4.3.12

Efek Novel




Akhirnya, novel yang satu ini udah di tangan gw lagi, setelah sekian lama mengelilingi rantai manusia-manusia yang haus rasa. A Very Yuppy Wedding, novel pertama Ika Natassa, yang berhasil membius sisi ‘ke-macho-an’ gw. Huahaha, agak berlebihan, tapi yasudahlah, tak apa. Dari judulnya cukup mewakili isinya, tentang apa? Tentang pernikahan. Ya.

Gaya naratifnya Ika khas banget. Kompleksitas wanita karir di kota metropolitan. Namanya juga novel Metropop. Namun, di sini gw tidak akan membahas panjang soal lebih dan kurangnya Ika, justru indikasi setelah baca novel itu. Dahsyat.

Suatu saat nanti, kita pasti akan mengalami proses menuju pernikahan. Nggak bisa dibayangkan akan seribet dan sesibuk apa. Paling nggak, cukup untuk menoleransi dan mengantisipasi lebih dini. Sedikit demi sedikit membuka pikiran, lama-lama patuh pada alam bawah sadar bahwa pernikahan adalah bla-bla-bla.

Sampai pada akhirnya gw googling adat-adat pernikahan Jawa dan…… 
*titik-titik ini biarlah gw dan google yang tau* hahahaha. Gw selami pelan-pelan, tanya sana sini sama orang yang menurut gw ‘mengerti’. Ah, jadi malu gini kan. Kemudian, masih banyak lagi rencana terselubung menuju momen itu. Bukan, bukan ngoyo atau militan, ini hanya sekadar pengetahuan, belajar dari pengalaman, dan mencoba menyesuaikan dengan zaman. Kurang lebih begitu ibu-ibu, bapak-bapak. Jadi, bagi yang punya putra dan belum berumah tangga, boleh itu tolong dipromosikan di #JombloUI setiap Sabtu malam. Huahahaha. Becanda kok, santai.

Berdoalah untuk calon masing-masing setiap hari setelah ibadah, di mana pun, kapan pun ya, biar tetap terjalin ikatan batin—meskipun kita nggak tau siapa, di mana, dan kapan akan dipertemukan. Hiaaaa. Oke. Kita akhiri saja dialog pernikahan dan beberapa fase kehidupan lainnya. Kali lain kita sambung lagi ya :)

Salam senja, hari ini kamu muncul tiba-tiba, seperti Sabtu kemarin, tanpa jeda. 

Akun Twitter

Halo!
Selamat Minggu ya :)

Pagi ini ada sesuatu yang gw temukan di twitter (lagi-lagi dari twitter, dan menarik). Ada beberapa akun yang menurut gw unik. Biasanya, akun-akun yang followernya banyak—dalam ribuan, puluhribuan, ratusribuan, bahkan jutaan—adalah akun para selebriti, atau selebtwit—yang biasa ngetweet tentang hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan. Sepertinya terlalu umum. Oke, gw coba jabarkan: tentang seks, cinta, humor, dan pengetahuan. CMIIW ya.

Nah, gw pernah menyinggung tentang salah satu akun khas daerah di tulisan sebelumnya, betapa si akun ini cukup mewakili ciri suatu daerah, mulai dari bahasa sampai konten yang dibicarakan. Sebut saja akun @NgomongNgapak. Usut punya usut, pernah dicurigai bahwa admin akun ini adalah mahasiswa Jogja—hanya dugaan, belum ada pembuktian. Hmm, akun ini sangat menarik perhatian gw karena—selain gw orang Tegal—cukup mengingatkan gw akan hal-hal yang sebenarnya rasis banget *maap ye, kali ini gw kedaerahan* dan membuat gw bangga sebangga-bangganya-bangga. Huahahaha. Nggak nyangka aja kalo banyak sesuatu yang bikin gw merasa lebih ‘hidup’.

Sebelumnya, gw juga pernah tau kalo ada akun @SupirPete2. Oke, gw akui kalo yang ini, gw tau dari akun Odhe. Hehehe, halo Odhe! Apa kabar? *cuih, basa-basi* akun ini berbau Makassar punya, bok. Jadi, kalo lo nggak paham bahasa Makassar, ya nggak akan tau si akun ini ngomongin apaan. Misalnya, akun ini ngetweet tentang mainan-mainan zaman dulu yang bikin inget masa kecil orang-orang Makassar, dan bikin ngakak geli sendiri. Lah kita? Kagak tau ngapa-ngapa kan?! Hahaha, itu dia uniknya. *belah mananya???* uniknya tersirat, nggak bisa dibaca sama orang sembarang.

Pagi ini, di linimasa gw ada akun @AsliSemarang, hasil retweet dari Yoyo. Pas gw buka, dan liat tweet-tweetnya, subhanallah banget. Langsung ngakak sengakak-ngakaknya deh. Meskipun dialeknya lain dari dialek Tegal, gw tau si akun ini konteksnya lagi membahas apa, menyindir siapa, dan mencoba untuk membuat pembaca merasa bagaimana. Halah, rempong ya, ne. Bahasa Jawa, meskipun dialek-dialeknya berbeda, gramatika stilistika yang digunakan masih dalam lingkup yang sepaham. Gitu.

Setelah gw temukan akun-akun ini, dan analisis sederhana gw, juga pikiran-pikiran aneh yang sempet terlintas, seru juga lho kalo ada penelitian yang membahas tentang hubungan akun dengan followersnya, kemudian dianalisis dengan teori stilistika. Sedddaaaaap! Sok atuh lah, saha yang mau? Bisa stilistika, semiotika budaya juga bisa. Monggo! *yak! Benar! sebenernya tujuan gw adalah menawarkan topik skripsi anak-anak yang berminat di Ilmu Linguistik* nggak kok, sumpeh deh, nggak ada maksud. But, if you want to get the one, boleh kok. 
:)

NB: Tapi ya, aseli, ini seru! Gw serius. 

3.3.12

Tepat Waktu, Perlu?

Bagaimana menurut sang waktu?

Begitu liat judulnya, pada punya jawaban apa? Jawabnya dari hati ya :)
Yakinlah, setiap jawaban punya latar belakang yang cukup prinsipil. Like me.
Bukan benar/salah, di FIB nggak diajarin ilmu itu. *rasis fakultas, maap*
Justru hidup jangan terlampau pusing dengan kebenaran, lama-lama bosan, lalu pingsan.

Hakikatnya, alasanlah yang mengajarkan kita untuk lebih bijak bertutur kata, dan bertegur sapa dengan pelajaran—yang mungkin masih akrab dengan kekhilafan.

Bagi gw, ada toleransi-toleransi yang cukup dibatasi oleh egoisisme yang memang manusiawi. Namun, seperti halnya gw—yang gampang pasang muka kesel kalo ada sesuatu yang belum sreg—hanya bisa mendera diri dan nurani untuk selalu memaafkan kekhilafan-kekhilafan yang terlalu banyak diulang, meskipun orang-orang ini teman dekat seperjuangan. Bukan, bukan menyalahkan atau menyesalkan sedikit keterlambatan, melainkan soal belajar menghargai hal-hal yang ‘ternyata krusial’. Sadar atau belum, beginilah realita yang masih kurang ‘terdengar’ umum.

Gw pribadi nggak berharap muluk dan/apalagi banyak. Hanya ingin membiasakan yang baik bagi hidup. Kasihan kalau seterusnya—entah sampai kapan—badan belum pernah merasakan tabungan kebaikan. Jadi, sudahkah menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan?

Morfinis

Meskipun ini hari Sabtu, niatan mengunjungi perpustakaan tetap teguh. Sadis! Maklum, mahasiswa tingkat akhir. Begitu pukul 09.00, langsung menuju lantai 3, tau dong itu bagian apa? hahaha. That’s right! Sampai di meja favorit, buka referensi, lembar demi lembar, kalimat demi kalimat diselami. Kebetulan gw duduk di deket tempat fotokopian tesis, dan mas mas nya sempet setel lagu-lagu hits Indonesia dan Barat zaman agak dahulu. Lengkap banget nikmatnya. Hingga jarum arloji menunjukkan pukul 11.30, nggak kerasa. Huh! Napas dulu ah. Buka twitter. Nulis status. Tinggalin.

Nerusin baca buku, beberapa menit kemudian, buka twitter lagi. Daaaaan.. speechless!
Tuhan ngirimin morfin secepat ini. Gawat! Kembali ke laptop ah!

Sampai detik jemari gw nempel lagi di papan tik malam ini, masih berasa morfinnya. Tuhan sayang banget ya, sama umatnya. Siapa pun, kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun. Terima kasih untuk morfin dariMu tadi pagi. Masih kutunggu morfin-morfin lain di hari-hari berikutnya.

NB: “halo, pemberi morfin. Please, jangan GR ya! :P”

Sesimpel Bahagia

Dear Mimin,
Hari ini ingin berbagi bahagia. Menurut saya, kenikmatan batin itu sebagai berikut:


  • Setiap mau berangkat kuliah, pas lagi ngiket tali sepatu di depan pintu kosan, ada anak si Mbak yang selalu teriak: “Kakaaaak, aku mau salim dulu dong..” namanya Uwi, sekitar 3 tahun usianya. Kalo jarak duduk gw dan Uwi sekitar tujuh meter, dia bela-belain lari menuju arah gw. So sweet. Bikin inget adik gw di rumah.
  • Begadang ngerjain sesuatu, begitu bangun, pukul 4.00 dalam keadaan segar, dan bangun tanpa harus di-alarm.
  • Bangun-bangun, ada beberapa sms masuk, minta dikirimin pulsa.
  • Kenikmatan yang lain, hanya boleh diketahui oleh rusuk kiri, demi perasaan rusuk kanan :)))

1.3.12

Esmosi


Halo,
Kalian lagi di mana sekarang? Sebenarnya, ini proyek kita bersama atau proyek gw sih?
Sangat tidak acuh, hanya meninggalkan beberapa tulisan—yang sangat tidak ilmiah, dan sangat subjektif—juga beberapa pesan yang sangat membosankan.
Gw rasa ini udah pada puncaknya kalian bikin gw migrain berkali-kali lipat. Masih belum sadar juga jangan-jangan? Istighfar ya!

Gw memang militan, jadi tolong jangan salahkan gw, jika gw menuntut hasil yang perfeksionis. Dari awal, bahkan jauh sebelum ini, gw udah memikirkan segala risiko yang ada. Nggak gampang. Karena proyek ini ada di prioritas pertama gw, jadi apa pun akan gw lakukan demi kesempurnaan hasil karya kita. Hubungan teman, rekan kerja, harus bisa dibedakan. Meskipun manusianya sama, harus sadar diri anda sedang berada di zona yang mana.

Gw udah keburu terlalu tawakkal kayaknya. Udah dulu ya, selamat malam.
:)

NB: egois itu perlu, tapi kalau terlalu dominan, rekan sendiri lho yang jadi korban. Sekian.
Pesan spesial buat Impian: aku selalu bersamamu, bagaimana pun pahit prosesnya.

28.2.12

Mahasiswa Arkeologi

Judulnya ‘mengundang’ banget ya?! *untuk beberapa orang mungkin bakal, uhuk! Udah ah*
Bukan gebetan gw kok, apalagi konsep-konsep ‘dirty’ yg lain. Tenang, ini bukan soal percintaan, perasmaraan, apalagi pernikahan. Huhuhu. Cus!

Beberapa hari lalu, gw dengan sengaja bikin janji ketemuan dengan salah satu teman gw jurusan Arkeologi, sebut saja Bejo. Gw rasa orangnya nggak akan marah kalo liat tulisan ini karena doi gw sebut sebagai Bejo di sini. Hal ini semata-mata hanya untuk menjaga privasi dia dari oknum-oknum penjahat asmara atau yang biasa gw sebut dengan penjajah cinta, huahaha. Ada yang tergolong kaum penjajah cinta di sini? *ngacung nih gw* dih dih ngaku sendiri, PD bener.

Meskipun hanya beberapa menit, pertemuan ini cukup berkualitas. Gw puas dengan si Bejo yang ramah melayani gw *eh tolong, puhlease, hilangkan pikiran-pikiran dirty ya, tuips, #cipokbasahdarimimin* pokoknya Bejo baik banget sampe mau mengajari gw bagaimana cara yang benar dan harus ngapain dulu sebelum gw melakukan itu. Ciee, ada yang penasaran nggak, gw dan Bejo sebenernya lagi ngapain? *sok iya banget ya gw?!* maaf kalau menyungging pembaca, menggengges penikmat, dan merusak pikiran. Becanda, namanya juga komik, iye nggak?! Yuk mari, lanjut!

Tepatnya, gw banyak banget tanya ke Bejo tentang bagaimana langkah merawat temuan purbakala, lalu sampe tahap apa sih sebuah temuan purbakala dapat kita sebut sebagai situs? Lalu, apakah semua benda purbakala yang ditemukan oleh Arkeolog dan/atau orang biasa dapat dimuseumkan dan dapat dijadikan wisata edukatif? Kemudian Bejo menjelaskan panjang lebar, menunjukkan ke gw artikel-artikel dalam bentuk pdf terkait permasalahan tersebut. Dari mulai penelitian yang file-nya boleh dikopi, hingga file yang memang nggak boleh dibagikan ke siapa pun. Ih wow banget ya, *pikir gw* berkali-kali gw melontarkan kata “Oh gitu toh”/”WAW..”/”yasalaaam”/”innalillahi”, yang terakhir kayaknya kurang pas deh. Mungkin kalo untuk Adek Dinosaurus yang metong, sama Om Homo-homo itu yang metong pas zaman Plestosen mah, sok aja.

Gw berasa lagi bener-bener belajar dan memahami jurusan lain. Meskipun hanya sekadar mengetahui istilah-istilah dan terjawabnya inti masalah yang gw perlukan, tetep aja sangat awesome buat gw. Mengapa? Menurut gw itu seru banget! Bikin orang penasaran lebih lanjut. Setelah itu, gw pun minta tolong Bejo untuk ngenalin gw dengan salah satu dosen Arkeologi yang kira-kira bisa bantu gw di penelitian ini. Bahkan ya, setelah sesi ketemuan sama Bejo waktu itu, gw buru-buru melengos ke Perpus Pusat, ke tempat bagian Skripsi, lalu ngubek-ngubek rak Arkeologi. Huaaaa.. seru banget! Gw niat banget sampe segininya ya, kenapa nih? Ada apa dengan gw? Gw ambil beberapa sampel skripsi, gw baca, lalu gw catat hal-hal yang menurut gw cukup membuat pikiran gw lebaran dikit dari sebelumnya, dapet beberapa pencerahan barulah istilahnya. Alhamdulillah, sesuatu banget.

Hmm, seminggu ini gw bakal berurusan dan menjalin hubungan intim dengan Arkeologi, makanya gw harus membekali otak gw secara utuh dengan bidang itu supaya ‘nggak bego-bego amat’ kalo pas ditanya. Btw, ada awkward moment saat itu. Pas gw lagi ngubek-ngubek, nundukin kepala buat baca judulnya yang tersusun miring, sampe ngeglesor di lantai gara-gara nyari yang di bagian bawah, seketika ada temen sejurusan angkatan 2008 yang nyenggol gw—kebetulan posisi rak skripsi Sastra Indonesia dan Arkeologi berhadapan, jadi kami saling tersenggol dari belakang, halah, bahasanya! Sebut saja, Anggrek, doi noleh ke arah gw, lalu mengerutkan dahi, agak melototin kedua matanya, hingga akhirnya keluar juga itu kata dari mulutnya: “Dha??” *penuh makna* Gw: (senyum beberapa senti agak maksa dan bingung). “Gw lagi nyari bahan penunjang, hehe..”, Anggrek: “Yakin lo? Kok di situ sih?” lalu gw meluncurkan senjata keambiguitasan gw dalam menjawab. Hahaha. Syukurlah, doi mengerti. Trus udah? Gitu aja? Segampang itu? Se-antiklimaks itu kronologinya?

Lo pengen tau banget banget banget banget ya emang? Nanti ya, kali lain bakal gw ulas kalo udah ada yang ‘seru banget’ lagi. Hihihi, dadaaaaah. Trimikici ya, Bejo.

27.2.12

Stand Up UI


Girang banget!

Beberapa hari lalu, entah oleh sebab apa—lupa—gw menemukan akun @Standup_UI di linimasa gw. Begitu liat, kaget, seneng, sumringah, dan benar-benar kelu. Ah! Dunia! Bisa banget kejutannya. Saat gw menemukan akun ini, tanpa basa-basi langsung gw follow. Gw kontak narahubungnya, lalu mulailah kami bercakap-cakap. Tau lah ya arahnya ke mana? Huahahaha *becanda*.

Gw—yang memang Alhamdulillah diberi keahlian pandai ber-SKSD sama orang yang baru dikenal—langsung lancar-lancar aja ngobrol sama doi via pesan singkat. Mulai dari tanya-tanya yang serius hingga bercanda sampai level awal. untungnya baru level awal dan gw belum berniat menggali candaan lebih dalam. Hahaha. Nantilah, ada masanya pasti, iye nggak?

Well, jujur sejujur-jujurnya jujur, gw sempet iri sama kampus sebelah (#nomention) karena di sana sudah sangat eksis dan jauh lebih awal memulai komunitas tersebut. Bahkan, beberapa hari yang lalu baru saja mengadakan acara yang YOI BANGET! *gw nggak ke sana sih ya, tapi dilihat dari tweet report, rame bener, dan penuh ungkapan-ungkapan bahagia*. Sabodo teuing, pokoknya gw iri banget, aseli!

Dulu, pas gw tau kalo di mana-mana lagi IN banget, sempet mau inisiatif bikin akun itu, tapi khawatir udah ada yang bikin, cuma gwnya aja yang belum tau. Selain itu, ada beberapa alasan juga yang akhirnya mengurungkan niat gw itu. Alhasil, pas hari manis Februari lalu, terbentuklah akun tercinta tersebut di atas. Alhamdulillah, Allah mendengar kegelisahan gw. Selasa minggu lalu, gw sempet dateng ke acara #openmic nya @StandUpIndoDPK di Zoe Café, berharap ketemu si Admin, tapi ternyata belum jodoh, doi malah hadir di #openmic @StandUpIndo_Jakut. Err banget. Udah diniatin banget, malah nggak ketemu. Kadang emang nggak usah diniatin biar ketemu, kayak jodoh. Lalala~hoeks. Besok malem ada lagi, dan kali ini si Admin ngumumin kalo besok sekalian kumpul perdana anggota @StandUp_UI, huaaaa! Harus seneng apa gimana ya?! PD JRENG banget kalo ke sana seorang diri, ucuk-ucuk dateng, dan tiba-tiba “Haaaai guys! Gw Idha, anggota juga..” (Maaf Mbak, siapa ya??! *pulang wae atuuuh, pulaaaang, pulang ke Tegal sekalian*) apalagi ada kejadian-kejadian yang itu sebelumnya. Aseli, nggak seberani itu dateng sendirian.

Doakan aja ya tuips, nanti kalo memang udah jalannya untuk ke sana, insya Allah ada aja petunjuknya, hehehe :)

25.2.12

Absurditas Rasa


sedari pagi, subuh sengaja tak kusalami
biasanya aku hanya komatkamit baca mantra Tuhan
tumben-tumbenan, sore tadi, senja juga tak kupamiti.
: agak bosan.

lalu, mendadak haru saat kausebut ingin menjemput ujung sudutku
bukan, bukan untuk sekadar membuat lapang dada
justru aku mulai merasa sesak.
: agak tak enak.

lama-lama, aku terjaga dalam gila di tubuhku
pelan-pelan sadar.
namun, cuma ada atmosfer rasa, sedikit demi sedikit tiada.
: (mungkin belum terbiasa).  

Belum Serius?


Kapan kamu serius?

Halo, Ers.
Beberapa hari lalu, tercetus dari mulutmu bahwa kamu tidak seserius itu. Baiklah, terima kasih atas waktumu, berjam-jam meladeni orang yang mungkin—untukmu—terlalu serius. Aku memang terkenal serius sejak masih berkeliaran di kampung lahirku dulu. Entahlah sekarang, mungkin berbeda atau masih sama?

Kalo kata Om Salam Super “Why so serious?”, tapi mbok sekali waktu ya serius itu perlu lho. Manusia masih terlampau sensitif sama perasaannya, apalagi perempuan. Tau kan?

Mengelabui hati demi gengsi, ini juga termasuk perbuatan syaitan, sama saja dengan membohongi diri sendiri. Lebih pedih memang, tapi sesaat doang, sisanya terbayang-bayang. Gawat kan?
                                                                                                                             

Mau Sepeda!


Bismillah,

Haihow tuips, apa kabar? *basi banget, sumpah* ya abis gimana? Haha.
Btw, hasrat gw sedang menggebu-gebu, pengin banget naik sepeda ke mana-mana.
Seru kali ya, kalo week end sepedaan bareng. Ngampus pake sepeda, ke kosan temen genjot sepeda, dan ke tempat-tempat lain yang bisa dijangkau dengan sepeda.

Sebenernya bisa-bisa aja TEGAL-DEPOK naik sepeda, tapi ya, butuh keberanian lebih aja. Inget kan tentang peristiwa Jalal yang naik sepeda dari PATI-DEPOK? Itu ih wow masya Allah banget!
Kan UI udah ada sepeda kuning? Gampanglah, tinggal milih doang, mau yang mana!
Milih wadukmu! Justru butuhnya di jam-jam yang lebih pagi dan lebih malam, makanya ini alasan yang cukup kuat, yang bikin pengin beli. Doakan saja, sedang dalam proses pemanjatan doa dan pengumpulan dana. Hihihi, aamiin. Kalo udah dijodohkan sama sepeda, insya Allah ada aja jalannya nanti kok.

Dari mulai tanya temen, googling, searching, and hunting, finally connecting my mother to ask about it. Meskipun udah gede, tetep aja segalanya harus berawal dari restu orangtua. Iye nggak?

Mengapa sepeda? Bukan iP*d, iP*d, Blackb**ry, atau SL* yang sedang ngetren saat ini? Gw nggak bisa jawab pertanyaan ini. Terlanjur cinta. Susah buat ngomong alasannya, karena kalo gw pake alasan, saat alasan gw ini udah bukan ‘alasan’ suatu hari nanti, cinta gw pada sepeda bukan dari hati, tapi karena ‘alasan’. Aiiih.. *apaan sih?*

Banyak keuntungannya: ramah lingkungan, sehat—bisa membakar kalori, irit, dan bisa sembari mencium udara setiap musim, juga menyelisik tiap sudut kehidupan. Hahaha, liris amat ya. Kalo kata Ibu gw: “Kowe iki wis semester akhir, mbok tembe njaluk tur kepengin piye? Dudu awit ndisit kuliah mlebu toh, Nduk?” cinta, siapa yang menduga, Bu? :)))))

Dua Dunia dalam Satu Kehidupan

Sastra anak dan sastra dewasa. Dua jenis ruang lingkup di dunia nyata yang mutlak akan dialami oleh seorang manusia dalam fase hidupnya. Tidak dapat dimungkiri bahwa keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat karena saling memengaruhi satu sama lain. Hal ini menjadi sorotan mendasar yang harus diperhatikan ketika kedua fase ini dicitrakan ke dalam bentuk bacaan. Karakteristik umum atau kategori pengelompokan karya sastra biasanya dibagi berdasarkan bentuk dan isi suguhan. Pemahaman semacam ini dapat kita ketahui setelah mengenali genre setiap karya yang dihasilkan.

Perbedaan yang sangat mendasar: bentuk dan isi. Pada sastra anak biasanya ditemukan tampilan yang sederhana, permainan warna-warna cerah yang mendominasi, diksi yang tidak terlalu rumit, konflik yang ringan—tidak kompleks—juga penyelesaian kegelisahan diri sendiri yang dapat dengan mudah diatasi. Berbeda halnya dengan sastra dewasa. Ditilik dari bentuk dan isinya, sastra dewasa menggunakan bahasa yang agak rumit, juga konflik yang sangat kompleks. Kedua hal inilah yang memicu semakin dalamnya proses penyelesaian konflik yang harus dipecahkan oleh tokoh dalam karya sastra dewasa.

Pada hakikatnya, elemen-elemen yang telah ada pada setiap genre karya sastra menimbulkan pelabelan sebagai pencitraan dua dunia dengan pemosisian latar usia yang berbeda. Namun, di antara beberapa perbedaan tersebut, ada elemen yang memiliki kesamaan sifat antara sastra anak dengan sastra dewasa, sisi yang sangat mendasar dalam kehidupan: kegelisahan tentang pemertahanan hidup, juga tentang kematian. Kedua hal ini akan selalu hadir dalam sebuah karya sebagai pembelajaran fase-fase kehidupan. 

23.2.12

Kita Bertemu Dingin, lalu Beku


Bolehkah aku mengirim beberapa larik lirik untukmu malam ini? Sekadar menepis benih-benih rindu yang mulai tumbuh tak beruang. Sederhana, sayang aja kalau terbuang. Mungkin kamu sudah memulai pengembaraan alam maya yang lain—yang hanya dipunya kamu dan Tuhan. Kalau nanti kamu tak sengaja menemuiku di persimpangan, aku tak mengharapkan disapa, apalagi dipanggil dengan nama. Cukup dengan melirik sedetik, setelah itu simpan saja dalam-dalam. Asalkan selalu ingat, di mana dulu rekaman itu kamu kenang.

aku membeku dalam dingin tanpa kabut,
sementara kau hanya bersitatap menghampiri pekat.

meski gemetar, aku lantas menulis sebongkah namamu lembar demi lembar.
dari jauh, kau hanya sesekali mencuri pendaran-pendaran aura tanpa harus kaubayar.
lihat! Betapa riuhnya ketukan-ketukan kecil yang kita hadirkan saat itu,
sayangnya, kita tak saling tahu.
mungkin lebih baik kalau kita tunggu,
semoga masih keburu.   
…. …. ….

                                                                                                                                : telah sampai di ujung Februari

20.2.12

Dahsyatnya Media Sosial


Selamat malam,

Malam ini gw akan berbagi uang, hahaha. Aamiin, kapan-kapan yak!
Gw akan membagi cerita nyata ini ke teman-teman. Kali ini tentang media sosial. Yuhuuu! Salah satu tren yang sedang digemari khalayak, dari yang muda sampai yang berusaha muda :P

Jadi begini, beberapa tahun lalu, kalo kita sempet denger info atau woro-woro yang sedang hebring tentang #KoinCintaBilqis, yaitu sebuah gerakan pengumpulan donasi untuk Bilqis. Waktu itu, masih menggunakan facebook karena twitter belum seramai sekarang—yang kayak pasar klewer, tiap detik ada aja pelanggannya. Usut punya usut, si Alanda Kariza (Ryan’s girlfriend), juga pernah menulis di blognya tentang Ibunya yang terkena sebuah kasus berat. Kalo ingin lebih lengkap, bisa baca blog Alanda di sini, atau blog  Cune, doi juga pernah mengulas soal ini.

Anyway, gw nggak akan membahas kasus tersebut. Hakikatnya, yang akan gw bagi adalah pengalaman gw sendiri yang merasakan ‘betapa mahadahsyatnya media sosial itu’. Dulu, pas awal semester sempet ada mahasiswa baru yang bernama Jalal. Doi diterima di Sejarah UI 2011, dan bernadzar akan gowes dari Pati—Depok, gilaaaa! Gilaaaa banget! Kemudian, ada sebuah komunitas yang berinisiatif untuk menjemput Jalal di TMII, dan gowes bareng sampai UI. Akhirnya, dibikinlah itu tagar #GowesBarengJalal. Saat itu gw memutuskan untuk ikutan. Daaaaan, seru banget aseli! Meskipun nggak rame-rame amat ya yang ikut, tapi suasana dan warm-nya itu yang bikin unmemorable. Kopi darat memang dahsyaaat!

Nah, tanggal 18 Februari lalu, gw berencana nonton KOPER di GBB-TIM bersama 3 temen gw (Jo, Dedep, dan Uswah). Namun, di saat kereta menuju Jakarta Kota lima menit lagi lewat, Uswah bilang kalo dia lupa banget udah bikin janji sama temen-temen kosnya—yang entah kenapa nggak bisa banget doi tinggal. Kalo doi tetep nonton KOPER, doi pasti nggak tenang hidupnya, meskipun di GBB bisa ketawa-ketawa setan sampai jungkir balik. Lebih ke tanggung jawab moral pertemanan lah, tau kan? betapa lebih pentingnya teman-teman dibanding apa pun yang lo cinta?! Makanya, tersisalah satu tiket VIP seharga 100.000 perak yang kosong. Ngelos banget tuh gw sama Uswah. Gimana enggak? Seratus rebu, buat ukuran mahasiswa mah sangat berarti kali. Uswah dan gw berusaha nelpon-nelpon temen yang kira-kira ‘murah’ diajak begituan. *kesannya kayak apa gitu ya!*

Sampai pada akhirnya gw dan 2 temen gw udah yuk dada babay sama Uswah, dan berpisah di kereta, itu tiket masih belum terjual juga. Btw, selain sms dan nelponin temen-temen yang ada di daftar kontak—yang kira-kira mau—gw juga ngiklan lewat twitter. Sempet agak lama belum ada respon. Bahkan, Uswah udah bilang kalo nggak usah diganti uangnya. Namun, gw pantang menyerah dan putus asa, masih semangat untuk meraih piala. *ih, apa deh ini?!* gw ngetwit beberapa kali, dan alhamdulillah di RT sama temen-temen *sok ngartis abis*, setelah kami bertiga sampai di Cikini, ada sesuatu yang cukup ajaib. Salah satu tweeper merespon twit ngiklan gw, dia bilang kalo mau banget tiketnya. Doi saat itu udah di TIM. Wow! Siapa pula ini? Bukan follower gw, juga bukan orang yang gw follow. Hmm, bertekad pada kepercayaan, gw pun membalas dengan memberi nomor ponsel gw, kemudian mengisyaratkan agar doi segera menelepon gw.

Setelah gw sampai GBB, dan ngantre tiket, getaran-getaran dahsyat itu tiba-tiba terasa, ahahahaa, *ceritanya drama ini* Nomor tak dikenal, gw angkat. Saling sapa, tanya-tanya, hingga akhirnya kami sama-sama memutar mata untuk mengetahui keberadaan kita. Setelah bertemu mata, kami saling melambaikan tangan, hahaha. Ternyata si doi, yang tadi di twitter bales twit gw. Daaan, dia langsung nyodorin seratus ribuannya, huehehehe. Sadis! Entah mengapa, gw sumringah banget ketemu orangnya. Serasa ‘plong’ dan pengin ngucapin milyaran terima kasih. Ini nggak lebay ya, menurut gw ini hal yang cukup wajar karena modalnya cukup dengan kepercayaan. Suatu saat nanti, kalo udah merasakan sendiri, pasti merasa itu ‘awesome’ banget deh!

Hmm, rezeki itu nggak ke mana kalo kita mau usaha, emang bener itu, jangan ditelan mentah-mentah dan asal iya-iya aja. Saat kita nggak berharap apa-apa dan sama sekali nggak berharap lebih, nyatanya ada aja ‘tambahan tak terduganya’. Itulah hidup. Bukan, lebih tepatnya sepersekian persen dari hidup. Indah ya :)))) 

Ada Hawa Lain


Bismillah,

Oke, kali ini gw harus merapel beberapa hari yang sengaja-nggak-sengaja gw lewati sebegitu hambarnya hambar. Maaf ya, Min :|

Akhir-akhir ini, seperti ada sesuatu dalam diri gw yang bukan hawa gw *nah, loh?!* dia terus-menerus memeluk erat sisi dan sudut yang ada dalam tubuh gw secara posesif. Halah! Haha. Aneh banget, tapi kenyataannya ya begitu adanya. Jadi, selama ini telah genap delapan hari ada hawa lain yang merasuk masuk diam-diam tanpa salam.

Jujur, hal semacam ini membuat gw sangat nggak nyaman, sangat terganggu, dan benar-benar menyebar virus negative dengan mulus. Ah! Baiklah, beberapa hari ini anggap aja gw mengalah. Mengalah ya, bukan kalah *nggak mau rugi*. Maka dari itu, hari ini, mala mini, detik ini, gw akan berubah menjadi salah satu geng power ranger warna ungu. Tunggu kedatangan gw ya, para penggemar power ranger! *apa sih, nggak mutu*

Kesimpulannya, saat lo merasakan hal yang sama kayak gw, tetaplah tenang, nikmati saja masa-masa resesi itu. Hurts, tapi nikmat. Maaf, kalo agak-agak gengges ya ini..
:D

Udah ah tuips, gw mau lanjut buang sampah dan buang penyakit di sini :)
Dadaaah, see you on others post, ya..

19.2.12

Senja Kiriman (2)

Tanggal 18 Februari lalu, kali kedua menerima kiriman senja:
Senja di Batas Kota dari dalam Kereta :))


cukup awesome lah ya kali ini, hihihi
terima kasih,
:)

12.2.12

Senja Kiriman :D

menurut si pengirim, katanya:
Senja yang tertutup awan


Hiakakakakak! Besok-besok aku juga mau ambil gambar senja: senja yang tertutup mendung, senja yang tertutup petang, senja yang belum muncul, sama senja terhalang genteng tetangga. 
:P

Ke Luar Negeri

Kamu pernah bilang: 
semoga kita bisa ke luar negeri bareng kapan-kapan

Lalu aku jawab: 
aamiin banget..

Kemudian sekarang, kamu masih ingat atau telah lupa tiba-tiba?

Memilih Pilihan


Sebuah pilihan bukan untuk dikorbankan,

tapi untuk dilanjutkan.

Mengapa? Karena eh karena, merusak pikiran.. 
(kalo itu tadi, liriknya Bang Haji Rhoma) :P
Mari kita kaji! *serem, terdengar berat pembahasannya* padahal ini adalah hal yang sangat dekat dengan manusia. Hampir setiap hari, setiap jam, menit, bahkan detik pun kadang-kadang jadi korban pemaksaan dari sebuah ‘pilihan’. Bisa juga, kita memilih satu di antara beberapa hanya karena gengsi semata. Pernah? Bersyukurlah jika sampai sekarang pilihannya punya ‘jiwa’ di dalamnya, tapi istighfarlah jika memang belum menemukan yang sebenarnya ‘dicinta’. Apa pun keyakinannya, doa tetap diselipkan di sela-sela kesibukan, ya.

Kita nggak akan pernah tau persis, akan seperti apa nantinya pilihan yang kita pilih itu. Berisiko? Tentu. Kalo ngutip kata-kata Cune “Selamat Mengangkasa”, memang lo tau, selama lo menuju angkasa akan ada apa aja? Tomorrow is mystery, dear. Kalo boleh gw bilang, proses menuju pilihan adalah saat kita harus ‘ready for win’ terhadap beberapa hal yang akan kita temui di depan. Baik yang sengaja, maupun tidak. Bahkan, hal-hal yang sebenarnya tidak kita harapkan untuk datang, harus tetap kita menangkan. Bagaimana caranya? Cuma diri sendiri aja yang tau, karena kita lah yang menyimpan senjatanya.

Belum lagi, ketika lo udah puyeng-sepuyeng-puyengnya puyeng memutuskan sebuah pilihan, eh, ada aja kontra. Mungkin kalo yang kontra itu temen agak jauh, atau temen-temen biasa, masih bisa diterima, tapi yang agak berat justru kontradiktif dari orangtua. Kebayang kan gimana migrainnya tiba-tiba datang? Hihi. Ridho Allah kan ridho orangtua juga, makanya di sinilah letak tantangannya. Di sini ujian tahap pertama. Bagaimana caranya kita menjelaskan ke mereka secara baik-baik, tanpa suara meninggi, tanpa nada yang lebih keras, tanpa dendam kesumat. Hiahahaha. Intinya ngangge unggah-ungguh lah sama orangtua.

Pilihan itu salah satu prinsip, sangat prinsipil bahkan untuk beberapa hal yang berpengaruh besar. Bagi orang-orang yang telah melewati seperlima abadnya, pasti tau bagaimana rasanya memperjuangkan ‘sesuatu’ demi keberlangsungan hidupnya, juga untuk keluarga ke depan—tentunya; dan untuk jangka waktu tertentu. Jadi, kuncinya adalah berani. Berani bertanggung jawab terhadap risiko-risiko, juga berani bersikap. Buang jauh-jauh si gengsi, kembali fokus pada apa yang kita cari. Hidup kita bukan milik siapa-siapa, apalagi milik orang-orang yang kontra. 

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...