19.9.13

One Day Trip Bandung

Mudah-mudahan temen-temen nggak bosen ya, pas baca postingan, tripnya Bandung mulu. Hahaha. Berawal dari Copie (temen kosan) yang tanya-tanya soal Bandung ke saya. Saya pun balik tanya, dalam rangka apa dia ke Bandung, dan kapan, dengan siapa *lengkap ye!* ternyata, rencana Copie ke Bandung adalah dalam rangka menemani sepupu dari mantan bosnya. Sebut saja, bos Copie (M), sepupu bosnya (T). Keduanya orang Jepang, bedanya si M alumni Sastra Jepang UI—sehingga dia fasih bahasa Indonesia, sedangkan si T hanya bisa bahasa Jepang. Nah, si Copie ini bisa bahasa Jepang—padahal doi alumni Sastra Inggris, hahaha. Makanya Copie dimintai tolong oleh bosnya untuk nge-guide si T keliling Bandung—meskipun hanya sehari.

Setelah Copie menjelaskan panjang lebar tentang 5W1H ke Bandung, saya pun mulai melancarkan serangan dadakan. Sebagai orang yang sering banget bolak-balik Bandung *halah* saya cukup banyak bicara dan ngasih masukan ke Copie. Tempat wisata, tempat makan, dan tempat beli oleh-oleh. Oh iya, saya sama sekali nggak pernah menyarankan dan menyebut mall untuk dikunjungi selama di sana. Karena ya, namanya mall, kurang lebih sama aja isinya. Ujung-ujungnya, saya mulai merayu Copie untuk menanyakan ke bosnya, saya boleh ikut atau nggak?! Hahaha. Tetep ye, tujuannya ngikut. Setelah meyakinkan Copie kalau saya tau banyak tempat di Bandung, dia pun menghubungi bosnya. Sehari, dua hari, akhirnya email dari Copie pun dibalas oleh bosnya. Jawabannya adalah, boleh ikut. Yeaaaay! :D

Kami berangkat hari Kamis pagi, sekitar pukul 6.00. Malam sebelumnya—tentunya—udah riweuh asik nyari plus nyatet tempat mana aja yang harus dikunjungi. Saya dan Copie naik taksi dari Depok menuju Cibitung, kurang lebih 2 jam perjalanan. Daaaan, tumben, saya mabok berat. Pusing, mual, tapi tetep saya tahan biar nggak muntah. Dari awal udah diniati nggak akan minum obat mabok. Namun, karena baru sampai Cibubur aja udah mual banget, terpaksa minum deh satu kapsul—dalam keadaan belum sarapan, belum ada makanan apa pun yang masuk ke perut. Dalam hati, ini sayanya yang lebay—gini doang mabok—atau emang sopirnya yang masih ngantuk dan kasar nyetirnya?! Pas sampai Cibitung, turun dari taksi, Copie cerita kalau dia juga merasa, si sopir agak-agak nggak bener bawa mobilnya. Dia aja pusing—biasanya nggak. Seriusan, saya lemes banget pas turun dari taksi. Selama perjalanan sebenarnya saya udah coba minta kecilin AC-nya, dan terakhir minta dimatiin AC-nya karena udah nggak kuat. Ngomong aja nggak shanggup! Bagi orang-orang yang sering mabok, pasti tau deh rasanya seperti apa. Makan nggak enak, minum nggak enak, semua jadi nggak enak karena perut-otak-badan nggak enak.

Semenjak di dalam taksi, saya udah berimajinasi kalau mobil yang bakal kami naiki nanti tuh enak, aroma mobilnya nggak bikin mabok, sopirnya baik banget, dan nyaman. Ya, namanya juga orang maboks, suka punya bayangan yang paradoks.

Perjalanan menuju Bandung cukup lancar. Tepat pukul 10.00 kami sampai. Tujuan pertama kami saat itu adalah Museum KAA. Berhubung kami—tepatnya saya dan Copie—belum sarapan, maka saya pun mengusulkan agar makan di SugaRush, Braga. Namun, kami belum berjodoh, SugaRush masih tutup. Jadilah mampir ke Wendy’s. Yasudahlah, yang penting makan karena telanjur sangat lapar. Pas jalan pulang menuju Museum KAA, ternyata SugaRush buka. Aaaaaaaaaaaaak! Kapan-kapan lagi deh mampirnya.

Setelah makan, kami menuju Museum KAA, dan Museum Pos Indonesia. Seperti biasa, muter-muter jalan berkali-kali. Hahaha. Maaf ya, Copie, saya memang hafal Bandung, tapi nggak hafal jalan :p
Tetsuya, Copie, di Museum KAA
Idha
Begitu pukul 13.30, Copie melontarkan usulnya untuk mengunjungi saudaranya di Kebun Binatang Bandung. Daaaan, si orang Jepang-nya mau ternyata. Yasudah, akhirnya kami ke sana. Setelah beli tiket masuk untuk tiga orang, saya izin ke toilet dan sholat Dzuhur, rencananya abis itu nyusul mereka berdua di dalam. Kemudian, ponsel saya tak berapa lama bergetar, tanda sms masuk. Bukan dari Copie, tapi dari orang lain. Mau ketemuan, tapi debat dulu, debatnya panjang pula! Hahaha. Ya, setidaknya ngobatin rindu lah ya, meskipun sekadar 20 menitan :‘) di waktu yang sempit dan mendesak itu kadang malah berjodoh. Selama ini saya punya banyak waktu berlama-lama, tapi ya, ada aja yang bikin nggak jadi ketemu. Oh, life!

Pertemuan ini sama sekali nggak direncanakan sebelumnya, on the spot aja. Gambling, ketemu syukur, nggak juga nggak apa. Setelah Copie sms, saya langsung cabut lagi. Cari tempat makan, dan akhirnya kami ke Potluck Kitchen. Akhirnya juga, saya—yang udah beberapa kali ke Potluck—baru kali ini sempet lempar koin ke kolam harapan. Hahaha. Saya, Copie, dan Tetsuya—orang Jepang itu—berdoa dulu sebelum melempar  koin ke dalam kolam. Semoga Allah mendengar dan mengabulkan permintaan kami, aamiin. Btw, saya baru tahu kalau Sop Iga Potluck itu ueenaks bangets. Biasanya kan, biasanya, makanan Indonesia yang masuk ke kafe-kafe, kadang kurang lezat. Nah, yang ini beda. Mantap deh pokoknya. Nggak percaya? Coba aja nanti!

Berhubung kami kayaknya betah banget keliling Bandung, jadi rencana pulang sore ditunda, entah sampai kapan. Hahaha. Pastinya nggak akan nginep sih. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke money changer dan Babe—finally—setelah bimbang, mau ke Saung Udjo atau nggak. Karena, Saung Udjo tutup pukul 6 sore kalau weekdays. Di Babe udah banyak berubah, barang-barangnya makin banyak, makin variatif. Bisa banget jadi alternatif tempat beli souvenir.

Fuh, nggak terasa udah pukul 10 malam. Kami memutuskan untuk pulang, ke Cikarang—rumah bos Copie. Huaaaaa, sampai Depok jam berapa ini? hmm. Pas udah sampai Cikarang, kami masih diajak makan sama si M. Ya ya, makan tengah malam judulnya. Alhasil, sampai Depok pukul 2 pagi. Saya dan Copie naik taksi biru yang sopirnya ngantuk. Keliatan masih muda, masih 20 tahun-an. Saya kasih permen jahe, biar nggak ngantuk. Eee, tetep aja ngantuk. Bahkan, di tol sempet 100 km/jam dalam keadaan jalan agak gelap dan hujan deras. Beuh, gimana nggak ketar-ketir tuh. Menantang! Alhamdulillahnya, pas deket Tol Jagorawi, si sopir bisa diajak ngobrol dan bercanda. Ya, sampai kami turun di depan Es Pocong. Makasih, Mas sopir.

11.9.13

DIJUAL SEPATU COLLETTE

Hai, kali ini saya mau jual sepatu nih:
- Jenis: Sepatu Collette (*namanya tetap sepatu, karena bagian belakangnya tertutup—meskipun model bagian depannya slipper)
- Ukuran: 39
- Warna: abu-abu, merah muda
- Harga: Rp160.000,- (harga asli Rp189.900,-)
berikut penampakannya:




Sepatu baru, belum pernah dipakai. Cocok banget buat temen-temen yang suka hangout, tapi tetep gaya. Nyaman, bahannya semi-beledu (*kata nonbakunya ‘beludru’). Kenapa mau dijual? Karena butuh tambahan uang untuk beli sepatu trekking, hahaha. Eh, tapi serius. Bakal seneng banget kalau ada yang berminat dan bantu saya menyelesaikan perkara jual-beli sepatu ini. 

Info lebih lanjut, bisa hubungi saya via twitter/facebook: @idhaumamah atau Mursyidatul Umamah, terima kasih banyak :)

Another ‘Birthday Gift’

Beberapa minggu yang lalu, saya dikasih hadiah ini oleh seseorang. Katanya sih, dalam rangka ulang tahun saya—padahal ulang tahun saya cuma sekali, 31 Mei. Nah, kalau begini, serasa ulang tahun berhari-hari :’)


Gemini. Ya, saya bangga jadi Gemini Girl. Katanya sih, supel; senang berteman; dan jago flirting—entah ini harus senang/gimana. Hahaha. Sekalian minta maaf deh, kepada orang-orang yang pernah saya flirting-in :p

Tuh kan, pembahasannya ke mana-mana. Dalam tulisan saya kali ini, saya mau berterima kasih virtual kepada Dedep (partner in crime—Gemini). Sama-sama Gemini, yeah! Makasih ya, Dep. Cup-cup muach! Nggak sabar liat rok birunya dikenakan pas lu sidang, hahaha.

5.9.13

Another 'Kocak' at PLK UI

Dari judulnya, kira-kira saya mau cerita tentang apa nih? Tentang PLK UI lah pastinya. Hahaha. Tepatnya, koplak momen yang saya alami. Seperti apa? Yuk, mari!

Begini ceritanya, dua minggu yang lalu, saya diribetkan dengan urusan utang-piutang dengan beberapa orang. Sederhana kok, bukan prahara utang yang ada di sinetron. Kondisi saya saat itu adalah punya rekening BSM dan BNI, tapi saldonya cuma sekitar belasan ribu di BSM *ciyan*, dan ratusan ribu di BNI, sementara saya harus melakukan transaksi transfer antarbank yang jumlahnya lebih dari puluhan ribu. Jalan terakhir yang saya lakukan: sms ke orang-orang yang punya utang ke saya. Done, tapi ya tetep harus nunggu transferan. Memang harus superdupersabar. Satu lagi, saya itu paling nggak suka nagih utang. Cuma 10ribu, 20ribu, tapi namanya uang, ya tetep berguna dong. Apalagi di saat-saat ‘butuh banget’.

Di sisi lain, ATM BNI saya telah habis masa berlakunya—padahal ini yang bersaldo paling banyak. Otomatis nggak bisa diapa-apakan uangnya. Pergilah saya ke Bank BNI cabang UI Depok. Sampai sana, security-nya baik banget. Semua pertanyaan saya dijawab dengan jelas, juga solutif, sehingga saya nggak jadi ambil nomor antrean. Hahaha. Makasih banyak, Pak :D

Intinya, kalau mau perpanjang masa berlaku ATM, saya harus bawa buku tabungan dan KTP. Nah, masalahnya sekarang adalah buku tabungan saya entah di mana—bahkan ini udah dari tahun lalu, dan sampai sekarang belum ketemu. Anggap saja hilang. Jadi, security menyarankan saya agar ke PLK UI untuk melapor dan membuat surat kehilangan. Baiklah. Bersyukur nggak perlu repot ke kantor polisi. Meluncurlah saya ke PLK UI sore hari, sekitar pukul 17.00, kemudian percakapan pun dimulai.







Deuh, nggak tahan, seriusan. Keluar ruangan, masih nggak habis pikir, kenapa skill lawak beliau melebihi saya?! Biasanya saya bisa ‘skakmat-in’ orang. Sekalipun orang dewasa. Lah ini, malah saya diserang balik habis-habisan. Jadi nggak pede untuk daftar host ‘The Comment’. Ahhahahaaha.

2.9.13

Merdeka di Gunung (Anak) Krakatau

Dirgahayu RI ke-68!

Bagi saya, 17 Agustus tahun ini terasa berbeda. Akhir pekan 16—18 Agustus pun terasa panjang, biasanya kan nggak terasa, tiba-tiba udah Senin lagi. Rasanya tak berlebihan bila saya menyebut mereka keluarga baru. Entah ini keluarga baru saya yang ke berapa. Pastinya, saya nyaman bersama dan berada di dekat mereka. 25 orang pemberani yang punya nyali luar biasa; dengan karakter yang unik; juga tingkah laku yang cukup gila. Hahaha. Kami berhasil menaklukkan Gunung (Anak) Krakatau. Ya, bagi saya semuanya berhasil—meskipun ada beberapa yang lebih super lagi melanjutkan perjalanan sampai puncak. Kadar ‘berhasil’ setiap orang memang berbeda. Bagaimanapun itu, harus tetap mengucap Hamdalah.

Sekadar pengetahuan, Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Kemudian, tahun 1927 lahirlah Anak Krakatau. Medan Gunung Anak Krakatau ini tidak terlalu sulit. Beberapa meter pertama kita akan menemui pohon-pohon kecil di kanan kiri jalur. Sisanya pasir putih dan bebatuan. Medan semacam ini cocok untuk pemula—seperti saya. Awalnya cukup deg-degan karena saya takut ketinggian, tapi lama-lama sirna juga.

Sejujurnya, kekhawatiran saya disebabkan oleh beberapa hal: pertama, saya udah lama nggak berolahraga (lari, atau olahraga yang menunjang endurance); kedua, ya karena ini adalah kali pertama naik gunung. Beberapa teman dalam rombongan sih udah pernah ke Semeru, Slamet, Sindoro, dll. Wow aja gitu! Ahahaha. Saya mah masih cupu. Doyan jalan sih, tapi bukan naik gunung. Nah, kenapa saya ikut? Karena ada beberapa teman saya yang ikut—setidaknya ada temennya. Trus, Gunung Anak Krakatau ini tidak terlalu tinggi, jadi saya pikir, saya pasti bisa. Selain itu, saya sih tergoda karena letak gunungnya dekat hamparan pantai, plus karena tidurnya di tenda. Hahaha. Kangen berkemah!

Trip Krakatau kali ini digawangi oleh Mba Nanda (senior saya di SINTESA). Beberapa tahun ini, dia memang sudah jalan ke mana-mana. Berbekal tulisan di blognya, saya pun memutuskan untuk mencoba bergabung. Kebetulan tanggalnya pas hari kemerdekaan, dan budgetnya juga murah. Nanti di tulisan selanjutnya akan saya rinci detilnya, siapa tahu bloggers tertarik dan punya rencana ke sana. Sempat maju mundur ikut atau nggak, tapi saya sih nekat aja, toh beberapa yang ikut juga udah ada yang berpengalaman. Jadi, kalau ada shit happened insya Allah aman, pikir saya.

FYI, kami naik dua kali. Berburu sunset, dan esoknya berburu sunrise. Hmm, saya mau pengakuan dosa dulu nih. Hehehe. Pas jalan pertama—berburu sunset, kerasa banget ngos-ngosannya. Padahal baru sepertiga jalan. Rasanya tuh macem empat kali running paket GPMB. Salah sih, nggak pemanasan dulu di hari-hari sebelum naik. Maklum, udah nggak MB hampir tiga tahun, jadi ya napasnya pendek lagi. Dulu rasanya saya tuh kuat banget, tahan banting—fisik maupun mental. Itu dulu, sekarang mulai menurun daya tahan tubuhnya. Ah, yasudah. Intinya saya nggak akan mengulang kesalahan untuk kali kedua kalau nanti naik gunung lagi. Mungkin ada juga tipe orang yang nggak butuh pemanasan—seperti yang saya bilang tadi, ada juga yang butuh—tipe seperti saya ini.

Saya suka pantai, tapi saya juga takut air, hahaha. Ada kejadian hampir tenggelam pas snorkeling, dan itu cukup membuat saya shock. Alhamdulillahnya ada yang nenangin dan nolongin, aaaaaah makasih :’) “siapa Dha yang nolongin?” ada deh, nggak akan saya sebut namanya :p “lebay lo Dha!” ya gimana, tapi seriusan waktu itu takut banget. Mana airnya asin! *ya iyalah, kan air laut*

Nah, ini baru permulaan alias mukadimah. Cerita berikutnya insya Allah ada lagi. Jangan khawatir, so… stay tune! Hahaha. 

21.8.13

Mudik Tahun Ini

Seperti biasa, tradisi anak rantau setelah puasa: mudik ‘mulih udik’ atau lebih akrab dikenal pulang kampung. Alhamdulillah kali ini saya berhasil mengantongi tiket kereta eksekutif untuk pulang ke Tegal—beli sebelum puasa bahkan, karena khawatir kehabisan. Sedikit lega. Namun, entah mengapa, saya sedih. Mungkin karena suatu alasan—yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Selain itu, biasanya sih ada yang nganter. Sekadar menemani sampai Stasiun UI atau Stasiun Gambir. Kali ini nggak ada.

Dulu ada cerita lucu, hmm, agak mengesalkan mungkin—lebih tepatnya. Pernah ada yang nawarin jemput saya di kosan, dan ikut nganter sampai Stasiun UI. Cuma, waktu itu dia sangat ngaret. Padahal, jadwal kereta nggak bisa ditoleransi. Saya terpaksa naik ojek sampai Stasiun UI. Waktu itu, dia sama sekali nggak bisa dihubungi, pada saat-saat genting sekalipun. Begitu saya naik kereta, beberapa menit kemudian, dia baru sms saya, ngasih tahu kalau dia udah sampai Stasiun UI. Hih! Ini tuh, macem judul film “Pacar Ketinggalan Kereta”. Sampai Gambir, saya masih agak kesal. Bahkan, sampai kereta Cireks jalan, malah mbrebes mili. Campur aduk rasanya.

Tahun berikutnya, saya juga sempat dekat dengan seseorang. Kebetulan dia sedang di Jakarta. Dan, dia pasti tahu setiap saya mau pulang kampung. Malam sebelumnya, kami sms-an. Nah, sms terakhir saya waktu itu isinya tentang ajakan untuk ketemuan—terakhir sebelum saya pulang. Gambir, pukul 10 pagi. Begitu kira-kira smsnya. Sampai pagi hari, tidak ada respons dari dia. Saya mencoba menunggu sampai pukul 10.30 di Gambir. Tetap saja belum ada tanda-tanda kedatangannya. Pukul 10.45 saya menyerah, memutuskan untuk naik ke peron Cireks. Yasudah, tak ada kabar apa pun. Sedih sih. Keesokan harinya, saya coba sms. Ternyata, katanya, tidak ada sms apa pun dari saya yang masuk ke ponselnya. Hmm, baiklah. Sampai tulisan ini ditulis, saya belum berniat ngasih tahu dia, bahwa malam sebelum saya pulang, saya sempat sms ngajak ketemuan di Gambir pukul 10. Biarlah.

Nah, mudik berikutnya, sempat dua kali—kalau tak salah—ditemani Dwi sampai Gambir. Hihihi. Makasih ses!

Teman, tidak untuk mudik tahun ini. Namun, pagi-pagi, sebelum saya berangkat ke Gambir, kejutan datang. Aga dan Esthi sowan ke kosan. Bawa kudapan. Kata mereka, kudapannya buat buka puasa di kereta nanti. Aaaaaak, super deh! Manis banget sih kalian :’) makasih banyak.
Begitu kira-kira lika-liku mudik saya selama beberapa tahun belakangan. Mudah-mudahan, mudik tahun depan juga punya cerita seru yang berkesan. 

Kartu Pos

“Gila aja lo, 2013 masih aja kirim-kiriman kartu pos!”
Adakah yang pernah dihujat begitu? Santai, kamu tidak sendirian, saya juga salah satu korban. Anyway, bagi saya sih, kartu pos adalah salah satu media konvensional yang cukup setia hingga kini. Mungkin sebagian besar manusia meninggalkannya, tapi tidak demikian halnya pada kartu pos. Dia masih hidup, khusus menemani segelintir manusia-manusia yang nggak mau move-on dari klasiknya zaman. Bukannya kami tidak melek teknologi, kami hanya mencoba mempertahankan budaya yang telah ada. Setidaknya, sampai anak-cucu kami bisa ikut mengenal kartu pos. Selembar kertas penuh kata yang bisa mewakili ide—yang tentunya ingin kita sampaikan melalui ‘cara lain’.

Nah, dulu saya sempet nulis juga kok tentang kartu pos. Ceritanya mau sok-sok-an kirim kartu pos penyemangat gitu deh ke salah satu laki-laki spesial. Huahahaha. Cuma ya itu, nggak nyampe ternyata. Nyasar kali kartu posnya. Yaaaa, belum jodoh. Itulah risikonya.

Beberapa minggu lalu, saya cukup beruntung karena dikirimi kartu pos dari seseorang di twitter. Saya nggak kenal dia intinya. Lah, trus tahu dari mana? Saya tahu dari twitter @uswahabibah, di linikalanya ada RT-an dari akun @EHESTI. Usut punya usut, setelah saya telusuri linikala doi, saya tertarik. Tertarik gimana maksudnya? Hmm, begini, si @EHESTI ini lagi di luar negeri—saya juga nggak tahu sih doi lagi ada di negara mana tepatnya—sempet beberapa kali menawarkan kepada followers, ada yang mau dikirimi kartu pos nggak. Kebetulan, @EHESTI masih punya kartu pos dari beberapa negara, seperti Polandia, Austria, Czech, Hungaria, dan sebagainya—ada juga tawaran kartu pos dari Indonesia waktu itu. Saya iseng tanya, masih boleh dikirimi atau nggak, ternyata boleh. Aaaah, senang! Trus iseng tanya lagi—kali ini agak ngelunjak—boleh 3 kartu pos nggak, ternyata boleh lagi. Huahahaha. Makasih, Kak @EHESTI.

Oh iya, si @EHESTI ternyata alumni Sastra Jepang UI ’03. Identitas ini diketahui setelah @uswahabibah nimbrung dalam percakapan twitter saya dan @EHESTI. Uswah nggak terima karena saya manggil @EHESTI dengan embel-embel ‘Kak’. Perlu dicatat bahwa Uswah lebih tua dari @EHESTI, doi anak 2001, men. Sedangkan, saya aja kalau manggil Uswah nggak pakai ‘Kak’, ini juniornya dia malah saya panggil ‘Kak’. Nyahahaha. Masalahnya, kalau jadi ‘Kak Uswah’ tuh terkesan manis anaknya, nggak rela saya!

Berikut kartu pos yang dikirim dan beberapa nukilan yang ditulis oleh @EHESTI:
penampakan 3 kartu pos
(tampak depan) Birkenau - Polandia
(tampak belakang)
(tampak depan) Vienna
(tampak belakang)
(tampak depan) Budapest - Hungaria
(tampak belakang)

21.7.13

Ngaji Jazz ala Cut Meutia

Kapan sih kali terakhir kita buka Al-Qur’an? Kalau buka twitter? Lebih sering mana ya kira-kira? Monggo dijawab sendiri ya. Nah, sayangnya di sini saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah). Sentil-sentil dikit boleh lah :p

Mungkin kalau ngaji Qur’an, Juz’amma, atau Iqra, sudah terlampau biasa. Bahkan sejak ‘kita sadar bahwa kita hidup’, setidaknya kita pernah menyentuhnya. Berbeda lagi dengan Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA), mereka memberikan suguhan ngaji dalam kemasan yang unik pada 19-20 Juli 2013 lalu. Terkesan sangat muda, segar, juga—mungkin—baru. Ya, dua hari berturut-turut, masyarakat sekitar diajak ngaji bersama di Masjid Cut Meutia. Tentunya, acara ngaji ini dilaksanakan setelah melakukan salat Isya dan Tarawih berjamaah.

Panggung megah ditata sedemikian rupa menghadap kiblat, tepat di selasar mesjid—sengaja biar malam tak terasa pekat. Sajadah pun telah siap digelar menjadi beberapa saf, khusus untuk partisipan yang ingin khusyuk bersenandung ayat. Ngaji kali ini bukan atas nama agama, melainkan atas nama umat, itu lebih tepat. Karena, begitulah seharusnya Indonesia—berbudaya.

Sebut saja Shadu Rasjidi Band, pembuka manis penuh doa. Dua lagu andalannya: Bedug dan Bersandar Dalam Dzikir, mengajak semesta menengadah mengharap berkah. Lewat alunan Low Sax, juga petikan Bass Shadu, menambah kesyahduan malam duabelas Ramadan. Shadu, putra Idang Rasjidi yang pada tubuhnya mengalir darah seni, juga pada Jazz-lah dia mulai berdzikir. Dengan baju koko hitam; berkalung tasbih; caranya memetik Bass; juga ekspresi Shadu selama ngaji beberapa lagu, tak dimungkiri dapat membuat kaum hawa sesak napas, lemah lunglai mendadak, juga—agaknya mungkin—zina mata. Hahaha. Astaghfirullaahal’adziim.
Shadu Rasjidi Band
Selanjutnya, ada Pretty Lotion ‘jejingkrakan’ di panggung, mereka juga ikut ngaji. Namanya terdengar girly, tapi ternyata para kaum adam ini justru pecicilan. Jazz semi-Reggae; dandanan mentereng; ditambah aksi atraktif beberapa personelnya, membuat kepala dan bahu sebagian besar penonton tak sadar ikut berdendang. Alternatif musik macam inilah yang justru memperkaya khazanah musik Indonesia. Jebolan SAE Jakarta ini memang nggak ada matinya. Aransemen lagu-lagu yang mereka bawakan terasa berbeda: baru dan kreatif. Mixing tone inilah yang jadi senjata utama, mengapa bisa se-eargasm itu selama tampil.
Pretty Lotion
Btw, adakah yang pernah Jatuh Cinta Sewindu demi Teman Hidup dalam Diorama? Salut kalau ada yang pernah mengalaminya. Saya rasa sih baru Tulus aja yang sanggup, bahkan implikasinya sampai jadi lagu. Satu lagi, bassist Sindhu Banyusekti juga sepanggung dengan Tulus. Akhirnya ya, Dha, liat langsung Sindhu itu bentuknya kayak apa. Selama ini cuma bisa follow soundcloudnya. Hahaha. Berkah Ramadan mana lagi yang akan kau dustakan, Dha? Mulai dari Februari lalu, gaung konser Tulus di Bandung sudah tercium. Niat menyambangi pun dipupuk hari demi hari. Hingga akhirnya terdengar kabar, konser sempat ditunda berkali-kali. Pasrah. Mei lalu saat Tulus konser, nyatanya saya tetap belum berjodoh. Yasudah. Toh, kemarin dihadiahi secara langsung di halaman Cut Meutia. Alhamdulillah. Intinya, setiap manusia butuh Teman Hidup, tanpa harus Sewindu Jatuh Cinta dalam Diorama. “Kau jiwa yang slalu aku pujaaaaa..” adalah rangkaian paling klimaks atas lirik-liriknya.
Tulus dan Sindhu Banyusekti
Serunya di acara Ngaji Jazz malam itu adalah kehadiran Joey Alexander. Bocah 10 tahun yang meraih 1st International Festival—sebuah kontes Jazz di Ukraina—juga tak kalah fasih ngajinya dengan senior-senior sekelas Barry Likumahuwa, Sandy Winarta, dan Bass G. Mereka berkomunikasi lewat nada dengan alatnya masing-masing. Petikan gitar Barry, permainan ritme Sandy, alunan Saxophone Bass G, sangat kawin dengan bunyi-bunyian dari tuts keyboard Joey. Ketiganya kelihatan asyik ngobrol di panggung. Aura kental Jazz-nya terasa sampai penonton lesehan—lha wong saya aja serasa sampai pengin nyaut obrolan mereka. Meskipun Joey baru ten years old, dia main bak diva yang sudah banyak makan asam garam—sangat tahu bagaimana harus memperlakukan detil jari di atas tuts. Bukan lagi ranah teknis, melainkan rasa; nyawa; ruh. Panggung jadi lebih hidup di tangan keempat musisi ini.
Joey, Barry, Sandy, dan Bass G.
Eits, ngaji belum berakhir. Masih panjang ayatnya, pemirsa.
Anyway, karena acara Ramadhan Jazz Festival jauh dari kata membosankan, saya sampai lupa, siapa aja yang akan tampil mengguncang panggung di sesi berikutnya. Setelah kuis selesai, tiba-tiba saja MC mempersilakan seorang musisi sekaliber Dwiki Dharmawan untuk memberi suguhan apiknya. Tak lupa, Dika Chasmala, violis berkacamata-berkoko putih tulang ini jangan ditanya lagi skillnya. Walaupun Om Dwiki terlihat kurang sehat, permainannya tetap memuaskan. Salut. Berbagai tipe lagu ia mainkan bersama dengan Shadu, Sandy, juga Dika. Selamat datang eargasm lanjutan! Hujan sama sekali bukan penghalang bagi penonton, kami tetap enjoy dengan payung kami masing-masing. Anggap saja sebagai penambah keberkahan. Allahumma shayyiban naafi’an.

Dika Chasmala
Dwiki Dharmawan dan Shadu Rasjidi
Kemudian, yang saya tunggu kehadirannya: Bertha. Ya, Mbak Bertha, pelatih vokal yang disebut-sebut sebagai coach Agnez Monica ini bakal nyanyi. Tadinya nggak kebayang akan seperti apa. Beruntungnya, saya berdiri dekat panggung, persis paling depan. Begitu beliau nyanyi, aaaaaaaah, salam hormat saya untuk Mbak Bertha. Sejak AFI musim pertama, saya ngefans, Mbak. Bahkan, saya suka ikut-ikutan pemanasan, kalau Mbak Bertha lagi mendampingi anak-anak AFI latihan vokal. Hihihi. Selain itu, set pemanasan vokalnya pun dulu saya jadikan patokan di ekskul paduan suara sekolah. Nah, Mbak Bertha nggak sendirian kali itu. Dia ditemani Bintang Indrianto dan Joel Ahmad. Siapa mereka? Googling aja deh ya, hahaha. Mereka musisi juga kok. Yang harus digarisbawahi, ketiganya memang tak lagi muda, tapi semangatnya juara! Ini yang saya suka, menginspirasi yang muda.
Bertha, Bintang, Joel
Jarum jam telah menunjuk angka 12. Beberapa detik lagi ganti hari. Selama itu ya ngajinya? Iya. Saya sih sebenernya kuat-kuat aja sampai makan sahur. Biar sekalian ada sesi Qiyamullail juga lah. Namun, demi kemaslahatan umat, acara kemungkinan akan berakhir beberapa menit lagi. Ah! Untungnya, pengisi panggung berikutnya adalah BLP (Barry Likumahuwa Project). Belum ke atas pentas, penontonnya udah teriak-teriak aja—terutama kaum hawa. Saya tetap kokoh berjaga di garda depan dengan rekan saya—Uswah Chibibah—dekat garis merah pembatas panggung. Menyiapkan tenaga dan mental menikmati penampilan yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Satu per satu mulai muncul. Drummer, guitarist, bassist, saxophonist, keyboardist, dan yang terakhir vocalist. Ada dua vocalist pria. Rasa-rasanya ada salah satu vocalist yang entah mengapa wajahnya familiar buat saya. Ah, tapi, mungkin mirip, pikir saya. Begitu dengar suaranya, hadeuh, ini makin familiar deh. Tapi entah. Belum bisa ditebak juga.

Barry Likumahuwa Project (BLP)
BLP membawakan banyak lagu. Lebih banyak dari band-band sebelumnya. Salah satu kejadian yang paling saya ingat adalah ketika Barry mengajak penonton bergoyang, joged koplo ala pantura. Hahaha. Hampir semua personel ambil alih, adu joged paling pulen. Nah, terpulen-koplo-pantura adalah si vocalist—yang baru diketahui identitasnya beberapa menit setelahnya, bernama Teddy, salah satu personel boyzIIboys—BLP. Masya Allah, itu goyangnya macem nggak inget kalau doi lagi bawain lagu jazz. Sebelas duabelas lah goyangannya sama Meggy Z. Di sisi lain, ada juga pemain Saxophone yang mungkin masih malu-malu atau nggak mau goyang pulen laiknya Teddy, Barry, juga yang lain. Deuh, musisi-musisi ini ya, kalau udah nemu kehidupan di atas panggung, dunia serasa milik mereka, yang nonton cuma ngontrak. Mau dong jadi bagian dari panggungmu, a :’))) *rayuan ala pantura*

Teddy (yang jogednya paling pulen)
Dan, yang makin membuat zina mata adalah kehadiran pria-pria berkoko antimainstream yang kalau lagi main alat musik atau lagi nyanyi, dunia seakan luluh lantak. Lemes aku, Mas, lemes ndelok sampeyan :’| ora nguati esemmu, Mas. Tulung, dikei cap MUI wae Mas, ben halalan thayyiban. (*Geblek lo, Dha!)

Capek. Tapi seneng. Energi terkuras habis, saking nikmatnya jadi penonton yang bisa sangat enjoy dengan penampilan mereka. Puas banget karena berkesempatan ngambil gambar dari dekat lewat kamera HP yang hanya 2MP. Dududu, hidup penuh liku-liku. Doakan saja, Ramadhan Jazz Festival 2014, saya sudah menggenggam kamera impian. Aaamiiin.

Akhirul kata, siapa yang berniat ikut ngaji ke Ramadhan Jazz Festival tahun depan? Adakah yang terbrainwash? Hahaha. Anyway, panjang juga ya ternyata saya nulisnya. Pantes, capek :’|

20.7.13

Demi Waisak (3): The Lost Pija and The End of Lampion

Berhubung saya sudah telanjur berjanji akan menyelesaikan cerita Waisak, maka mari kita lanjutkan! Pertama, tulisan ini didedikasikan untuk Della—yang udah ngadu ke Pija. Nice! Kedua, tentunya untuk pembaca setia tercinta (*emang ada gitu yang setia ama lo, Dha?)

The Lost Pija.
Waktu itu saya nggak punya pulsa. Jadi begini, meskipun saya tukang pulsa, dan ada saldo, saya tetep nggak akan bisa isi ulang pulsa karena HP saya nggak ada pulsa. Bingung bingung deh lu! Miris. Akhirnya, saya berusaha minta tolong seseorang untuk ngisi pulsa. Alhamdulillah, sampai juga pulsanya. Lho katanya sinyal lagi ilang-ilangan malam itu? Iya, kan ilang-ilangan, bukan ilang betulan. Kadang ilang, kadang muncul. Sinyal galau judulnya. Kelamaan digantung soalnya. (*tratakdungces)

Panik, Pija nyasar. Iya, kalau Della yang nyasar sih, ditinggal pulang ke Jakarta juga kemungkinan besar doi baik-baik aja. Akhirnya, sembari nadah rintik hujan yang turun, jempol saya pun mulai beraksi. Mulai dari kirim pesan singkat, pesan panjang, hingga pesan-pesan yang tak selesai. Haiah. Bagi-bagi tugas sama Della. Gantian telepon Pija. Siapa beruntung, dia tersambung. Mirisnya, di sambungan pertama, Pija terdengar superpanik. Kayaknya sih udah mewek tuh anak. Berusaha nenangin lewat telepon, bahkan saya ngasih instruksi ‘tarik napas—buang napas—tarik lagi, tenang Ja, tenang. Everything will be OK’ begitu seterusnya. Sampai pada akhirnya, di tengah-tengah percakapan antara saya dan Pija yang belum selesai, sinyal ilang kembali. Mati lah ini!

Beruntung, rombongan dengan setia rela menunda masuk lebih dulu, demi menunggu sang Pija datang. Baguslah. Setidaknya, hal ini mengurangi keriweuhan. Pencet sana-pencet sini, calling terus sampai mampus, masih berlanjut sampai akhirnya tersambung kembali. Ah, terima kasih semesta! Suatu percakapan pun terjadi:
“Ja, di sekitar lo ada apa aja ciri-cirinya?”
“Gw nggak tau, gw di mana. Gelap. Sepi.”
“Coba sekarang lo liat sekitar, ada orang apa nggak, abis itu tanya aja, jalan menuju pintu utama. Polisi atau orang berbaju kuning nggak ada, Ja?”
“Nggak tau, pokoknya di sini gelap, sepi. Gw nggak tau ini di mana.”
“Ada orang nggak di deket lo?”
“Ada sih, tapi gw nggak kenal.”
(dung tak ting ting cecessss! Mau ketawa, tapi anaknya lagi ilang. Mau diem aja, tapi agak lucu, hihihi)
“Nah, tanya Ja. Minta dianterin kalo perlu. Serius deh, nggak papa. Percaya! Di sini masih pada nungguin lo kok.”
“…………………(tut tut tut)”

Yasalam, mati. Coba ditelepon lagi berkali-kali, tapi susah. Satu-satunya cara ya, berdoa. Semoga Pija selamet, dan ada keajaiban yang membawa doi ke pintu utama. Aamiin. Pasrah. Tak berapa lama, tiba-tiba ada bocah kaos belang item putih melipir di samping barisan orang antre dekat pintu masuk utama. Daaaaan, itu Pija! Haaaaaah. Jamblang! Akhirnya ketemu juga ini bocah. Syukurlah. Tapi tetep mewek dulu, meskipun udah ketemu. Hahaha. Cup cup!

The End of Lampion.
Kami (rombongan) langsung ambil posisi antrean untuk masuk ke Candi Borobudur. Beuh, jangan tanya ramai atau nggak. Mirip kereta pas jam-jam berangkat/pulang kerja lah. Bedanya, lebih tertib aja. Sebelum masuk ke kawasan Candi Borobudur, kami masih harus melewati pintu ajaib tempat metal detector berada. Setelah itu, baru jalan kaki menuju lingkar Candi Borobudur. Gelap. Gerimis. Baju-celana semibasah, sandal/sepatu cukup kuyup. Lengkap sudah cobaan kami. Fuh. Sebenarnya kami pun tidak tahu menahu ihwal ‘akan ke mana sih kita?’ masuk ke dalam Candinya, atau gimana? Saya-Della-Pija sih makmum aja. Ke mana rombongan mengarah, ke situ kami melangkah. Daripada ilang lagi, ye nggak?

Tibalah kami di sebuah tenda kawinan (red.) yang cukup luas, beralaskan karpet merah. Karena gerimis semakin deras, kami pun memilih duduk dan istirahat di dalam naungan tenda. Untung bukan tenda biru, nanti ada Desy Ratnasari kan gawat. Sejujurnya, kami (bertiga) tak pernah tahu, sedang apa kami di situ, untuk siapa, dan dengan tujuan apa kami ke situ. Mau melihat ‘Lebaran’ umat Budha-kah? Sekadar berfoto malam hari di Borobudur, ataukah ingin menerbangkan lampion—yang bertuliskan doa juga harapan? Meneketehe. Eh, tapi kalau saya pribadi sih sebenarnya murni ingin sekadar menerbangkan lampion secara langsung. Iya, megang lampion bareng temen-temen, sambil berdoa, penuh harap. Sama sekali tak ada pikiran untuk menengok ritual/upacara Waisak-nya. Apalagi dalam kondisi yang sangat ramai seperti itu—lebih tepat disebut chaos mungkin. Chaos dalam artian ‘jadi nasib kita di sini tuh gimana sih?’ semacam butuh rundown jelas, biar punya gambaran.

Menunggu sembari tiduran, duduk, tidur lagi, duduk lagi, berdiri. Capek. Membosankan. Ditambah sinyal kacrut, melengkapi kejenuhan kami yang sama sekali tak ada hiburan karena tak bisa internetan. Hahaha. Anak era teknologi! Wajar. Untuk sekadar ngobrol dengan rekan sebelah pun rasanya enggan. Macem perempuan yang lagi PMS—agak nggak enak ngapa-ngapain. Saya pribadi ingin sekali segera pulang, nempel kasur. Oooooh! Kasur mana kasur? :’)

Hingga pukul 22.30, kami masih menunggu. Namun, penantian kali ini menyakitkan. Lampion batal terbang karena masih hujan. Keadaan memang tak bisa dipaksakan. Apa boleh buat. MARKIPUUUL! Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai beranjak keluar dari tenda, kembali ke peraduan masing-masing yang menurut mereka nyaman. Kami pun demikian. Pulang. Bedanya, kami (ternyata) masih harus menunggu mobil datang. Euleuh euleuh.. kumaha iyeu teh? Biasa, miskom. Apa? Baskom? Miskom, jamblang! Bapak supir dan koordinator kurang kompak. Ujung-ujungnya apa pemirsa? Kami ngojek lagi. Masya Allah! Duit maning, duit maning. Ampun DJ!

Cobaan malam yang serba ‘ada-ada aja’ macamnya. Kesel, capek, pegel, mau marah percuma—nggak ada guna, tapi masih mangkel di hati. Deuh. Hidup ini terasa indah ya apabila ada perkara, juga prahara! Haha. 

Hadiah Ulang Tahun Ke-23

31 Mei 2013,
Tepat 23 tahun sudah saya (mungkin) merepotkan negara, nebeng hidup di dunia.
Biasanya, setiap saya ulang tahun, selalu saja ada kejutan.
Berupa barang, peristiwa-peristiwa tak terduga, sampai mimpi yang jadi realita.

Waktu itu, saya ngidam ‘hadiah’. Dari siapa pun, apa pun.
Saya rindu dihadiahi buku, Al-Qur’an, dan lainnya.
Saya mau seperti dulu—yang meskipun tak tepat di hari H ulang tahun, saya selalu dapat sesuatu.

Daaaaan, saya akhirnya pasrah. Cuma berdoa pada Allah SWT semoga saya dikasih kelapangan hati dan pikiran. Sadar bahwa ‘hadiah’ bisa datang dari mana saja, tak perlu diharapkan. Namun, di sela-sela gathering bosses EB bulan Juni di Harvest CafĂ© Depok, saya dihadiahi ini:

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaah, meleleh.
Kangen buku, dikasih buku.
Alhamdulillah, dan terima kasih kawan-kawan EB.

:’)

19.7.13

Membaca Sajak Haikuya dalam Bahasa Tegal

Selasa lalu, akhirnya saya baca puisi lagi di depan publik. Rasanya sudah lama tidak menyentuh zona ini. Zaman saya masih SMP, SMA, saya cukup rajin ikut lomba baca puisi. Kalah? Sering. Buat saya, menang hanya ‘sekadar penenang’, juga pembuktian bahwa (mungkin) kita lebih baik dari peserta lain—itu pun menurut para juri, subjektif.

Ceritanya, salah satu dosen saya, 16 Juli kemarin meluncurkan tujuh buah karyanya—berupa kumpulan puisi, prosamini, dsb.—di Auditorium Gedung IX, FIB UI. Sebelumnya, beliau memang tidak meminta saya untuk membacakan puisinya. Namun, pagi itu, alias hari H, saya iseng buka facebook. Ternyata ada pesan dari beliau. Isinya kurang lebih berupa penawaran, maukah saya membacakan sajak-sajak pendeknya dalam bahasa Tegal? Kaget. Ya, pertama karena saya tipikal manusia yang panikan. Kedua, mengubah puisi berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Tegal bukanlah hal mudah. Mencari kosakata pengganti, bukan sekadar menerjemahkan setiap kata secara mentah-mentah, kemudian beres. Tidak sama sekali. Ketiga, saya kurang yakin untuk membaca puisi karena sudah lama ‘break’. Ditambah lagi, saya belum pernah membacakan puisi dalam bahasa Tegal seumur hidup saya—pun ketika saya masih tinggal di Tegal. Kata salah satu teman saya: mahzabnya berbeda.

Well, sebagai seorang pembaca puisi, saya merasa tertantang untuk mencoba dan menaklukkan puisi tersebut. Selain itu, jujur, saya rindu. Sangat rindu. Saya pernah hidup bersama puisi dulu. Dan, itu manis. Pastinya hasrat untuk mengulang perasaan puas dan lega setelah membaca puisi, ingin saya kembalikan lagi. Mumpung ada kesempatan. Kita tak pernah tahu, kapan tiba waktunya kita tidak punya kesempatan kan? Maka dari itu, saya langsung mengiyakan tawaran beliau. Sudahlah, nekat saja.

Saya langsung berpikir keras untuk menghubungi rekan yang kira-kira bisa membantu saya menerjemahkan sajak-sajak tersebut ke dalam bahasa Tegal. Juga—paling penting adalah—menyiapkan mental ‘tempe’ saya. Semoga saya siap, dalam hati. Latihan seadanya, secukupnya, kemudian berdoa. Mungkin terdengar berlebihan, padahal ini bukan lomba. Saya khawatir kalau penampilan saya kurang maksimal nantinya; mengecewakan pendengar; atau shit happened yang bisa saja terjadi nanti.

Namun, kembali lagi pada sugesti dan kemauan diri sendiri. YES or NO. Demam panggung? Pastinya. Tegang. Padahal hanya membaca sajak pendek, sekitar lima menit. Tidak lama. Beginilah si poetry reader yang demam panggung. Apalagi, waktu itu para pembaca karya beliau (dosen saya), sebagian besar adalah orang teater. Mulai dari dosen, mahasiswa, juga alumni, turut andil membaca sajak—dengan gaya masing-masing yang memesona. Kadang jadi ingin menertawakan diri sendiri, kok ya secemen itu sih sama panggung!

Tak berapa lama kemudian, bersyukur. Akhirnya tuntas juga membacakan sajak-sajak Haikuya dalam bahasa Tegal dengan lancar. Tegang sebenernya saat pendengar makin lama makin hening selama saya tampil di panggung. Semua berkat atensi yang luar biasa dari para pendengar, juga apresiasinya kepada saya—dan pembaca lainnya. Terima kasih juga untuk Mas Iben yang sudah memberikan saya kesempatan untuk menyentuh zona puisi lagi. Semoga karya-karya Mas Iben dapat dinikmati dan menginspirasi :’)

Oh iya, berikut saya lampirkan sajak Haikuya yang sudah diubah ke dalam bahasa Tegal:

Haikuya #17
suara jangkring 

tesih demen gemresik 
nang tivi

Haikuya #24
gonjang-ganjinge jagad 

gumun 
saklirihe donga

Haikuya #32
swara udan 

nentremna ati 
mangsa sirep

Haikuya #33
bengi pating klethis
orkes nang godongan
krasa adem nang ati

Haikuya #35
janur wis dipasang 
undangan wis diaturi 
pengantene endi?

Membaca Diri Lewat Personality Test

Beberapa hari lalu, nggak sengaja liat hasil personality test di status Andhika. Karena ada di homepage facebook, mau nggak mau kepancing buat baca. Awalnya kepikiran “ah, paling personality test yang kayak biasanya itu.” Tapi, lama-lama kok ya diklik juga. Hahaha.

Sebelum liat halaman tesnya, sempet nebak sih bakal seperti apa bentuk tes dan segala pertanyaannya. Uniknya, pertanyaan dan hasil tes sama sekali nggak ada sangkut pautnya. Pertanyaannya apa, hasil analisis tesnya apa. Nah, setelah dibaca hasilnya, agak mendekati benar dengan kepribadian dan kebiasaan saya. Makanya, pas baca hasil dari personality test, senyam-senyum terus. Merasa ‘membaca’ diri sendiri. Lucu aja.

Your view on yourself:
You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.
The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You are not looking merely for a girl/boyfriend - you are looking for your life partner. Perhaps you should be more open-minded about who you spend time with. The person you are looking for might hide their charm under their exterior.
Your readiness to commit to a relationship:
You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.
The seriousness of your love:
You like to flirt and behave seductively. The opposite sex finds this very attractive, and that's why you'll always have admirers hanging off your arms. But how serious are you about choosing someone to be in a relationship with?
Your views on education
Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.
The right job for you:
You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.
How do you view success:
You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.
What are you most afraid of:
You are afraid of having no one to rely on in times of trouble. You don't ever want to be unable to take care of yourself. Independence is important to you.
Who is your true self:
You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.

Bahkan, saya berencana menyimpan hasil tes ini dalam waktu yang lama. Bila perlu, dicetak, trus ditempel di tembok kamar dalam waktu yang lama. Bila perlu, dicetak, trus ditempel di tembok kamar. Biar selalu inget dengan karakter diri. Kalau ada yang mau mencoba, monggo. Personality Test.

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...