29.8.11

Momen Mengalahkan Rotasi Bumi

Rumahnya cukup jauh. Sebenarnya aku menyimpan mimpi untuk berada di sana. Benar-benar ketakmungkinan yang tak mungkin, apalagi saat-saat setelah hari raya seperti ini-sekarang. Dia masih ada. Bersua denganku lewat jalan yang ia mau. Allah-ku dan Allah-mu saling tau, kalau kita telah memuja rindu setahun-dua tahun lalu. Papan yang telah lama ditulisi namamu pasti masih ada kan di sana? Aku ingin sekali menyentuhnya, mencium kening yang belum usang dimakan ilalang, ah! Pasti aku senangnya bukan kepalang.

Idulfitri sebentar lagi akan lari, makanya orang-orang sekitar sini saling menyalami. Mungkin saja salamnya tertera pada surat-surat yang agak renta, lusuh, atau mereka sampaikan di antara reruntuhan teknologi duniawi—yang sekarang merajai. Then, mulailah aku mencari nomor-nomor tersembunyi di ponsel kini, dan cukup menahan napas saat tiba di fonem-mu. Kali ini aku berjanji tak lagi mempersembahkan air mata haru-biru yang dulu pernah menjadi saksi bisu, karna menurutku kau lebih pantas kuberi senyum musiman di akhir Ramadhan.

Tahun ini genap 20 tahun sudah kau berjalan di atas bumi Allah yang mahaindah. Maya dan nyata tak masalah buatku. Di mana pun alamnya, memang bukan urusanku, karna tak berpengaruh pada waktu. Aku cukup membaca bayangan wajah yang setiap hari seenaknya berubah: dulu. Terima kasih yah.. Setidaknya, membaca sifatmu lewat surat-surat mungil ini bisa mengobati rinduduka seorang gadis dewasa, katamu dulu sih itu.

Teh, pisang cokelat, dan gerutu manjamu masih berbisik di samping jantungku, mengisyaratkan betapa berharganya sebuah perpisahan. Allah-ku dan Allah-mu juga mau kita bertemu, mungkin di tiap subuh yang tak lagi sembilu.

Dedicated to my…
:)

2.8.11

Sesuatu Terjadi Padamu, Mungkin Pada Sabtu-Minggu



pada hari yang berlalu, aku mengadu
di suatu subuh, aku menjadi sesuatu
pun pada dinding memori yang terkesiap, aku hanya bisa mempertanyakan jalanan.
mungkin saat aspal memanas, aku bisa jadi ganas
atau di waktu angin menyeka wajahnya, aku bisa saling diam.
untuk apa kau menyeruak? jika memang tak ingin terkuak.
KAU,
ya, 
KAU.

Gowes Bareng Jalal (UI-TMII, TMII-UI) Bagian 1

Bismillah,

Mengayuh sepeda memang bukan hal baru buat gw. Waktu gw masih SMP, SMA, gw sering banget gowes ke sekolahan. Kalo dikira-kira, bisa sampe 4-5 km sekali jalan. Jadi, kalo bolak-balik 8-10 km lah ya.. Karena semakin terbiasanya gw saat itu, pas temen gw ngajakin #GowesBarengJalal, gw ayo-ayo aja. Toh, udah lama juga nggak pernah mengayuh sepeda berkilo-kilo meter. Paling-paling keliling UI doang.

Berawal dari kisah Jalal, mahasiswa 2011 yang diterima di Program Studi Sejarah 2011 UI. Doi sempet nadzar, kalo diterima di UI, dia akan ngonthel dari Pati sampai Depok. WOW!
Alhasil, diterimalah doi di Sejarah 2011. Twitter mulai rame, temen-temennya pun nggak jarang yang update tentang keberadaannya. Mulai dari tanggal 19 Juli-25 Juli ngonthel Pati-Depok dilakoninya. Di surat-surat kabar udah mulai diekspos itu anak. Kami (pengikut hashtag #infojalal dan #GowesBarengJalal), terus memantau si Jalal udah sampai di mana, apa kabarnya, dll.

Gw pribadi, awalnya memang nggak tertarik dengan berita ini. Gw menganggap biasa hal-hal yang kaya gini. Just read the tweet, and then retweet :P
Lama-lama, si JJ Rizal (Komunitas Bambu) berencana buat nyegat doi di TMII, hari Minggu 25 Juli, 7 a.m. Langsung deh, mulai publikasi, siapa yang mau ikutan? gitu.
Berhubung di Komunitas Bambu ada temen gw, alhasil gw pun berniat buat ikutan, dan berusaha cari sepeda pinjeman. Setelah perpinjeman sepeda itu kelar, kami mulai atur jadwal ketemuan. Cus! Hari Minggu 4.30 a.m. kumpul di Stasiun UI (boo, pagi beneeer!)
hmm, yaudin lah ya, demi Jalal. Hap hap!

Malem menjelang hari H, gw nggak bisa tidur. Merem-melek-merem-melek mulu, sampai akhirnya alarm gw bunyi. Oke, its time to take a bath at 3.45 a.m. haha
Berhubung gw pinjem sepeda temen anak Kobam yang rumahnya di Tanjung Barat, jadi gw naik kereta dulu ke sana, setelah itu baru gowes ke TMII, maap ya agak curang start-nya.
Sampai di Tanjung Barat, kami hanya bertiga (Gw, Uswah-yang minjemin sepeda, dan JJ Rizal) langsung memulai pergowesan pagi itu menuju TMII. Huaaaaa, readers harus tau, gw norak banget. Teriak-teriak di pinggir jalan, saking senengnya ngayuh sepeda di jalanan besar itu. Dunia terasa luas, hidup terasa bebas, napas pun semakin tampak lugas. Alhamdulillah Ya Rabb..

Meskipun agak canggung karena naik sepeda orang lain, the first time gw gowes di jalanan gede, dan jaraknya juga lumayan bikin betis mirip tukang becak. Uhh, mantap gan!
Ngos-ngosan, seneng, pegel mulai terasa, keringat bercucuran, panas pagi menerpa, udara jalanan yang tak kunjung aman, adalah teman setia gw pagi itu. Semoga hari ini indah Ya Allah *dalam hati*
Kurang lebih 30 menit aja tiba-tiba udah sampai TMII. Kebayang banget puasnya pas udah sampe depan gerbang TMII. Merasa menang. ahhaha. Ops, tapi masih gowes lagi lho pulangnya. Oke, siapkan mental.

Sampai sana, minum, makan bekal, leyeh-leyeh *berasa piknik, kurang tiker aja itu*
pas ketemu Jalal-nya, waaaaa, aku speechless iki dek weruh kowe!

***bersambung ya,

Kusaksikan Malam Menderu di Kabut Itu

Biarkan aku mengantar malam, lewat titik di tiga sudut itu
izinkan aku menjadi dinginmu, agar selalu dekat dengan nadimu

pada pohonpohon depan ruang yang semakin usang, aku bernyanyi mengajak akar-akarnya, agar tak semakin sepi dibuatnya
:
rindu.

31.7.11

Tentang Para Lelaki

Sebenernya udah cukup lama gw pengin banget mengangkat tema ini. Namun, pada dasarnya (lagi-lagi) karena kesibukan gw yang melebihi artis ;p
Yuk, mari dimulai!

Waktu gw masih kecil, gw satu-satunya perempuan dari sekian besar keluarga gw—yang kebanyakan laki-laki. Alhasil, gw ya mainnya sama mereka (para saudara laki-laki). Dari mulai nonton film India setiap malam Minggu, sampai dengan berantem-beranteman. Semua dilakukan tanpa ada paksaan, haha. Lama-lama merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka.

Setelah gw agak berumur, hmm sekitar 12—17 tahun, temen-temen gw juga kebanyakan laki-laki. Banyak sih temen perempuannya, tapi ya nggak sampai sedekat sama temen-temen laki-laki gw. Kadang, apa yang gw anggap lucu, akan dianggap sama juga sama mereka. Namun, hal ini kadang nggak berlaku untuk temen perempuan. Hasilnya ya, kalo gw ngomong apa, jadi kurang nyambung. Trus, kalo misalnya gw cerita tentang apa, nggak sering juga temen-temen yang perempuan nggak paham. Hmm..

Menurut gw, temen-temen cowo itu kadang lebih variatif tingkah lakunya, unik, tak terduga, geblek, banyak ide, dan strategis. Gw suka itu. Mungkin juga karena gw belum menemukan dan belum berusaha untuk mencari temen-temen cewe gw yang unik juga. Bisa aja, kebetulan temen-temen cewe gw yang dulu emang tipikalnya begitu. Mengapa demikian? Hmm, gw merasa ‘klop’ aja kalo ngobrol sama cowo—meskipun tidak dimungkiri, ada juga temen cewe gw yang nggak kalah enaknya kalo diajak ngobrol, hanya aja persentasenya lebih banyak untuk kaum lelaki.

Jika dipandang secara genderis, yaa memang cowo lebih bisa ‘megang’ kalo dalam hal kemaskulinan. Misalnya, tegas, lantang, cekatan, cepet tanggap, nggak lenje (red.), banyak ide, militan, dan ‘punya kekuatan’. Sedangkan kalo main sama cewe, dulu yang gw rasain ya, cukup sensitif. Karena memang banyak ‘main perasaan’. Mudah tersinggung, harus agak ati-ati kalo ngomong, kadang ada yang nggak suka dengan hal-hal yang ‘geblek’ (kalo ini selera sih), trus gampang merasa ‘kesentil’. Yah, pokoke begitulah. Termasuk gw juga begitu, karena gw cewe, haha. Nah, buat gw, gw justru harus punya tandem untuk hal-hal itu. Makanya, gw ’lari’ ke temen-temen cowo. Misalnya, gw lagi sensitif, tapi gw lagi nggak pengin kesensitifan gw menjadi-jadi dan semakin larut, yaudah.. gw akan langsung berusaha membaur dengan ’ruang aman’ buat jiwa gw. Beuuh!

As i can, di sini hanya main persentase aja sebenernya. Keseringan main di mana? Sama siapa? Itu bisa jadi salah satu unsur yang mendukung kepribadian tiap orang. Kadang-kadang tuh, hal-hal kecil yang nggak diinget, malah bikin pengaruh yang besar (red.), jadi tenang aja guys, let it flow with your heart *ini juga main perasaan*

30.7.11

Tentang Seseorang yang Melintasi Neuronku Selama Satu Minggu

memang, bukan saatnya romatis-romantisan, tapi aku masih saja setia pada liriknya

pada tanah yang tak sengaja tersiram hujan sore itu,
aku tertunduk
: padu padannya-aku kagum
yang tak pernah kujamah sejak lama
: daun kering pada bahu jalan, lama juga kutinggalkan.
Lalu, apa yang harus kusuguhkan pada pertemuan mendatang?
Aku hanya bunga abuabu pada subuh yang mengalun memagul kepalanmu
Mungkin juga seikat nama pada rasa yang tak lagi ada
Bukan untuk menujumu,
menuju pantai, menemui pasir yang selalu sepi.
Aku hanya ingin menjelma kiasan pada dinding ombak yang tak lekang oleh siang.

Bubur Sumsum dan Es Kelapa Muda

Duh, Gusti.. kula nyuwun ngapunten dhumateng panjenengan.

Bukan apa-apa yang membuat gw tiba-tiba terpikir “bubur sumsum & es kelapa muda“, melainkan karena salah satu saraf di bagian otak yang memberikan sinyal itu lewat indera. Entah, bukan juga karena udah deket bulan penuh berkah. Di selasela sibuknya seorang PO—mondar-mandir kesana-kemari lari sana-lari sini—masih sempet mencari informasi di mana gw bisa membeli kedua jajanan itu. Sekilas nggak penting, mirip orang sinting (red.) malem-malem dalam kemelut gerimis masih belum menyerah memburu di pinggiran-pinggiran jalan—yang kadang semu.


Untungnya, di tahun 2011 ini, media maya dan jejaring sosial lumayan membantu. Iseng-iseng—tapi tetap berharap dapat balesan twit dari orang-orang—ngetwit “mohon info: bubur sumsum di sekitar Margonda, di mana ya? thanks“, berujung manis. Salah seorang temen jurusan gw, yang biasa dipanggil ’aa’ itu membalas twit gw, yang isinya “depan Gramed“. Wow! Alhamdulillah, gw langsung ke sana.

Harap-harap cemas tetep ada, lha wong malem-malem gini kok nyari bubur sumsum sama es kelapa tho? Optimis, pasti masih ada. Daaan, jeng jeng jeng eng ing eeng... masih ada sodara-sodara! *tepuk tangan-tepuk kaki* keduanya gw dapatkan semudah membalikan telapak kaki ibu, huahahahha :D *astaghfirullaahal ’adziim*

Alhamdulillah, senyum simpul kali ini bener-bener sumringaaaah. Dan, setelah diinget-inget ya, gw belum makan dari tadi bangun tidur sampe sekitar 20.00, padahal lagi nggak puasa. Yassalaam, makan aja lupa, apalagi mikirin cari pasangan. *ooops! abaikan*

Yuk yak yuuuk! Cus! Udah dapet dua-duanya, marilah kita pulang dengan hati riang. Meskipun tadi cukup menantang, gw tetep merasa menang. Selalu, always. Yeay!

As I knew, nikmat batin itu adalah bagaimana cara melayani diri sendiri dengan baik dan benar. Bukan cuma EYD yang harus baik dan benar, ahhaha. Namun, ini juga harus masuk pertimbangan.

Sepintas Boleh Dibilang "ilham"

Ceritanya, pas gw lagi sibuk-sibuknya nonton televisi (nonton tv kok sibuk?!), jadi inget pas ospek “matanya jangan blanja, Dek!” huakakakakak, ngakak guling-guling di aspal kalo inget tuh. Err, bukan ini yang mau gw ceritain, guys.. ampun, terdistrak. Okey, lets start!

Tiba-tiba tebersit “ngapain ya, gw setelah kuliah nanti? gw berguna nggak ya?” jadi deg-degan, khawatir, dan parno deh pokoknya. Apalagi pas buka internet, ada si Eda yang bertanya-tanya juga—yang intinya “2 tahun ini gw kuliah udah ngapain aja ya?” maklum, doi baru pulang dari PIMNAS Makassar. Bahkan, beberapa kakak kelas gw sempet nulis “luruh ilmu duwur-duwur, sekolah adoh-adoh maring luar negeri, ari ora ngabdi nggo tempat asal yaa pada bae goroh” kurang lebih begitu. Hmm, Eda jangan minta translate ya!

Kebetulan, kakak kelas gw punya komunitas pas SMA, namanya MHC (Mission House Community). Mereka sedang menggagas konsep toko kopi (coffee shop), haha, aneh ya jadi toko kopi. Kedai kopi lebih pantes sepertinya. Lanjuut! Menimbang dari situ juga, gw jadi mikir, gw nggak mau kerja di Jakarta deh rasanya. Gw cuma pengin mengabdi buat tempat asal gw, tapi gw ngapain ya?

Hamm, hemm, nyesss! Gerai bacaan aja apa ya? Konsepnya mirip perpustakaan, ada buku yang bisa dipinjem, disewakan, dan juga bisa dijual dengan berbagai interval harga. Trus, gw pengin ada beberapa ruang belajar yang nyaman, cozy gitu deh buat anak-anak SMA kalo pengin belajar kelompok. Apalagi ya? Boleh juga dikasih menu makanan ringan untuk menemani belajar kalo lagi laper. Oke! Konsep kasar udah ada, teknis pelaksanaan dan detail konsep sambil jalan bisalah nanti. Dana, gw bisa kok nyari sponsor untuk mendukung pembiayaan gerai itu. Mulai dari biaya pembangunan sampai dengan biaya perawatan sehari-hari, insya Allah bisa—Gusti Allah mboten sare (Goenawan Muhamad, dalam novel Pengakuan Pariyem).
Aaaah! Rasanya pengin segera merealisasikan proyek besar ini. Lagi-lagi, proyek ini nonprofit. Balik lagi ke tujuan awal gw, pengin membantu tempat asal gw biar lebih maju. Sasaran gw tentulah siswa SD sampai dengan SMA. Pengin banget membuka wawasan mereka dengan membaca. Gusti Allah aja menurunkan Al-Alaq kepada Kanjeng Nabi, iqra’! iqra’! yoweslah, berarti dhewek iki dikongkon maca, amarga maca kuwi paling utama.

Konten buku yang akan gw sediakan adalah seputar sastra dan pengetahuan umum. Mengapa sastra? Sastra ibarat ruh, nyawa. Bekal hidup sepanjang masa. Ilmu dunia dan akhirat, ada di sastra kok, tenang aja. Buka mata, hati, telinga. Hidup tak lagi harus bangga hanya karena eksakta, tapi bangga karena peka terhadap rasa. Itu yang pengin gw tanamkan. Bukan berarti melarang atau menurunkan derajat ilmu nonsastra, melainkan hanya ingin mengajak, merangkul orang-orang untuk menemui pangkal dan ujung kehidupan dalam setiap lembaran. Beuh!

Insya Allah bisa. Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? Apa sih yang nggak bermasalah di dunia ini ? tinggal bagaimana kita menerima dan menanggapi setiap kejadian di antara ruji kehidupan. Iye nggak ?
Gw juga udah ada bayangan kok, kira-kira siapa aja orang-orang dibalik layar yang ingin gw ajak. Hohoho.. btw, kalo salah satu dari pembaca, gw hubungin, berarti siap-siap ya ! siap-siap untuk membangun bangsa. Oke !
:)

11.7.11

Yang tak dapat dibeli

Adalah suatu keheningan, saat aku melihat sosok rupawan yang akhir-akhir ini terselip di sisa malam. Mungkin malam itu memang bukan kali pertama aku ternganga. Entah, diantaranya masih maya atau sedikit nyata. Bahkan, sebelum masuk ke ruang itu pun aku benarbenar tak memintanya pada Tuhan. Bukan karena aku sombong, tapi lebih kepada “tak mau terlalu menghiraukan” ini itu yang selalu mengganggu.

Memasukinya memang bukan semata-mata kehendakku, pasti ada campur tangan Tuhan yang Mahakaya dengan segala “stok” yang Ia punya. Kalau aku sih, rela-rela saja, apapun dan bagaimanapun rupa strukturnya.

25.5.11

PERTEMUAN

butirbutir itu tak sengaja kutinggal di separuh bayangmu, saat itu..
saat terang perlahan pulang ke hulu.
namun, aku cuma sebuah rimba yang kadang tak nyata,
: yang telah beberapa kali menciumi bayanganbayangan lain,
bayanganbayangan lain,
bayanganbayangan lain,
bayanganbayangan lain,
bayanganbayangan lain,
bayanganbayangan lain,
lalu bayanganmu.

20.4.11

Trauma dengan "Kejadian itu"

2 September bukan tanggal penting gw rasa. Akan tetapi, entah kenapa gw belum lupa begitu saja.


"Hanya sebuah goresan pada dinding nisan tak bertuan. Hari itu membuatku kelu. Sekujur tubuh terasa membara saat percikpercik api mulai menampakkan keganasannya. Malaikat Izrail mungkin menjadi teman setianya detik itu juga. Aku gusar gemetar meregang nyawa. Aaaaaaaaaaa!"

Jam tangan digital gw udah di angka 08.05, mata kuliah Gender Dalam Sastra harusnya. Gw bolos aja apa ya? hmm, gw mikir itu setelah dapet sms dari temen gw tentang Dia. Gw telpon nomor Dia, nggak diangkat men! tambah panik deh gw. Nunggu bikun aja kali ya.. selang berapa detik, "Dia memanggil" tertera di layar hape gw. Gw angkat, dan anehnya yang kedengeran suara bapak-bapak. Jangan salah, bapak-bapak itu malah balik tanya dan ngasih info mengenai keberadaan dan keadaan Dia saat itu. Gw langsung mutusin bolos, ke stasiun UI, nunggu angkot 19 di Kober, dan capcus ke tempat suruhan bapak-bapak tadi. Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, Ayat Kursi, semua gw baca. Gw nggak ngobrol apa-apa, padahal ada temen yang nemenin gw di angkot sedari tadi.

Begitu sampe di salah satu rumah sakit di sebuah daerah, gw bingung.
"Semua orang di sana hanya diam tak memutar kata. Ada apa di sana? Tolol semuanya! tak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaanku dengan gamblang. Gila kalian! aku marah. Jauh-jauh aku memupuk rasa gemetar di rusuk kananku selama perjalanan itu, kalian tak tau kan? betapa sulit kupenjarakan neuron-neoron negatif keluar dari tiangtiang besinya. Semua kosong. Tuhan, orang-orang di sini gagu.."


Repetisi


Apa itu Repetisi?
Repetisi yang bikin seseorang mati suri,
Repetisi yang bikin orang sakit hati,
Repetisi yang tak pernah berhenti..

Alam mendukung sebuah repetisi,
seperti macanmacan yang tiap detik mengaum meminta diadili.
Repetisi formasi yang agak basi, meskipun bumbubumbu ekspresi terus digali.

Kesemuanya tadi hanya guratan siklus pada diri yang masih tersembunyi,
Ya!
tak salah lagi,

14.4.11

Belum Sempat

rongga ini belum sempat kauhinggapi,
apalagi menjamah sisasisa kepingan nadi.
mungkin nanti,
: katamu pada pagi.

Cinta Pada Sebuah Nama : dia

Aaaaaaaaaaaah..!

telah kusimpan dalamdalam yang mendarah daging itu,
sejak permulaan tatapmenatap berbalut malu,
aku juga tau apa sebabku penuh isyarat seminggu,
masih saja tak jua reda dari sebuah nama.
hari ini kuputuskan uraturat yang membelenggu,
yang kian detik bertambah sembilu,
biar saja kubawa pulang ilalang menjadi cerita pada kaca,
karena kurasa itu lumayan mendera.


Pada Janji

aku menaruh rindu pada efoni yang selalu merdu setiap kali kurayu,

tak ada lagi susunan huruf-huruf yang terpaku,
memalingkan kesyahduan alam di remang lampu.
entah..
kapan lagi bisa kulukis lengkung dinding,
pada selasela yang miring.
yang bisa menjamah lekuk kering.

19.3.11

ah!



MENUNGGUMU

aku hanya sebongkah jalanan semu
yang membiarkan rohnya menelisik dalamdalam: tentangmu.
benar-benar terluka.
kulakoni semua drama pada babak tiga,
namun, belum kutemukan kau di sana.

kagetsetengahmati.


DAR !

selurus jalan tadi, neuron-neuron ini dipaksa mengenangmu.
…..
….
..
.
blub !
kaupanggil sebuah nama itu,
:
aku.

7.3.11

Apa Ini? Ini Apa?


AKU MELUAP


di sini, di bawah nama suatu masa
pernah juga memagul pilu.
telah aku sampaikan dendamdendam rasa
yang menempel lugu.

Ya!
apalagi memang?

katakata biasa yang telah berkuasa seabad penuh dalam ronggarongga, menjelma :
cinta.

5.3.11

Organizational Training MBUI (SmartFun)



Hari ini adalah salah satu hari yang gw tunggu-tunggu. Kenapa? karena nggak setiap tahun ada acara ini, bahkan para manajer di MBUI tahun-tahun sebelumnya memang belum pernah ada acara khusus buat ngumpul satu divisi--meskipun nggak lengkap--di awal tahun kepengurusan.

Program kerja ini merupakan salah satu 'gawe' nya si manajer kaderisasi : Ahmad Naqib Alaydrus, FE-09, setelah kemarin ada OPREC MBUI tiga hari berturut-turut. Tujuan adanya OT di awal tahun adalah agar para manajer dan staf-stafnya mengetahui secara konkret deskripsi kerja mereka setahun ke depan, upss.. dua tahun ke depan, hahaha *ketawa bangga! :D

Selain itu, para staf juga belajar memecahkan studi kasus yang dibuat oleh si manajer (biasanya kasusnya adalah yang udah pernah terjadi di kepengurusan sebelumnya, atau masalah yang sengaja dikira-kira jika nantinya terjadi), sehingga para staf juga secara tidak langsung belajar cara menjadi 'pengganti' manajer mereka jikalau pada suatu hari nanti si bosnya berhalangan. Bahasa Depoknya PIC (person in charge) :P Belajar itu emang kadang 'malesin' kalo dipikir secara logika, gimana nggak? kita harus mikir macem-macem, ribet, dan nyelesein masalah yang nggak dipikirin oleh orang lain. Kuliah aja udah numpuk-numpuk noh tugasnya, iye nggak? Namun, ketika kita udah ngejalanin, insya Allah cincai lah.. terasa ringan, "ooo, kalo yang gini mah udah biasa," ahhaaaha, terbiasa mecahin masalah lebih tepatnya, jadi kita bisa agak 'jumawa', gapapa toh?! toooh..

Menurut gw, ilmu nggak selalu harus dibayar maharani sist, asal kitanya punya niat dikit, dikiit aja, lama-lama insya Allah bakal ngrasa butuh sendiri, dan akhirnya kita secara nggak sadar akan terus menggali apa yang kita butuhkan tanpa disuruh oleh siapa pun. Alam bawah sadar kita yang bekerja, namanya otomatis sist.. Untuk jangka pendek, ilmu-ilmu ini (serem deh bo, berasa lagi ngomongin ilmu jurus-jurus silat gitu) belum terlalu terasa manfaatnya, karena masalah yang dihadapi mungkin belum berat. Tapi, yakinlah pada saatnya nanti, kalo kita udah gede (apanya yang gede hayoo?! haha..) berguna banget. Kenapa? karena kalo kita udah lulus dari kamfus tercintrong ini, kita sendirian yang akan menghadapi semua shit happen (kalo kata Ni Luh Dea Pradnyani), kita udah nggak bareng-bareng lagi mungkin, atau cuma berdua, bertiga, dari yang biasanya ropokan. Di sinilah perlunya ilmu-ilmu yang nggak keliatan itu.

Tentunya tadi ada materi yang udah kita dapetin, pertama dari Arila (manajemen tim). Penjelasan singkat nan berbobot itu juga dibarengi dengan tanya jawab, diskusi tentang masalah-masalah yang sering terjadi, dan cara menghadapinya, karena rata-rata semua staf adalah fresh graduate, hehe. Kedua, studi kasus ama manajer masing-masing, dan terakhir ada games-games seru nan unik, ahhahaa. Semua gelak tawa tumpah di sini. Seneng deh ngliatnya!

Meskipun cuma games, tapi buat gw, ini justru bisa jadi salah satu 'kunci' untuk tau personality individu masing-masing. Contohnya, saat dia jadi leader di salah satu games. Atau kita bisa tau saat seseorang mendelegasikan tugasnya ke yang lain dengan caranya sendiri. Saat ada perdebatan kecil, agak sepele, atau reaksi yang ditimbulkan dari tiap orang, berbeda-beda pastinya. Nah, keliatan tuh. Mulai dari yang keras kepala, bijak dalam berbicara, cara bersikap saat dia menang atau kalah di suatu games, bahkan komentar-komentar menggelitik yang kadang muncul, alias "nyelemong". Banyak yang bisa kita petik dari hal-hal yang kadang kita anggap nggak penting. Banyak belajar dari 'apa-apa' yang dilakukan orang lain juga, dan bisa banget jadi bahan introspeksi pribadi.
hoho..

Selamat malam, semoga mimpi malam ini sesuai dengan apa yang kita inginkan.
:*

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...