3.12.11

Rumah Pertama



Desember, selamat ya telah sampai di hari ketiga. Biasanya kalo yang ketiga itu disebut ‘setan’ ahahhaaa. Aku berharap kamu baik-baik saja ya di sana, meskipun tidak sedang bersama diriku.

Terima kasih ya, untuk kemarin malam dan larut tadi. Sungguh, aku tak ingin dianggap selingkuh. Mungkin aku bukan orang yang pandai mengungkapkan hal-hal indah di hadapanmu, akan tetapi yakinlah bahwa aku selalu menyimpanmu, di tempat yang tak terduga, dan aku tak ingin banyak orang tau. Biarkan hanya aku yang memiliki kepuasanmu. Ya! Aku dan kamu saja sudah cukup. Oh, ditambah Tuhan, dan malaikat-malaikat penjaga tubuh kita.

Kalau menilik empat tahun lalu, entah siapa yang memulai kisah nyaman ini. Bahkan aku saja sudah lupa, sayang. Atau, kamu masih ingat? Kapan, di mana, siapa yang mempertemukan kita, karena sebab apa? Benarbenar kabur, melayang, terlalu tipis untuk ditangkap. Aku berusaha menyelisik jauh, lebih dalam, lebih dari dalamnya apa pun di dunia sinetron ini. Memunculkan kembali memori-memori mini yang pernah kita buat, entah sadar atau tidak sama sekali. Yang aku ingat saat itu, hanya tawa lepas sepanjang perjalanan kita. Tawa, yang belum tentu setiap orang punya. Terima kasih, sayang.

Hubungan yang tak bernama ini, memang tak ingin aku perjelas. Begitu juga denganmu kan? Bukankah kita pernah menyepakati tentang ini?

Empat tahun bukan waktu yang singkat memang. Apalagi bersamamu. Selalu ingin tetap berada di hari itu, di jam itu, benar-benar tak ingin beranjak ke ’esok’. Karena di setiap pertemuan apa pun, kita selalu begitu dekat, bahkan terlalu dekat, sayang. Aku tak menyebutnya sebuah dosa, tapi memang inilah rasa yang aku punya. Tak ingat lagi, berapa kali aku merasakan hangatnya kau memelukku saat aku diselubung rindu. Merasakan kelembutan kedua telapak tanganmu yang selalu menyentuh pipiku. Juga kehangatan-kehangatan lain yang biasa kita lakukan setelah itu. Sungguh, ini bukan dosa, tapi ini cinta. Mungkin. Sebenarnya aku tak mau menyebutnya cinta, karena seperti yang kita bicarakan dulu, kita hanya sama-sama menemukan rasa yang tak bernama ini, untuk sama-sama saling kita bagi.

Kau tau kan, akan ada yang bernama perpisahan, yang menjemput kita? Sebentar lagi, tak terhitung kapan, pasti akan kita alami, sayang. Sama sekali tak ada yang tau bagaimana, kapan, di mana, dan akan seperti apa. Sama seperti pertemuan kita. Bedanya, kali ini bukan awal yang menyimpan banyak kisah, tapi akhir yang selanjutnya meneruskan cerita tentang kebersamaan kita. Aku belum siap, sayang. Sungguh, aku tak benarbenar tau setelah ini. Seperti misteri. Aku yakin, tak ada lagi sosok sepertimu di mana pun nanti setelah peristiwa perpisahan ini terjadi. Apakah salah jika aku terlampau baik mengenalmu? Ini pasti bagian dari rencana Tuhan juga bukan? Untuk kau, dan aku, pastinya.

Aku berharap, Tuhan masih menuliskan takdirnya untuk kita, ya. Tuhan juga sangat tau, kalau kita sama-sama punya rasa. Bukan, bukan cinta. Sekali lagi aku tegaskan, kami tak menyebutnya cinta, ini semata-mata agar kami tak bertemu dosa. Maaf, kami terlalu egois. Hanya satu keinginanku, biarkan kami menyatukan ceceran rindu yang mengapung di udara, pada dinginnya subuh, dan diamnya larut. Kami tak ingin memecah keheningan kehidupan siapa pun. Jadi, biarkan kami sejenak saling menatap, mengecup, memeluk, dan menyatu dalam kemelut lusuh.

Biarkan angin yang bercinta, dan kami menyimaknya. 

**NB: terima kasih, sayang. Ya! Kau, sintesa-ku :)

2.12.11

Nyetir

Bismillah,
Hallo dua Desember! Apa kabarnya kau? I hope, you still great.

Gw hanya ingin membagi sesuatu—yang berdasarkan kesoktauan gw—memiliki korelasi dengan kehidupan seseorang. Lebih tepatnya sifat dominan yang kemungkinan besar dipunyai setiap orang.

Bisa mengendarai motor? Atau mobil? Pernah mengendarainya ditemani satu orang, atau banyak orang? Setiap pembaca, pasti punya jawaban masing-masing lah ya. Gw pribadi, belum bisa menyetir kendaraan roda empat yang biasanya disebut mobil. Kalo motor, bisa sih, tapi.. tapi ya.. gitu deh. Cuma berani keliling desa-kecamatan-kabupaten sementara ini. Hihi. Maklumlah, sibuk **CUIH banget lo DHA!

Gw seringnya diboncengin naik motor, atau pun nebs di mobil ceman. Hmm, kita mulai yey cyiin. Yang gw rasa saat gw dibonceng motor oleh seseorang adalah bersyukur karena orang itu mau ngeboncengin gw yang belum berani naik motor kalo melakukan perjalanan jauh, haha. Maaf ya, kalo alasannya antiklimaks. Sengaja kok, biar tambah penasaran *apa sih? Abaikan*, setiap orang punya gayanya masing-masing sob, begitu pula dengan nyetir mobil. Maksudnya gaya di sini itu bukan gimana-gimana ya, bukan 69 atau doggy style, atau gaya apa pun yang ada di kitab-kitab kamasutra itu. Lanjuuut bang! Ganti alinea aja yee ;p

Nah, gini kan enak, alinea baru, masih bersih, masih suci. Karena di alinea yang sebelumnya gw merasa sedikit berdosa *auch!* hmm, gw pake pemisalan aja ya, biar situ bisa nangkep. Nangkep apa aja lah, nangkep sinyal di hati eneng juga gapape bang, eaaaa.. *nggak fokusan banget deh orangnya, ckck. Kebanyakan tanda * nih, maaf ya, gengges.

Misal, gw dibonceng Agus, *atiati CLBK :p* Kenapa yang muncul Agus sih? Tadinya gw mau pake nama Paijo, atau Budi, tapi itu nama temen-temen gw, men! Cukup Mba! Oke, si Agus ini kalo bawa motor nggak selow, bro. Kalo pas ada polisi tidur, cara ngeremnya mendadak, kurang alus, dan tarikannya kurang mulus. Trus ya, kalo belok sering nggak seimbang, agak oleng ke sana kemari. Cara dia naikin atau nurunin gigi juga kurang mesra. Ketauan nih, kalo sama pacar suka agak kasar mainnya, haha, nggak kok, becanda, brur. Intinya, saat lo ngebonceng di motor doi, lo merasa was-was, kurang nyaman, khawatir nyawa lo belum tentu selamat sekian persen kalo dibonceng motor doi, padahal cuma jarak 50 meter, pokoknya bikin hidup lo hadir dalam ketidakpastian deh. Galau lagi, kan, eaaa, digantungin. Hahaha.

Nah, orang-orang tipe macem dia itu, di kehidupan nyata ya, kalo gw perhatiin tuh emang yang suka ‘grusa-grusu’, nggak tenang-an, ngomongnya belepetan—artikulasi, pemenggalan kata per kalimat, intonasi, nada—belum bisa mengatur dengan baik tentang sesuatu yang dihadapinya saat itu, halah, haha. Tapi ya, si Agus ini katakanlah udah ngeboncengin gw lebih dari 10 kali, jadi gw berani mengambil kesimpulan atas dasar sotoy-sama-sotoy-nya gw ini. Gus, maap ya! Nggak ada maksud menyungging, eh, menyinggung. Hihi.

Oh iya, gw lupa. Berhubung ini hanya sekadar berbagi ya guys, jadi gw hanya mengambil dua contoh dari sisi yang berbeda. Kalo contohnya banyak, bisa jadi skripsinya anak Psikologi soalnya. Ntr gw double-graduate lagi, kan nggak enak kalo maruk begitu, ngambil-ngambil lahan orang lain. Gw orangnya nggak mau berlebihan soalnya, karena setiap orang sudah ditakdirkan di ‘tempatnya’ masing-masing *senyum termanis ala ibu peri*

Lanjut ke permisalan yang kedua. Sebut saja Tarni, 23 tahun, janda beranak sebelas, dan seksi *kurawa milenium nih Gan? Apa mau bikin klub buat nandingin LA GALAXY?* au ah Dha. Si Tarni, biarpun janda-janda gini, pakenya mobil, sist. Beuh, mereknya dong, coba tebak, apa? Yang tebakannya bener, bisa menikahi Tarni. Haha. Mereknya TTT (T3). Gaya banget kan? Nggak ada yang punya, hanya Tarni satu-satunya. Tarni Ting Ting. Kenapa coba? Dulu, alm. Suaminya (gosipnya sih bunuh diri karena stres) sengaja ngasih Tarni mobil merek begitu karena doi sama sekali belum menyentuh, bahkan mengobrak-abrik itunya Tarni. Mengapa demikian? Timbul pertanyaan. Ternyata, Tarni hanyalah sekadar nama saat malam hari, di siang hari, sebenarnya doi adalah Tarno, kuli panggul di Pasar Ciroyom.
***silakan ketawa ya sodara-sodara! Kalo nggak lucu, mohon maaf lahir batin duluan ya saya, sebelum lebaran 2012, hiks hiks***

Hmm, sebut saja Mawar, yang insya Allah mudah-mudahan nggak bences, atau pun transgender. Kalo gw naik mobilnya Mawar, gw nggak mabok, men. Selain, karena cara nyetir doi, juga karena wewangian yang ia pake untuk mobil kesayangannya. Dia tau banget kalo mau ngerem itu gimana, cara belok yang bener itu kaya apa, kalo ada polisi tidur, dia mesti ngapain. Hasilnya adalah gw nggak mabok naik mobilnya dia. Ini suatu prestasi yang sangat membanggakan. Karena apa? Gw pemabuk, eh, maksudnya gw mabokan kalo naik mobil jenis apa pun. Sungguh fernando! Aku berkata jujur. Tapi ya, memang, si Mawar ini bawaannya tenang, nggak terlalu panikan, ngomongnya nggak belibet, cukup enak didengar lah, dan lagi keliatan banget kalo doi tipe-tipe penyayang ke setiap orang yang diajak ngobrol.

Pernah suatu hari, gw naik mobil yang sama, dengan sopir yang berbeda. Hasilnya juga beda, Gan. Pas berangkat yang nyetir si Melati, gw nggak apa-apa, masih dalam tahap hampir mau pusing sih, tapi so far masih sangat aman. Namun, saat perjalanan pulang, yang nyetir si Bunga. Taukah anda apa yang terjadi? Ya, betul sekali. Gw muntah di tempat, beberapa menit setelah gw merasakan cara nyetirnya si Bunga. Dan itu, fatal banget. Gw langsung pusing, mual-mual, dan klimaksnya muntah, brur. Maaf Bunga, bukan maksudku melukaimu.

Lain halnya saat gw naik bus AC, trus gw nggak duduk di belakang atau tengah, gw lebih memilih berdiri. Yoa, berdiri sepanjang perjalanan. Karena gw nggak mau muntah di tempat umum begitu. Meskipun ya, tiap hari gw selalu menyediakan stok permen asem di tas beberapa biji, kalo emang faktor-faktor yang udah gw jelasin di atas tidak menunjang, ya apa boleh dikata. Makanya, bagi ceman-ceman yang bernasib abnormal, alias luar biasa seperti gw, selalu sedia permen asem ya.. yah, antiklimaks lagi. Intinya, dilihat dulu sebelum ditelan. Haha. Wassalam. 

30.11.11

Pagi-pagi Penuh Arti

Mereka memanggil saya:
“mursyi”

Hahaha,
**bingung bin bengong, semisenyum tertawa menggelitik** 
nggak tau harus berekspresi seperti apa dan bagaimana.
Siapa yang pernah bangun tidur, trus langsung cari henpina, abis itu lanjut buka jejaring sosial?
Ngacung! Ea, ketauan kan kelakuan anak zaman global, ckck!
Nyawa masih belum ngumpul, dalam keadaan sadar-nggak-sadar, dan begitu buka media sosial langsung JENG JENG JENG!!

By the way ya, adegan dan cerita ini lebih baik diabaikan, kali lain dan harusnya bangun tidur itu baca doa. Mengucap istighfar dan syukur atas nikmat hidup di pagi itu.
Oke tweeps,
:) :) :)


29.11.11

November dan Desember



November masih punya ‘besok’ di tahun ini, sama seperti kita.
aku berharap, kau masih bisa aku temui setelah ’besok’, ya.

Namun, kita beruntung masih memiliki Desember.
sebenarnya tak usah saling janji pun, kita mungkin saja bisa bertemu.
sama, seperti tahun lalu, lagi-lagi di tempat itu.
bedanya, dulu kita tak pernah tau untuk apa Tuhan mempertemukan kau dan aku.


Ke.jut.an


Bismillah,
Happy Tuesday guys :)

“gini nih kalo ngefans sama orang, berasa mau meninggal pas orang itu melakukan hal-hal—yang menurut kita kayaknya nggak mungkin (bisa karena saking sibuknya orang itu atau bisa aja menurut dia ‘masih banyak hal yang bisa gw lakukan dari hanya sekadar meladeni perempuan/laki-laki ini’)—dan ini kadang membuat kita GR masya Allah”.

Yang membuat lo bengong mendadak beberapa menit; yang membuat lo mengeluarkan keringat dingin di saat orang-orang pada umumnya kedinginan karena hujan; yang membuat lo sadar-nggak-sadar bikin nggak mengedipkan mata untuk sesaat; yang membuat lo pengin bikin konferensi pers se-RT, RW, se-kecamatan, kabupaten untuk ngasih pengumuman kalo ada hal amaze yang baru aja terjadi.
Mungkin namanya kejutan kali ya?!
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV:
ke.jut.an n 1 segala yg menimbulkan kaget; guncangan; 2 segala yg munculnya tiba-tiba dan tidak tidak diduga sebelumnya.

NB: yang terjadi adalah yang tidak kita inginkan, karena justru itulah yang kita butuhkan. Allah mboten sare—kalo kata Linus Suryadi AG.

28.11.11

Mari Melestarikan Ngapak :)

Bismillah,

Kangen karo enyong ora jon? Haha. Ari dikangeni ya syukur, ora yaa ora papa *mlayu, mojok neng tembok* 

Donya selak mene, selak kewolak-walik keh jon. Ckck! Bisane? Ya bisa, kaya kuwe lah pokoke. Gweh ya, wis mulai tanda-tanda beleh nggenah keh. Maklum jon, tuntutan propesi, selak sibuk, tambah mene tambah setres, apa maning urip neng kota metropolitan. Panas, sumpeg, sing ndadekna wong gampang sewotan, trus serba beleh bersih, ora banyu, ora kali, apa maning wonge. Hihi. Nggo sing maca, aja pada ngrasa tersungging ya, eh, tersinggung maksude, enyong laka maksud nggawe rika kabeh pada nggrundel koh.

Langsung bae lah joni kumprung, aja kakehan mbacot kon! Dantem li ngko.. *iz, iz, daning pada rudu kaya kuwe?!* lanjuut yuh mas karto tuying :D
Dadi, kaya kiye ceritane, saiki kan wis ana sing arane facebook (raimu kaya buku), twitter (mbacot mena-mene), ana maning sing arane blog (catetan sakarepe), trus sing lagi lumayan mledak kuwe arane tumblr (nggalau), formspring me, plurk, linkedin, foursquare, we heart it, about.me, koprol, lan liya-liyane sing enyong durung ngarti, plus sing ora pengin tak ngerteni :D

Intine, wis semaju kuwe sing arane teknologi. Koen ari pan mangan, sungkan mlaku, tapi kakehan duit, gari nelpon delivery (pesan antar-mesen dater). Ora duwe klambi, trus pengin tuku, tapi sungkan metu-metu, gampang maning kuwe, gari ngentas pemehane tanggane, wakakak. Aja iz, kuwe arane nyolong. Jare pak kyai tah dosa, tapi mbuh kuwe ari jare rika, pahala ndean. Hmm, apa maning yah? Oh iya, pan balik maring umah, butuh tiket, gari mesen onlen, duite transper. Tapi, ana siji maning fasilitas sing durung tau tak cacak keh jon. Badekan, apa hayuh? Nggolet pacar atawa bojo nganggo mbah google ;p *eaaa, langsung galau kukur-kukur aspal pagongan*

Nggo ngapakers sejati, aja kawatir, ana twitter (mbacot mena-mene) sing arane @NgomongNgapak. Nyacak dikintili geh, mbacote ya kher nemen nganggo tegalan. Temane ya macem-macem, kumplit lah insya Allah. Tapi emang, akeh-akehe tema cinta, jakwir, mantan, yaa ora adoh-adoh seka galau sih, teteeep ye. Seora-orane, lumayan nggo tamba rika kabeh sing pada home sick, apa maning sing sokan mbrebes mili ari kelingan wong tuwa (padahal yaa ari ketemu neng umah, pambelih-pan poran).

Jon, samene ndipit ya, hihi. Gampang disambung maning ngko kapan-kapan.  

27.11.11

Jalan Cinta dan Pergalauan Dunia: Elegi Mahasiswa Tingkat Akhir (#3)



Aku: satu dari sekian juta orang yang tak mau ambil pusing dengan yang namanya skripshit.

Sist: kok lo santai-santai aja sih?
Bro: menurut L? trus lo maunya gw ngapain? Gulingguling jumpalitan di aspal margonda? Atau lari/sprint keliling lingkar luar UI tujuh hari tujuh malem? Atau gw bakar aja ini kampus, biar ramean dikit?
Sist: apa kek, cari topik, cari judul, konsul sama PA lo, udah hampir akhir semester tau!
Bro: denger ya gadis manis sepah ditelen, nenek-nenek kayang juga tau ini udah hampir kelar semester tujuh. Penting banget ya emang, kalo lo galau, kalo lo lagi stres, kalo lo lagi pusing banyak urusan, kalo lo lagi banyak masalah, semua insan sejagad raya alam semesta dan tetangganya harus tau gitu? NO!
Sist: lo nggak pengin apa lulus semester depan? Duh, gw amit-amit deh lebih dari empat tahun.
Bro: ya itu mah udah hak dan jalan masing-masing. Tapi kalo gw, gw nggak mau lulus sebelum gw yakin dengan ’bekal’ gw, karena setelah gw melepas embel-embel mahasiswa di kampus ternama ini, gw nggak mau jadi pengangguran. Gw malu! Mau ditaroh di mana muka gw di hadapan orangtua nanti? Buat gw, akan lebih terhormat jika saat gw lulus nanti, punya sesuatu yang bisa gw banggakan, sesuatu yang gw yakini bisa menjadi modal awal yang real, sebagai penunjang masa depan gw nanti. Gw sebenernya agak anti dengan kalimat ’gw pengin lulus, abis itu nglamar kerja di perusahaan/kantor deh’. Gw cuma mikir, pantesan Indonesia kekurangan lapangan pekerjaan mulu ya, bahkan mahasiswa lulusan universitas ternama aja mentok jadi kuli. Siklus ’as usual’ yang ada di benak sebagian besar orang-orang. Ya, namanya bangsa terjajah dulu, mau nggak mau, pasti masih ada darah kulinya.
Sist: kok lo jadi terkesan menceramahi gw sih?
Bro: tuh kan, udah negatif duluan sih lo pikirannya. Makanya tadi gw bilang kan, ini udah menyangkut hak dan jalan masing-masing. Bukan soal salah atau bener jika kita mengikuti siklus ‘as usual’ itu atau nggak.
Sist: ah, gw mah mau jadi mahasiswa yang biasa aja, nggak usah neko-neko sampe nunggu yakin dulu, baru lulus. Gw udah cukup kenyang kuliah.
Bro: that’s you! Yang penting saat lo tiba-tiba ada yang nanya ‘lo punya skill apa? Bekal lo apa? Seberapa mantap bekal lo utk terjun di dunia luar?’ asal udah punya jawaban aja, dan pastinya, bukti. Itu yang paling penting. Ibaratnya nih ya, LO JUAL-GW BELI. Berarti, lo harus siap dengan ‘produk’ yang akan lo jual ke orang-orang, sebagai hasil belajar dari lo masih burayak sampe segede ini. Gitu sist,
Sist: (manggut-manggut)

Aku: ya, aku yang masih ingin lebih berguna, dan masih ingin memanfaatkan label ‘mahasiswa’ agar berguna bagi orang lain sebelum meninggalkan ini semua.  

26.11.11

Aku dan Hal-hal yang Tak Pasti


Bukan perpisahan namanya, jika tak menghadirkan tangis. Dia sengaja menyediakan ruang kosong itu agar kau dan aku saling menatap: saling beradu memainkan peran yang ingin kita ciptakan; saling beradu mempercepat setiap detak hidup—yang sebenarnya masih panjang; juga saling menyelami untuk mencari rasa yang mungkin masih bersembunyi.
Aku—yang belum lupa dengan gemetarnya tubuh menjelang kisah sore itu; yang masih meminta agar udara tak kejam menghunus jantungku; yang jelasjelas kelu; yang belum berani menemani malam; apalagi bercinta dengan waktu.

25.11.11

Kau Tak Cukup Tau, Juli



Aku menerawang berkilo-kilo meter dari sini, selama empat belas minggu. Berusaha memaafkan nadinadi yang sedari tadi pulang pergi mengincar pagi. Dia hanya menyimpan harap—yang benarbenar diyakini—belum lenyap, masih membuat lini dalam saraf kegilaan ini. Mengumpulkan ceceran keberanian untuk dipersembahkan pada manusia-manusia-yang-merasa-dirinya-dibutuhkan. 

22.11.11

Masih Di Sekitar Tibatiba



Bukannya aku tak mau menebusmu, Rindu. Ini tentang bagaimana caranya agar aku leluasa menyimpan rasa. Betapa pun telah lama ia memuncak, sampai-sampai aku sendiri masih belum tau seperti apa rasanya melepasmu.
Ketakutan—selama itu—jauh lebih sempurna ketimbang kelegaan yang nantinya akan dicapai. Aku pun sangat paham luar dalam, pada arus kepekaan masa yang selalu saja punya alasan untuk menyusun ulang sebuah niatan.
Kekhawatiran ini muncul begitu saja, sesaat ketika hampir aku lepaskan Rinduku. Aku masih belum siap menceraikan kumpulan rasa yang telah sejak lama, dan entah kapan aku mulai lalai. 

Komedi Cerdas



Bismillah,

Beberapa hari yang lalu, akika sempet jenjong mawar posting tentang acrina yang adinda di salah satu stasiun televisi swasta yey.. hahaha. Cukup Fernando! Cukup! Maklum, mahasiswa tingkat akhir, jadi agak-agak sibuk dikit gitu lah. Sibuk apaan coba? Sibuk mencari kesibukan yang sekiranya bisa disibuki, biar tetep sibuk. Oke, keep focus.

Begini ceritanya, sebenernya gw juga bingung bin galau, mau mulai cerita dari mana ya? Hmm, hmm, lalala~yeyeye, hahaha. Pembaca yang budiman, perkenankanlah saya, sebagai penulis blog—yang kadang males ngepost—untuk meluncurkan salah satu tulisan saya kali ini, yang berjudul bla..bla..bla. yaaa, gitu deh pokoknya. Maaf ya, gengges nih -- __--

Kali pertama gw nonton yang namanya Stand Up Comedy di KOMPA* TV, langsung jatuh hati. Segampang itu? Ya, segampang itu. Love at first sight. Nggak percaya? Terserah lo, jek! Urusan lo, mau percaya atau nggak, gw nggak masalah kok, gw nyantai men, dan gw juga nggak akan cari masalah sama lo yang nggak percaya. FINE! **maaf, terlalu lebay.

Sebuah tayangan komedi, cukup unik, ringan, tapi tetap berisi, alias candaannya nggak murahan, atau murdiono. Nah, acara ini ternyata adalah ajang/kompetisi untuk mencari komedian-komedian cerdas yang akan mewarnai dunia hiburan Indonesia di masa kini, juga masa gitu, hahaha, masa depan diiing ;p

Terhitung dari entah kapan, gw juga nggak ngitung, yang pasti udah sekitar lima atau kali keenam, bahkan ketujuh—kalo nggak salah ya pemirsa, gw ikutin nih acara, sampai nggak mau sedetikpun gw ketinggalan atau sekip karena apa pun. Namanya juga cinta, pasti akan melakukan apa aja demi mendapat kepuasannnya, iye nggak? **kayak pernah jatuh cinta aja lo? Eh, curcol deh akika..


Nah, namanya juga perempuan muda, belia, jomblo pula, kadang suka muncul virus merah agak kepink-pink-an. Kebetulan, ada beberapa komedian yang bikin gw makin jatuh hati, seperti si Ryan, juga Ernest. Hmm, selain ganteng dan auranya beda, pastinya punya suatu karakter tersendiri kalo pas lagi show-time. Selera masing-masing sih sebenernya, tapi bagi gw pribadi, Ryan dan Ernest itu selalu menyuguhkan materi komedi yang fresh, kekinian, dan nggak biasa. Mereka cerdas dalam hal mengolah dan mengemas suatu objek kecil, yang mungkin kadang ‘sampah’, nggak disentuh orang banyak, dan sangat tidak terduga. Bo! Gw udah kaya komentator acara deh ini, kalo dibayar sih mending, ini kagaaak. Hahaha, materialis ya?!

Menurut hemat gw ya, kurang lengkap deh hidup lo kalo belum pernah nonton acara ini *perlu digarisbawahi, gw sama sekali nggak dikontrak tipi itu untuk promosiin acara ini, OKE* gw hanya merekomendasikan. So, seperti yang gw bilang di awal, nggak murahan isi komedinya, nggak bawa-bawa SARA, apalagi SARA AZHARI, berat men! #eh haha, soalnya doi kan gede. Apanya yang gede? *dijawab dalam hati aja :)

Tunggu apa lagi? bagi yang malam Minggu-nya galau bukan kepalang, resah-gelisah (geli-geli pasrah), gusar-gulana, atau nggak mau ke mana-mana karena: satu-males ke mana-mana, dua-duit cekak, tiga-nggak punya acara, empat-nggak punya temen, lima-nggak punya gandengan (truk kali, gandengan!) enam-stres skripsweat, tujuh-stres dijodohin #eh, curcol lagi ;p

Mampir di situ lah pokoknya, insya Allah nggak rugi. See you guys!

Jalan Cinta dan Pergalauan Dunia: Elegi Mahasiswa Tingkat Akhir (#2)

Bismillah,

Di detik akhir menuju semester—yang hampir berakhir—ini, sebenarnya tidak terlalu berat, jika lemak-lemak tak berdaya sudah tidak bersarang di perut, paha, dan tentunya lengan. Namun, realita berkata lain, jek! Dulu, saat sebelum semester tujuh ini merasuk dan mendarah daging seperti sekarang, yang namanya kuliah di hari pertama adalah suatu hal yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu sebagian besar mahasiswa. Kenapa eh kenapa? Karena eh karena, satu: ketemu temen-temen lama yang udah lama tidak saling bertatap muka, dua: kadang, hari libur yang terlalu lama dapat menyebabkan rasa jenuh yang terlampau utuh, beuuh! Tiga: intinya ya, kangen kampus—namanya juga mahasiswa, untuk sementara ini ya ‘ngampus’ adalah profesi utama. Empat: kangen pacar, jek! (eyyaaa, kalo ini khusus binti especially bagi yang telah ‘taken’ ya.. yang masih menunggu untuk ‘taken’, kangen satpam juga boleeeh—toh ada juga kok satpam yang ganteng J). Lima: ladang investasi & peluang bisnis untuk mencari relasi sebanyak-banyaknya (hmm, bagi para wirausahawan muda, cukup senang lah ketemu relasi dan calon relasi, haha).

Siang itu, Mawar melangkah penuh was-was menuju kampus. Kali ini sangat matgay, alias mati gaya. Dulu, perpustakaan adalah tempat pelariannya jika tak tau harus berbuat apa dan harus ke mana. Sayangnya, tidak untuk saat ini, men. Setelah berputar-putar mengelilingi gedung demi gedung untuk membunuh waktu, Mawar pun terhenti di lobi salah satu gedung ber-AC.

(tahap 1)
Mawar: ”(mencet-mencet tombol ponsel) Eh, Mel, lo di mana? Ngampus jam berapa?”
Melati: ”di rumah cuuy! Kagak ngampus hari ini, gw libur dong, nggak ada kuliah, hahaha”
Mawar: ”yaah, cumiii. Yaudin deh, daaaah!”
Melati: “sip sip, (klik—Melati mengakhiri pembicaraan)”
(tahap 2)
Mawar: (mengirim SMS ke Lili) Liliiii, lo ngampus kagak today? Ketemu dong, yuk, yuk! Di kantin :D
Lili: (membalas SMS) hahaha, lo apa kabar? Gw nggak ada kuliah hari ini, lg pergi sama nyokap nih, maaf yaa.. lusa deh, lusa.
Mawar: jaaah, gw di kampus nih skrg, alone. Huhu.. yaudah deh, see you lusa!
Lili: oke deh cyiin, semangat! :p
(tahap 3)
Mawar: (mengirim sms ke juniornya) sist, lo di mana?
Sista: aku lg kelas kak, knp?
Mawar: oh, gitu. Sampe jam brp? Mau ngajakin mkn.
Sista: sampe jam 2, abis itu lanjut lg sampe jam 5 kak.. maaf ya,
Mawar: okelah kalo begitu, hihi.

Yasalaaam, ini orang-orang pada ke mana deh? Kagak ada yang kuliah, kagak ada yang ngampus. Ini siapaaaa lagi nih orang-orang? Kagak ada yang gw kenal. Gila, gila! Nggak ngerti lagi ama kehidupan kampus, muka baru semua cuuuuy. Ah, kampraaay bambang nih.. tumben banget, merasa asing di rumah sendiri, ck. Biasanya kalo gw lewat, ada aja yang nyapa, manggil gw kek, bayar utang kek, apa kek, gitu.. ini bener-bener huft banget, jek! Aaaaa, pengin nangis. Emang begini ya rasanya kalo udah semester akhir? Argh, bisa mati stres kesepian kalo kehidupan gw kayak gini. Apa pulang aja ke kosan? Cumi banget, ngapain coba siang-siang gini udah balik ke kosan. Jalan-jalan? Ke mana? No no no, kaya orang ilang plus gila, kalo jalannya sendirian penuh resah. Ini juga nih, biasanya ada acara apa kek gitu di kampus, tapi kali ini nothing!

Sekian, pemirsa!

15.11.11

Tontonan Pilihan



Bismillah,

Apa kareba ni malam? Semoga damang-damang sajo, aamiin. (ini namanya akulturasi bahasa, pen.)

Sejujurnya, tentang ini udah cukup ‘ngoyod’ di otak ane Gan! (gandul maksud lo?!), siapa yang belum pernah sama sekali nonton program-programnya KOMPA* TV? Ngacung! 1-2-3-9-76-788-1000, wuidiiih, ribuan orang belum pernah. Oke, saatnya gw promosi, bro! eh, salah, beraksi maksudnya, hehe. Awalnya, anak-anak (baca: twitter) sempat menjadikan ini sebagai salah satu topik yang hangat dibicarakan, beuh! Dan respon gw hanya: ‘oh, stasiun tipi baru tho..’ tanpa ngulik lebih lanjut. Beberapa memang berpendapat kalo tipi ini beda dari yang lain, banyak manfaat—karena mungkin tayangan-tayangan yang ‘gengges’, nggak ada di saluran ini. Intinya, gw masih sabodo teuing lah dengan saluran ini.

Banyak selang waktu terlewatkan di antara minggu yang menurutku selalu cepat berlalu. Jaaaah, mulai deh lirisnya keluar. Aha! *ingat sesuatu* tiba-tiba malam itu, lupa—Sabtu atau Minggu, gw mulai mencoba mencari saluran tipi itu. Sempat gagal beberapa kali, cempat kecel, cebel, tapi alhamdulillah yah ketemu. Lalu, gw pun memulai pengembaraan di akhir pekan: dari pagi hingga malam, gw pantengin itu tipi. Memang nggak salah jika dulu banyak yang berpendapat kalo saluran ini OKE. Gw pun menyerah, dan akhirnya kuakui.. banyak program/tayangan yang bisa gw katakan cukup ‘cerdas’ secara tampilan, maupun isi. Tema-tema yang diangkat ‘indonesianis’, mendidik, nggak ‘gengges’, dan tentunya menghibur. Menurut gw, hal ini merupakan salah satu alternatif tontonan yang baik—di antara menjamurnya acara-acara yang kurang pas, yang ada sekarang—karena anasirnya lengkap, men! Ibarat cowo tuh, tampilan masa kini, gaul, tapi dalemnya pesantren J aih, aiih, abaikan guys.

Di ranah ini, gw hanya ingin promosi dan berbagi, hahaha. Gitu lagi, ckck! Hmm, sudilah kiranya bapak-bapak, ibu-ibu, mas sist, dan mbak bro, membuktikan sendiri manfaatnya, siapa tau ada yang pendapatnya berbeza ;p berbanggalah, bersyukurlah, berbahagialah, ber-selektif-rialah dalam memilih tontonan di era ini. Setiap detil apapun di dunia ini, selalu diciptakan seimbang: ada faedah & ada mudaratnya. Di mana-mana, yang negatif memang lebih banyak ‘stoknya’ daripada yang positif. Secara logisnya, saat ada manusia baru yang lahir di dunia ini, satu setan lahir juga. Namun, saat ada satu manusia meninggal, setan masih tetap ada. Mari mulai memilih yang baik-baik, itung-itung nabung untuk masa depan. Adakah yang nggak mau masa depannya lebih baik? Mulai dari sini, diri sendiri, dan saat ini.

Di ’sampah’ selanjutnya, insya Allah gw mau cerita tentang salah satu tayangan favorit gw di saluran KOMPA* TV. Huhu, nggak cabal nicc.. 

14.11.11

Sedikit Kehebringan SEA GAMES

Bismillah,


Hmm, sebenernya nih ya, niatan awalnya itu adalah ngerjain tugas, men! Tapi, apa daya, nyatanya nulis ‘feature’ lebih menggoda, hahaha. Kali ini, gw mau cerita tentang yang lagi hebring-hebringnya dibahas, entah di dumay maupun duta (dunia maya-dunia nyata, pen.) hayo apa hayo? Mampukah anda menebak wahai pembaca? Ataukah hanya perkiraan belaka?
**NB: ini bacanya harus pake intonasi infotainment yang itu ya.. yang itu loh, yang ini nih: ‘akan kami kupas setajam.. ’ jayus ya? Huft! Yang ketawa, eke doain semoga jodohnya deket, yang nggak ketawa, eke doain juga semoga segera dikirimkan pendamping hidup—ini sama aja ya?!

Mari fokus! Begini bro, sist, seperti yang kita tau, bulan ini lagi ada SEA GAMES. Seringnya, kebanyakan, pada umumnya, biasanya, pertandingan sepak bola dan bulu tangkis lah yang muncul di tipi kita, iye nggak? Mengapa oh mengapa? Tau lah ya jawabannya apa, situ pernah sekolah kan? Harusnya sih tau *ngajak ribut*. Berhubung gw lebih menyukai bulu tangkis nih, jadi gw ikutin tuh pertandingan. Mulai dari tunggal putra; putri, ganda putra; putri, ganda campuran; sampai ganda yang nggak dicampur karena belum punya pasangan. JLEB, #apadehdha! Lanjuuut..

Kalo nonton dari tipi, yang gw rasakan adalah gregetan, men! Banyak komen, dan kadang melakukan hal-hal yang agak aneh sendirian. Misal, saat partai tunggal putra, sebut saja si ganteng nan cool dan seksi, a.k.a Simon Santoso, atau aa momon lawan THA/MAS, ada aja gitu yang secara sadar nggak sadar—gw perbuat. Pas skornya sama-sama 20, gw nunduk-merem-nutup idung pake kuping, eh bukan, nutup kuping pake tangan maksudnya, sembari komat-kamit baca mantra (nggakmaudenger-nggakmauliat-nggakmaudenger-nggakmauliat), ucapkan sebanyak 2011 kali, niscaya aman, percaya deh. *ya eyalah, itu pertandingan udah kelar duluan sebelum kita kelar baca mantra*, trus nih ya, kalo tertinggal beberapa poin, misalnya INA-MAL 3-7 gitu, ini mulut komat-kamitnya lain: kamu pasti bisa Yang, positif, positif, all iz well beibh, sambil gigit bibir, dan telapak tangan saling tangkup-berdoa. Untungnya ini nggak lebay, dulu pas masih SD—zaman agak jahiliyah—saat Taufik Hidayat disandingkan dengan Lin Dan atau Bao Cun Lai, trus angkanya kejar-kejaran/ketinggalan banyak, gw sampai nadzar puasa boo! Bukannya mau riya, tapi menyadarkan diri sendiri, syukur-syukur orang lain, agar tidak melakukan perbuatan konyol macem ini, guys.

Sekarang, kalo dipikir-pikir, saat lo melakukan hal-hal macem itu, nutupmata-nutupkuping-bacamantra-sampai puasa, hanya demi orang lain di tipi, yang dianya aja nggak kenal lo gitu, bukan siapa-siapa lo juga, ketemu langsung sama dia juga kemungkinannya hanya nol koma sekian persen—karena dulu eke kagak di Jakarta, dan lain-lain lah pokoknya. Btw, mengapa gw jadi kesel sama si ‘lo’ ini ya? Padahal kan gw yang melakukan, hahahha. Kini, semakin dewasa, akan lebih pas jika kita bisa lebih bijak. Yaa, pengungkapan-pengungkapan rasa nasionalis cukup dengan berdoa, transfer energi positif dari jauh, memang sebaiknya dilakukan tanpa berlebihan (sambil smiles wisely).

Kemarin, pas gw nonton partai ganda putri—dan belum beruntung—karena THA lebih unggul 1 poin, nggak sengaja liat beberapa penonton yang duduk paling depan: ada yang nangis kejer, ngosek di lantai, pegangan kepala sampai ngeglesor-glesor di lantai juga ada. Boleh kok tenggang rasa, tepa selira istilahnya, tapi bukankah akan lebih baik kalo kita—sebagai penonton—justru memberi dukungan moril di saat atlet-atlet belum berhasil. Yaaa, apa kek, yel-yel yang bisa bikin semangat lagi. Soalnya, yel-yel penyemangat lebih terdengar kenceng kalo INA lagi di puncak/menuju menang. Kenapa eh kenapa? Karena oh karena, yakinlah, atlet yang belum berhasil memenangkan pertandingan, udah punya tekanan dan beban tersendiri oleh ihwal yang lain, baik besar atau kecil saat kenyataannya ’gw kalah’. Secara ya, energi yang kita keluarkan saat ngosek, sedih, dengan transfer energi positif berupa apapun, kadarnya setara, men! Pilih yang mana? Udah gede kan? Tau mana yang harus dipilih, eaaa kalo nggak tau, gampang sih, ketik REG(spasi)BINGUNG, kirim ke hatinya.. *au ah terang!*

Markisud! Mari kita sudahi. Saatnya nugas, wahai mahasiswa tingkat akhir.. (kaboooooor!)

8.11.11

Jalan Cinta dan Pergalauan Dunia: Elegi Mahasiswa Tingkat Akhir (#1)



Bismillah,

Dua mahasiswa tingkat akhir baru saja mengakhiri kelasnya, mata kuliah Filsafat Cinta, haha. Bukan, pemirsa! Tapi Filsafat Wayang. Pusing-pusing dikit, agak vertigo, perut udah mulai karnaval, mata ngantuk kriyep-kriyep, nguap-nguap dikit, muka kurang bahagia, demikian itu merupakan sedikit gambaran kondisi buruk mereka saat menuju kantin dengan langkah gontai. Mawar dan Melati tak sedikit pun berbincang, apalagi bergosip. Namun, secara spontan mereka menghentikan langkahnya, entah karena ihwal apa.

“TELAH HILANG IPOD TOUCH 8GB BERWARNA UNGU METALIK”
Mawar: ”gila, gila, segala gadget sering banget ilang, kemarin lepita, dua hari yang lalu henpina, beuh... ini mah dicuri sama orang paling”
Melati: ”cuuy, ya masa beruang madu yang ngambil, orang lah... eh, tapi iya juga yah sist, udah amat sangat sering sekali banget. Asal lo tau Maw, orang-orang yang barang berharganya ilang, mereka ada rasa sedih, kesel, atau mungkin marah, entah sama diri sendiri karena nggak bisa jaga tuh barang, atau sama orang yang ngambil tanpa izin, tapi gw justru sedih kalo barang berharga gw nggak diambil orang”
Mawar: ”jaaah! Aneh-aneh aja lo Ti, nyebut Ti, nyebuuuut..”
Melati: ”abisnya, hati gw doang yang belum dicuri nih, Maw” #eh
Mawar: ”ah! Kampraaay lo Ti”

Layaknya SMP (Setelah Makan Pulang), dua sejoli-sehati ini pada akhirnya memutuskan suatu keputusan yang biasanya tidak diputuskan: pulang. Kali ini, bukan petang yang mengantarkan mereka kembali ke peraduan, melainkan sang takdirlah yang memaksa mereka melangkah. Melati dan Mawar masih saja diam-tak saling berujar selama perjalanan menuju halte pemberhentian. Setelah kejadian tadi, entahlah, mereka diam-merenung tanpa arah, ataukah diam karena terlalu kenyang makan??

Hanya Mawar, Melati, Tuhan, dan alamlah yang tau jawabannya. 

7.11.11

Revolusidha

Bismillah,

Apa kabar pagimu? Masihkah bertahan pada sejuknya subuh? Atau kau lebih mencintai terik yang selalu menantang angin laut? Bagaimana pun rupamu, yakinlah bahwa aku masih benarbenar mencuri napasmu dalam diam.

Bo!! Ini kenapa jadi bikin prosa liris sih? *ngomelin diri sendiri sambil berkacak pinggang* selalu aja kaya gini kan, nggak konsisten sama tujuan awal. Maap ye sist ;p yaudin, kite mule aje ceritenye ye. Yuk, cap cus!

Dari beberapa minggu yang lalu hingga kemarin malem, aku masih di ambang kesadaran, pemirsa! Bahkan saat menulis ini pun, entah raga siapa yang rela mengantarkan jari-jari ini sampai akhirnya bolak-balik, muter-muter di atas papan ketik. *tuh kan, mulai lagi…* oke! Janji, kali ini beneran nggak akan belok, eh! Maksudnya mau masup ke topik, uu yeah.

Intinya ya guys, blog ini telah mengalami beberapa tahap. Layaknya manusia, dari lahir, merasakan pahit-getir kehidupan, kemudian mati. Minilife ini sedang berada di masa ‘merasakan pahit-getir kehidupan’, wuasiik ah, gaya bener, sok-sok dramatis dikit tak apa lah ya, iseng. Uhm, abaikan --__--

Berubah ke arah yang lebih baik, mengapa tidak? Mumpung lubang hidung kita masih bisa menghirup napas, mumpung detak jantungnya belum diutak-atik sama Allah, juga mumpung-mumpung yang lain turut mengucapkan Selamat Idul Adha 1432 H *ngaco lagi, ngaco lagi, jitak nih!* setiap manusia pasti punya keinginan untuk bisa lebih menghargai hidup, bagaimana pun caranya, kapan pun, berapa pun harganya hidup, setau saya sih nggak bisa ditawar. Aku—satusembilu—hanya berdoa: semoga ini, semoga itu (kalo kata Dedep gitu tuh, piss Dep :D) aamiin Ya Robb.

**pesan terakhir: buat bapak-bapak, ibu-ibu, baik yang ada di RT, RW, Kelurahan, Arisan, Pengajian, Jalanan atau Kuburan (astaghfirullah!) boleh banget lho ikut cerita di sini, atau bisa menghubungi hotline 0806-466-304, saya jamin langsung puas! Karena kami tidak pernah main-main dengan pelanggan, yaa paling-paling main congklak, gobak sodor, tak umpet, atau paling banter main uno. Sekian.

6.11.11

Permintaan Tanpa Tema



Seandainya boleh meminta, keluarkan aku dari kotak tak bertuan ini, rasanya seperti terjegal oleh absurditas yang tak kunjung lepas. Sekian juta detik habis begitu saja untuk sebuah pengharapan yang belum juga dikabulkan, atau haruskah (lagi-lagi) aku yang memanggil untuk memusnahkannya kembali? Atau, kau memang sengaja tak menghentikannya?


                                                                                                                    :untuk satusembilu

5.11.11

Saksi Kita, Hanya Kilometer



Aku benci pada jarak:
yang merentangkan nadi pada suatu batas,
yang mengatasnamakan takdir, juga kesabaran.

kita berada di perasingan masing-masing.
saat letihmu masih ditemani jarum-jarum udara malam,
lalu aku, pada harapku: biarkan aku melayang pada letihmu, kemudian menua. 


                                                                   :kehabisan bulan Oktober tahun ini:

22.10.11

Asteroid 2009: Finally, Kupinang Tari dengan Bismillah



The sweetest memory :)

Dulu, saat masih ada Kremas (Kreasi Mahasiswa) di 2009, dan Asteroid—yang bikin kami berdarah-darah sampai sekarang—cukup merasa diberi pelajaran, kurang tau sih ya berapa sks kalo dihitung :p (Kak Ijo, Japra, Firman, Heru, Redian, Nanda, Icha, Silvi, Eka, Vera) the member of Kremas—selalu merindukan saat-saat harus cari orang buat futsal, voli, basket, gobak sodor, tak umpet, hahahaha. Saat itu, Japra, sang PO Asteroid summon gw untuk megang lomba tari tradisional. Akhirnya, langsung deh tuh gw cari staf yang kira-kira bisa bantuin gw. Anehnya, gw menghubungi orang-orang yang disarankan itu—yang nggak gw tau dan gw kenal sama sekali—dengan pedenya dan dengan ridho Allah tentunya, mereka mau. Alhamdulillah banget, dikasih jalan yang mudah sama Allah. Ada Vera (FKM-08, Kremas), Agi (FKM-08, kenalan via sms), Lyla (Pajak-08, kenal di MB), Suci (Cina-08, ini karena nggak sengaja kenal di FIB), Alhamdulillah banget mereka nurut-nurut, nggak banyak protes, nggak ‘annoying’, menghargai gw sebagai PJ-nya, dan selalu siap sedia kalo dimintai bantuan. Gw bukan apa-apa tanpa kalian, guys :)

Allah Mahaadil, makanya hambatan pun di mana-mana. Dari mulai masalah-masalah di tiap kontingen fakultas—yang cukup kompleks, kami yang hanya berlima, duit nggak cair-cair, juri belum dapet-dapet, tempat lomba belum dapet—bahkan tempat baru dapet H-3 apa 4 gitu—sesuatu banget nih, asli! Yang bikin gw pribadi geregetan adalah karena PJ tari tahun 2008, sama sekali nggak bisa dihubungin, via sms, telepon, jejaring sosial, sampai ngontak temen si mantan PJ untuk nyampein tentang ini aja, masih belum berhasil. Finally, berbekal doa, usaha, dan pengetahuan seadanya, gw bersama staf mencoba apa pun semaksimal yang kami bisa. Eh, ada lagi masalahnya, tapi ini hanya untuk kalangan PJ tari dan stafnya (hanya kami yang tau segalanya tentang gejolak antarlomba seni di Asteroid 2009), eits.. implisit :p

Kami nggak pernah rabid, komando dan koordinasi hanya via sms. Kami berlima benar-benar bertemu hanya di hari H, hahahhaa, gila kan ya! Ckck. Jadi, misalnya si Suci nggak tau si Agi itu yang kaya apa mukanya, ya pas di hari H lomba itu baru ketemu. Minta tolong anak perlap untuk bantuin di lomba tari aja, baru pas H-1, lagi-lagi nggak tau dan kenal orangnya yang mana. Tapi, alhamdulillahnya kami semua bisa kerja sama di hari H. Nggak ada miss-kom, miss-kord, dan acara lancar car car. Menurut gw, ini kepanitiaan yang paling nggak well-prepared, but its being successfully. Yang begini ini nih, yang justru masih melekat di hati.

Menurut gw, semendadak apa pun acaranya, senggak-well-prepared apa pun kondisinya, yang terpenting adalah bagaimana kita bertindak dan bersikap terhadap apa yang sedang dihadapi. Nggak sulit kok, ini hanya butuh sabar, teliti, dan fokus. That’s the point J

Cerita Papandayan (7): Selamat Datang, Pondok Seladah!

Hai guys, ketemu lagi dengan gw di acara “Mengulas Papandayan” ( maklum, anaknya suka mimpi jadi pembawa acara kondang soalnya ) Nah, d...