubuhnya. Ah, yasudah. Intinya saya nggak akan mengulang kesalahan untuk kali kedua kalau nanti naik gunung lagi. Mungkin ada juga tipe orang yang nggak butuh pemanasan—seperti yang saya bilang tadi, ada juga yang butuh—tipe seperti saya ini.

Saya suka pantai, tapi saya juga takut air, hahaha. Ada kejadian hampir tenggelam pas snorkeling, dan itu cukup membuat saya shock. Alhamdulillahnya ada yang nenangin dan nolongin, aaaaaah makasih :’) “siapa Dha yang nolongin?” ada deh, nggak akan saya sebut namanya :p “lebay lo Dha!” ya gimana, tapi seriusan waktu itu takut banget. Mana airnya asin! *ya iyalah, kan air laut*

Nah, ini baru permulaan alias mukadimah. Cerita berikutnya insya Allah ada lagi. Jangan khawatir, so… stay tune! Hahaha. 

21.8.13

Mudik Tahun Ini

Seperti biasa, tradisi anak rantau setelah puasa: mudik ‘mulih udik’ atau lebih akrab dikenal pulang kampung. Alhamdulillah kali ini saya berhasil mengantongi tiket kereta eksekutif untuk pulang ke Tegal—beli sebelum puasa bahkan, karena khawatir kehabisan. Sedikit lega. Namun, entah mengapa, saya sedih. Mungkin karena suatu alasan—yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Selain itu, biasanya sih ada yang nganter. Sekadar menemani sampai Stasiun UI atau Stasiun Gambir. Kali ini nggak ada.

Dulu ada cerita lucu, hmm, agak mengesalkan mungkin—lebih tepatnya. Pernah ada yang nawarin jemput saya di kosan, dan ikut nganter sampai Stasiun UI. Cuma, waktu itu dia sangat ngaret. Padahal, jadwal kereta nggak bisa ditoleransi. Saya terpaksa naik ojek sampai Stasiun UI. Waktu itu, dia sama sekali nggak bisa dihubungi, pada saat-saat genting sekalipun. Begitu saya naik kereta, beberapa menit kemudian, dia baru sms saya, ngasih tahu kalau dia udah sampai Stasiun UI. Hih! Ini tuh, macem judul film “Pacar Ketinggalan Kereta”. Sampai Gambir, saya masih agak kesal. Bahkan, sampai kereta Cireks jalan, malah mbrebes mili. Campur aduk rasanya.

Tahun berikutnya, saya juga sempat dekat dengan seseorang. Kebetulan dia sedang di Jakarta. Dan, dia pasti tahu setiap saya mau pulang kampung. Malam sebelumnya, kami sms-an. Nah, sms terakhir saya waktu itu isinya tentang ajakan untuk ketemuan—terakhir sebelum saya pulang. Gambir, pukul 10 pagi. Begitu kira-kira smsnya. Sampai pagi hari, tidak ada respons dari dia. Saya mencoba menunggu sampai pukul 10.30 di Gambir. Tetap saja belum ada tanda-tanda kedatangannya. Pukul 10.45 saya menyerah, memutuskan untuk naik ke peron Cireks. Yasudah, tak ada kabar apa pun. Sedih sih. Keesokan harinya, saya coba sms. Ternyata, katanya, tidak ada sms apa pun dari saya yang masuk ke ponselnya. Hmm, baiklah. Sampai tulisan ini ditulis, saya belum berniat ngasih tahu dia, bahwa malam sebelum saya pulang, saya sempat sms ngajak ketemuan di Gambir pukul 10. Biarlah.

Nah, mudik berikutnya, sempat dua kali—kalau tak salah—ditemani Dwi sampai Gambir. Hihihi. Makasih ses!

Teman, tidak untuk mudik tahun ini. Namun, pagi-pagi, sebelum saya berangkat ke Gambir, kejutan datang. Aga dan Esthi sowan ke kosan. Bawa kudapan. Kata mereka, kudapannya buat buka puasa di kereta nanti. Aaaaaak, super deh! Manis banget sih kalian :’) makasih banyak.
Begitu kira-kira lika-liku mudik saya selama beberapa tahun belakangan. Mudah-mudahan, mudik tahun depan juga punya cerita seru yang berkesan. 

Kartu Pos

“Gila aja lo, 2013 masih aja kirim-kiriman kartu pos!”
Adakah yang pernah dihujat begitu? Santai, kamu tidak sendirian, saya juga salah satu korban. Anyway, bagi saya sih, kartu pos adalah salah satu media konvensional yang cukup setia hingga kini. Mungkin sebagian besar manusia meninggalkannya, tapi tidak demikian halnya pada kartu pos. Dia masih hidup, khusus menemani segelintir manusia-manusia yang nggak mau move-on dari klasiknya zaman. Bukannya kami tidak melek teknologi, kami hanya mencoba mempertahankan budaya yang telah ada. Setidaknya, sampai anak-cucu kami bisa ikut mengenal kartu pos. Selembar kertas penuh kata yang bisa mewakili ide—yang tentunya ingin kita sampaikan melalui ‘cara lain’.

Nah, dulu saya sempet nulis juga kok tentang kartu pos. Ceritanya mau sok-sok-an kirim kartu pos penyemangat gitu deh ke salah satu laki-laki spesial. Huahahaha. Cuma ya itu, nggak nyampe ternyata. Nyasar kali kartu posnya. Yaaaa, belum jodoh. Itulah risikonya.

Beberapa minggu lalu, saya cukup beruntung karena dikirimi kartu pos dari seseorang di twitter. Saya nggak kenal dia intinya. Lah, trus tahu dari mana? Saya tahu dari twitter @uswahabibah, di linikalanya ada RT-an dari akun @EHESTI. Usut punya usut, setelah saya telusuri linikala doi, saya tertarik. Tertarik gimana maksudnya? Hmm, begini, si @EHESTI ini lagi di luar negeri—saya juga nggak tahu sih doi lagi ada di negara mana tepatnya—sempet beberapa kali menawarkan kepada followers, ada yang mau dikirimi kartu pos nggak. Kebetulan, @EHESTI masih punya kartu pos dari beberapa negara, seperti Polandia, Austria, Czech, Hungaria, dan sebagainya—ada juga tawaran kartu pos dari Indonesia waktu itu. Saya iseng tanya, masih boleh dikirimi atau nggak, ternyata boleh. Aaaah, senang! Trus iseng tanya lagi—kali ini agak ngelunjak—boleh 3 kartu pos nggak, ternyata boleh lagi. Huahahaha. Makasih, Kak @EHESTI.

Oh iya, si @EHESTI ternyata alumni Sastra Jepang UI ’03. Identitas ini diketahui setelah @uswahabibah nimbrung dalam percakapan twitter saya dan @EHESTI. Uswah nggak terima karena saya manggil @EHESTI dengan embel-embel ‘Kak’. Perlu dicatat bahwa Uswah lebih tua dari @EHESTI, doi anak 2001, men. Sedangkan, saya aja kalau manggil Uswah nggak pakai ‘Kak’, ini juniornya dia malah saya panggil ‘Kak’. Nyahahaha. Masalahnya, kalau jadi ‘Kak Uswah’ tuh terkesan manis anaknya, nggak rela saya!

Berikut kartu pos yang dikirim dan beberapa nukilan yang ditulis oleh @EHESTI:
penampakan 3 kartu pos
(tampak depan) Birkenau - Polandia
(tampak belakang)
(tampak depan) Vienna
(tampak belakang)
(tampak depan) Budapest - Hungaria
(tampak belakang)

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...