23.6.12

Yang Hilang, Kini Kembali

Percakapan kita tentang masa depan malam itu: biarkan kita berjalan di lintasannya masing-masing. Kau pada jarakmu, dan aku pada rindumu. Kita telah sepakat membiarkan alam memilih, sebelum pagi.

Kita tidak berdua, kita bertiga.
Bahkan mungkin berlima, atau bertujuh—Tuhan dan malaikat-malaikat setia yang menyatu dalam tubuh.

Sebuah keputusan. Hasil pembicaraan alam bawah sadar kita. Kemudian, kita bisa saja membungkusnya. Menyimpannya atau melupakannya: sama saja. Di antara kita sudah kehabisan cerita.

Tiba-tiba kemarin, muncul kisah tentang lintasan baru yang kaukenalkan padaku. Rasanya aku ingin menyusulmu, mencoba menapaki suguhan lajurmu. Meskipun ini suatu ketakmungkinan yang mungkin, tetap saja nihil.

Mungkin kita baru menyadari, betapa sepinya kosong tanpa pesan. Semuanya seperti kematian. Kau, aku, udara, dan pagi, beberapa minggu lalu lenyap, tanpa jeda. Namun, kau membangunkannya lagi menjadi sebuah arti. Kembali menyapa misteri. 

20.6.12

Basa-Basi

Hari pertama
Naiya : “hari ini lo sibuk banget ya?”
Indra : “kurang lebih begitu..”

Hari kedua
Naiya : “hari ini masih sibuk?”
Indra : “begitulah,”
Naiya : “kira-kira jam 1 ada di mana?”
Indra : “gue di sekitar kampus, ada rapat internal, setelah itu ada agenda lagi. 
Kenapa emang?”
Naiya : “oh, nggak papa. Tadinya pengin ketemu, tapi kalo lo sibuk ya, nggak usah. 
Kali lain aja :)

*monggo ditafsirkan sesukanya,

So Patin ala Aggy Irawan

Sabtu lalu, 16 Juni 2012, beberapa mahasiswa Indonesia 08 punya rencana ke So Patin. Awalnya, obrolan ranah twitter, lama-lama dijarkom juga ke hampir semua warga 08 (hampir, karena ternyata ada yang jarkomnya nggak sampe) hehe, biasalah, hambatan teknis. Pada akhirnya, kami janjian di stasiun UI. Oke. Namun, ternyata yang bener-bener hadir cuma enam orang: Meidy, Dipta, Esthi, Gw, Nita, Laydra. Its okay, no problem. Ber-berapapun kami tetap berangkat! Alhasil, ditambah lalalili, kami cus pukul 5 sore, padahal janjian pukul 4. Fuh..

Perjalanan ke Bogor sore-sore begitu, masih cukup rame commuternya. Agak empet-empetan. Reality. Alhamdulillah lancar. Begitu turun di stasiun Bogor, gw dan Esthi kepincut Roti Maryam. Setelah lirik-lirikan, iya-nggak-iya-nggak, beli juga akhirnya. Hahaha. Kalo kata orang Tegal "nggo rasan-rasan" :D

Kemudian, dilanjutkan jalan kaki sekitar 100 meter, lalu naik angkot 03. Lanjut angkot 32, turun di Perumahan Yasmin. Ihiiir, akhirnya sampai juga. Padahal di perjalanan angkot 32, macet parah! Untungnya selama di angkot, kami cukup terhibur dengan obrolan-obrolan yang yaaa, tau lah ya. Kehidupan yang nggak jauh-jauh dari hubungan pertemanan, percintaan, dan perselisihan. Nah, ini nih yang seru! Ups. Sensored.

Awalnya, gw sangat mager untuk keluar ke mana-mana. Hal ini terjadi begitu saja sejak UAS kelar, dan deg-degan nunggu nilai SIAK keluar. Huh, alhamdulillah :)

Hmm, gw memutuskan untuk ikut karena: sekalian jalan-jalan ke Bogor, penasaran dengan cita rasa So Patin ala Aggy Irawan, trus siapa tau ada yang nyangkut, ahahaha. Cangkul kali Bu, nyangkut.

Sampe warung So Patin pas banget setengah tujuh, it means mending Maghrib-an dulu. Setelah sampe tempat wudhu masjid sekitar Taman Yasmin, muter kran air, dan nyesss banget airnya. Dingin! *jadi keinget Bandung* (ah, elu Dha!)
----------------

Begitu sampe warung lagi, pesanan dataaaang. Ahey ahey. Gw memesan Patin Asam Pedas, dan Es Jeruk, slurp banget. Bismillah, diicip kuahnya, beuh, ini mah lezat banget aseli! Olahannya mirip kuah kari, tapi yang ini lebih kerasa banget asam pedasnya. Masya Allah banget lah ini. Lalu, nyedot Es Jeruknya, daaaaan beda banget rasanya. Benar-benar Es Jeruk. Ya kan suka ada tuh di warung-warung makan yang Es Jeruknya keaseman, kemanisan, kehambaran, kebeningan, kekuningan, dan ke-an ke-an lainnya. Kalo ini, dijamin pas, titik.

Kami pun langsung saling bericip ria. Hahaha. Ada yang pesan Patin Bakar, Patin Pindang Nanas, dan semuanya itu ruarr binasa, men! Kalo kata Benu Bulo "laziiz" sayangnya di badan gw cuma ada empat jempol, kalo ada duapuluh jempol, gw kasih semuanya buat Aggy. Aseli. Nggak percaya? Dateng aja ke warung So Patin di Yasmin sektor 6! 

Hmm, menurut gw, olahannya beda dari ikan-ikan biasanya. Teksturnya lembut, pas banget di lidah, not too much, cita rasa masakan Indonesia pisan lah pokoknya. Gw aja makan sembari terheran-heran "ini anak, masaknya pake apa ya? bisa sampe selezat ini." Sempet mikir, warung makan dengan cita rasa jempolan begini udah pantes ada di resto. Semoga cepet pindah ya Gy, ke tempat yang lebih cozy. Aamiin.

Btw, ini bukan blog/artikel berbayar ye pemirse, saya murni beropini, hihihi. Ehm, tapi kalo Aggy liat postingan ini, dan mau ngasih fee sih nggak papa. Hahaha. Baiklah, selamat mencoba bagi yang terangsang!


**photo by @nitaarnita :)

Isi Dompet

Tadi pagi, tak lupa gw meng-sms orang-orang yang masih punya tanggungan. Hahaha. Apakah Anda termasuk salah satu yang beruntung di dalamnya? :D

Kemudian, utak-atik dompet coklat kesayangan. Bener-benerin tata letak uang lembaran, recehan, foto yang terpajang, juga kertas-kertas yang terselip di antara lubang. Aih aih! (*apa deh?)

Hampir setiap pagi kegiatan rutin ini gw lakukan. Jujur aja, nggak nyaman banget kalo pas buka dompet, isinya berantakan: sisi yang harusnya tempat buat naruh receh, kadang ketuker sama sisi yang harusnya buat naruh uang lembaran, atau letak kartu-kartu rentetan itu nggak rapi. Ya.. sesederhana itu, hal-hal yang mungkin menurut orang lain 'kurang penting' dan 'jarang diperhatikan'.

Lalu, dompet gw selalu sama isinya. Tentunya selain berisi uang lah ya, hahaha. Maksudnya selalu ada 'jimat' yang tak ketinggalan tersemat, ahelah! Hmm, ada kaca, foto, lap kacamata, kartu PKM, KTP (berhubung E-KTP belum jadi, makanya tetep wajib dibawa), KTM (huhuhu, sebentar lagi akan meninggalkanmu), ATM, kartu nama teman-teman, kartu nama lembaga/organisasi/layanan jasa, uang logam luar negeri (*aseek, haha), surat-surat penting, juga kertas-kertas kecil yang mungkin masih penting :P

Kalo salah satu dari rentetan tersebut ada yang tertinggal, alias lupa bawa, pasti jadi kurang 'sreg' gitu. Meskipun kadang nggak diperlukan, apalagi kalo memang diperlukan, hadeh, bisa nangis ngosek-ngosek gw. Hmm, mungkin gw agak berlebihan, gimana dengan Anda? Monggo, kalo mau berbagi isi dompet di sini, silakan, jika berkenan ;)

Menunda "Baduy"

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 8 Juni, gw sedang sangat bergelora membuat daftar alat-alat, juga kebutuhan untuk menunjang "Perjalanan Baduy". Rencana awal, tanggal 11--14 Juni kami akan live-in di sana, di Baduy Luar & Baduy Dalam. Perjalanan ini dimotori oleh redaksi Gaung, Citra-Norman-Arkhe-Regina. Sebenarnya, siapapun boleh saja ikut, asalkan bersedia menanggung suka dan duka bersama. Hahaha. Akhirnya, gw memutuskan untuk ikut bersama mereka, melakukan tafakur alam ke Baduy. 

Kami telah mempersiapkan segala sesuatunya pada hari Jumat (8 Juni), membagi tugas, siapa harus membawa apa saja. Wow! Gw pribadi cukup excited akan perjalanan ini karena ingin kembali bercengkrama dengan alam. Well, pas SMP-SMA dulu, paling suka kalo ada hiking, wide-game, dan kegiatan alam lainnya. (Ehem, tapi belum kesampean naik gunung sih sampe sekarang). Selain karena alasan klasik (alam itu indah), gw merasa bahagia aja kalo bisa menaklukan perjalanan ke manapun. Kepuasan batin lagi-lagi, benar-benar tak bisa dibeli. 

Namanya juga udah lama nggak 'begitu' lagi, jadi segala peralatan pun minim, bahkan bisa dibilang nggak punya. Hmm, mulai dari cari pinjeman tas gede, sepatu, kompas, dan barang-barang lainnya, hingga persiapan mental. Juga yang paling penting: fisik. Yayaya, gw kan udah bukan pasukan MB lagi, jadi udah nggak aktif bergerak lari-lari keliling stadion, ngiter PNJ, marking, push-up, dan pemanasan lainnya yang biasanya dilakukan kalo masih berstatus pasukan. Makanya, patut disyukuri bener-bener lho bagi temen-temen yang berkesempatan jadi pasukan (ehem, meskipun kadang ada keluhan). Wajar, manusiawi :)

Insya Allah semuanya udah gw persiapkan dengan baik pada H-1. Namun, karena suatu alasan, akhirnya kami menunda perjalanan ke Baduy. Alhamdulillahnya, gw bukan tipikal manusia yang cepet pundung, jadi ya, dibawa santai aja. Toh, pasti ada hikmah dibalik semua ini. Gw yakin, Allah pasti punya tujuan baik, melindungi kami dari bahaya yang mengancam--kalo seandainya minggu lalu tetap memaksakan untuk berangkat. Terima kasih :)

Semoga tetep bisa ikut ke Baduy pada waktu yang tepat. Aamiin. 

17.6.12

(lalalili juga perlu)

Nanti gw juga mau bikin kata pengantar ah, hahaha.
Siap-siap ya ;)

Buat si ini, si itu, si anu;
yang ada di sekeliling gw;
orang-orang yang jauh-namun-terasa-dekat; (hahaha)
juga orang-orang yang terlalu hebat sehingga mampu menembus batas keputusasaan gw.

Kemudian Hilang

Pelan-pelan kita sadar. Mulai memahami makna tersirat yang sebenarnya. Bukan kepastian, melainkan tentang kepercayaan.

Jauh-dekat, sama-sama bernyawa. Menyimpan cita rasa dalam diam. Mirip seperti pagi yang hampir kehilangan sejuknya.

Lalu mengapa jalan menuju rumahmu sengaja dibuat bergelombang? Padahal kita sama tahu kalau tidak semua manusia menyukai tantangan.

Why oh Why?

Pernah nggak sih, udah nulis beberapa kalimat, udah dapet beberapa paragraf, trus setelah dibaca ulang ngerasa ‘sampah banget tulisannya’? why oh why?

Serba salah, mungkin seperti kurang saus, kebanyakan cuka, atau bahkan salah resep. Ah!

13.6.12

Reminder

Dinding kamar gw selalu tersedia tempelan kertas-kertas persegi ukuran kecil yang isinya momen-momen atau kegiatan yang harus dilakukan. Hmm, ibaratnya agenda. Bedanya, di dinding kamar ditempelnya.

acara-acara yang menurut hemat gw penting; 
segelintir mimpi yang ingin gw capai; 
tanggal-tanggal istimewa; 
dan target-target apapun yang ingin gw lakukan.

Gw masih menggunakan cara tradisional ini sebagai alarm dan bahan bacaan sebelum gw tidur. Biar gw selalu inget dan 'tidak keluar jalur'. Meskipun nggak jarang menghianati diri sendiri.

Siapa tau, begitu gw meninggal, dan apa yang gw tulis di dinding itu belum tercapai, ada yang berkenan membantu :')

Namamu

Ada namamu dalam secangkir teh hangat hari ini.
Padahal, aku tak biasa menyeduh minuman pagi-pagi.

: masa depan

Perkara Kacamata

Ibu saya pernah berkata, di era 70-an, ketika beliau remaja, sempat dilarang mengenakan kacamata oleh ayahnya (kakek saya).

katanya begini: 
"Royal temen ana kacamatanan ana apa. Wis, ora usah reka-reka, dinungi jamu wortel be ngko mari.

It means, meskipun saat itu Ibu dalam keadaan minus sekian, beliau tidak diperkenankan berkacamata. Kata Kakek saya, hanya buang-buang uang saja. Lebih baik uangnya digunakan untuk hal lain, seperti membeli sembako, dan kebutuhan lain yang lebih penting. 

Saya tau cerita ini sekitar tujuh tahun lalu, tepat ketika saya divonis menderita miopi. Bedanya, Ibu tidak se-melarang-itu. Beliau tidak melarang saya berkacamata. Akan tetapi, selalu mewanti-wanti agar tidak menyia-nyiakan mata. Maksudnya, meskipun telah mendapat pertolongan sementara dari makhluk yang bernama kacamata, saya harus tetap menjalani ritual: mengonsumsi segala hal yang dapat menunjang kesehatan mata. Misalnya, setiap hari wajib meminum air perasan wortel. Tentunya, saya sendiri yang memarut, memeras, lalu saya minum. 

Apa nggak bosan? Emang rasanya enak? Ya, namanya juga 'jamu', bagaimanapun rasanya, harus tetap masuk ke dalam tubuh setiap hari. Apalagi, ritual ini nggak mudah dijalani. Saya harus menjepit hidung dengan telunjuk dan ibu jari tangan kiri, kemudian tangan kanan bertugas mempertemukan bibir saya dengan bibir gelas. Setelah habis terteguk, lantas dilanjutkan dengan meminum air putih atau apapun yang manis, sebagai 'tamba'. Begitulah kira-kira.

Variasi obatpun semakin banyak dari tahun ke tahun. Mulai dari cara tradisional hingga cara paling modern. Teh, kapsul, serbuk, tetes mata, sampai operasi lasik yang tercanggih di abad ini juga telah tersedia di sini. Selain itu, seiring dengan berkembangnya pola hidup dan status dalam kehidupan, mungkin memang ada 'era' berkacamata menjadi sebuah gaya hidup. Tentunya, tidak semua orang, hanya berlaku bagi orang-orang yang memang 'membutuhkan kacamata untuk menemani hidupnya' (meskipun dikaruniai mata normal, red.). 

So, berkacamata untuk kebutuhan kesehatan atau hanya sekadar gaya, itu pilihan masing-masing. Asalkan bijak menggunakannya. Satu lagi, kebersyukuran atas setiap kecukupan yang kita punya, ini juga penting. 

:)

7.6.12

Tigasatu-Lima-Duabelas

Hari Kamis lalu, banyak doa melambung di udara. Mulai dari pagi buta hingga malam berikutnya. Terima kasih. Alam semesta pun diam-diam turut membubuhkan sejumput senyuman. Terima kasih, Tuhan.

Tetiba terlintas bahwa pagi itu adalah awal pertemanan dengan duadua. Pundak terasa agak berat. Seperti ada ransel besar berisi masa depan yang harus kubawa selama perjalanan. Bukan, bukan keluhan. Ini lebih tepat disebut renungan.

Semoga, yang semoga-semoga, tak hanya sekadar semoga. Aamiin.

30.5.12

Sebentar Lagi


H-15 jam
Count down.

Apakah yang akan terjadi nanti?
………………………………………….
…………………………………….
……………………………….
………………………..
…………………
……………
………
.

Mudah-mudahan tidak meledak.

Tahan Jarinya!


Hampir setiap hari menyugestikan terhadap diri sendiri:
Tahan jarinya! Tahan jarinya!

Sebuah penghilangan jejak?
Mungkin.

Sementara ini, masih untuk alasan tersebut.
Entahlah nanti malam, besok pagi, siang, sore, atau bahkan besok malam.
atau mungkin bukan untuk besok, lusa, dan hari-hari berikutnya
namun, terlalu menakutkan jika hal itu terjadi.

Lets see!

Dedendangan Ubiet dan Dian HP


Konser Musik Melayu “Dedendangan” ala Ubiet dan Dian HP Sabtu malam lalu masih meninggalkan bekas dalam otak. Well, seperti yang kita ketahui bahwa mereka sudah tak asing lagi di dunia musik.

Ubiet, dengan suara berat yang khas. Dian HP, arranger tingkat dewa yang ‘bisa aja lho’ bikin perpaduan aransemen unik dari alat musik modern dan melayu—tentunya. Mereka mengajak Anu Sirwan, dan teman-teman pemusik lainnya untuk memukau penonton di Teater Salihara.

Layaknya jatuh cinta, yang membuat lidah kelu, padahal sebenarnya banyak yang ingin disampaikan. Namun, mungkin lebih baik disimpan supaya tidak lekas hilang dari ingatan. Tsaah. Terlalu memesona. Ah sudahlah. Haha.

*khayalan tingkat superdewa: ada Ubiet dan Dian HP di resepsi pernikahan saya nanti*
Aamiin.
:)

Keroncong


Pertama: sangat sangat kaget liat salah satu aula di Untar. Megah gila! Speechless..

Kedua: genre keroncong merupakan salah satu jenis music yang sangat tidak gampang dinyanyikan. Apalagi pola titinada yang menjangkau dari rendah sampai tinggi, belum lagi vibra keroncong yang khas, tidak sembarang penyanyi bisa menyanyikan dengan baik dan benar. Hampir sama seperti genre dangdut, perlu bakat alam (red.).

Berbeda lagi dengan vibra pada lagu-lagu seriosa. Keroncong lebih menuntut kelembutan suara, cenderung ‘empuk’, dan vibra yang diproduksi sangat jarang menggunakan falsetto. Pada seriosa, bisa dibilang cenderung agak lantang, hampir semuanya falsetto, dan resonansi ritme vibranya lebih cepat (red.).

CMIIW.
Nggak percaya? Coba aja nyanyiin salah satu lagu keroncong Janjiku atau Fantasi. Selamat mencari dan mencoba!

50:50



Naik taksi pagi buta berjam-jam, pulang-pergi: ini namanya ujicoba pada manusia yang mempunyai tingkat kemungkinan mabok cukup tinggi. Efeknya adalah puyeng-puyeng dan migraine menyerang seharian, bahkan sampai hari berikutnya.

Niatnya mau melawan batas diri, mencoba memberanikan pikiran dan badan. Namun, nyatanya percobaan tahap awal ini fifty fifty. Berhasil tidak mabok, tetapi meriangnya belakangan.

Fuh. Baiklah. 

Membaca Puisi

Membaca puisi. Hmm, mudah atau sulit? Lebih dari sepuluh tahun bergulat dan bercinta dengan puisi, baik menulis maupun membaca. Membaca untuk diri sendiri, membaca untuk orang lain, menulis puisi untuk diri sendiri, juga menulis puisi untuk orang lain—bahkan untuk diikutkan lomba. Memang tidak sesering master piece Nana Eres, tetapi gw sedikit tau ‘bagaimana membaca puisi yang baik’ (red.).

Pada tulisan gw sebelumnya, sudah ada beberapa hal yang gw beberkan tentang ‘dunia kepuisian’ gw. Namun, semakin ke sini, gw semakin punya banyak referensi dalam hal ‘gaya membaca puisi.’ Lingkungan, kultur, dan perbedaan ‘aliran’ merupakan contoh faktor yang paling kentara memengaruhi si pembaca. Unik. Bukan soal bagus atau tidak, melainkan soal gaya dan idealisme tiap-tiap pemuisi.

Di tahun terakhir gw ini, (aamiin).. Gw pun memberanikan diri untuk mencoba peruntungan tangkai baca puisi di ajang Peksimida. Yaaa, walaupun sebenarnya ini lebih tepat disebut karena dorongan dari Nana Eres. Dia yang selalu memberi energi di manapun dan kapanpun. Dia juga yang agak memaksa. Hahaha. Makasih Mba Nana..

Dengan segala kerendahan hati, gw bersyukur karena berkesempatan untuk unjuk gigi kembali beberapa minggu lalu. Daaan, seperti yang sering gw katakan pada orang lain bahwa juara bukanlah segalanya. Berarti ini adalah hasil yang terbaik untuk gw. Mungkin memang belum jodoh. Hehehe.

Sayangnya, ini tahun terakhir gw di kampus dengan status mahasiswa. Sedih? Hmm, jangan ditanyalah kalo tentang ini. Mau nggak mau, comfort zone harus segera ditinggalkan. Mungkin kali lain akan ada kesempatan yang lebih tepat di waktu yang tepat pula. Baiklaaah, doakan saya ya, guys (:

20.5.12

Katanya #longweekend


Pagi guys :) *sok asik*
Hari libur selama empat hari ini dihabiskan untuk ngapain aja? Traveling? Touring? Ke Bandung? Bali? Atau ngapain?


  “temen gw liburan ke Singapore, Dha. Berak duit nih dia!” kata Icha.
  “besok gw ke Batam, Dha, ada seminar di sana.” kata Jo.
  “Mba Idha, besok Yuan pulang ke Tegal kayaknya, sampe Minggu.” kata Yuan.
  “Touch down!” @ Cipaganti, via foursquare >> Status twitter Peppeishaam.

hmm, apapun kegiatannya, ingatlah, besok udah Senin! Hahaha. Sekadar mengingatkan, nggak ada maksud apa-apa.

FYI, gw baru tersadar di hari Rabu, kalo ternyata Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu ini adalah long week end. Biasa, alasan klasik—nggak ada kalender pengetahuan. Gw termasuk tipe anak kosan yang nggak punya kalender dinding/kalender yang ada tanggal merahnya selain hari Minggu. Nah, jadi yaa, taunya hari Minggu doang yang warnanya merah. Gitu. Boleh dikatakan, hal tersebut merupakan salah satu penyebab ketidaksadaran gw atas libur-agak-panjang ini. Hal lain: karena justru di akhir Mei inilah tugas suci nan mulia yang mahanyata baru dimulai. UAS, men! Belum lagi, sempat diribetkan oleh Peksiminas, Pimnas, Sasina, SU UI, dan tentunya—kerjaan—yang lambat laun menyita jiwa raga, juga hal-hal lain—ah sudahlah, hahahha. Busy women. Maklum, semester akhir, lalalala~

Harusnya di empat hari ini gw punya program ‘sejam bersama Alex.’ Namun, terdapat beberapa rintangan yang menghadang ternyata, halah. Alhasil, program ini cuma kelakon di hari Minggu, alias hari ini. Ya ya ya, nggak papa. Memulai program ini memang tidak semudah membuat skripsi. Auch! *blagu banget* bagaimanapun realisasinya, saya bangga! Tinggal melanjutkan. Hah? ‘tinggal’? semoga ke depannya lancar ya, aamiin. Program ini gw ciptakan demi keberlangsungan hidup gw. Because what? Because semenjak gw purnatugas dari baritonist MBUI, jiwa raga mulai kurang keurus, kasihan. Terbukti: mulai dari napas menjadi pendek, migraine sering muncul, badan pegal-pegal tak menentu, juga pertumbuhan yang semakin menyamping. Hahaha. *you know what I mean, I think.* tadinya mau ikut MB kampus sebelah, tapi mereka nggak ikut GPMB, yasudahlah, tak apa.

Mengapa gw membuat program ini? karena, menurut penelitian, olahraga apapun—yang memacu jantung—dapat memengaruhi lama usia seseorang, 5—6 tahun lebih panjang masa hidupnya. Terlepas dari takdir Allah yang menentukan usia ya, usaha mah tetep usaha. Namun, Dia yang menentukan karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, tetep di D**** show show show! *lawakan lawas*

Baiklah, segini aja dulu ya. Kalaupun masih kangen, coba tahan dulu! Suatu saat pasti ketemu obatnya J *ini udah nggak ngerti arahnya ke mana* yasudah, dadaaah.

**Alex: siapakah Alex? Penasaran? Stalking aja! Hahaha. (ngeselin abis!)

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...