18.1.12

Rekan Stalker, Apa Kabar? (2)

Halo rekan stalker,

Lo lagi di mana sih sekarang? Hmm, bukan, maksud gw seminggu terakhir ini di mana? Dua minggu lalu, sebenernya ada hal yang mau gw ceritakan ke lo, tapi karena kesalahan gw yang nggak sengaja gw lakukan, alhasil belum sempet deh sampai sekarang. Maaf ya..

Semoga di akhir nanti, lo nggak akan kecewa. Kecewa karena lo baru akan tau saat itu juga. So sorry, tapi ya gimana lagi? Pas gw hubungin waktu lalu, ada aja alasan yang membuat momen itu terlewat—lagi. Jadi, gw harap di antara kita nggak usah ada yang saling menyalahkan, ya..

Hmm, dua bulan lalu sebenernya hal ini mau gw sampaikan ke lo, tapi gw tau kalo lo sedang sangat-super-duper-sibuk-banget waktu itu. Jadi, gw memutuskan untuk menunda sampai entah kapan, yang pasti di saat waktunya tepat. Mungkin selama ini belum tepat kali ya, makanya Tuhan menggagalkan momen-momen itu, biar terlewatkan begitu saja.

Eh, sebentar. Baik sangka gw adalah: lo membiarkan gw fokus pada satu hal yang menurut kita sama-sama lebih penting dari apa pun. Di sisi lain, namanya manusia, pasti punya buruk sangka: lupa ya, kalo lo harus memberi beberapa kalori untuk mengisi energi gw setiap hari menjelang.. hmm, yaa menjelang itu. Atau, jangan-jangan lo—diam-diam—ternyata udah tau lebih dulu tentang hal yang mau gw sampaikan ini?

Oh, God! Please give me some drugs.. Gw pengin hilang ingatan tiba-tiba. Supaya pas ketemu lo, dan kalo nanti terjadi hal-hal yang sama sekali nggak gw inginkan, gw bisa tenang, aman, tanpa tuntutan. Tidak! Itu namanya lari dari kenyataan. Baiklah, apa pun yang terjadi nanti, semoga everythings gonna be ok!

Sampai jumpa,

17.1.12

Love at The First Show

Halo Sasina, 

Mudah-mudahan kita masih sempat bercengkerama di tahun-tahun akhir gw ini. Ah! Mungkin gw egois mencampakkan lo dua tahun lalu, maaf. Kalau boleh membela diri, hal tersulit dalam hidup adalah memilih. Terdengar sederhana sebenarnya: hanya memilih, apa sulitnya? Memilih satu di antara dua yang menurut gw sama-sama berharga. Setiap pilihan mempunyai ‘kenyamanan’ masing-masing sesuai dengan penyajian yang nantinya disuguhkan. 

Love at the first show, I mean.. 
Hmm, ada yang bilang ‘kalau cinta tak harus memiliki’. Dulu, gw sama sekali menganggap kalau itu hanya angin lalu, shit lah! Gimana caranya, lo cinta, tapi tanpa memiliki? Gw percaya bahwa karma semacam ini hanya akan terjadi di sinetron, telenovela, dan drama-drama romantis korea. Bagaimana dengan dunia nyata? Kalau Tuhan menjodohkan, pasti akan dipertemukan suatu saat nanti, meskipun harus—terpaksa—dipisahkan terlebih dahulu untuk sementara waktu. 

2008—2010, Tuhan menakdirkan kita berjarak, membiarkan kita saling memupuk rindu di tahun-tahun itu. Betapa romantisnya ya, Pencipta kita. Lalu, setelah tumpukan rindu hampir tumpah, Tuhan lantas mempersilakan kita untuk saling berdampingan di 2011. Bahkan, hingga tulisan ini gw buat. Kita masih duduk bersama: memuja cinta di antara nada.

Terima kasih, lo hadir di saat gw mengidamkan kehangatan sebuah keluarga, juga saat gw butuh dekapan erat dari ‘sesuatu’ seperti lo. Gw sangat beruntung, masih sempat mengenal lo sedekat sekarang. Kalau ada kata yang lebih dari ‘alhamdulillah’, pasti akan gw ucapkan begitu kita dipertemukan. Sungguh! Terima kasih karena lo bukan pembalas dendam kesumat atas apa yang pernah gw lakukan sebelum ini. 

Gw hampir lupa, ternyata saat ini 2012. Biasanya, empat tahun adalah waktu yang diidam-idamkan sebagian orangtua, sebagai tahun kelulusan putra/putrinya. Mengapa? Karena—kadang-kadang—putra/putrinya malah menginginkan masa hidup yang lebih lama. Sebut saja gw, salah satu contoh oknum yang berpikir demikian. 

Siapa sih yang menginginkan berpisah dengan keluarga? Memangnya ada ya, orang yang dengan cuma-cuma rela meninggalkan hanya demi sesuatu yang cukup prinsipiil—dalam keadaan masih cinta? Yaa, mungkin ada sih, satu atau dua, sisanya pergi dengan usaha keras mem-brain wash otaknya sendiri agar ‘rela’; berusaha memunculkan alasan-alasan manis yang masuk akal. Ya, okelah..

Di tahun terakhir gw ini—(sembari menghela napas)―gw hanya bisa menemani seperti biasa, bercengkerama dengan orang-orang di lingkaran kita, dan tetap menjalin kasih lewat nada. Oh iya, gw juga tak jarang menyelipkan isyarat doa, semoga album kita segera berjaya, dan pecinta setia Sasina selalu menghadirkan kita di sela-sela simfoni hidupnya.

Mudah-mudahan kali ini Tuhan memisahkan kita dalam keadaan yang sama-sama ‘siap untuk ditinggal-dan meninggalkan’. Supaya kita lega jiwa raga. Baiklah, lebih baik gw sudahi saja, gw tak ingin berlama-lama bercerita hingga air mata berhasil menundukkan sisi melancholia kita. 

Sampai bertemu di 16 dan 17 Februari, ya, Sasina :) 


had a glass to much love of Sasina, 
IDHA
untuk @sasina_

16.1.12

Buat Entong


Kangen Entooong,

Entong, ini aku. Sudah sampai planet mana sekarang? Ah, serunya berkelana. Nomor ponselmu masih kusimpan. Hmm, rasanya tak perlu mengirim pesan singkat untuk tau kamu di mana, dengan siapa, dan sedang apa. Cukup dengan hening beberapa saat, lalu mencoba menurunkan kelopak hingga kedua bulu mataku saling mengatup. Kemudian meng-call back lintasan saraf otak, mencoba membangkitkan neuron-neuron yang masih menyimpan beberapa agenda kita di tahun 2009, juga di separuh 2010. Pun tentang ihwal ini, aku yakin, kamu bukan penderita ‘ingatan jangka pendek’.

Bagi perempuan lain yang mungkin senasib denganku, rasanya kadang kurang adil memang. Saat aku tau bahwa kamu telah memiliki kekasih, rasanya mirip tersentak jarum kecil. Tetap sakit, meski hanya sedikit. Ah, terlalu klasik sih ya, kalau usia bukan parameter dewasa, tapi aku—dulu—pernah berjanji dengan diri sendiri, bahwa bila saatnya tiba, aku harus menemukan pendamping hidup dengan rentang usia dua atau tiga tahun lebih tua. Namun, sepertinya karma memenangkan peperangan atas ego di episode tahun itu.

Oh iya, Tong.. ’jangan harap aku angkat tangan, lalu menyerah, kemudian sandiwara ini usai’. Satu setengah tahun menurutku cukup untuk tau ‘betapa bocahnya kamu’. Eh, maaf ya, selalu telat balas smsmu, bukan terabaikan, tapi karena detak jarum jam selalu mengambil alih atas kumpulan detik yang kupunya. Fuh.. jangan khawatir, aku punya jurus andalan untuk bisa kembali melihat rekahan senyummu saat kita bertemu. Ah, apa kubilang, kamu luluh! Aku menang! Kamu kalah, hahaha.

Ngomong-ngomong, terima kasih ya Tong, masih mau dekat denganku, meskipun kamu—katanya—punya kekasih. You know? I’m on comfortable zone, for now—aku tak akan bertanya, ‘and for tomorrow?’, biar saja. Jika nanti tiba takdirnya untuk berpisah, semoga kamu rela—dan aku juga, tentunya.

Hmm, Kamis pagi itu, aku meneleponmu, kenapa sih nggak diangkat? Ah, kamu di mana?

Beberapa saat kemudian, aku menarik napas panjang dan memutuskan meninggalkan kelas seharian setelah menerima telepon dari orang tak dikenal. Anehnya, dia telepon dengan ponselmu. Selama perjalanan, aku komat-kamit baca ayat Tuhan, menyamarkan agar tetap terlihat tegar. Segala sms yang masuk ke ponsel, sengaja kuabaikan, demi kamu. Tanpa sadar, sampailah aku di sebuah bangunan putih-putih, penuh dengan orang-orang berbaju seperti petugas kesehatan. Ya, aku belum sempat melihatmu waktu itu. Lalu, tiba-tiba tanpa penjelasan apa pun, orang-orang itu langsung membawamu keluar, katanya biar di autopsi di rumah sakit lain. Dalam hati: “Petugas sinting! Buat apa coba, orang masih hidup pake di autopsi segala?”.  

Somebody please tell me kalau kamu masih hidup! Dan anehnya, pas aku tanya petugas ‘kamu dibawa ke mana’, aku justru disuruh ke kamar jenazah. Damn! Setelah aku sampai di depan pintu, Oh My God! Kenapa kamu bersimbah darah? Kamu diapain sih sama petugas radiologi ini, sampai nggak bangun begitu?

Tadinya aku mikir kalau ini lagi syuting sinetron, tapi ternyata Sutradaranya masih belum nge-cut scene itu sampai sekarang. Ya Tuhan, ini ya, yang namanya kejutan? Hmm, terlalu berkesan. 

Aku masih nyimpen nomor ponselmu, Tong :) hihi. Maaf ya, aku hanya berani mencintaimu lewat surat. Semoga Tuhan selalu di sisimu. Salam buat malaikat-malaikat di sana, sampaikan kalau aku masih menunggu penggantimu. 

Sampai jumpa.

15.1.12

Rekan Stalker, Apa Kabar?


Halo rekan stalker seperjuangan!

Sudah sampai mana skill stalker anda? :D
Sepertinya cukup lama juga ya belum sempat battle nih, kita. Ya, KITA! (akika dan kawanua) *maksa ya.. kalo mau ketawa, saya persilakan! Tapi kalo mau muntah, jangan lupa bawa cateter*

Gw sangat rindu adu-gombal bersama lo. Really. Kali ini, gw tidak sedang dalam keadaan ‘gombal’ lho. Tulisan ini ditik secara sadar sesadar-sadarnya sadar, dan dalam keadaan tidak darurat *minimal nggak sedarurat rasa rindu gw sih*.

Terima kasih telah membuat gw bolak-balik Kota Kembang, ya.

Terima kasih telah sudi menemani gw Sabtu malam waktu itu—kali pertama kita ketemu, tapi mungkin bagi lo, itu kali kedua.. Mengapa demikian? *kalo masih lo ingat, kalo nggak, yaa nggak papa—nangis di kolong Jembatan Ancol*. 

Semoga Sabtu depan terulang, meskipun bukan di Kota Kembang :)

Rekan Intim Kampus Budaya, Jenni Anggita

Jujur, gw belum juga mendapatkan jawaban dari Tuhan atas pertanyaan “mengapa kita dipertemukan di semester akhir?”. 
Awal kuliah dulu, kita memang kenal, tapi ya hanya sekadar—mengenal teman sekelas—layaknya judul cerita di buku pelajaran anak-anak SD. Cuma saling tegur sapa, mengucap selamat pagi saat baru masuk kelas, selamat makan di Kansas, dan sampai jumpa saat jam pulang tiba. 
Ah! Betapa klisenya hidup kita di kampus budaya. Kalo kata Krisdayanti ‘menghitung hari, detik demi detik, masaku nanti apa kan ada’, semacam mempertanyakan hidup setelah fase ini.

Mungkin Tuhan punya tujuan lain mempertemukan kita di masa-masa akhir begini: sebenarnya gw sangat muak dengan alasan ini, sangat basi. Namun, gw pun tak mengelak apabila pernyataan ini mutlak. Semoga kita bisa saling bersyukur, ya.

Jari kita tidak akan cukup menghitung seberapa lama lorong waktu dan kekosongan-kekosongan ini telah kita lewati. Tugas ini kita beri saja kepada para penggila eksak, biar mereka yang menikmati angka-angka berjalan melingkar di lintasan sarafnya.  
Setuju? *tos gelas Es Tehnya Mas Agus* :D
Gw rasa, keintiman kita tidak perlu dipertanyakanlah, ya. Mungkin yang lebih cadas dipertanyakan adalah: kapan wisuda?kapan nikah? Err, ini juga ‘The Truly Klise’.

Jen, lo harus janji sama gw, kalo nanti kita berpisah, yang pisah hanya physically ya, bukan mentally. Raganya mah boleh ke mana-mana, tapi kalo untuk ‘ikatan partner-in-crime’ sebaliknya, sangat  diharamkan. Deal! Huh, gw tarik dan buang napas dulu ya sebentar..

Janjian ambil matakuliah, makan bareng, nugas bareng, noilet bareng, ngeceng bareng, naksir bareng, galau bareng, tinggal tidur sekasur aja nih yang belum pernah bareng. Apakah lo pernah merasa lelah menapaki klisenya kehidupan ini? Saat gw merasa demikian, lo adalah obatnya. Pabrik obat generik terkenal mana pun belum punya produk andal semacam ini, gw rasa. 
Untung gw bilang hal ini ke lo ya, yang udah kenal luar dalam dan pahit manisnya mulut gw, kalo gw bilang ke cowo, bisa mimisan kali itu anak *hmm, yang ini terlampau GR, I’m sorry my men ;p*

Nggak terasa ya Jen, teman-teman sehidup seperjuangan udah menyandang S. Hum. Mungkin mereka telah siap dengan ‘the real life-nya’. Kalo kata lo, setelah keluar dari kampus dan bukan lagi mahasiswa, kita turun kasta, nggak akan dianggap kaum intelektual lagi, nggak akan seringan biasanya menjawab pertanyaan orang: ‘kuliah di mana?’, karena dulu orang-orang menyebut kita MAHASISWA, apalagi nama kampus kita. Rasa takut pasti ada, manusiawi justru. Setiap orang yang pernah mencicipi bangku panas di level tertentu pasti akan merasakan sisi itu. The grey side..

Apalagi yang kita khawatirkan kalo bukan the comfort zone? Kansas, IKSI, PK, Ipul, Lapak 13, Martabak mie, klaster, pusat perbelanjaan—a.k.a Gedung IX, dan hot issue perseteruan kampus. Di ‘rumah baru’ kita nanti, memang nggak akan setiap detik bisa ketemu mereka, bahkan mereka ini tiada duanya karena Tuhan tidak menciptakan duplikatnya. Namun, satu hal yang harus kita simpan adalah bahwa kita pernah bersama mereka. Gw sangat bersyukur, gw dilempar ke FIB sama Tuhan—kalo kata orang, FIB itu IKJ-nya UI—mungkin ada benarnya. 
Belajar menghargai perbedaan yang beragam. Mulai dari mahasiswa yang udah sebulan nggak mandi, nggak ganti baju, jeansnya bolong sana-sini, kaos kumal-kusam, beralas kaki jepit paling murah, rambut gondrong keriting semata kaki, setelan celana pendek, tank top, dan tentunya Hamba Allah—yang pasti kita rindukan, sampai mahasiswa tampilan mas-mas eksekutif muda, rambut klimis, wangi radius satu kilometer, sepatu harga selangit, dan orang-orang yang katanya jijik kalo makan di Kansas, harus kita akui, merekalah pewarna alami kita selama tiga tahun terakhir.

Inget ya Jen, gw akan selalu ada buat lo. Pun setelah kita keluar dari IKJ-nya UI ini. Meskipun kita berdua nggak jarang beda ideologi, beda pendapat, beda pemikiran, yang kadang sampai bikin kita nggak bareng ke mana-mana seperti biasanya—karena kisruh kecil yang nggak penting—hingga beberapa hari, bagaimanapun lo masih best mate gw. Terima kasih banget atas pengertian lo yang luar biasa, kita beda agama, tapi saling toleransi—lo nungguin gw kelar sholat, bahkan ingetin sholat—luar biasa, gw doang nih yang belum pernah nemenin lo ke Gereja :)
Kadang gw heran, kok ada ya orang sesabar dan selembut lo, meskipun sedang dalam keadaan yang seharusnya nggak dilembutin. Gw baru ketemu perempuan macam lo gini yang tertarik sama feminisme setelah beberapa bulan kuliah. Mempertahankan argumen-argumen keperempuanan atas teori-teori yang udah lo ‘amin-i’. Yah, meskipun yaa kadang-kadang sometimes lo terlihat dominant in childish untuk saat-saat tertentu. Gw mah dibikin enak aja, tanpa perlu ngomelin/negur lo secara keras, dan menganggap kalo lo lagi ‘kumat’ begitu sebagai bentuk ujian praktik proses pendewasaan gw. Huahahaha.

Gw memang bukan orang yang bisa mengobati di saat kegalauan maksimal lo datang. Gw hanya ingin menemani di saat lo seperti itu. Nggak selamanya nasihat bisa jadi obat, iya toh? Fuh, lulus di tahun berapa pun karena alasan apa pun, yang terpenting bagi gw adalah bahwa gw punya banyak cerita dari lo yang bisa gw bawa pulang ke ‘rumah baru’ gw nanti jika saatnya telah tiba. Oh iya, tahun ini kita harus menyelesaikan resolusi kita ya: tulisan kita dibikin buku. Entah masih draft, atau masih di otak—syukur syukur siap cetak—we must try it! No offense! *nelen ludah, baca bismillah*

The last, “buat apa wisuda kalo belum ada pendampingnya!” dan semoga jargon (koleksi-seleksi-resepsi) kita lancar jaya tentram damai sejahtera sadayana :D

Shalom,
IDHA

14.1.12

: kau—yang selalu aku awasi

Oh My God, jadi juga ini jebakan betmen. Nulisnya aja perlu deg-degan dulu, nunggu dini hari sembari ditemani lagunya Payung Teduh, sama Katjie Piering. Tanpa menyebutkan ini surat ditujukan untuk siapa, gw rasa orang yang 'pada hakikatnya ada di dalam surat itu' juga tau, cepat atau lambat. Yang mau muntah, bawa pispot ya dari rumah, biar nggak tercecer.



13.1.12

Dibalik Listrik

Bismillah,

Hulahulahupa! Jal piye entuk kabar dina iki? Mugi-mugi diparingana waras sedoyo nggih *subtitle-nya jangan lupa diaktifin ya!*

Sesungguhnya, gw udah lama banget kepikiran hal-hal gengges yang bikin gemes macem ini. Kosan gw di Depok, lantai dua, paling pojok. Jadi kalo mau ngapa-ngapain lebih gampang dan enak *lah? Mau ngapain emang?!*. Singkatnya, tetangga gw yang gengges (eh, keceplosan), maksudnya selalu ada aja yang bisa bikin gw punya bahan untuk gw tulis, huahaha. Makasih anyway :P

Desember lalu, sekitar pertengahan hingga akhir bulan, daerah Kutek-Kukel lagi sering-seringnya dilanda asmara, eh bukan, bencana maksudnya. Bencana kecil sih, lebih tepatnya pemadaman listrik sesaat. Serius. Kenapa gw bubuhin kata sesaat? Karena bentar banget bok padamnya, nggak seperti rinduku padamu yang tak pernah padam, meskipun situ belum dibayar #aiih. Apalagi nih ya, kalo padamnya antara pukul 18.30—21.00, beuh! Jangan ditanya deh rumpinya rame apa kagak. Rusuh, bukan rame lagi itu mah. Pasar Klewer aja kalah ramenya, meskipun bertolak belakang dengan ruang hatiku yang sepi, sesepi kamar mayat kalo lagi pada dimandiin *oke, ini serem—buat gw*.

Berhubung gw anaknya selau—tapi nggak pake embel-embel galau—ya santai aja kalo listriknya padam, walaupun tugas KUliAh belum ada yang beres, dan tugas-tugas mulia bin suci lainnya juga belum gw perawanin. Kalaupun agak-mau-marah-dan-kesel, hanya gw pendam dalam hati. Seperti jatuh cinta diam-diam, tersayat-sayat, tetapi nikmat. Huahaha. Lanjut bang! Nah, si sebelah kamar gw itu, begitu listrik padam, doi keluar kandang, trus monolog peran antagonis, mirip Laily Sagita/Vicky Burky yang ngincer warisan menantunya, atau mau ngeracunin anak tirinya *saya akui, dulu saya pecinta sinetron, PUAS?*, serem deh pokoknya. Mending kalo aktingnya langsung ter-cut dengan sendirinya, ini mah nggak, soalnya kagak ada sutradara yang berani nge-cut monolog dia. Eh, kamar sebelahnya lagi gantian yang keluar, ngapain coba? Telepon-teleponan sama pacarnya dengan suara jahran, jadi nih si cewenya ceritanya ngadu ke pacarnya kalo kosan dia listriknya metong. Lah, ngapain juga teleponnya pacar, noh aa-aa PLN yang harusnya lo telepon kalo mau ngadu, sist *eh, bentar, jangan-jangan pacar dia orang PLN, bisa juga sih ya*.

Yassalaam, gw hanya pendengar setia yang sangat menikmati syuting sinetron ‘gadis-gadis pencaci’ malam itu. Alhamdulillahnya, laptop dan ponsel gw semuanya masih nyala. Sembari denger sinetron *yang ada mah biasanya sinetron itu ditonton, tapi ini didenger, model baru akhir 2011 mungkin*, gw bukalah itu twitter. Biasa, kali aja ada yang mention. Kalo nggak yaa, paling ngerefresh-refresh timeline gebetan *pengakuan*. Lalu kemudian, timeline pun nggak mau kalah rame ternyata. Galau, cedih, cebel, cemungud, sampe ce onah ikut nimbrung. Variatif lah pastinya, ada yang ekspresi Alhamdulillah karena lampunya padam, jadi doi bisa aing-aingan sama yayang, ada yang uwe cebel hufth, ada yang memaki sopan *memaki sopan itu gimana ya?!*, trus ada pula yang truly spammer.

Nah, jadi gitu tuips. Ini apanya yang gitu ya by the way?? Tenang, tenang.. belum kelar ini, masih ada bab kesimpulan, saran, biodata, sama foto dari atas ukuran baliho. Just see the reality, and let me tamadun. Berhubung kelakuan-kelakuan yang gw paparkan di atas adalah kelakuan manusia-manusia seumur mahasiswa dan usia sebelum menopause tiba, gw jadi mikir: ‘listrik itu padahal hanya padam sekitar 15—20 menit, tapi muka merah tomatnya bisa bertahan sampai listriknya padam lagi’. Kalo dipikir secara manusiawi ya, lo pernah nggak sih mengucap syukur—barang sedetik lima detik—karena listrik nggak padam alias nyala seharian, atau bahkan sebulan penuh nggak mati-mati itu kabel PLN? Have you ever said before about that? Jempolan deh kalo yang pernah nglakuin ini, apalagi lebih dari pernah. Gw tadinya mau ngebanting laptop gara-gara dokumen yang lagi gw jalankan, belum gw simpan, tapi entah kenapa, gw tiba-tiba mikir begitu. Nggak adil banget rasanya kalo gw kasar dan melakukan tindakan tercela sama sang listrik, hanya karena doi pengin istirahat bentar. Toh nyatanya kalo doi hidup mulu, gw biasa aja, menyanjung pun nggak. Kalo gw ada di posisi si listrik, mungkin gw udah nangis kejer banget kena omel sana-sini. Bayangkan, men.. bayangkan.. *drama episode 289*

Yaa, kalo kata dosen gw nih ya “kalian itu kan punya otak (sambil nunjuk pelipis sendiri), ya mikirnya pake otak dong, jangan pake yang lain” *serius, ini cukup pedes, gw lupa banget bilang abangnya kalo rawitnya jangan banyak-banyak* hueueue, kalo emang nggak lucu ya nggak usah maksa ketawa ngakak gitu kali, beb. Hah, beb?? Beboy? Benyos? Benjol? *kalo Bebek udah biasa, basi!*

That’s it! Ihwal simpel. Pendek. Sangat sederhana. Ada di lingkaran setan kita ß ini bukan teka-teki yang harus ditebak kok, bre. Namun, bila kau masih ingin mene(m)bak diriku, masih ditunggu kok sampai api tak lagi membara panasnya. Cuih!!

Semoga bisa dijadikan bahan skripsi ya sist, bukan! Bukan ini maksud gw! Seriusan deh! Maksudnya dijadikan pelajaran, macem ekologi hutan, geodesi, strategi pertanian, atau bioteknologi, yang dapat dicerna secara sadar *ini kuliahnya siapa sih?!@#*

Baiklah, markisuds ya guys, happy sweet seven-eleven :)

Kapan?



Kalo otak lagi kebanyakan yang ingin ditulis, rasanya ingin segera punya gadget high-tech yang hurufnya keluar dan muncul sendiri tanpa harus ditik saat kita nyerocos di depan layar. Kapan ada? Kapan??

Membayangkan saja sudah girang, tapi bukan jamu cap NYONYA GIRANG, apalagi NYONYA MENIR.
(karena yang girang-girang justru bukan si nyonya,
 tapi si menirnya #eh)

11.1.12

Mainan #lookatback

Bismillah,
Assalamualaikum sista and brotha, apa kareba? Horas bah!

Ane punya cerita nih sist. Kemarin sore sembari nungguin nyokap, gw tiba-tiba ingat masa lalu. Duile.. Usut punya usut, gw pun iseng menengok ke belakang, ternyata ada tembok di belakang gw *oke, ini totally jayus mutlak bin absolut*. Hmm, memanggil kembali memori yang pernah terjadi dalam hidup, dan yang masih gw ingat betul. Kejadiannya antara SD—SMA. Setelah gw berpikir, maka gw ada #eaa. Poin demi poin gw kumpulkan, momen demi momen gw gadaikan *cinta kali digadaikan*, sampai pada akhirnya gw menemukan sebuah judul *andaikan yang udah dapet judul adalah skripsweet gw*.

Look at back, adalah judul yang tiba-tiba muncul, tanpa melalui konsultasi ke PA, apalagi PS, keren kan gw?! Dan, mulailah gw membuat pendahuluan, alon-alon asal kelakon. Setelah itu gw membuat isi, dan penutup. Tak lupa daftar pustaka, referensi, sumber data, sumber gambar, juga sumber waras *ini kalo ikut openmic, dijamin nggak ada yang ketawa*.

Nah, gw mulai tuh dengan tagar (#lookatback). Topik yang gw ambil adalah ‘Gw tertarik dengan dunia tarik suara’. Yang ingin gw jelaskan di sindang adalah bahwa dunia tarik suara ala gw ini bukan hanya nyanyi, tetapi juga tarik suara yang lain. Oke, next berikutnya, cekidot.
>Ada yg mau main #lookatback bareng? Hehe.. Just share your lil experience, yg tiba-tiba keinget, dan punya keinginan mengeksplor 'lagi'
>Kangen baca puisi di mana-mana. Dulu, sebelum rantauan ini dimulai, saya suka ikut poetry reading contest. Apalagi pake bumbu 'grogi' di panggung #lookatback
>Belum lagi, saya sangat mencintai dunia tarik suara. Konteksnya lbh luas, nggak hanya nyanyi, tp jg macem membaca berita, pembawa acara #lookatback
>Oh iya, kalo ada momen-momen yg mengharuskan presentasi—terkait pelajaran/ekskul, kadang jadi juru bicaranya :D #lookatback
>Yg bikin lucu adalah pas lomba-lomba cerdas cermat di SD. Jubirnya saya (duduk di tengah), tp nanti tmn saya yg ngebisikin jawabannya, huahaha #lookatback
>Bahkan pernah mencoba jd penyiar radio lokal kota di Tegal #lookatback
>Oh, ada lagi. Jadi pengisi suara untuk nyampein prosa liris di film akhir thn persembahan untuk kakak kelas 3, plus nyanyi Unintented-nya Muse di akhir film #lookatback
>Pas SD, setiap jadi petugas upacara, pasti kebagian bc UUD 1945, atau nggak jd komandan upacara :D #lookatback
>Tiba-tiba ada yang nyautin di #lookatback ini :P

§  RadnMoch Raden Moch Prastyo

Bnyak sukaq da dri kcil ga pna tetep,,nomaden gtu,,dri blajar renang,taekwondo,sepakbola,bulutangkis,model RT @idhaumamah

§  RadnMoch Raden Moch Prastyo

@idhaumamah ,,tpi pngalaman pling seru wktu kls 6 sd,baru jadi mualaf n blajar ngaji 6blan,trs ikt lomba baca alquran,eh juara 1,ckckkck

§  RadnMoch Raden Moch Prastyo

Hehe,guruq yg hebat ngajari aq wktu tu da :),insya allah seh"@idhaumamah: Yg ini baru hebaaat! Cool :D tp skrg pun msh bgs kan bacanya?


Lumayan kan ya sist, daripada lumanyun, hueueue. Jadi tau yang lain punya pengalaman apa dulu di #lookatback nya. Sila, sila, buat yang pengin bikin macem gitu, boleh kakaaak. Bagi gw pribadi, hal ini bisa mengingatkan kembali ‘apa-apa’ yang kita punyai dulu, entah pas masih SD, SMP, SMA, atau TK sekalipun. Tujuannya simpel, mensyukuri apa yang udah Allah kasih ke kita, lalu dijadikan renungan, bahwa ternyata setiap manusia punya banyak kelebihan, kadang disadari, kadang disadari lalu tiba-tiba lupa, atau karena alasan-alasan lain yang agak gengges dan bikin kita lupa. Setelah inget, ya, terserah, mau dilanjut dan diseriusin, monggo. Mau diingat-ingat sajo yo mangga. Udah tau mana yang harus dipilih, kan udah gede, wuahaha. Iya nggak cin? hihi. Cmiiw.

10.1.12

Mari Keliling Indonesia

Bismillah,

THIS IS IT!
Bagi teman-teman maya gw, yang doyan banget jalan-jalan keliling Indonesia, yang demen banget tafakur alam, boleh dibuka kakaaak link-nya. Teman-teman nyata gw, boleh juga kok, hahaha. Kapan nih kita melanjutkan perjalanan? setelah kemarin melakukan Journey to The West :D
Biasanya, kendala yang dialami adalah: bingung mau ke mana tujuannya setelah tau mau ke mana. Eh, maksudnya destinasinya gitu. Nah, makanya akika masupin nih inponya. Semoga bermanfaat ya tuips :)

Tebakan Outfit

Bismillah,

Sepuluh hari pertama di bulan Januari 2012, sudah seberapa besar usaha kita untuk mewujudkan resolusi-resolusi yang kita rencanakan di awal tahun kemarin? Hihi, sekadar mengingatkan, biar nggak lalai. CMIIW.

Tadi gw lagi jalan-jalan bareng family di alun-alun, tapi tiba-tiba aja inget sesuatu. Gw pake kaos biasa, jeans hitam, vest kesayangan, manset, dan jilbab hitam—as usual, plus sepatu keds, huahahaha. Sebelum berangkat, Om gw komentar tentang outfit gw, kurang lebih intinya gini: “Mba Idha mau tinju di mana tuh? (abis itu ketawa)”. Lalu, gw hanya merespon dengan senyum manis nan ramah. Nah, setelah peristiwa itu, gw inget banget, dulu pas tengah tahun 2011, gw diajak temen ke kantor tempat ia kerja di kawasan Senayan. Saat temen gw masuk ke ruangannya, gw duduk menunggu dengan setia. Lalu kemudian and then, orang di sebelah gw juga rupanya kemungkinan sedang menunggu sesuatu.

Secara tak terduga, ia tanya ke gw: “Maaf, kalo mbaknya wartawan dari mana ya?”
Gw pun menyambutnya: “Iya? Kalo saya lagi nunggu temen, Mba (sambil senyum 2 senti kiri, 2 senti kanan)”
Si Mbak yang mengira gw wartawan: “Oh, saya kira lagi nunggu giliran mau wawancara orang (dia senyum agak salah tingkah gitu)”

Well, pertama: hal tersebut udah kesekian kalinya gw alami. Sebelumnya, jauh dari hari itu, beberapa orang pernah juga berpikiran demikian. Outfit gw yang kayak gitu itu memang ‘tampilannya wartawan banget’, itu pendapat orang-orang yang pernah ketemu gw dalam keadaan demikian ya. Kan setiap orang punya pendapat dan pandangan masing-masing dari segi mana pun. Berlandaskan atas asas itulah gw jadi mikir panjang, sampai detik gw nulis tulisan ini sekalipun. Iya juga ya, frekuensi gw mengenakan vest lebih sering ketimbang nggak ternyata. Kedua: gw mah asik-asik aja kalo ada yang bilang tampilan gw bak wartawan, seneng malah :D soalnya dulu pas gw masih SD sampai SMA, gw sempet pengin jadi wartawan lho. Namun, entah karena apa, semakin ke sini, semakin pupus. Padahal kuliah yang gw jalani selama empat tahun ini cukup menunjang jalan menuju profesi itu.

Bagi gw, seru aja, kaos-vest-jeans-sepatu keds: ini tampilan kasual, tapi tetap bisa dibilang rapi—menurut subjektif gw. Jujur, bukan baju-baju macem kemeja cewe yang potongannya ngebentuk gitar paris, trus ada aksen bunga atau border, atau motif yang sangat perempewi banget lah pokoknya. Ya memang, kalo di acara-acara tertentu pun, gw akan mengenakan setelah demikian. Outfit selalu disesuaikan dengan tingkat ragam acara, seperti bahasa. Hiyaaa.. bedanya, baju yang agak perempewi biasanya gw kenakan pas manggung Sasina. Jadi, selama ini, kalo pergi untuk belanja, dan kebetulan nemu baju lucu agak perempewi, tapi tetep cocok di gw, ya gw beli. Bedanya, pas gw nemu itu items, otak gw langsung ngomong ‘bagus nih kalo buat Sasina-an, nggak terlalu hebring, dan tetep terkesan elegan’ J lain halnya saat gw nemu kaos yang bikin gw tertarik—entah karena warnanya, modelnya, gambarnya atau tulisannya, atau bahkan ketiganya, otak gw nggak ngomong ‘bagus nih kalo gw pake buat kuliah, main, atau ke mana-mana’. Secara otomatis, otak dan jiwa gw udha menerima hal itu dengan sendirinya tanpa harus nunggu si otak ngomong macem-macem. Coba presensi dulu, anak psikologi mana suaranyaaaa?? Ini namanya reaksi apa ya? Hahahha. Serius nih gw tanyanya. Kalo ada yang mau ngasih tau ini namanya gejala/teori apa, gw sangat berterima kasih lho J

Hmm, yang mau berbagi tentang outfit para pembaca setia blog gw juga boyeeh.
*eh, emang ada yang setia baca blog lo?? Nelen besi kiloan*

9.1.12

#BestOf2011

Bismillah,

Nulis tentang ini nggak ada aturannya kan ya kalo harus di penghujung tahun atau di awal tahun? Hihi. Di penghujung tahun kemarin—kalo nggak salah ingat—tepat dini hari tahun baru 2012, gw dapet balasan dari temen gw di twitter, yang pake tagar #bestof2011. Nah, terinspirasi dari situ, gw juga ingin ‘looking at back’ untuk bahan perenungan diri sendiri.
Come on!

Januari:
Dulu pas gw terpilih menjadi Kompas (Komandan muka pas-pasan, haha, bukan! Komandan Pasukan, maksudnya), terlintas di benak gw ‘gimana jadinya ya kalo pas gw jadi Kompas, MBUI juara umum GPMB’ hal ini karena faktor z yang membuat gw kagum sama Meisa—Kompas 2005. Maklum, setelah gw mengiyakan maju sebagai kandidat calon Kompas 2010, gw langsung mencari tau bagaimana karakter Kompas dari tahun 2005—2009, beserta keadaan pasukan, dan Meisa lah yang bikin gw sangat bersemangat. Apalagi di 2009, MBUI sedang dilanda badai. Singkat cerita, Allah Maha Mendengar dan Maha Pengasih, ucapan gw waktu itu jadi doa yang mustajab. Alhamdulillah. Terlepas dari segala faktor yang serba—ada yang bilang kebetulan—di GPMB 2010, MBUI juara umum. Selain itu, gw juga mencalonkan diri menjadi kandidat calon Ketua UKM MBUI—dengan segala keribetan visi misi dan CM—tapi lagi-lagi Allah memang Maha Mengetahui mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Rival gw lah yang saat itu memenangkan suara. Anggap saja, MBUI bukan jodoh gw, karena Allah punya jodoh lain yang lebih baik buat gw. Oh iya, dan yang tak terlupakan adalah peristiwa “pacar ketinggalan kereta” :D *khusus yang ini, nggak akan gw kasih tahu, hueueue*

Februari:
Kali pertama gw ke Bandung tanpa orangtua, setelah sekian lamanya ngidam pengin banget ke sana. Nggak tau kenapa, pengin aja ke sana. Terakhir ke Bandung, saat gw kelas 3 SD. Ya, dan alhamdulillah tercapai. Perjalanan yang cukup panjang. Dari kereta sebelumnya menuju kereta berikutnya dengan destinasi lain. Buat gw, pergi ke luar kota sendirian adalah sesuatu yang patut gw banggakan—as you know, gw nggak pernah ke mana-mana sendirian, apalagi ke luar kota, yang gw pun nggak tau, bagaimana dan seperti apa segalanya. Hmm, lalu, bulan ini pula gw terombang-ambing dengan permainan jabatan, haha. Lebih tepatnya dipermainkan sih. Yah, begitulah adanya. Hitam di atas hitam, jadi nggak terlalu keliatan mana devil dan mana evil. By the way, gw juga berpikiran untuk kembali ke Sasina—yang sudah dua tahun ini gw selingkuhin. Simpel, gw hanya ingin, gw ada di saat Sasina butuh gw. Titik.

Maret:
Gw diminta menjadi PO konser MBUI—salah satu proker yang ditawarkan rival gw saat pemilihan. Cukup untuk bikin gw migrain, dan sedihnya, obat yang kadang manjur adalah makan. Oh, meen! Nasib belum boleh kurus nih gw rasa. Then, di malam sebelum keesokan harinya Raker (Rapat Kerja) pengurus baru, Ayah gw telepon, ngabarin kalo nenek gw—yang tinggal satu-satunya, dan sangat menyayangi gw—meninggal. Mencoba tegar, tapi rupanya kolam airmata sudah luber sehingga memang sudah waktunya untuk ditumpahkan. Tangis gw pecah saat itu, yang ada di pikiran gw hanya pulang, pulang, dan pulang. Pagi itu juga gw memutuskan untuk pulang, tentunya dengan restu dari semua pengurus. Thanks guys :’)

April:
Ngerasain manggung Sasina pas ITP, wah banget. Terlepas bagus/jeleknya saat nampil, tapi ini nampol banget buat gw untuk nguji mental. Kali ini bukan untuk GPMB di lantai Istora, tapi nyanyi di panggung nan gemilang bersama Sasina *halah, haha*. Beda banget rasanya. Hmm, gw juga berusaha mengatur waktu sedemikian rupa karena sembari megang proyek juga. Sangat menantang. Namun, gw adalah tipe orang yang 3S, serius-santai-sukses. April is about April, nothing gonna miss *apa sih? Absurd!*

Mei:
Banyak kejutan. Di pertengahan bulan, gw dipertemukan dengan orang-orang yang sangat unik, care banget sampai sekarang, bahkan udah gw anggap seperti keluarga gw sendiri—yaa, meskipun kadang jurus PDKT gw agak keterlaluan supelnya. Sampai-sampai kalo gw berada di ‘kawasan’ mereka, gw udah sok akrab aja, padahal yang gw kenal satu/dua orang. Sejak itu, terselip kisah kasih yang mulai terangkai pelan-pelan. Usut punya usut, dari mulai peliknya komunikasi antara gw dan si A, lalu malah nyambungnya ke B, bahkan sampai gw dan si B jadi sangat akrab. Ya, begitulah hidup, nggak bisa ditebak, apalagi ditembak *aiiih, itu mah lo yang mau*. Ada satu yang masih terngiang saat gw ulang tahun, si A bilang: “Selamat hari…*sensored—nanti orangnya baca, gawat*…”—bikin ketawa geli senyum-senyum gila ala banci ini mah.

Juni:
Kejutan seminggu setelah ulang tahun gw: sepasang kekasih datang tak diundang, pulang bawa parang. Hahaha. Thank you so much for the surprise :’) terharu banget. Kenapa? Karena, jujur sejujur-jujurnya jujur yang paling jujur à gw mengharapkan surprise yang amazing-wonderfull di malam ulang tahun gw, apa kek, pada dateng ke kosan bawa kue, atau gw dikerjain di UPS Sala*, huahhaaha.

Juli:
Mulai keliatan ribetnya prepare buat Parade Senja. Pengurus memang luar biasa, padahal mereka manusia biasa. Di akhir bulan—sebelum bulan Ramadhan datang—gw berjanji untuk bertemu seseorang di Kota Kembang. Terjadi begitu saja memang, tapi cukup unforgettable moment lah bagi gw *soalnya malam Minggu masih nongkrong di area kampus*. Pertemuan yang tak terduga. Gw datang untuk ngasih surprise ke A, tapi yang welcome justru si B. Nyaah, bagus banget ini. Semua terjadi tanpa rencana.

Agustus:
Berhubung akhir Juli sampai awal Agustus gw habiskan di sana, jadi yaa puasa pertama gw jalani di sana juga. And then, gw mulai ‘playing’ with him. Lupa, siapa yang memulai dengan game wake-up itu. Thanks for the holy games every second *ea, mulai lebay* you gave me many colours in this month.

September:
                Di September gw ngapain aja ya? Lupa. Sungguh deh ini. Lucu ya?! Hmm, oh iya, puasa dan Idulfitri ya? Gw inget!! Selama Ramadhan tahun 2011, gw dikasih anugerah mood booster. Anything that happened to me, I always talked to him. Terima kasih OA—inisial lo gw samarkan ya! Hahaha. 

Oktober:
Pernah terlintas mau cuti kuliah, biar gw bisa total di proyek gw. But, the way i walk didn’t match for me.. and next, yang tak terduga sama sekali adalah saat FIB dinobatkan Juara 1 Vokal Grup UI Fest 2011. Huaaa, it means, my group. There are: Esthi, Nina, Gw, Ucup, dan Jo, tak lupa sang manajer tercintrong Lucky. I really miss those moment, guys. So, i had both of side in this month: better and not too much better. Tenang, dunia nggak kiamat kok diputusin pacar.

November:
Belajar untuk ‘move on’, legowo, dan ikhlas. Menemukan rasa kehidupan yang baru di planet berbeda. Banyak adaptasi, tapi all iz well, bersyukur karena punya banyak orang yang selalu ada di saat lagi butuh. Thanks so much: JA, FN, CA, dan, IKSI tentunya.

Desember:
Di bulan ini, gw mulai aktif nulis di blog, apa pun, yang menurut gw perlu gw tulis. Bukan yang perlu dibaca oleh orang lain. Dibaca syukur, nggak dibaca pun tetep alhamdulillah. Menulis itu buat gw adalah salah satu obat migrain—di saat pa*adol, as*irin, bo*rex, oskad*n belum terlalu Oye! Jadi penonton GPMB, ini waw banget, apalagi ditemani ehm ehm. Hahaha. Puas banget karena sempet ketemu sama si itu juga, akhirnya.. setelah dua tahun menunggu momen bertemu. Kopdar itu bikin deg-degan. Serius! Kemudian, next berikutnya adalah perkara nonton live grandfinal StandUpComedy di TMII sampai pagi, foto bareng Ryan-Ernest-Daned-Asep-Pandji, semuanya ini anugerah banget. Satu lagi, nonton live off air StandUpNiteBDG4 di Saung Udjo, sangat puas banget sekali. What an unforgettable month :’)

Finally, I have something new life in this year. Thank You Allah.

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...