20.2.12

Dahsyatnya Media Sosial


Selamat malam,

Malam ini gw akan berbagi uang, hahaha. Aamiin, kapan-kapan yak!
Gw akan membagi cerita nyata ini ke teman-teman. Kali ini tentang media sosial. Yuhuuu! Salah satu tren yang sedang digemari khalayak, dari yang muda sampai yang berusaha muda :P

Jadi begini, beberapa tahun lalu, kalo kita sempet denger info atau woro-woro yang sedang hebring tentang #KoinCintaBilqis, yaitu sebuah gerakan pengumpulan donasi untuk Bilqis. Waktu itu, masih menggunakan facebook karena twitter belum seramai sekarang—yang kayak pasar klewer, tiap detik ada aja pelanggannya. Usut punya usut, si Alanda Kariza (Ryan’s girlfriend), juga pernah menulis di blognya tentang Ibunya yang terkena sebuah kasus berat. Kalo ingin lebih lengkap, bisa baca blog Alanda di sini, atau blog  Cune, doi juga pernah mengulas soal ini.

Anyway, gw nggak akan membahas kasus tersebut. Hakikatnya, yang akan gw bagi adalah pengalaman gw sendiri yang merasakan ‘betapa mahadahsyatnya media sosial itu’. Dulu, pas awal semester sempet ada mahasiswa baru yang bernama Jalal. Doi diterima di Sejarah UI 2011, dan bernadzar akan gowes dari Pati—Depok, gilaaaa! Gilaaaa banget! Kemudian, ada sebuah komunitas yang berinisiatif untuk menjemput Jalal di TMII, dan gowes bareng sampai UI. Akhirnya, dibikinlah itu tagar #GowesBarengJalal. Saat itu gw memutuskan untuk ikutan. Daaaaan, seru banget aseli! Meskipun nggak rame-rame amat ya yang ikut, tapi suasana dan warm-nya itu yang bikin unmemorable. Kopi darat memang dahsyaaat!

Nah, tanggal 18 Februari lalu, gw berencana nonton KOPER di GBB-TIM bersama 3 temen gw (Jo, Dedep, dan Uswah). Namun, di saat kereta menuju Jakarta Kota lima menit lagi lewat, Uswah bilang kalo dia lupa banget udah bikin janji sama temen-temen kosnya—yang entah kenapa nggak bisa banget doi tinggal. Kalo doi tetep nonton KOPER, doi pasti nggak tenang hidupnya, meskipun di GBB bisa ketawa-ketawa setan sampai jungkir balik. Lebih ke tanggung jawab moral pertemanan lah, tau kan? betapa lebih pentingnya teman-teman dibanding apa pun yang lo cinta?! Makanya, tersisalah satu tiket VIP seharga 100.000 perak yang kosong. Ngelos banget tuh gw sama Uswah. Gimana enggak? Seratus rebu, buat ukuran mahasiswa mah sangat berarti kali. Uswah dan gw berusaha nelpon-nelpon temen yang kira-kira ‘murah’ diajak begituan. *kesannya kayak apa gitu ya!*

Sampai pada akhirnya gw dan 2 temen gw udah yuk dada babay sama Uswah, dan berpisah di kereta, itu tiket masih belum terjual juga. Btw, selain sms dan nelponin temen-temen yang ada di daftar kontak—yang kira-kira mau—gw juga ngiklan lewat twitter. Sempet agak lama belum ada respon. Bahkan, Uswah udah bilang kalo nggak usah diganti uangnya. Namun, gw pantang menyerah dan putus asa, masih semangat untuk meraih piala. *ih, apa deh ini?!* gw ngetwit beberapa kali, dan alhamdulillah di RT sama temen-temen *sok ngartis abis*, setelah kami bertiga sampai di Cikini, ada sesuatu yang cukup ajaib. Salah satu tweeper merespon twit ngiklan gw, dia bilang kalo mau banget tiketnya. Doi saat itu udah di TIM. Wow! Siapa pula ini? Bukan follower gw, juga bukan orang yang gw follow. Hmm, bertekad pada kepercayaan, gw pun membalas dengan memberi nomor ponsel gw, kemudian mengisyaratkan agar doi segera menelepon gw.

Setelah gw sampai GBB, dan ngantre tiket, getaran-getaran dahsyat itu tiba-tiba terasa, ahahahaa, *ceritanya drama ini* Nomor tak dikenal, gw angkat. Saling sapa, tanya-tanya, hingga akhirnya kami sama-sama memutar mata untuk mengetahui keberadaan kita. Setelah bertemu mata, kami saling melambaikan tangan, hahaha. Ternyata si doi, yang tadi di twitter bales twit gw. Daaan, dia langsung nyodorin seratus ribuannya, huehehehe. Sadis! Entah mengapa, gw sumringah banget ketemu orangnya. Serasa ‘plong’ dan pengin ngucapin milyaran terima kasih. Ini nggak lebay ya, menurut gw ini hal yang cukup wajar karena modalnya cukup dengan kepercayaan. Suatu saat nanti, kalo udah merasakan sendiri, pasti merasa itu ‘awesome’ banget deh!

Hmm, rezeki itu nggak ke mana kalo kita mau usaha, emang bener itu, jangan ditelan mentah-mentah dan asal iya-iya aja. Saat kita nggak berharap apa-apa dan sama sekali nggak berharap lebih, nyatanya ada aja ‘tambahan tak terduganya’. Itulah hidup. Bukan, lebih tepatnya sepersekian persen dari hidup. Indah ya :)))) 

Ada Hawa Lain


Bismillah,

Oke, kali ini gw harus merapel beberapa hari yang sengaja-nggak-sengaja gw lewati sebegitu hambarnya hambar. Maaf ya, Min :|

Akhir-akhir ini, seperti ada sesuatu dalam diri gw yang bukan hawa gw *nah, loh?!* dia terus-menerus memeluk erat sisi dan sudut yang ada dalam tubuh gw secara posesif. Halah! Haha. Aneh banget, tapi kenyataannya ya begitu adanya. Jadi, selama ini telah genap delapan hari ada hawa lain yang merasuk masuk diam-diam tanpa salam.

Jujur, hal semacam ini membuat gw sangat nggak nyaman, sangat terganggu, dan benar-benar menyebar virus negative dengan mulus. Ah! Baiklah, beberapa hari ini anggap aja gw mengalah. Mengalah ya, bukan kalah *nggak mau rugi*. Maka dari itu, hari ini, mala mini, detik ini, gw akan berubah menjadi salah satu geng power ranger warna ungu. Tunggu kedatangan gw ya, para penggemar power ranger! *apa sih, nggak mutu*

Kesimpulannya, saat lo merasakan hal yang sama kayak gw, tetaplah tenang, nikmati saja masa-masa resesi itu. Hurts, tapi nikmat. Maaf, kalo agak-agak gengges ya ini..
:D

Udah ah tuips, gw mau lanjut buang sampah dan buang penyakit di sini :)
Dadaaah, see you on others post, ya..

19.2.12

Senja Kiriman (2)

Tanggal 18 Februari lalu, kali kedua menerima kiriman senja:
Senja di Batas Kota dari dalam Kereta :))


cukup awesome lah ya kali ini, hihihi
terima kasih,
:)

12.2.12

Senja Kiriman :D

menurut si pengirim, katanya:
Senja yang tertutup awan


Hiakakakakak! Besok-besok aku juga mau ambil gambar senja: senja yang tertutup mendung, senja yang tertutup petang, senja yang belum muncul, sama senja terhalang genteng tetangga. 
:P

Ke Luar Negeri

Kamu pernah bilang: 
“semoga kita bisa ke luar negeri bareng kapan-kapan”

Lalu aku jawab: 
“aamiin banget..”

Kemudian sekarang, kamu masih ingat atau telah lupa tiba-tiba?

Memilih Pilihan


Sebuah pilihan bukan untuk dikorbankan,

tapi untuk dilanjutkan.

Mengapa? Karena eh karena, merusak pikiran.. 
(kalo itu tadi, liriknya Bang Haji Rhoma) :P
Mari kita kaji! *serem, terdengar berat pembahasannya* padahal ini adalah hal yang sangat dekat dengan manusia. Hampir setiap hari, setiap jam, menit, bahkan detik pun kadang-kadang jadi korban pemaksaan dari sebuah ‘pilihan’. Bisa juga, kita memilih satu di antara beberapa hanya karena gengsi semata. Pernah? Bersyukurlah jika sampai sekarang pilihannya punya ‘jiwa’ di dalamnya, tapi istighfarlah jika memang belum menemukan yang sebenarnya ‘dicinta’. Apa pun keyakinannya, doa tetap diselipkan di sela-sela kesibukan, ya.

Kita nggak akan pernah tau persis, akan seperti apa nantinya pilihan yang kita pilih itu. Berisiko? Tentu. Kalo ngutip kata-kata Cune “Selamat Mengangkasa”, memang lo tau, selama lo menuju angkasa akan ada apa aja? Tomorrow is mystery, dear. Kalo boleh gw bilang, proses menuju pilihan adalah saat kita harus ‘ready for win’ terhadap beberapa hal yang akan kita temui di depan. Baik yang sengaja, maupun tidak. Bahkan, hal-hal yang sebenarnya tidak kita harapkan untuk datang, harus tetap kita menangkan. Bagaimana caranya? Cuma diri sendiri aja yang tau, karena kita lah yang menyimpan senjatanya.

Belum lagi, ketika lo udah puyeng-sepuyeng-puyengnya puyeng memutuskan sebuah pilihan, eh, ada aja kontra. Mungkin kalo yang kontra itu temen agak jauh, atau temen-temen biasa, masih bisa diterima, tapi yang agak berat justru kontradiktif dari orangtua. Kebayang kan gimana migrainnya tiba-tiba datang? Hihi. Ridho Allah kan ridho orangtua juga, makanya di sinilah letak tantangannya. Di sini ujian tahap pertama. Bagaimana caranya kita menjelaskan ke mereka secara baik-baik, tanpa suara meninggi, tanpa nada yang lebih keras, tanpa dendam kesumat. Hiahahaha. Intinya ngangge unggah-ungguh lah sama orangtua.

Pilihan itu salah satu prinsip, sangat prinsipil bahkan untuk beberapa hal yang berpengaruh besar. Bagi orang-orang yang telah melewati seperlima abadnya, pasti tau bagaimana rasanya memperjuangkan ‘sesuatu’ demi keberlangsungan hidupnya, juga untuk keluarga ke depan—tentunya; dan untuk jangka waktu tertentu. Jadi, kuncinya adalah berani. Berani bertanggung jawab terhadap risiko-risiko, juga berani bersikap. Buang jauh-jauh si gengsi, kembali fokus pada apa yang kita cari. Hidup kita bukan milik siapa-siapa, apalagi milik orang-orang yang kontra. 

Episode Akhir

Seharusnya aku memanggilmu “Dek”, kamu tahu mengapa? Kita terpaut beberapa tahun. Kalau mau tertawa, tertawalah! Alam mungkin sedang menertawakan kita. Selamat! Bahkan, Tuhan juga. Entah aku yang terlalu serius, atau kamu yang selalu bermain dalam bara rindu. Peduli apa? Ini tentang kita, bukan tentang orang-orang kebanyakan. Karena, kebanyakan orang terlampau kenyang dengan yang namanya konspirasi, Dek. Kita nggak usah ikut-ikutan. Duh, rasanya aneh ya, dengan “Dek” nya ini. Kalau dipikir-pikir, belum rela jika hanya namamu yang kupanggil, karena kamu masih kecil. Ah! Ini semua rekayasa alam, rekayasa udara, rekayasa Mei tahun lalu. Lalu, kamu akan menyalahkan siapa? Aku? Kamu? Atau mereka?—yang tentunya telah mempertemukan kita, meskipun tanpa unsur sengaja.

Apa kubilang? Jauh sebelum ini, jujur, kekhawatiranku semakin menjadi, Dek. Dulu, aku pernah bilang kan? Kamu suka main, begitu pun aku. Sayangnya, alur ‘main’ kita berbeda. Kamu masih betah lompat-lompat di tengah udara, sedangkan aku pelan-pelan ingin berlari mengitari lintasan kehidupan. Sudah mengerti kan sekarang? Mana? Mana orang-orang yang bilang kalau usia bukan segalanya? Sama halnya seperti uang, uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Jangan jadi munafik, Dek! Setiap harapan membutuhkan kedewasaan berpikir, siapa lagi yang memungkiri ini? Angkat tangan! Oh, kamu.  

Dewasa memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh ‘dewasa’. Sekian. Terima kasih Dek, sudah mau repot-repot mampir. 

THANKS :)

Bismillah,

Pagi ini cerah ya, Alhamdulillah.
Mendadak, tiba-tiba ingin sangat-sangat melankolis hari ini. Entah mengapa? Kepikiran aja di benak, dalam situasi yang seperti sekarang ini. Di dalam sepi. Fuh!
Anyway, sesuai dengan judul di atas, hari ini gw bakal menulis terima kasih gw untuk beberapa ‘komplotan’ yang selalu bisa membuat gw lebih ‘hidup’. Mungkin memang nggak bisa semuanya, satu persatu gw tulis di sini, tapi setidaknya kertas-kertas yang nyumpel di otak bisa kebuang di tempat yang semestinya.

Pertama, Gusti Allah. Syukur, nikmat, berkah, semua selalu menyelimuti saya di setiap sisi hidup, setiap detik hingga suatu hari nanti napas ini berhenti berdetak. Semoga selalu ‘ada saja’ yang mendampingi saya di kondisi apa pun. Aamiin. Maturnuwun Gusti.

Kedua, keluarga. Ayah, Ibu, Azky. The great side of my life lah ini. Tiada tara, juga bandingnya. Terima kasih kesabarannya yang sangat luar biasa menghadapi a struggle woman ini. Seperlima abad sudah berada di tengah-tengah mereka (ini gw sengaja, biar nggak keliatan udah 20 berapanya, huahahaha). Semoga kelak diselimuti surga oleh Allah, aamiin. Oh iya, saudara-saudara dekat yang selalu siap siaga 24 jam membantu kami. Ah, I love you so much lah pokoknya. Semoga selalu dilimpahkan rezeki yang halalan toyyiban. Aamiin.

Kedua setengah—hahahaha—SINTESA. Soalnya kalo yang ini, bukan kedua, bukan juga ketiga. Susah deh jelasinnya. Angel, sung! Tempat bercinta, bermesraan, berbagi rindu bersama rekan seperantauan. Ngapak sing paling mletek, mung neng kene tok, laka maning. Goyonan, nggasaki wong nganti sirahe kliyengan gara-gara gemuyu bae, bullying, gosip, rumpi, sampai pembicaraan hal-hal serius tentang rencana-rencana masa depan juga aku lakukan di sini.

Ketiga, IKSI 2008. Sadar nggak sih, sebentar lagi kita dipisahkan oleh wisuda? Satu lagi, pada kata wisuda, ada morfem bebas ‘wis’, yang dalam bahasa Jawa bermakna ‘sudah’. Memang harus disudahi. Eits, tunggu dulu! Dunia perkuliahan dan gelandangan kampus ini telah usai, tapi dunia kita belum. Justru ini awal pijakan sebagai pembuka kehidupan yang sesungguhnya. Kalo dalam game Super Mario, ini baru kelar level satunya, masih ada beberapa level lagi untuk menyelamatkan tuan putri di dalam lahar, huahahaha. Kebayang kan gimana ‘jungle’ nya? Selamat untuk teman-teman yang Februari ini telah menyandang gelar S. Hum, semangat juga untuk teman-teman yang baru memulai menuju S. Hum nya. Lalu, selalu semangat buat teman-teman yang telah memilih 4,5 tahun. Semuanya sama, yang membedakan adalah calon pendamping hidupnya. Lalala~galau, huhuhu. Sini, gw kecup satu-satu.

Keempat, Sasina. Meskipun gw belum pernah sepanggung dengan Ucha, Ipeh, Ayu, Nia, gw tetep bisa merasakan betapa syahdunya kalo dengerin rekaman kalian. Heartattack banget. Nyandu. Makanya, insya Allah gw akan tetep bersama Sasina yang sekarang, berdampingan dengan anggota baru, sepanggung, juga merasakan kencangnya degup jantung, kali pertama pegang mic. Aih.. unforgettable moment lah ini. Dari yang tuningnya ancur, pelan-pelan membaik, tapi belum mencapai baik, napas abis tiba-tiba di tengah-tengah frase lagu yang belum abis, salah nada, salah lirik, salah ekspresi, salah kostum, salah perasaan *ecieee*, sampe salah-salah yang lain, yang pernah gw perbuat—atau mungkin kita—selalu membekas. Susah ngapusnya. Lagian nggak ingin gw hapus juga. Jadi, nggak perlu apusan. Hihihihiw.

Kelima, Madah Bahana. Jujur, untuk yang satu ini, gw akan menggeneralisasi aja, kalo nggak, bisa sampe tahun depan gw kelar nulisnya. Unit yang bikin gw kepalang jatuh cinta, padahal cuma iseng belaka awalnya. Eeeh, nagih. Mau diapain lagi kalo udah kejadian macem gini. Intinya, unit ini termasuk salah satu something yang mensponsori gw dalam hal ‘mencari jati diri’. How to make people more confidence, feel your life with passion, comfort zone, and how to read another and make love with others, huakakakakak. Banyak kisah manis, pahit, hambar, matirasa, matisuri, semuanya ada. Pernah juga air mata kececer di mana-mana gara-gara madah bahana, many reason. Cuma unit ini yang bisa bikin ada banyak orang nggak gw kenal, tiba-tiba telpon gw, padahal gw lagi makan malam di rumah pas libur semesteran. Bagus! Belum juga ratusan orang yang pernah satu proyek dengan gw, nano-nano aja kalah deh, serius! Cuma madah bahana yang bisa bikin gw kurus tanpa harus mengurangi makan apa pun sedikit pun. Seru ya, ah! Dunia. Oh iya, ada lagi, terima kasih telah mempertemukan gw dengan…… #isi sendiri#

Keenam, BEMUI2009. Absolutely, gw kangen banget, rindu berat KREMAS. Terima kasih untuk sks-sks yang telah kalian transfer secara cuma-cuma demi keberlangsungan hidup gw. Hahahahh, lebay, nggak papa. Kak Tiko, Kak Nanda, Kak Ijo. Err, bocor semua ternyata. But, I really love you, all. Nih, nih, aku doain deh ya, semoga mendapat pasangan hidup yang sesuai, calon pendamping yang Allah pilihkan untuk kakak-kakakku yang bocor-bocor ini. Hihihi. Undangan Kak, jangan lupa loh! Salam untuk keluarga di rumah. 

11.2.12

Proyek Film Maker

Bismillah,

Malam ini, gw bakal curhat! *girang* yihaaa! Gw bakal beberin, selama Januari gw ngapain aja, di mana, dan bagaimana. Tuh kan, gw cukup murah untuk berbagi. Gw nggak menginginkan pers tiba-tiba datang, lalu minta konferensi mendadak tentang gw, kan nggak enak. Jadi, mending gw yang inisiatif membeberkan diri. Hahaha. Cus eiym!

Begini awalnya, SINTESA ceritanya ingin mencoba sesuatu yang baru, lebih tepatnya mantan Ketua SINTESA tahun lalu menggelontorkan seonggok ide *berat ye ciin*, doi pengin mempersembahkan sesuatu untuk anak-anak SMA, tapi apa? Akhirnya, setelah melewati proses mengingat-menimbang-memutuskan (jadian aja belom, trus kenapa udah putus aja?!), bahwa akan dilaksanakan sebuah proyek membuat film. Konsepnya dokumenter sederhana, sesederhana aku mencintaimu saat pandangan pertama, huahahhaa, maklum, ini malam Minggu, bunga kambojanya abis yang biasanya buat temen apel. Eeeh, kan, ke mana-mana deh ini. Lanjut!

Jadi, proyek ini bisa kami sebut proyek amal/sukarela. Mengapa? Karena perekrutan pemain, kru, dan tim produksinya pun diserahkan ke khalayak SINTESA. Setelah para sukarelawan ini menawarkan diri untuk ikut menggarap film bersama, dan telah ditempatkan sesuai dengan kemauan dan kemampuannya, selanjutnya adalah konsep filmnya. Membuat konsep dan menulis skenario. Hmm, ide cerita yang akan dipakai, diambil dari sejumput kisah salah satu senior SINTESA, yaitu perjuangannya menembus tapal batas universitas kelas dunia, beuh! Sadis pisan kan?! Dalam hal ini, filmnya bersifat dokumenter, dan bukan murni kisah nyata sang senior. Hanya terinspirasi. Sekali lagi hanya terinspirasi. Setelah itu, bumbu-bumbu cerita, alur, dan bla-bla-bla sepenuhnya diserahkan ke sang penulis skenario.

Tahap selanjutnya adalah rapat, rapat, dan rapat. Lalala~ syubidubidu. Menentukan agenda beberapa hari ke depan, dst. Di proyek ini, gw memberanikan diri untuk jadi sutradara. Pas pertama, yang ada di benak gw adalah, “seru deh kayaknya kalo dikasih kesempatan dan bisa meng-cast orang, then said: camera.. rolling, action! Cut, ulang! Lanjut!” hihihi. Gw satu-satunya senior 2008 yang terlibat di dalam proyek ini *tabah..tabah* sebagian besar adalah anak-anak 2009-2010-2011. Ada sih, satu orang angkatan 2006, doi produser, tapi ya nggak dateng ke lokasi syuting karena udah menuntut nafkah di Bandung. Begitu. Pendeknya, doi yang membantu cari sponsor & donasi, lalu kali lah pengeksekusinya.

Beberapa rapat sebelum take, Alhamdulillah lancar, fulus pun jalan. Asyik asyik! Desember awal kami mulai merencanakan timetable, jobdesc, casting, search & hunt location, juga berjanji bersama bahwa akan setia dengan proyek ini ke depannya, apa pun yang terjadi. (Jadi inget pas megang proyek apaaaa gitu yaaa, huahahaha #nomention) Mau ada UAS, acara kampus, acara apa pun, harus bertanggung jawab dengan amanah bersama ini. Sekali lagi, proyek ini bukan profit oriented, jadi saat lo melakukannya dengan passion dan ikhlas, insya Allah pahala pun tak terbatas. Nah, kemudian apa tahapan lanjutan yang dilakukan? Sejauh itu, kami baru fokus ke pemeran utama, setting property, costum, dan lokasi.

Seperti apa riweuh, ribet, rempong, dan hektiknya syuting perdana? Yuk mari kita pindah lapak lagi. Hiahaahahai.. Khusus syuting-syutingan, insya Allah bakal gw certain lagi di sekmen berikutnya. Halah, sok ngartis banget dah ini. Sok sutradara besar! *biarin, weee :p*

9.2.12

Kamu: Yang Hampir Memutuskan Mei


Hai, Mini :)

Maaf—lagi-lagi aku selingkuh. Berlama-lama dengan kedua alat komunikasi handal itu, juga media sosial yang beberapa minggu baru kukenal. Ah, aku yakin kamu lebih tau, aku betah berlama-lama seperti ini karena apa, atau lebih tepatnya gara-gara (si)apa. Problema yang harus dikerucutkan adalah bahwa (si)apanya ini kebetulan nggak cuma satu.

Hah!
Hampir dua minggu sudah, sepi dari peradaban si a man who can we called—waktu itu namanya manggala apa cadatha ya?! Err, lupa. Yang pasti bukan mawar, bejo, atau tono. Dia—yang lebih dulu mengisi sela-sela rutinitasku dengan sejuta cara—yang selalu ‘maksa’ agar aku bisa meremin mata beberapa detik, lalu nipisin bibir, tanda bingung—nggak tau harus ngapain. Hahaha. Kesimpulan yang antiklimaks, sodara-sodara! Lagian, ngecek laman Kamu, Min, tiap hari, tapi nggak berani ninggalin jejak buat kita. Nggak berani apa belum berani ya, Min? yeah, mari mencoba positif lah.

Ibaratnya, aku itu deterjen warna. Cuma karena aku tumpahin dikit aja, langsung bela-belain ngosongin tabung mesin cuci biar nggak ketumpahan deterjen—lagi. Sekali-kali memberanikan diri memakai deterjen lain itu perlu loh, biar tau kualitasnya seperti apa. Apakah bajunya lebih lembut, biasa aja, atau jadi lebih kasar? Wangi cuciannya cocok sama si pemilik apa nggak? Sesimpel itu aja, nggak usah lah dibuat repot, menyiksa diri itu bukan jalan terbaik. Nah, setelah kamu mencoba, lalu suka, silakan saja, tapi kalau memang kurang suka wanginya, disimpan baik-baik, atau dikasih ke orang yang lebih membutuhkan juga boleh. Bahkan, kalau ingin ngebuang bungkus yang masih ada isinya juga monggo, tanpa harus diinjak terlebih dahulu, dibakar, apalagi digoreng sampai gosong. Tuh kan, lagi-lagi tentang penyiksaan. Setelah menyiksa diri sendiri, lalu menyiksa orang lain. Yaa, kalo situ udah baligh, dosanya ditanggung sendiri ini, dinikmati aja selagi masih bisa.

Ehm, segini dulu aja. Kalau terlalu lama, khawatir keluarnya sumpah serapah yang nggak berguna. Maaf ya, terima kasih. 


7.2.12

Jadi Cinta, Gara-gara Kalian


Gara-gara kalian, aku jadi punya mimpi—lagi.
Terima kasih ya, sini aku dekap satu-satu :D

Entah aku yang belum peka sekitar—selama tiga tahunan lalu—atau memang Tuhan sengaja menakdirkan kita biar lebih diburu rindu. Bukan karena aku sama sekali tidak mau mengenal kalian, melainkan karena aku sendiri masih belum begitu tau apa arti saling mengasihi. Tentu ini membuat neuron-neuron di kepalaku ramai kembali karena sebelumnya cukup sepi. Ya, hampir tidak ada dialog yang biasanya diperdebatkan oleh saraf-saraf otak di beberapa sisi. Dulu, hampir setiap hari selalu ada ‘demo’ yang tiba-tiba saja mampir. Lalu, pelan-pelan menyusut di satu dua sudut, lama-lama surut.

Hari ini, semua ujung jariku terasa gatal—dan masih hingga detik ini—seperti ada yang mengajak berkeliling menuju kotak-kotak hitam pencetak 26 abjad, juga simbol-simbol kecil. Setelah itu, aku merasa dihidupkan kembali dari mati suri. Mati suri menyesali rajutan mimpi-mimpi yang belum berhasil kudekap dalam-dalam. Betapa sibuknya hidup, hanya untuk sekadar ‘menyesali yang lalu’. Bahkan, aku sama sekali tidak kasihan pada si hidup yang terus dibakar waktu. Lagi-lagi hanya karena AKU. Maaf. Aku menyelingkuhi kamu terlalu lama, dan baru hari ini pulang ke rumah. Rumah yang dulu pernah kita bangun bersama dengan beribu janji dan sumpah.

Sekali lagi, maaf.

Kalian, makhluk-makhluk kecil ciptaan Tuhan—yang mungkin juga, jelmaan malaikat—tanpa sadar, tanpa sengaja, telah menggetarkan darah-darah yang sudah lama beku di dalam tubuh. Membisikkan monolog-monolog hidup yang sempat aku tutup, juga berhasil mencuci otak secara ketat agar aku kembali bersemangat. Diam-diam kalian mencuri jurus ampuh sang pengalaman agar aku tidak kembali di titik rentan.

Terima kasih lagi, untuk kali terakhir di detik ini. Mungkin nanti akan ada terima kasih-terima kasih yang lain, yang akan aku kirimkan kepada kalian, jika telah tiba saatnya nanti.

untuk: peserta Lomba Narasi Sintesa

6.2.12

Seribu Kecupan Buat GENGESDE


Dear Gengesde,

Sebelum gw memulai, gw mau peluk satu-satu kalian dulu—juga sebelum kita dipisahkan kembali oleh waktu.

Yan—teman perempuan seperjuangan seperbangkuan, juga satu-satunya yang muraaah kalo diajak jalaaan. Hahaha. Aaaaah, lo paling curang, cincin nempel di jari tangan, tapi nggak bilang-bilang. Awas kalo nanti bikin resepsi, tapi nggak bagi-bagi happy.

Jok, baru kali ini gw merasa dekat dan hangat dengan lo sebagai teman, juga tetangga se-desa. Mengapa demikian? Lo pasti masih nempel dalam benak kan, lima tahun lamanya di SD kita saingan? Namun, separuh di Sabtu lalu, lo bikin gw shock setengah mati, gara-gara obrolan kita yang ‘tiba-tiba seruu!’ Sumpah, ini bukan drama, apalagi telenovela. Aseli, gw merasa tenang aja, damai gitu hidup gw. Aaah! Makasih ya. Satu yang lo minta dari gw “doain ya, biar 2014 gw nikah, Dha”. Gw: “iyaaaa, pasti (tapi sambil ngiris-ngiris nadi pake linggis)”

Hen, awalnya gw too bad expectation bout you, but I think you’re changed, better than I ever met before.  Eh, tapi bukan berarti gw telah ‘memaafkan’ lo sepenuhnya. BIG NO NO! Kita akan tetep saingan, meskipun sebatas perasaan.

Wan, kita itu tetanggaan belakang rumah yang jarang ketemu. Ketemu aja harus bikin acara dulu. Kita terlalu sibuk ya memang? Beginilah dunia, menyita masa bersua. Untungnya sama-sama penyabar, jadi nggak mudah gusar.

Hmm, Jar.. beberapa hari yang lalu kan kita sempet dipertemukan Tuhan, acara Pesta Siaga di lapangan. Absolutely ya, gw pangling banget. Sumpah! Orang yang pas SD paling pol nakalnya, tukang ngintipin rok-rok teman wanita, seragam merah putih yang tiap hari nggak pernah rapih. Gw rasa, setiap bocah dapet giliran jadi korban perbuatan dosa lo deh, Jar, dulu. Huahahaha. Lalu sekaraaaaang, lo adalah lelaki penyayang yang dikelilingi anak-anak lucu setiap saat. Semoga murid-muridnya nurut sama Pak Guru, ya! :)

Zak, dulu kita akrab nggak sih? Bahkan gw agak-agak amnesia, lebih tepatnya after the first meet kita kemarin Sabtu. Aduh, tiba-tiba gw bingung harus pake kosakata apa, speechless. Gw berani bilang kalo kesuksesan lo sedang lo titi. Tinggal nunggu kabar aja, kalo lo udah di puncak. Lo harus ngabarin gw ya, bila perlu gw orang yang pertama tau. Oh iya, Zak, makasih udah bikin gw ‘osteoporosis’ gara-gara beberapa jam terbawa angin sama lo malam Minggu lalu.

Terakhir, terima kasih tak hingga buat Maulud malam Minggu, juga rekannya: sekoteng, tahu gejrot, kacang rebus, es teh manis, sama dua ibu guru yang selalu kami rindu. Terima kasih mapel-mapel hidupnya, sangat berguna. Kami pasti kangen.

Gelo Gila

Dear Mini,
Sepertinya gw nggak jadi ikutan nulis #DearLove di @nulisbuku. Why oh why?
Padahal gw udah cukup menggebu-gebu saat tau ada proyekan ini. Gelo banget nih aslinya karena nggak jadi gini. Namun, mengingat menimbang memutuskan dan lalala~nya itu, mungkin ini yang terbaik. Semoga kali lain bisa bergabung dengan proyekan-proyekan lain yang lebih tepat momennya.
Aamiin.

terselubung: seriusan, tapi gw gelo gila (tolong hentikan gab ini!)

3.2.12

We Can Called: Shithappen!


Halo, Nyet, kamu apa kabar?

Sori, nggak sopan. Sekali-kali kan nggak papa, ke kamu ini. Hahaha. Kamu masih inget aku nggak ya? Udah berapa puluh tahun kita nggak tatap muka? Cinta kamu udah melanglang buana ke mana aja? Jangan asal ditebar sembarang ya, hati-hati nyasar! Kemarin, aku belum sempat nulis buat kamu, jadi sekarang pun nggak papa kan?!

Tepat sepuluh tahun lalu, kita masih sebangku. Ini juga karena ibu guru, reshuffle teman bangku sesuka si Ibu. Eh, aku malah disisipin di sebelah kamu. Shithappen ini, namanya. Apalagi momen-momen serba kebetulan yang terlalu spontan. Terlalu banyak ya sepertinya. Lomba bareng, petugas upacara bareng, ngibarin bendera bareng, les bareng, ronda bareng aja yang belum. Oh iya, satu lagi yang menurutku ini romantisisme paling geli sedunia: kalo aku pake dress coklat muda bunga-bunga plus celana hitam, pasti kamu lagi pake kemeja pendek warna coklat dipadu celana kebanggaanmu itu. Kejadian ini masih nempel banget di otak. Ah, shit men! Kenapa sih selalu begitu? Aku masih nggak ngerti sampai sekarang.

Oke, sepertinya dari tadi seolah-olah aku terlalu benci sama kamu. Hmm, terima kasih ya, kotak musik bentuk gitar warna merah jambu yang kamu kasih saat ulang tahunku. Masih aku simpan kok, tapi namanya juga disela-sela cinta—mungkin terselip benci—jadi, itu benda sempet jatuh—aku lupa karena apa—dan rusak. Musiknya udah nggak sebagus dan sejernih dulu. Bisa aja ini pertanda kalo cinta kita memang nggak sebersih dulu. Huahahaha. Maksudnya, cinta kita ternoda. Cuih banget ya kata-kata sebelum ini. Buatku, terlalu kotor untuk dikenang, tapi terlalu ‘sok-suci’ untuk dilupakan. Ya, sekarang terserah kita mau apa. Toh, waktu juga nggak pernah menunjukkan kapan kita 'dikukuhkan', maupun 'dipisahkan'. Semuanya berjalan begitu saja. Kita sama-sama nggak ingin terlihat butuh, makanya kita berpisah tanpa salam jumpa, tapi juga tak seperti musuh. Aneh, tapi nyata.

Welcome to the jungle: real life. Sumpah, aku bersyukur banget nggak kuliah di kampus yang sama dengan kamu. Kamu ingin tau, kenapa? Malam itu, saat kamu main ke rumah, sok-sok silaturahim, ngobrol-ngobrol bentar yang nggak berguna, dan yang bikin aku masih benci kamu sampai detik ini: kata-kata terakhir kamu yang.. ah, emang ‘Monyet’ banget nih kamu. Sorry to say, but that’s really not important at all. Itu sih kalo kamu masih ingat ya, kalo nggak pun, nggak masalah.

Well, sebenci apa pun aku sama kamu, yakinlah kamu tetep temen sebangku yang cukup baik lah. Huehehehe. Nanti kalo kita ketemu, please banget mulai dari awal ya, aku nggak ingin masa lalu itu mengganggu silaturahim kita. Kamu, aku, sama-sama manusia biasa yang setiap saat melakukan dosa. Jadi, aku pun nggak punya hak menghakimi kamu selamanya. Lebih baik kita menulisi kertas-kertas baru dengan tinta warna-warni agar hidup lebih berarti. Sampai bertemu di waktu yang telah Tuhan atur untuk kita berdua. Semoga nanti baik-baik saja, ya. Aamiin.

Adegan 'Manis'


“Kaujaga slalu hatimu, saat jauh dariku,
tunggu aku kembali..”
Seventeen–Jaga Slalu Hatimu

Tadi siang, temen gw nggak sengaja playing lagu itu. And, you know what? Gw inget pas Grandfinal BIPOP UI 2011. Ada salah satu peserta yang bawain lagu itu, dari hati banget nyanyinya. Dulu dia anak MB juga, tapi seiring berjalannya waktu, doi udah nggak MB lagi. Nah, yang bikin para hawa klepek-klepek panas dingin kalo denger dia nyanyi lagu itu adalah selain pembawaannya yang pol from the deepest heart, dia ngasih bunga mawar merah ke salah satu penonton. Jadi, pas udah mau lirik terakhir, dia ke bangku penonton, trus nyeret, eh.. nggandeng satu perempuan, lalu dibawa ke stage tempat dia perform, kemudian doi berlutut, sambil melafalkan sebaris lirik terakhir, daaaaan.. ngasih bunga mawar merahnya ke perempuan beruntung itu, trus adegan selanjutnya.. hahahaha, bayangin sendiri aja ya. So sweet, ini namanya romantisisme. Hmm, mungkin ada yang mau berargumen kalo ini norak? Silakan, monggo kerso. But, sungguh, gw aja yang nggak doyan nonton adegan begituan di sinetron, bisa ikut ngrasain betapa 'manisnya' adegan mereka. Aaah, mau bilang 'iri' sama si penerima mawar merah itu. Kamu pasti salah satu perempuan spesial untuk si penyanyi, deh.

Selamat ya! *ngucapin selamat sambil berdoa dalam hati, tau lah ya doanya apa*

2.2.12

Kepada: Tersangka Bulan Mei


Hai..
Selamat menikmati sejuk di awal Februari.
Sore ini, rumahku masih dinaungi mendung. Tak terlalu gelap memang, tapi cahayanya sama sekali tidak mampu meluluhkan awan. Tiba-tiba aku ingat bulan Mei tahun lalu. Tengah Mei tepatnya. Ya, kamu bukan Mawar, yang biasanya jadi tersangka, atau korban pelecehan seksual, melainkan tersangka bulanan yang masih terus kukejar. Entahlah, aku belum jengah, apalagi angkat tangan tanda menyerah hanya karena belum menangkapmu.

Hey, tersangka..
Masih ingatkah kamu saat misi pertama berhasil kamu jalankan? Hebat! Aku salut. Bahkan aku belum pernah bertatap muka denganmu. Teknologi yang membuat kita tidak seperti musuh. Dingin, sangat dingin bahkan. Makanya aku berani mengambil sedikit panasmu untuk menyembuhkan dinginku.

Misi kedua juga berhasil kamu taklukkan. Sungguh tak kusangka, kamu secepat itu mengisi peluru demi aroma rindu. Lalu, misi ketiga, keempat, kelima, sampai misi yang entah kali keberapanya kamu siapkan untuk memburu sesuatu. Aku berharap, bukan aku yang kamu buru. Jika sekarang adalah Februari, maka telah delapan bulan sudah kamu membuat lingkaran setan di setiap sudut mata kanan-kiriku. Pantas saja, tidur malam pun berat rasanya.

Lama-lama, panasmu menumpuk dalam darahku. Makanya saat orang-orang bertanya tentang kamu, wajahku mendadak merah. Mungkin kamu berseliweran di sela-sela nadiku. Mungkin. Menurutku, kamu bukan lagi tersangka, tapi terdakwa lebih tepatnya. Kamu tak perlu duduk di kursi pengadilan dan menjalankan proses pembuktian ‘praduga tak bersalah’, karena aku yakin, kamu pelaku utamanya. Pelaku utama tersangka tunggal. Buatku ini cukup.

Kamu, selaku pelaku utama, jangan pura-pura tak punya dosa, lalu tiba-tiba enyah entah menepi ke pulau apa. Lari dari kenyataan ya? Pengecut! Akhir-akhir ini, aku hanya bisa menemuimu lewat mimpi, bukan adu senjata lewat kata-kata yang biasa kita lakukan setiap saat. Sebegitu ternodakah aku? Sampai-sampai satu huruf darimu sangat mahal dijual. Ah, biasanya juga kamu obral. Nggak usah terlalu sok nggak kenal!

Baiklah. Semoga senjata kita kembali berguna nantinya, amin.


Untuk: pelaku utama, terserah kamu, mau apa.

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...